Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 34 ..



Barking dogs seldom hite..


🔥🔥🔥


Masih dini hari, namun Kim telah terjaga.


Bukan tanpa alasan, Kim sengaja bangun pagi pagi buta hanya untuk pergi ke Pantai Samawang dan menyaksikan matahari terbit secara langsung.


Kim menyiapkan banyak keperluan hanya untuk bisa berada di pantai Samawang selama seharian penuh.


Kim menyiapkan beberapa baju ganti dan sunblock, serta sebuah kamera DSLR keluaran terbaru untuk menemaninya berburu objek objek cantik selama berada di Sanur.


Jarak Pantai Samawang dari Grand Palace tidak terlalu jauh, hanya sekitar 2,4km.


Dan Kim mengendarai Rubiconnya dengan sangat pelan, selama hampir lima belas menit.


Dan Kim sangat menikmati udara pagi Sanur yang sama sekali tidak terkontaminasi polusi dan udara yang masih sangat segar.


Sesampainya di Depan pantai Samawang, Kim dapat melihat banyak orang telah lebih dahulu tiba di tepi pantai.


Banyak yang datang berkelompok, berpasangan, atau bahkan sendirian seperti Kim.


Kim sama sekali tidak mengambil pusing, lagi pula Kim hanyalah seorang single dan bukan seorang jomblo.


Plus, saat lo mati nanti, yang di tanya kan bukan siapa pacar lo? tapi siapa Tuhan lo kan??


Udah gak usah mikir terlalu banyak tentang apa pendapat orang.


Barking dogs seldom hite.


Begitulah kira kira. Bahwa jika ****** yang menggonggong tidak akan pernah menggigit.


Kim mengangkat bahu dan kemudian mengambil DSLR dari ransel kecilnya.


Dan Kim tampil dengan penampilan yang cukup santai saat ini.



➡ Visual Kim ⬅


Kim mulai mencari objek objek terbaik yang bisa di abadikan di kameranya.


Kim sangat menikmati pemandangan ini.


Melihat matahari terbit dari ufuk timur, menyaksikan matahari mulai meninggi, dan menyaksikan langit menjadi cerah.


Tak satupun yang luput dari bidikan DSLR Kim. Kim mengangguk sangat puas.


Menyimpan DSLR'nya kembali, dan menyusuri tepi pantai dengan bertelanjang kaki, dan membawa sepasang sepatunya menggunakan tangan.


Menghirup udara pantai dalam dalam, dan memejamkan mata sebentar.


Kim membuka mata dan mendapati seseorang berdiri di depannya. Kim mengangkat alisnya.


"Kim, lo ngapain disini?"


Suara seorang wanita cukup mengejutkan Kim.


Kim masih tetap diam, tidak ada niat untuk menjawab atau merespon apapun, namun Kim terus menerus memperhatikan wanita cantik yang kini telah menempel erat dalam pelukannya tanpa berkedip.


Setelah sekian lama, akhirnya Kim membuka mulutnya,


"Ngunjungin nenek lo, ya liburan lah,****."


Kim mencubit kedua pipi Kikan yang masih dan tetap chaby.


"Ih, gila lo, nenek gue udah mati. Atau mau gue anter ke makamnya?"


Kim mengerjapkan mata berkali kali.


Ya, Kim tahu jika orang gila memang bebas, tapi tidak harus seperti itu juga kan?


Kim menggelengkan kepala tanda prihatin dan memberikan sentilan anti kebodohan pada jidat Kikan.


"Sakit Kim, masih sadis aja sih lo? Pantas aja liburannya sendiri? Masih jomblo kan lo?"


"Ekh, jangan asal nuduh lo ya, enak aja bilang kalo gue jomblo. Gue itu udah di lamar Robbert Pattinson tau."


"Kapan? Kok gue gak di undang ke lamaran lo?"


Kikan bertanya dengan kebodohan akut yang bahkan tidak mempan setelah mendapat sentilan anti kebodohan dari Kim.


Okey okey, hanya orang gila yang beneran gila yang bakal percaya kalau Kim beneran di Lamar sama Robbert Pattinson.


