Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 13 ..



Tidak semua yang gratis itu enak..


🔥🔥🔥


Nada dan Kim menghabiskan semua makanan yang mereka pesan tanpa sisa sedikitpun.


"Sumpah ya, makanannya enak banget Wi? Lo kok makan dikit doang sih? Lagi diet?"


Tanya Nada yang melihat bahwa Dewi hanya mengaduk makanan tanpa memakannya.


"Nad, lo tau gak? Menurut pakar ahli bidang kuliner yang gue kenal, mengatakan makanan terenak di dunia adalah makanan gratis."


Dewi menjabarkan seraya meminum orange juicenya yang telah kandas sampai dasar.


"Eh, Emang pakar ahli kuliner itu siapa, Wi?"


Tanya Nada yang tetap berpura pura bego.


Dewi meringis.


"Nenek gue."


"OMG, pantes aja teorinya salah. Mau tau kenapa?"


Belum sempat Dewi untuk memberi jawaban, Nada sudah melanjutkan argumennya.. "Alasannya sederhana, gak semua makanan gratis itu enak. Contoh kecilnya, gak usah jauh jauh, lo Wi. Singkatnya, gue ngajak lo ke resto jepang, lo pesan sepuasnya dan gue yang bakal bayar. Gue traktir, gratis tis tis. Tanpa sepeserpun lo ngeluarin duit. Tapi lo pasti tetap nolak kan? Kenapa? Karena lo gak suka makanan jepang. Intinya adalah gak semua yang gratis itu enak."


Kim mengangguk setuju,


"Kalo otak lo gak di tinggal di rumah, sebenernya lo lumayan pintar juga sih, Nad. Masih tiga tingkat diatas Dewi lah."


"Okey, gue ngaku, dari kita bertiga emang gue deh yang loadingnya paling lemot. Kalo lo udah 4G, gue masih 3G. Tapi meskipun kayak gitu, jangan salah ya, gue lulus pake nilai gue sendiri, anti sogok sogokan gue. Pokoknya tujuh puluh persen murni mengandalkan otak sendiri, dan sisanya pake keberuntungan."


Dewi tidak menutupi apapun.


Bagaimanapun, Dewi tetaplah Dewi, selalu jujur. Meski kadang asal ngomong dan kebanyakan ngaco, tapi semuanya murni karena kepolosan dia. Ups, kebegoan dia maksudnya.


Tapi meski begitu, Dewi bisa diacungi lima jempollah (yang tiga jempol minjem punya tetangga) buat kesetiaan. Karna dia gak bakalan pernah jual persahabatannya dengan apapun. Selalu bisa jaga rahasia. Dan punya jiwa nasionalisme yang tinggi, maklum kakek buyutnya adalah veteran empat lima dulu.



➡ Visual Dewi ⬅


"Uh, sayang jangan sedih dong. Terladang yang namanya kejujuran emang menyakitkan, tapi percaya deh, kebohongan itu cuma rasa sakit yang tertunda. Bagusan jujur sama kondisi sendiri, biar gampang buat instropeksi diri."


Dewi hanya cemberut dan pasrah mempunyai sahabat yang ember bocor kayak Nada. Omongannya pedes, tanpa tedeng aling aling. Pokoknya, segila gilanya orang gila Nada adalah yang paling gila.


"Udah Wi, gak usah liatin gue terus? Gue tau kalo gue cantik, gue juga tau kalo lo ngiri sama gue. Tapi gue gak ada maksud apapun, niat gue baek. Lo harus banyak makan ikan, biar otak lo agak enceran dikit. Mau gue pesenin ikan?"


"Kenyang gue liat lo makan. Mirip orang yang lagi kesetanan. Sumpah, bikin ngeri, gue jadi metinding."


"Emang lo gak takut gendut Kim?"


"Mau makan sama piring piringnya sekalipun, gue gak mungkin gendut Wi, gue kan punya penyakit susah gendut. Udah stadium akhir."


Kim menjawab enteng.


"Cieelah, jadi gak bisa gendut nih? Ah, yang bener?"


Kim menjulurkan lidah,


"Kalo gak percaya ya udah, emang gue pikirin."


"Tapi sekarang lo udah lebih baik kan?"


Tanya nada menghentikan perdebatan antara Kim dan Dewi.


Kim mengangguk.


"Gue akui, kalo gue ngerasa lebih baik sekarang. Tapi gak tau ini efeknya sementara atau permanen. Takutnya enakan pas lagi kenyang doang, kalau laper, bisa kumat lagi."


"Calm, dear. Kalo sampe kumat, lo kan masih punya gue? Tinggal diruqiah lagi, beres deh."


"Emang gue kerasukan? Sembarangan aja kalo ngomong."


"Peace."


Nada membentuk huruf V dengan jari jemarinya.


"Btw, kapan lo berangkat ke Bali?"


Tanya Nada mengakhiri topik gila yang sejak awal dimulainya.


Kim berpikir sejenak. Sesaat kemudian menjawab,


"Em, sekitar tanggal dua enam bulan ini."


"Sepuluh harian lagi dong?"


Nada ikut berpikir biar kelihatan sibuk,


"Dalam waktu sepuluh hari kita masih bisa mempraktekan beberapa tips lagi. Syukur syukur setelah pulang dari Bali, lo dapet gandengan cowok baru. Tapi kalo gak, ya masih bisa di lanjut setelah lo pulang."


Kim menyetujui usulan Nada,


"Okey, gue ngekor aja deh. Biar kepala yang memimpin."


"Kalo lo udah setuju, ya udah, Next."