Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 45 ..



🔥🔥🔥


Kim meninggalkan apartemen Sam dan segera menaiki taksi menuju ke rumah Dewi.


Dewi yang kebetulan sedang berada di rumah bersama Nada segera membuka pintu dan membawa Kim ke kamarnya.


"Tumben lo gak bawa mobil?"


Nada bertanya sebelum Kim sempat duduk diatas ranjang.


"Lagi males, irit bbm Nad."


Kim menjawab dengan merebahkan dirinya diatas ranjang Dewi.


"Cuielah, kebanyakan gaya sih lo. Lo udah jadi aktifis sekarang?"


"Au ah, pusing gue. Gue mau bobo cantik dulu."


Ucap Kim seraya memejamkan matanya.


"Lo jauh jauh kesini, cuma mau numpang tidur doang?"


Dewi berucap seraya mendekat ke arah Kim dan duduk di samping kiri Kim.


"Bisa dibilang seperti itu."


"Why? Lo ada masalah?"


Dewi mulai menginterogasi.


Mendengar kata MASALAH, Nada segera mendekat dan duduk di sebelah kanan Kim.


Kim mengangguk, kemudian duduk dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang.


"Ini bukan lagi masalah."


"Terus??"


"Sudah masuk di kategori sebagai bencana."


Dewi sungguh tidak mengerti dengan maksud Kim yang sebenarnya.


"Maksud lo apa sih, Kim?"


"Jadi,.."


Kim berhenti dan tidak melanjutkan kalimatnya.


Membuat Dewi dan Nada penasaran dengan lanjutan kalimat yang akan Kim ucapkan.


"Jadi apa?"


Nada dan Dewi bertanya bersamaan.


"Jadi, Rick itu,..."


"Rick kenapa? Rick mati di Selandia? Ngomong yang jelas dong."


Nada mulai kehabisan kesabaran.


Mendengar ucapan Nada, Dewi segera menepuk mulut Nada yang tidak dikondisikan.


"Aw, sakit tau Wi. Lo main tepuk sembarangan aja. Ini mulut Wi, bukan tembok."


Nada merengut saat mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Dewi.


"Mulut lo di kondisikan dong, Nad. Dasar mulut swasta."


Dewi setengah berteriak untuk menghentikan ucapan Nada yang semakin tidak enak didengar.


Nada meringis.


"Sorry sorry, gue Se-nga-ja."


"Gue dribel juga lo, kesel gue ngomong sama lo. Ayo Kim, lanjutin curhatnya."


Dewi kembali mendesak Kim untuk segera melanjutkan ceritanya.


Kim ragu sejenak,


"Jadi, Rick itu sebenarnya, kakak gue."


Krik.


Krik.


Krik.


Nada dan Dewi melongo. Dan ruangan menjadi sunyi seketika.


Melihat kedua sahabatnya tidak merespon apapun, Kim kembali menjelaskan.


"Iya, Rick adalah kakak gue. Maksudnya anak Papi Albert."


Mendengar ini, Dewi benar benar semakin linglung.


"Maksud lo Aldrick Chandra kan? Bukan Rick tetangga sebelah gue?"


"Iya, Aldrick Chandra, Rick."


Jawab Kim menaikan nada suaranya.


Nada dan Dewi saling berpandangan. Dan kemudian tertawa terbahak bahak.


Nada menggelengkan kepala,


"Sumpah, Bercanda lo gak lucu, Kim."


Kim menggeleng,


"Apa gue terlihat seperti sedang bercanda? Gue bahkan gak pernah seserius ini disepanjang hidup gue, Nad."


Nada dan Dewi saling memberi kode dengan anggukan.


"Okey okey, anggaplah kita percaya. Jadi maksud lo adalah, Papi Albert punya selingkuhan dan mempunyai bayi dengan wanita lain? Dan menghasilkan Rick?"


Nada berusaha menebak jalan cerita Kim dengan analisanya.


Kim menggeleng.


"No no."


Kim mulai menceritakan semua dari awal hingga akhir tanpa disela sedikitpun oleh kedua sahabatnya.


"Jadi alasan Rick mutusin lo karena ini?"


Dewi bertanya setelah Kim selesai menceritakan kisahnya.


