
Happy Reading.
➡➡➡
Diam adalah pilihan terbaik.
🔥🔥🔥
"Ya ampun, gue bercanda Wi, suer gue cuma bercanda. Jangan di anggap serius."
Nada meringis seraya memegang kepala bekas toyoran Dewi.
"Lagian, lo sih, pake bawa bawa bikin bayi segala? Lo tahu kan, kalau gue sensi banget sama kata keramat kayak gitu?"
Mendengar omelan Dewi, Nada hanya mengangguk.
"Lo berdua gak mungkin lupa sama sumpah kita bertiga kan?"
Dewi bertanya dengan wajah garang seraya menoleh ke arah Kim dan Nada.
Kim dan Nada mengangguk bersamaan.
"DATING IS ALLOWED, S*K IS FORBIDDEN."
Ucap mereka bertiga bersamaan dan kemudian tertawa.
➡➡➡
Nada mengantar Kim pulang sampai di depan gerbang kediaman Kim pukul tujuh malam, dan menolak untuk mampir.
Kim memasuki rumah dan tersenyum saat mendapati ruang makan tengah riuh dengan canda dan gelak tawa karena kedatangan Rick sebagai anggota baru keluarga Albert.
Kim dapat melihat keharmonisan itu sangat manis, dengan Rick yang mungkin sangat menginginkan keluarga hangat seperti ini, tentu akan membuat semuanya menjadi mudah.
Juga Mami dan Ken yang sangat welcome dengan bergabungnya Rick, membuat Kim bernafas lega.
Kim sangat bahagia dengan keluarga seperti ini. Meski banyak cela dan skandal di dalamnya, namun Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Dan tidak ada yang mampu untuk mengubah itu.
Namun setidaknya, Kim harus berbahagia karena memiliki dua kakak laki laki saat ini.
"Wah, seru banget sih? Lagi ngomongin aku ya?"
Tanya Kim seraya berjalan mendekat, dan segera duduk di kursinya. Bersikap biasa seakan telah melupakan semua rasa sakit yang di rasakan dan bersikap seolah tidak terjadi apapun.
Semua orang cukup terkejut saat melihat kedatangan Kim yang bersikap hangat, seakan Kim telah tumbuh menjadi dewasa hanya dalam waktu satu malam dan bersikap seolah insiden kemarin hanyalah angin lalu yang tidak mempengaruhi apapun.
Yang membuat mereka tidak ingin menyinggung tentang insiden itu lagi didepan Kim dan memilih untuk melupakan semuanya serta menguburnya dalam dalam.
"Ih, adek GR."
Ucap Mami yang merasa sangat senang atas kepulangan Kim dengan raut bahagia tanpa kesedihan.
"Kita itu lagi ngomongin soal perjodohan."
Mami mengulurkan piring yang telah di isi nasi kepada Kim.
Kim menerima piring yang Mami ulurkan dan kemudian mengisinya dengan lauk pauk.
"Perjodohan siapa lagi, Mi? Emang Mami belum puas udah jodohin Kakak sama Vivian?"
"Adek kan udah tahu kalau kakak udah tunangan sama Kakak ipar, jadi gak mungkin Kak Ken dong? Kalo Kak Rick lebih gak mungkin lagi, berarti udah jelas kan perjodohan buat siapa yang kira kira masih jomblo?"
Ucap Mami dengan enteng seraya tersenyum penuh ledekan.
Kim menghentikan aktifitas makannya, dan kemudian memikirkan perkataan Mami.
"Perjodohan buat aku?"
Tanya Kim dengan cuek pada akhirnya dan kembali melanjutkan aktifitas makannya seperti biasa.
Mami mengangguk.
Kim cukup terkejut melihat anggukan Mami.
"Aku gak mau ah. Lagian, aku itu belum expired, Mi. Aku masih laku keras tau."
"Kamu tidak perlu menjelakan apapun, Dek. Kejombloan kamu itu udah menjawab semuanya."
Dan Semua orang tidak bisa menahan tawa saat mendengar ucapan Mami yang sangat jujur dengan perkataannya. Dan sama sekali tidak memperdulikan ekspresi cemberut Kim yang sedang merajuk.
"Mami gak asik."
Kim membuang muka, dan segera menoleh kearah Papi dan menunjukan puppy eyes, berharap jika Papi akan memberikan bantuan berupa pembelaan kepada Kim.
Namun papi hanya mengangkat bahu,
"Mami adalah Raja di sini, okey? dan Papi tidak bisa menyanggah titah Raja. Resikonya besar, Kim. Papi gak bisa nanggung."
Papi berbisik pelan, namun tentu saja bisikan Papi masih bisa di dengar oleh semua orang.
"Pfftt.."
Ken tertawa terbahak bahak begitu mendengar ucapan ambigu Papi.
Kim segera melirik ke arah Ken dengan seringai penuh dendam,
Namun, Ken hanya mengangkat bahu dan sama sekali tidak memperdulikan ekspresi kesal Kim.
Papi? Payah. Tidak bisa di andalkan.
Ken? Parah. Tidak ada harapan.
Dan untuk upaya terakhir, Kim menoleh ke arah Rick untuk meminta pembelaan.
"Rick."
Kim menunjukan wajah imut tanpa dosa untuk membujuk Rick agar bersedia berada di kubunya. Yaitu, kubu anti perjodohan.
"Jangan panggil Rick dong, dek? Rick udah jadi kakak kamu sekarang, panggil kak atau apa gitu, biar ada rasa hormatnya."
Ucap Mami berusaha untuk mengingatkan Kim tentang posisi Rick dalam keluarga Albert saat ini.
"Maaf, Mi."
Ucap Kim meminta maaf dengan tulus.
"Kak Rick, aku jomblo juga karena kamu yang udah mutusin aku. Jadi aku gak mau tahu, kamu harus tanggung jawab. Titik."
Rick segera mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah,
"Sorry, Kim. Aku bukannya gak mau bantu kamu, tapi aku takut kalau Mami marah. Soalnya marahnya Mami itu lebih menyeramkan dari Annabelle."
Rick bergidik ngeri membayangkan itu.
Mendengar jawaban Rick, cukup untuk menghancurkan harapan Kim untuk memperjuangkan diri sebagai Duta Anti Perjodohan.
"Itu semua sudah menjadi keputusan mutlak, sudah final dan tidak bisa di ganggu gugat lagi. Terserah adek mau suka atau tidak, Mami tidak peduli, yang penting perjodohan tetap lancar."
Ucap Mami dengan tegas.
Kim melipat kedua tangannya di dada.
"Aku gak mau. Titik."
"Harus mau. Titik."
Mami tetap pada pendiriannya dan tidak mau mengalah.
"Pokoknya gak, Mami kan lebih tua, harusnya Mami itu ngalah sama yang lebih muda."
"Gak bisa, Mami yang lebih tua, dan yang muda harus ngalah sama yang tua."
Melihat perdebatan konyol ini, Papi, Ken dan Rick hanya memutar bola mata mereka dengan malas. Namun enggan untuk menghentikan ini.
Bukan tanpa alasan, Wanita cenderung tidak bisa mengalah dan justru akan menyalahkan orang lain jika mereka tidak memenangkan pertempuran dengan lawan mereka. Jadi, diam adalah pilihan terbaik.
"Au ah. Aku mau bobo cantik. Capek ngomong sama Mami."
Kim menghentikan makan dan segera naik ke lantai atas menuju kamarnya dan tidak memperdulikan lagi ocehan Mami.