
Happy reading. And enjoy my imaginary story..
➡➡➡
Menghindar bukan berarti marah, namun hanya merasa kecewa.
➡➡➡
Kim duduk menghadap laptop di meja belajarnya. Melihat email tentang tugas yang harus Kim kerjakan karena tidak menghadiri kelas Mr. Antoni pagi ini.
Kim menghembuskan nafas kesal.
Tok tok tok..
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar Kim.
Kim tidak menoleh ataupun berniat untuk membukanya. Bahkan tidak merespon sama sekali.
Suara ketukan kembali terdengar.
Kim semakin merasa kesal karena konsentrasinya menjadi buyar dan semua kalimat yang telah Kim rangkai dengan susah payah dalam ingatan untuk mengerjakan tugasnya menjadi raib tanpa bekas.
"Masuk."
Kim terus melajukan jari jemarinya hingga huruf dan angka angka yang tidak terhitung jumlahnya muncul di layar laptopnya.
Kim dapat mendengar suara pintu terbuka, dan kemudian terdengar jejak langkah yang masuk dan mendekat.
"Kim, kamu lagi ngerjain tugas?"
Tanya Rick yang mendekat dan kemudian membungkuk untuk melihat tugas yang tengah Kim kerjakan.
Kim mengangguk dan tidak berniat untuk menghentikan aktifitasnya.
"Kim, aku mau ngomong sama kamu,"
"Ngomong aja, Kak. Gue dengerin kok."
"Kim, pake aku kamu dong?"
Kim yang masih setengah kesal dengan tugasnya menjadi semakin kesal saat mendengar ucapan Rick.
"Udahlah Rick, gak usah ngurusin hidup gue deh. Kalau lo cuma mau ganggu mending lo keluar aja. Sumpah mati, gue lagi sibuk banget."
Mendengar nada suara Kim yang mulai naik, membuat Rick mengalah.
"Okey okey. Aku cuma mau ngomong, meskipun aku gak bisa jagain kamu lagi sebagai pacar, tapi aku lega karena masih bisa jagain kamu sebagai kakak yang menjaga adiknya. Aku sangat puas masih bisa melihat kamu setiap saat dari dekat dan masih bisa mengawasi kamu, meski aku gak akan bisa memiliki kamu seutuhnya seperti dulu."
Kim menghentikan aktifitasnya dan membeku mendengar ini. Serta menelan ludah dengan susah payah.
Dan sejujurnya, Kim ingin menangis saat ini.
Entah untuk menangisi ucapan Rick atau omongannya sendiri yang sempat menyakiti Rick sebelumnya.
Kim juga tidak tahu.
Kim menoleh dan melihat wajah tampan yang juga tengah menatapnya.
Kim berdiri dan memeluk Rick seketika.
"Makasih ya kak."
Ucap Kim seraya menahan tangis.
Rick terkejut mendapati tingkah Kim yang sedikit aneh.
"Untuk apa?"
"Karena udah baik banget sama gue."
"Ya ampun Kim, gak usah dipikirin. Santai aja. Jadi sekarang hubungan kita resmi diganti dari pacaran menjadi saudara nih?" Rick tersenyum meledek.
"Harusnya sih gitu kak?"
Kim dan Rick tertawa bersama.
➡➡➡
Enam bulan kemudian.
"Pokoknya adek harus ikut Papi sama Mami ke acara Ulang tahun pernikahan Om prayoga."
Ucap Mami setengah memaksa Kim.
"Stop, gak ada tapi tapian lagi."
"Kenapa sih Mami ngotot banget ngajak aku? Kenapa gak ngajak Kak Ken atau Kak Rick?"
"Kedua Kakak kamu gak punya waktu Kim, mereka sibuk. Sudah malam, tapi Kak Rick sama Kak Ken belum ada yang pulang."
Ucap Mami seraya melihat jam tangannya.
Kim sangat mengerti jika Mami merasa khawatir dengan kedua kakaknya.
"Adek cepat ganti gaun yang sudah Mami siapin."
Kim menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari gaun yang telah Mami siapkan. Dan tatapan Kim berhenti saat melihat gaun berwarna merah terang terlipat rapi di atas ranjangnya.
Kim mulai bertanya tanya, sejak kapan gaun itu berada di sana?
Kim menggelengkan kepala, entahlah. Kim juga tidak tahu.
"Ya udah, Mami tunggu di bawah. Jangan pake lama. Papi udah uring uringan nunggunya, adek sih pake acara tawar menawar segala sama Mami, gak langsung nurut, gini deh akibatnya."
Ucap Mami seraya mengomel dengan omelan the power of emak emaknya dan keluar dengan buru buru dari kamar Kim.
"Bisa bisanya sih Mami malah nyalahin aku?"
Ucap Kim setengah berteriak kepada Mami namun sudah pasti jika Mami tidak mendengar suaranya.
Huft.. Kim menghela nafas panjang.
Kim segera mengganti baju tidurnya dengan gaun pesta dengan cepat dan kemudian duduk di depan cermin di meja riasnya.
Kim dapat melihat bayangannya sendiri di cermin, terlihat lebih kurus dan memiliki garis hitam di sekitar matanya.
Selain karena tugas kuliah yang menumpuk, Kim juga stres karena memikirkan masalah percintaannya yang masih tidak jelas kemana arah tujuannya.
Tidak perlu di tanyakan lagi, Kim tentu memikirkan seorang pria laknat yang tidak bisa hilang dari ingatannya.
Sudah enam bulan lebih, Kim menghindari Sam sekuat tenaga. Kim berusaha sejauh mungkin menjauh agar Sam tidak lagi bisa mengejar dan menjangkaunya
Layaknya senja dan fajar, Kim dan Sam tidak akan bisa saling bertemu dalam waktu yang sama meskipun hanya menyapa.
Sam akan menunggu Kim di tempat parkir atau main ke rumah untuk membahas sesuatu dengan Ken sebagai alasan.
Kim sangat mengetahui itu.
Namun Kim tidak lagi peduli, Kim akan bersembunyi jika melihat Sam atau akan memilih jalur lain saat Sam menunggunya.
Bukan karena Kim marah, tapi karena Kim hanya merasa sedikit kecewa dengan perilaku Sam yang di anggap plin plan dan tidak konsisten.
Sam sangat mengharapkan tunangannya, namun di satu sisi Sam juga memberi harapan palsu untuk Kim.
Kim malas memikirkan ini.
Beberapa menit kemudian, Kim keluar dari kamarnya..
➡ Visual Kim ⬅
Dan turun ke lantai bawah untuk menemui Papi dan Mami yang telah menunggunya.
"Wah, tonight you are very beautiful dear."
Ucap Papi yang tengah menggandeng lengan Mami.
"Thank you Pi."
"Yuk dek, kita berangkat sekarang. Kita sudah telat banget soalnya."
Ucap Mami yang juga terlihat uring uringan karena menunggu Kim.
"Kalau emang telat, ya udah tinggal berangkat aja?? Gak perlu nunggu aku kan bisa?"
"Gak bisa gitu dong sayang, ini kan family time."
"Family time apa sih Mi? Kak Ken sama Kak Rick aja gak ikut."
"Udah udah, jangan berdebat terus."
Papi menengahi.
"Yes Pi." Ucap Kim dan Mami bersamaan.