
Family is a person who will always be by your side in any situation and condition.
🔥🔥🔥
Tiga tahun bersekolah di salah satu sekolah elite di bilangan Jakarta, ternyata tidak sia-sia.
Dengan mendapatkan nilai tertinggi di sekolah tentu tidak terlalu mengecewakan dan bisa di Katakan sangat membanggakan.
Bahagia ?? tentu saja.
Bagaimana tidak ?
Hal yang selalu Kimberly tunggu tentu hadiah kelulusanya.
Mobil baru dari papi, paket liburan ke Bali dari mami, smartphone baru dari Ken.
Dan mungkin lamaran romantis dari Rick.
Kim menggigit bibirnya.
Membayangkannya saja membuat Kim tidak bisa untuk berhenti tersenyum, apalagi jika itu benar terjadi.
Uh, tidak ada nikmat Tuhan lagi yang akan di dustakan.
"Bisa menjadi orang yang paling bahagia nih."
Batin Kim merasa bangga atas pencapaian yang telah di raihnya selama ini seraya menghitung hadiah dengan jari-jarinya.
"Kimberly Florist."
Terdengar suara keras bergema di setiap penjuru sekolah. Bersamaan juga dengan tepuk tangan meriah dari semua siswa dan para orang tua siswa yang menghadiri acara wisuda anak-anak mereka.
Kim berdiri. Merapikan kebaya putih yang di pakainya, di padukan dengan rok batik yang melilit panjang, sepatu hak hitam polos, serta rambut yang di gerai dan tarik ke samping, membuat Kim terlihat begitu anggun dan sangat mempesona.
Kim berjalan ke atas panggung dengan hati-hati.
Dan semua orang berdecak kagum melihat kecantikan seorang Kimberly secara langsung.
Tidak hanya cantik, namun juga berprestasi. Membuat iri setiap orang tua jika membandingkan Kim dengan anak anak mereka sendiri.
Kim berdiri di atas panggung dengan senyum lebar penuh kebahagiaan. Dan, Salah seorang Dewan guru menyerahkan piala penghargaan atas prestasi Kim yang telah mengharumkan nama sekolahnya.
Kim menerima piala.
"Ananda Kimberly Florist adalah salah satu anak paling berbakat di sekolah ini. Banyak prestasi akademik maupun non akademik yang berhasil di raihnya selama tiga tahun terakhir. Dan ananda Kim juga mendapatkan nilai tertinggi dalam ujian tahun ini. Ayo Kim, sampaikan beberapa patah kata kepada teman temanmu."
Bu Winda menyampaikan beberapa kalimat sambutan selaku Guru wali kelas 12 IPA 1..
"Em, terima kasih semuanya. Khususnya kepada Mami, Papi, kak Ken. Juga kepada para dewan guru yang telah membimbing saya selama ini dan juga kepada teman-teman seperjuangan saya. Keep the spirit and thank you for everything."
Kim mengakhiri kalimatnya, mengangkat piala dan menciumnya.
Menjabat tangan para dewan guru, dan segera turun dari panggung.
Sekali lagi tepuk tangan meriahpun terdengar.
Kim memeluk mami dan papi, juga mendapat banyak ucapan selamat dari teman teman satu angkatannya.
Kemudian memeluk Ken.
"Selamat kim, lo hebat."
Ucap Ken seraya mengangkat kedua ibu jarinya.
"Jelass, adiknya siapa dulu??"
Jawab Kim sombong dengan memamerkan senyuman lebar ala iklan pasta gigi.
"Adek gue lah, masa adeknya kucing?"
Seloroh Ken hingga mendapatkan cubitan ringan pada lengannya.
"Ih, udah sadis ya sekarang berani cubit-cubit? mentang mentang dapat mobil baru, cieeee."
"Iya dong, sekali-kali sadis gak apa apa kan? secara, dalam rangka dapat mobil baru dan paket liburan ke Bali selama satu minggu. Inget ya, satu minggu."
Ucap Kim sembari mengacungkan jari telunjuknya.
