Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 40 ..



Kebohongan hanyalah Rasa Sakit yang tertunda..


🔥🔥🔥


Satu minggu kemudian..


Kim tengah berkutat sibuk memeriksa hasil tugas para mahasiswa yang mengikuti kelas Mr. Antoni siang ini.


Sejak satu tahun yang lalu, akibat keteledoran Kim yang terlambat memasuki kelas Mr. Antoni menyebabkan Kim mengalami nasib buruk yaitu mendapat hukuman menjadi asisten dosen, no no no ralat, kacung si tua Antoni lebih tepatnya.


Apa bedanya antara Asdos dan kacung?


Jawabannya adalah keduanya memiliki makna yang sama hanya berbeda pada penulisannya.


Menjadi Asdos sama saja dengan menjadi budak. Karena hanya di isi dengan kerja paksa, kerja paksa dan kerja paksa tanpa henti dan tanpa imbalan apapun.


Kim memeriksa hasil tugas satu persatu.


Dan kemudian mengangguk puas.


Hampir semua mahasiswa mengerjakan tugasnya dengan serius dan Kim sangat menghargai kerja keras mereka dalam memperdalam ilmu tentang Manajemen Bisnis yang memang cukup memusingkan, ditambah dengan metode membosankan tentang cara mengajar tua bangka itu, membuatnya semakin sempurna dan melengkapi menderitaan setiap mahasiswa yang memiliki kelas bersama tua bangka Antoni.


Satu jam kemudian, Kim mendengar suara ketukan pintu kamarnya dari luar.


Disertai dengan suara mami.


"Kim, mami tunggu dibawah. Ada sesuatu yang ingin Papi bicarakan."


"Yes mi, nanti aku menyusul."


Kemudian suara langkah kaki terdengar semakin menjauh dari kamar Kim.


Kim segera membereskan HVS yang berserakan diatas meja, serta menutup laptopnya. Merapikan meja dan menyimpan sesuatu yang penting kedalam ransel dan laci mejanya.


Beberapa saat kemudian, Kim segera menyusul Mami ke lantai bawah.


Namun, Kim menghentikan langkah kakinya dan membeku seketika.


Kim menutup matanya sebentar dan membukanya lagi, dan Kim semakin terkejut dengan detak jantung yang tidak kalah cepat saat melihat seorang pria yang telah lama menghilang dari kehidupan Kim kini tengah duduk dengan santai di ruang tamu.


Kim mulai melangkah maju dan semakin mendekat dengan ragu dan hati hati.


Kim menggeleng,


"Tidak mungkin itu dia."


Kim menggosok matanya berulang kali, berharap jika pria yang dilihatnya adalah orang lain. Atau berharap jika penglihatan Kim sebenarnya bermasalah sehingga salah mengenali orang.


Kim berusaha mempercayai anggapan itu, namun semakin Kim memperhatikannya, Kim menjadi semakin yakin jika itu adalah orang yang sama.


"Hai, Kim. Long time no see?"


Sapaan pria itu cukup mengejutkan Kim.



➡ Visual Rick ⬅


Suara itu menusuk tepat di jantung Kim.


Dan sebenarnya pria itu adalah dia.


Kim sangat hafal di luar kepala dengan suara itu, suara laknat yang sudah lama tidak terdengar. Dan Kim terasa sakit seketika sampai ke ulu hatinya saat mendengar suara laknat itu lagi.


Orang yang paling Kim hindari selama dua tahun terakhir, tiba tiba muncul di hadapan Kim begitu saja. Seakan tidak memiliki dosa apapun terhadap Kim ataupun sedikit rasa bersalah.


Wajah yang sama dengan wajah yang terakhir kali Kim lihat, meski wajah Rick terlihat menjadi sedikit kurus sekarang, namun tetap tidak menghilangkan pesona dan ketampanan yang memang pantas untuk dikagumi.


Kim tersenyum dan bersikap seperti biasa, seakan tidak ada sesuatu yang pernah terjadi.


"Hai Rick, how are you?"


Kim berusaha tetap tersenyum ramah dan menyembunyikan luka yang pernah tertutup rapat dengan sebaik mungkin, namun luka itu justru kembali terkuak dan berdarah untuk saat ini.


"Im fine, and you?"


Rick berjalan mendekat, memeluk Kim erat seraya mencium pipi kanan serta pipi kiri Kim secara bergantian.


Kim tidak berkedip untuk beberapa saat, namun setelahnya Kim kembali dari keterkejutannya dan bersikap seperti biasa, serta segera mengangguk, namun tidak berniat untuk menanggapi lebih jauh.


Dan mendapat perlakuan seperti ini, membuat Kim hanya bisa mengutuk dan mengumpat sebanyak ribuan kali di dalam hati. Serta sumpah serapah yang tidak bisa Kim lontarkan karena masih tertahan oleh etika sopan santun.