Dan salah satunya adalah tidak perlu untuk ditanyakan lagi, jawabannya adalah Kikan, Kikan dan selalu Kikan.


"Kikan Kikan, lo tahu kan kalau rumah sakit jiwa gak di tanggung sama BPJS? Terus kenapa sekarang lo masih gila? Emang sekarang lo udah punya banyak duit buat nginep di Rumah Sakit Jiwa ? Atau mungkin sebenernya Rumah sakit jiwa punya bapak lo??"


Kikan mengangkat sebelah alisnya,


"Lo ngomong apa sih Kim? Gak jelas tahu gak? Udah, gue gak mau dengar omong kosong lo lagi, karena ada hal penting yang harus kita bicarakan. Sekarang lo ikut gue."


"Tapi sebelum itu, kenalin, ini pacar gue namanya Rio."


"Hai Rio. Gue Kimberly."


Ucap Kim mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Rio.


Rio membalas uluran tangan Kim.


"Hai Kim, gue Rio. Salam kenal."


Kim mengangguk.


Kikan mengajak Kim untuk berbicara disebuah Cafe terdekat dari pantai Sanur.


Dan Kikan memilih tempat duduk didekat jendela.


"Hal sepenting apa sih yang mau lo omongin sama gue?"


Ucap Kim seraya mendudukan dirinya di atas sofa dengan memandang wajah Kikan penuh penasaran.


"Berapa hari lo liburan di Sanur?"


Kim berpikir sebentar,


"Satu minggu, ini hari pertama gue disini, jadi masih sisa enam hari? Ada apa sih sebenarnya?"


Kim semakin merasa penasaran.


"Nada sama Dewi gak ikut liburan?"


Kim menggeleng,


"No, gue sendirian aja. Why?"


"Sayang banget mereka gak ada,"


Kikan menghembuskan nafas penuh kekecewaan.


"Sebenarnya malam minggu nanti, gue ulang tahun."


Kim mengangkat sebelah alisnya,


"Terus?"


"Terus gue mengundang lo secara pribadi, bisa dikatakan jika ini adalah suatu kehormatan karena mendapat undangan langsung dari gue."


Kikan tersenyum lebar.


Kim mencoba mencerna perkataan Kikan. Kehormatan? Kehormatan dari Hongkong?


"What the ****? Kehormatan apaan sih? Ngarang aja lo."


"Ih, gue serius Kim."


"Iya, terus gue harus banget datang, gitu?"


"Wajib hukumnya, kita udah lama gak ketemu, dan keberuntungan lo karena berkunjung ke Sanur pas gue lagi ulang tahun."


"Ini sih bukan keberuntungan, tapi kesialan. Ternyata pepatah itu suka benar, bahwa dunia memang gak selebar daun kelor, di Bali yang seabrak abrak luasnya kenapa malah harus ketemu lo disini coba."


Kim mengeluarkan devilsmirk.


"Ah, lo jahat sama gue, nanti gue mau ngadu ke Abang Ken ah, biar lo dimarahi."


Kikan merengut.


"Ngadu aja sono, paling ujung ujungnya juga lo yang akan dimarahi."


Kim tersenyum penuh kemenangan.


"Stop it, ini udah out of topic, now back to topic. Pokoknya ini perintah, lo harus datang ke Boshe VVIP Club. Jam sembilan malam lo udah harus stay di sana."


"Idih, maksa?"


"Ini hukuman karena lo cuma liburan sendiri, gak ngajak Nada sama Dewi."


"Lha terus, apa hubungannya sama gue coba? Itu kan salah mereka sendiri yang gak ikut, bukan salah gue? Gue gak terima, ini namanya pelecehan, ini melanggar Hak Asasi Kejombloan."


Kim cemberut merasa jika jiwa jomlonya mulai diremehkan.


"Dasar Jomblo kurang belaian lo. Udah, sono lo balik, gue mau pacaran dulu. Hush hush hempas."


Ucap Kikan memeletkan lidahnya mengejek kejombloan Kim.


Kim berdiri,


"Gue sumpahin, lo putus sama Rio, hwek."