"Iya iya, tau. Paham gue, paham. Ya udah, tuh Mami sama Papi udah pada nunggu buat makan-makan di Resto langganan."
"Soal makan-makan sih, asiiiaaap..."
Di tempat makan..
"Sayang, kamu hebat."
Ucap Mami menyerahkan sebuah tiket liburan ke Bali.
Yesss... 100% mami yang ngasih dana. Di jamin, gratis tis.
"Thanks Mi, Im verry happy to be free holiday to Bali for one week."
Kim terharu dan mengelap air mata yang bahkan belum sempat menetes.
"Kalau Ini hadiah dari papi."
Papi menyerahkan kunci mobil ke tangan kim.
Kim terkejut.
"Pii, ini beneran Audi seri terbaru???"
"Iya dong Kim, as you wish."
"Wow, so amazing. Thank you Pi. I Love You."
Kim berjalan dan memeluk Papinya erat.
"Kamu juga luar biasa Kim, Papi bangga sama kamu. Kamu berhasil dan tidak mengecewakan papi sama sekali. I Love You too, honey."
Jawab papi seraya mencium dahi Kim dengan penuh rasa sayang.
Kim tersentuh sampai titik dimana Kim tidak bisa lagi untuk menangis. Kim tidak menyangka bahwa Papi dan Mami akan bersungguh sungguh dalam menyiapkan hadiah untuk kelulusannya.
"Udah-udah makan dulu."
Mami mencoba untuk menengahi acara baper baperan ayah dan anak ini.
"Siap Mi."
Jawab Papi dan Kim bersamaan seraya melepaskan pelukan masing masing.
Beberapa saat kemudian.
Kim mulai berpikir, merasa ada sesuatu yang masih tidak pada tempatnya. Dan seperti ada sesuatu yang salah. Semakin di pikir, terasa semakin janggal. But what ??
Kim kembali mengingat ingat semuanya dan mengurut rentetan peristiwa dengan detail yang terjadi dalam seharian ini.
Lampu menyala seketika dalam kepala Kim. Dan tiba tiba Kim berteriak.
"Kak Keeeeen."
Semua orang terkejut, dan semua mata tertuju ke arah sumber teriakan yang menggema.
"Ada apa sih Kim pake teriak segala? berisik tau. Sakit telinga gue."
Ken refleks menutup kedua telinganya dan menggosok gosoknya.
"Lo lupa atau pura pura lupa?"
"Kalo ngomong, jangan nanggung gitu dong Kim. Ngomong tuh yang jelas. Jangan pake kode. Gue mana tau apa yang lo pikirin. Lo pikir gue cenayang yang bisa nebak masa depan orang? jangankan masa depan orang lain, masa depan gue aja masih belum jelas."
Ucap Ken santai seraya menunjukan wajah tanpa dosanya.
"Kak Ken, gak usah curhat."
Ucap Mami terus melanjutkan makannya tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari piring di hadapannya.
Ken nyengir.
"Aku gak curhat kok Mi, this is real."
"Udah, gak usah mengalihkan pembicaraan. Gue gak mau basa basi lagi, gue mau langsung ke intinya. Ponsel gue mana??"
"Ponsel?? Lho, bukannya lo yang naruh di meja?? Tuh liat."
Ken menunjuk ke arah Ponsel Kim tergeletak.
"Bukan yang ini, kan lo udah janji mau beliin gue ponsel baru kalo gue dapet nilai tertinggi di Sekolah. Masa iya sih lo lupa. Gak lucu tau nggak."
Kim merajuk dan mengerucutkan bibirnya.
Ken mengusap dagunya dan terlihat berpikir sebentar. Kemudian menepuk jidatnya dan berseru,
"O iya, gue lupa Kim. Ponselnya nggak gue bawa, masih ketinggal di rumah. Sorry, ntar gue kasih di rumah deh. Janji !! Suer gue kelupaan. Gak ada niat macem macem."
"Iya udah, gue percaya sama lo."
Kim pun mengalah dan tidak ingin menanggapi lebih jauh.
Tiba-tiba Ponsel Kim berdering.
Tertulis nama Rick pada layar ponselnya.