Sejujurnya Kim sangat ingin melempar Rick ke ujung Jahannam detik itu juga, namun mengingat semua keluarga berkumpul, termasuk ada Vivian juga yang sekarang adalah tunangan Ken, membuat Kim mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk tidak melakukan apapun.


"Ayo duduk Kim, kamu juga Rick."


Ucap Mami.


Jawab Rick santai seraya duduk di hadapan Mami dan Papi.


Kim melebarkan matanya saat mendengar jawaban Rick.


"Mi?"


Sejak kapan Rick menjadi akrab dengan maminya? Dan sejak kapan pula Rick memanggil Mami Diana dengan panggilan Mami juga?


Banyak pertanyaan mulai berkelana dengan liar didalam otak Kim, dan ada beberapa pertanyaan yang out of topic bahkan melenceng sangat jauh dari topik.


"Kim."


Suara Papi segera membuyarkan lamunan aneh yang mulai merayap tinggi dalam benak Kim dan seketika suara Papi menjatuhkannya, sehingga membuatnya runtuh berantakan.


Kim menoleh kearah papinya, dan Papi segera memberi isyarat kepada Kim untuk duduk di sebelah Rick.


Kim menurut dan segera duduk sesuai dengan arahan papi.


Setelah Kim duduk, Papi segera memulai pembicaraan.


"Kamu pasti bertanya tanya, kenapa ada Rick disini, hm?"


Pertanyaan papi memang menjadi pertanyaan utama yang ingin Kim tanyakan.


Kim mengangguk.


"Sekarang Rick akan menjadi Kakak tertua kamu."


"What?"


Kim bertanya dengan langsung berdiri begitu saja.


Rick menarik tangan Kim, meminta Kim untuk tenang dan duduk kembali.


Kim kembali terduduk.


"Dari sini Papi akan menjelaskan semuanya dari awal hingga akhir."


Dan Papi segera menjelaskan semua dengan detail terkecil sekalipun dari awal hingga akhir tanpa ada yang memotong sedikitpun.


Kim hanya bisa menutup mulutnya dengan shock saat mendengar kisah yang sungguh terjadi didalam keluarganya.


Oh My God ?


Kim ingin menangis saat ini juga. Meskipun ini bukan kisah tentang penderitaan seorang anak tiri ataupun kisah tentang kematian yang tragis.


Namun, ini jelas jauh lebih buruk berkali kali lipat daripada kisah kisah itu.


Kenapa kehidupan nyata harus serumit ini, dan bagaimana bisa semua itu justru menimpa keluarga Albert? Keluarga yang sejauh ini dinyatakan bebas dari segala jenis skandal, namun nyatanya tetap No body perfect.


Dan kesimpulannya adalah jelas Tidak ada kata sempurna untuk apapun dan siapapun.


"Tapi Mami bukan pelakor kan Mi? Mami gak merebut Papi dari mamanya Rick kan? Jawab Mi, jawab?"


Adalah pertanyaan pertama yang Kim lontarkan sejak papi menyelesaikan kisahnya.


Mami menggeleng,


"No, Mami bukan pelakor, Mami datang setelah papi bercerai. Dan mami bahkan tidak tahu menahu tentang pernikahan papi yang sebelumnya. Kamu percaya kan sama Mami? Mami mohon?"


Kim tetap diam, tidak menjawab atau merespon apapun.


"Mami tidak salah apapun Kim, semua murni karena kesalahan Papi, Papi yang tidak jujur dari awal kepada mami dan kalian semua. Papi hanya takut mami akan pergi saat mengetahui papi pernah menikah sebelumnya."


Papi berkata dengan kalimat sendu, namun mengandung seribu kejujuran untuk melindungi mami dari amarah yang mungkin akan segera Kim keluarkan.


Kim memegang kepalanya yang mulai terasa sakit dengan drama keluarga ini.


Jadi papi pernah menikah dengan Mama Rick, kemudian bercerai saat Rick masih berada didalam kandungan, yang bahkan papi juga tidak mengetahui kehadiran Rick sama sekali?


Dan dua tahun yang lalu, saat Mama Rick meninggal, semua kebenaran tentang ini mulai terungkap?


Meskipun masih ada banyak hal yang mengganjal dalam pikiran Kim, namun Kim tidak tahu harus berkata apa lagi, Kim benar benar telah kehabisan kata kata untuk saat ini. Dan lebih memilih diam sebagai gantinya.


Bagaimanapun, serapat apapun bangkai disembunyikan, suatu saat juga akan mengeluarkan bau busuk.


Dan sepandai apapun seseorang menyembunyikan sebuah rahasia, jika masanya telah tiba, maka semua rahasia juga akan terbongkar dengan sendirinya.


Sejauh ini Ken dan Vivian hanya memperhatikan drama yang tengah berlangsung dan tidak berkomentar apapun.


Kim menoleh kearah Rick,


"Jadi alasan lo mutusin gue dua tahun yang lalu karena ini?"