Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 8 ..



Tidak semua masalah dapat di selesaikan menggunakan alkohol..


🔥🔥🔥


Sinar matahari menerobos melalui celah celah jendela. Cahaya hangatnya membangunkan Kim dari tidur nyenyaknya.


Kim mengerjapkan mata, dan mengawasi sekeliling.


"Kamar Dewi."


Ucap Kim dalam hati.


Terlihat dua sosok perempuan tergeletak di atas ranjang yang sama dengan Kim.


Kim sama sekali tidak tertarik untuk membangunkan kedua sosok itu.


Kim berdiri, mengambil baju ganti dari lemari Dewi, dan bergegas masuk ke kamar mandi.


Dua puluh manit kemudian,


Kim keluar dari kamar mandi. Mengeringkan rambut basahnya dengan handuk, dan mendudukan dirinya di atas sofa samping ranjang.


Kim kembali mengingat ingat tentang kejadian semalam, seingat Kim, Kim hanya meminum beberapa gelas dan setelahnya tidak mengingat apapun lagi.


Entahlah, satu yang pasti, the effects of alcohol are really terrible.


Kim bergidik ngeri ketika membayangkannya kembali. Namun, satu hal. Entah itu akibat dari efek samping alkohol yang mengerikan atau akibat dari suasana hati Kim yang semakin mempersulit semuanya?


Kim mengangkat bahu tidak tahu.


Kim hanya berharap, semoga tidak ada hal aneh yang terjadi semalam. Misalnya, seperti sesuatu yang memalukan. Atau lebih parahnya, muntah di depan umum.


Untuk pertanyaan yang pertama, ada kemungkinan iya. Tapi, untuk pertanyaan yang kedua, kayaknya gak mungkin deh. Soalnya, Kim hanya minum beberapa gelas. Dan itu tidak mungkin membuat Kim memuntahkannya kembali.


Setidaknya, itulah yang Kim pikirkan saat ini.


Tiba tiba, ada pergerakan dari atas ranjang. Kim terus memperhatian kedua sosok yang saling menggeliat dan kemudian membuka mata mereka. Mereka terbangun, dan yang di dengar mereka pertama kali adalah suara dingin Kim.


"Gimana tidurnya?Nyenyak?"


Nada menguap, dan mencari sumber suara dengan memindai setiap sudut di kamar Dewi dengan penglihatannya


"Semua juga gara gara lo Kim, sumpah, badan gue sakit semua. Kayak habis di pukulin masa."


"Habis di pukulin masa? Gara gara maling ayam tetangga, Nad?"


Dewi bertanya dengan ekspresi wajah yang masih menahan kantuk, namun dengan suara yang cetar membahana.


"Males gue ngomong sama orang gila,"


Nada menimpali dengan melemparkan bantal ke wajah Dewi.


"Aw, kena wajah cantik gue, bego. Namanya juga orang gila, Nad. Orang gila kan bebas."


Dewi mengucek mata dengan tangannya.


"Orang gila bukannya bebas, Wi. Tapi seenaknya sendiri."


"Pagi pagi udah berisik banget. Inget, ini kamar ya, bukan pasar."


Kim menutup telinganya dan menengahi perbedabatan syantik antara Nada dan Dewi.


"Tapi, satu hal yang harus lo tahu. Ini semua gak ada hubungannya sama gue. Gue itu anak baik yang tidak tahu apa apa, eh, malah lo berdua tega nyangkut pautin kepolosan gue. Lo berdua gak takut dosa emang?"


"Cuih, gak usah bawa bawa dosa deh, Kim. Gak ada hubungannya dari Hongkong? Dasar Gila lo. Gak usah pura pura amnesia, semalem lo itu ngeracau gak jelas, terus tiba tiba tidur gitu aja di Survive. Gue sama Nada sampai bingung mau bawa lo balik."


Dewi menjadi kesal setengah mati saat mengingat kejadian kemarin malam di Survive.


Kim mendengarkan dengan seksama inti dari peristiwa yang terjadi semalam.


"Gue seret lo sampai parkiran, terus gue lempar badan berat lo ke dalam mobil."


Ucap Nada seraya mempraktekan gerakan melempar dengan mantap.


"Enak aja, gue gak terima. Ini namanya contempt for my body shape. Ini pelecehan. Sumpah, Wi. Tubuh gue itu gak berat sama sekali. Ideal kayak gini di bilang berat."


