
Cross the stream where it is shallowest..
🔥🔥🔥
Motor Sam berhenti didepan salah satu Apartemen yang berada dikawasan Segitiga Emas Jakarta. Lokasi Apartemenpun sangat strategis, yang terletak dipusat kawasan bisnis.
Dan bisa dikategorikan sebagai Apartemen mewah dan memiliki fasilitas bintang lima.
Sam memarkirkan motornya, mengajak Kim turun dan berjalan ke lobby dengan keamanan yang sangat ketat, bahkan diawasi selama 24 jam nonstop.
Sam dan Kim bahkan menaiki Lift khusus yang hanya bisa diakses oleh pemilik kunci apartemen disini.
Dan Sam berhenti dilantai 15, dan kemudian menarik tangan Kim agar mengikutinya.
Menempelkan ID Card dan pintupun terbuka.
Pandangan pertama Kim disuguhkan dengan ruangan yang sangat menakjubkan. Hunian di sini sungguh sangat luar biasa. Tidak mengecewakan dan sangat memuaskan.
Tentu tidak sembarang orang bisa memiliki apartemen mewah semacam ini, dan mungkin hanya bisa di miliki oleh kalangan jet set ataupun kalangan high class.
Tiba tiba Kim berpikir mungkin Kim juga merasa perlu untuk memiliki sebuah apartemen seperti ini.
Kim dapat melihat ada tiga kamar tidur yang menandakan ruangan ini benar benar eksklusif,
dan Apartemen ini bisa di bilang sangat bersih. Jika mengingat pemiliknya adalah seorang pria, bisa dikatakan Lumayan.
Kim mendudukan dirinya di sofa ruang tamu. Melepas jaket dan mengembalikannya kepada Sam.
"Thank you, kak Sam."
Sam mengangguk.
Dan segera pergi meninggalkan Kim, namun beberapa saat kemudian, Sam kembali dan membawa dua kaleng minuman bersoda, kemudian membukanya dan memberikannya kepada Kim.
Kim mengangguk dan kemudian meminumnya.
"Apa lo sering tinggal di sini?"
Kim memulai pembicaraan.
"Iya, gue memang tinggal disini. Alasan pertamanya adalah dekat kampus, dan alasan keduanya adalah dekat Twenty One juga. So, biar hemat waktu aja. Lagipula gue kan suka bolak balik Kampus - Twenty One, jadi akan memakan waktu kalo harus balik ke rumah bokap."
"Oh, seperti itu. Terus lo sendirian?"
Kim menggeleng.
"Maksud gue, emang lo gak punya adek atau kakak gitu yang bisa diajak untuk tinggal disini?"
"Gue punya kakak cewek, tapi dibawa suaminya ke Sanur. Sedangkan adek? Em, gue gak punya. Soalnya gue anak terakhir. Kalo keponakan? Mungkin gue akan segera punya keponakan kalau kakak gue udah melahirkan."
"Oh ya? Bagus dong. Gue juga sebenarnya suka anak kecil, gue bahkan sempat minta adik lagi sama mami, tapi mami bilang kalau gue harus buat bayi gue sendiri. Uups"
Kim menutup mulutnya yang keceplosan.
Dan Kim merutuki kebodohan lidahnya yang terpeleset disaat seperti ini.
Malu? Jangan ditanya.
Sam hanya tersenyum menanggapi tingkah lucu Kim yang telah salah melontarkan kata katanya.
"Kalau lo mau, gue gak keberatan untuk membuat bayi kita bersama?"
Mendengar ini, tubuh Kim menegang.
Disini hanya ada Sam dan Kim. Dan pihak ketiganya tentu adalah iblis. Mungkin iblis itu telah menelanjangi otak Kim sehingga mengubah Kim menjadi tiran dalam seketika.
"Ih, lo apaan sih? Ledek aja terus? Sampai lo puas."
"Idih, belum juga mulai, gimana bisa puas coba?"
Sam mengeluarkan seringai iblis yang benar benar iblis, menunjukan bahwa iblis akan selalu berkuasa.
Sekali lagi, Kim membeku ditempatnya tanpa bergerak satu incipun. Benarkah ini adalah kak Sam? Sam yang dingin dan dingin serta keren dan keren, sebenarnya adalah pria yang cukup ambigu?
"Stop it, lo jangan godain gue terus dong? Berapa gadis yang udah lo bawa kesini terus jadi korban lo? Ha? Dan gue yang keberapa?"
Sam menggeleng, Sam sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran Kim selama ini. Entah Kim yang kurang peka atau justru Sam yang kurang agresive?
Entahlah.
"Sorry, gue gak pernah nyentuh wanita manapun, Okey? Lo harus percaya sama gue, karena gue bukan bagian dari para brengsek di luar sana."
Sam bersumpah dengan membentuk jari jemarinya menjadi huruf V.
"Gue gak ada niat apapun, gue cuma mau ngucapin congratulation buat lo."
"Congratulation? Untuk ?"
"Karena lo udah jadi orang pertama yang masuk ke apartemen gue, selain bibi yang bersihin tempat ini tentunya. Yee.."
Sam tersenyum dan bertepuk tangan.
Kim yang tengah meminum sodanya sontak tersedak minumannya sendiri setelah mendengar perkataan aneh Sam.
Melihat Kim tersedak, Sam mulai panik dan secara cepat menepuk pelan punggung Kim.
"Pelan pelan, Kim."
Namun, perlakuan manis Sam justru membuat Kim semakin terbatuk batuk dan mulai merona. Hingga tanpa sadar, Kim menumpahkan semua sodanya ke baju dan celananya sendiri.
"OMG. Damn."
Kim berteriak dengan emosi yang rumit.
"Sudah, tidak apa apa. Hm?"
Kim dan Sam saling berpandangan selama beberapa detik, dan di detik berikutnya mereka berdua mulai tertawa terbahak bahak.
"Gila, baju gue basah"
Kim meraung frustasi.
"Kayaknya lo harus mandi deh Kim, kalo lo gak mau badan lo lengket. Dan lo juga harus ganti baju kalo lo gak mau masuk angin."
"Ya elah, gue juga tau kali. Tapi masalahnya, gue gak bawa baju ganti, gimana dong? Apa lo nganter gue balik sekarang aja?"
"Gak mau gue, Ken bisa bunuh gue kalo melihat lo balik dalam keadaan baju kotor dan berantakan? Entar dikiranya, gue berbuat yang tidak tidak ke lo. Itu sama saja dengan bunuh diri."
Sam benar juga sih.
"Tapi ini kan apartemen lo? Masa iya gue jauh jauh kesini cuma buat numpang mandi doang? Gak lucu ah, itu akan mengurangi nilai keindahan yang sebenarnya."
"Lo ngomong apa sih Kim? Entar kalo lo sakit terus Ken tahu kalo semua gara gara gue, gue harus jawab apa?"
"Maksud gue, lo gak akan pernah masukin orang lain ke apartemen lo karena lo selalu higienis dan gak suka barang barang lo di sentuh orang asing juga lo gak suka ada orang lain yang sembarangan ngobrak abrik rumah lo, kan?"
"Tapi, pengecualian buat lo."