
It matters not how long we life, but how..
🔥🔥🔥
"Hah? Rencana pertama? Secepat itu? Perasaan, lo cepet banget deh langsung dapet rencana Nad?"
"Itu gunanya Sekolah, Kim. Lo pikir gue bisa cepat tanggap kayak gini karena hasil dari berendam bunga tujuh rupa pas malam Jum'at Kliwon? Hallo. Yang bener aja. Ini abad ke 21."
Timpal Nada.
Dewi cengengesan mendengar perkataan Nada.
"Gue kira lo seriusan melihara kunti di pohon besar depan rumah lo buat bantuin lo mikir sehari hari. Tapi, lo juga jangan salah Nad, abad 21 juga masih ada dukun dan susuk lho. Kali aja lo pake susuk biar pinter, mana kita tau, iya gak Kim?"
Kim mengangguk setuju.
"Alah, kalaupun iya gue pake susuk, gue gak bakal pake buat kepintaran. Gue bakal pake buat kekayaan. Why? karena, sepintar apapun seseorang, pasti masih butuh kerja buat dapetin duit. Beda lagi ceritanya kalo orang kaya. Kalo orang kaya itu gak perlu kerja juga tetap kaya dan justru akan semakin kaya dan kaya."
"Pinter lo, Nad."
Kim menyetujui perkataan Nada yang di rasa cocok dengan prinsip hidup Kim tentang perekonomian.
"Plus, bisnis juga perlu strategi yang terencana dan mumpuni biar bisa sukses."
Nada menambahkan.
"Maksudnya, strategi buat move on dari Rick?"
Dewi merasa mode sok tau Nada mulai kelewatan.
"Songong lo Nad. Pertama, lo baru lulus SMA kemarin, dan belum pernah sekalipun menginjakan kaki ke Universitas. Kedua, kita memilih kelas dan bidang study yang sama, Nad. Lo lupa kalo gue sama Kim juga ngambil Manajemen Bisnis?"
Mendengar ini, Nada menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Dan cengar cengir tidak jelas.
"Eh, iya ya. Bener juga sih. Kita juga mendaftar via online bareng kan? Ko gue bisa lupa sih?"
"Nah, sekarang lo ngaku kan? Gak usah pura pura bego deh, bego beneran baru tau rasa lo. Jujur aja, gue juga kadang kadang suka heran sama elo Nad, sebenernya otak lo itu kemasukan air atau air masuk ke otak lo sih? Lo bisa pinter dalam satu kedipan mata, tapi sedetik kemudian lo bisa jadi bego gitu ajah. Heran gue."
Ucapan Kim sontak membuat mereka bertiga tertawa bersama.
Bersahabat sejak SMP, membuat mereka bertiga dekat, bahkan sangat akrab.
Walau air tetap tidak bisa sekental darah. Tapi setidaknya, air yang di tampung dalam wadah yang sama di waktu yang lama, air akan selalu mengikuti bentuk wadah itu, selama air belum di pindahkan ke wadah lain.
Intinya adalah mereka sudah terbiasa bergantung satu sama lain.
Lagipula, di zaman sekarang, gak gampang buat nyari teman dengan satu pemikiran dan satu tujuan. Nah, entah itu kebetulan atau keberuntungan, mereka tidak sengaja ketemu di club Basket di sekolah menengah mereka dulu.
Dan, alhasil, persahabatan mereka tetap awet sampai sekarang.
"Jadi, sekarang kita mau ngapain?"
Pertanyaan Dewi memecah kesunyian.
Nada terdiam, biar kelihatan lagi mikir.
"Minum minum?"
Dewi sangat antusias mendengar kata minum minum, yang berarti mereka akan pergi ke club.
Kim berpikir sejenak.
"Em, gue boleh pikirin ini dulu gak?"
"Eh songong, gue gak lagi nembak lo, jadi lo gak usah pusing mikirin jawabannya. Lo tinggal ngikut aja sih, repot amat hidup lo, Kim.
"Calmdown, dear. Lo dengerin ya Kim, hidup itu gak cuma manis aja, sekali kali ada pahitnya juga. Kayak yang lo rasain sekarang. Dan yang terpenting, bukan berapa lama kita hidup. Tapi, bagaimana kita hidup."
Dewi memberikan dukungan penuh kepada Nada. Biar satu haluan gitu.
"Gue setuju sama Nada."
"Gue udah di sisain ruang VIP di Survive. Sayang kalo gak dateng."
Nada masih tidak menyerah untuk membujuk Kim.
"Lo tau kan toleransi gue ke alkohol itu nol besar. Malah, bisa di bilang buruk, buruk banget malah. Segelas aja bisa bikin gue mabok, Nad. Lo mau tanggung jawab kalo gue kenapa napa?"
Tegas Kim mulai malas meladeni bujukan menyesatkan Nada dan Dewi.
"Sans aja kali, Kim. Survive itu milik sepupu gue. Jadi, gak akan ada yang berani macem macem sama kita. Percaya deh."
Nada tetap bersikeras membujuk Kim menggunakan semangat empat lima.
"Iya, Kim. Ninum juga bisa mengalihka pikiran stres lo untum sementara. Syukur syukur, lo bisa langsung lupain Rick."
Dewi mulai ikut memanasi.
"Gue curiga sama lo deh Wi, lo itu sebenarnya Dewi palsu ya? Soalnya, seorang Dewi itu seharusnya ngasih pencerahan dan arahan arahan yang positive. Beda sama lo, lo malah menyesatkan gue dan berdiri di pihak iblis."
"Eits, lo jangan salah Kim, kalo Nada sih dari sononya emang iblis. Tapi, ini sama sekali tidak menyesatkan kok Kim, gue bisa jamin. Ini juga sangat positive kok, positive banget malah. Niat kita kan baik, cuma mau ngarahin lo buat move on, salahnya dimana coba?"
Ucap Dewi seraya mengangkat bahu.
"Udah lah, mau lo bilang iblis atau apa, gue gak peduli, Kim. Dan lo berdua, gak usah debat lagi. Percuma gakan ada ujungnya. Sekarang mending lo berdua pada siap siap deh, dandan yang cantik. Khususnya lo, Kim. Lihat penampilan lo sekarang? You look awful. Pakai aja noh baju dewi."
Nada menunjuk lemari pakaian Dewi.
Dewi beranjak dari duduknya dan mengambil dress merah tanpa lengan di atas lutut dan hak senada, kemudian memakainya.
Dan menyerahkan blouse hitam tanpa lengan. Rok putih di atas lutut, dan hak putih kepada Kim.
Dengan malas, Kim memakainya tanpa banyak bicara lagi.
Mereka masuk ke dalam mobil, dengan Nada yang menyetir. Sepanjang perjalanan hanya ada diam dan tidak ada yang memulai pembicaraan.
Semua sibuk dengan pikiran mereka masing masing.
Sesekali Kim melihat ke luar jendela, menyaksikan jalanan ibu kota yang mulai lengang.
Jam setengah sebelas malam, tentu bukan waktu yang tepat untuk beraktifitas. Kecuali untuk segelintir orang yang mempunyai kehidupan di malam hari.
Sesampainya di Survive, Nada memarkirkan mobilnya. Mereka bertiga turun dan melangkah masuk ke club.
Nada menunjukan Goldcard kepada Steve, dan Steve mengizinkan mereka untuk masuk.