Kim berdiri seraya berlenggak lenggok menunjukan tubuh idealnya.


Dewi berdecak melihat kelakuan absurd Kim.


"Lo itu berat bukan karena gendut, Kim. Tapi karena kebanyakan dosa."


Nada terkikik geli mendengar ucapan Dewi yang di nilai terlampau jujur.


"Tadi malam, lo bikin kita pusing, Kim. Sempat berniat buat ninggalin lo di Survive sama Beni. Tapi gue takut, Beni bakal macem macem sama lo, secara lo tau sendiri kan kelakuan Beni kalo udah ngeliat lo? Jiwa bucinnya tumbuh seketika."


Kim membayangkan aura seram sepupu Nada. Ganteng sih iya, tapi bikin ngeri. Tatonya banyak. Persis kayak anak punk. Membuat Kim menjadi takut seketika.


"Im sorry, dear. Iya, iya, gue salah. Tapi mana gue tau, namanya juga gak sadar, Nad. Mau gimana lagi coba? Lagian lo juga kan yang maksa gue buat ikut ke Survive? Sabar dong, sabar. Orang sabar tu di sayang tuhan."


"Sabar jidat lo? Harusnya lo itu berterima kasih sama kita, karena udah bawa lo balik dengan selamat. Coba kalo kita tinggalin lo sama Beni? Hii, serem. Lo pasti langsung di nikahin malam itu juga. Dan udah untung, kita gak ngelempar tubuh lo ke got depan Survive."


"Maaf deh maaf, gue khilaf. Makasih banget udah bawa gue balik dengan selamat dan tanpa ada yang kurang satupun."


Kim berkata tulus.


"Tapi, Kim. Gimana perasaan lo sekarang? ngerasa lebih baik?"


Tanya Nada mendekat, dan duduk di samping Kim dengan rambut acak acakan khas bangun tidur.


Kim memijat pelan kepalanya yang sedikit migrain.


"Lebih baik apanya? Kemarin masih mending, cuma hati gue yang sakit. Lha sekarang, kepala gue juga ikutan sakit. Kayaknya tips lo gak ngaruh sama sekali deh Nad."


"Idih, lo ngeremehin gue? Baru juga permulaan Kim, ini baru awal. Masih terlalu dini buat ngasih kesimpulan tentang gagal atau enggaknya perencanaan gue. Lagian nih ya, gak akan ada akhir tanpa permulaan, Kim. Lo juga gak akan bisa mencapai pagi sebelum melewati malam."


"Dengerin omongan Nada, Kim. Nada itu bener." Dewi membela Nada dan bahkan berdiri bersisian di kubu Nada.


"Step by step, Kim. Semua butuh proses. Di dunia ini mana ada yang instan sih? Masak mie yang katanya instan aja masih perlu di masak pake aturan pula."


Nada mulai berubah menjadi seorang motivator.


"Lagian, yang pertama emang selalu lebih sakit, Kim. Karena belum terbiasa. Tapi, kalo udah yang kedua ketiga keempat dan seterusnya, dntar lama lama juga mulai enak dan terbiasa."


Dewi dan Kim saling memandang dan melongo. Mencerna kata kata ambigu yang dengan enteng keluar dari mulut Nada.


"Nad? lo ngomong apaan sih? ngelantur aja deh."


Ucap dewi menyentuh jidat Nada, dan kemudian menyentuh jidat nya sendiri, dan berkata,


"Gak panas kok. Normal."


"Lo pikir gue sakit jiwa? Lo berdua itu yang otaknya ngeres. Maksud gue itu, kalo rencana pertama gagal, kan masih bisa pakai opsi kedua ketiga keempat kelima sampai ke dua ratus lima puluh enam. Kalo yang ke dua ratus lima puluh enam masih gagal, ya udah ke laut aja sono. Gue mah males."


Nada menjawab enteng.


"Oke deh, gue bakal ngelakuin hal hal ekstrim sekalipun. Asal ******** itu bisa lenyap dari otak smart gue."


Kim berucap yakin.


"Sip lah, gue dukung lo 2020%."


Ucap Dewi menyemangati Kim.


"Fighting Kim. Merdeka."


"Karena rencana pertama di nyatakan GAGAL. Maka kita bakal pakai rencana kedua."