Kim mengangguk.


Nada setengah tidak percaya dengan kisah Kim yang baru saja didengarnya. Dan bertepuk tangan.


"Wah wah wah. Salut gue sama dia."


"Gue gak nyangka kalau Rick ternyata bisa bersikap dewasa, meski timingnya gak tepat, tapi seenggaknya itu tidak terlalu buruk."


Dewi menambahkan.


Kim mengangguk.


"Gue juga mikir gitu. Gue gak marah sama Rick, sedikitpun tidak. Tapi gue hanya merasa sedikit kecewa dengan keluarga gue yang udah nipu gue selama dua tahun."


"Udah lah Kim, intinya adalah there are no parents who do not love their children. Semua orang tua sayang sama anaknya dan setiap orang tua punya cara tersendiri untuk menunjukan rasa sayang mereka. Dan semua juga tergantung dari mana sudut pandang kita sebagai anak melihatnya."


Nada menjelaskan.


"Yes, i know."


Nada masih bisa melihat rona kesedihan pada raut wajah Kim.


"Kim, apa lo yakin kalau masalah yang membuat lo jadi galau adalah masalah ini? Lo gak menyembunyikan apapun dari kita kan?"


Dewi melebarkan mata saat mendengar interogasi yang Nada lakukan kepada Kim.


"Jangan bilang ini tentang cowok?"


Dewi menimpali.


Damn.


Kim menelan ludah, bagaimana bisa kedua makhluk ini membaca isi hati Kim dengan sangat akurat? Kim celingukan dan berusaha untuk menyanggah dan mencari topik pembahasan lain.


Namun apalah daya, Nada dan Dewi telah bersiaga untuk mencekik Kim jika Kim tidak menceritakan dengan jujur.


"Okey okey, gue ngaku kalah."


Kim mengangkat kedua tangannya keatas tanda menyerah.


"Bagus, sekarang lo cerita semuanya tentang lo dan perasaan lo."


Kim ragu sejenak.


"Gue sebenarnya kemarin nginep di apartemen Sam."


Nada melebarkan mata,


"Lo kabur?"


Kim menggelengkan kepala,


"No, Sebenarnya tidak bisa di bilang kabur sih, gue cuma ingin menghirup udara segar doang."


"Tunggu tunggu tunggu. Sam? Sam Sam Sam? Gue pernah denger nama itu dimana ya?"


Dewi mencoba untuk mengingat ingat nama itu, nama yang seperti sangat akrab dalam pendengaran Dewi.


"Oh, gue tahu, cowok ganteng legendaris kampus kita kan?"


"Cowok ganteng legendaris apa sih, Wi? Lo itu ngelantur mulu kerjanya? Sekali kali bangun dong biar gak halu."


Ucap Nada menyanggah perkataan Dewi.


"Gue serius Nad."


Dewi mengangkat tangan dan membentuk huruf V dengan jari jemarinya.


"Suer, gue kagak bohong. Kalau lo gak percaya nih gue kasih lihat fotonya."


Dewi membuka ponsel dan mencari foto terbaru Sam. Kemudian menunjukan kepada Kim dan Nada.


Melihat foto itu, Kim mengangguk.


"Lo kok bisa punya foto cowok bernama Sam itu sih, Wi?"


Tanya Nada penasaran.


Dewi meringis,


"Gue ikut fansclub penggemar Sam di Instagram."


Nada masih tidak percaya dengan ucapan Dewi,


"Emang ada yang mau ikut club gak masuk akal kayak gitu?"


"Eits, jangan salah, Nad. Ini juga salah satu yang lagi viral di kampus kita."


"Dia artis?"


Dewi menggeleng,


"Bukan artis sih. Tapi, Sam itu jago main gitar."


Kim terkejut dan berpikir sejenak.


"Jago main gitar? Masa sih? Kok gue gak tahu?"


"Mana gue tahu."


Dewi mengangkat bahu.


"O iya, Emang lo akrab banget sama Sam? Sampai kaburnya ke apartemen dia??"


Tanya Dewi.


"Gak juga sih, Sam itu sahabatnya Ken."


"Terus, lo sama dia cuma berdua doang di apartemen?"


Tanya Nada pada akhirnya.


Kim mengangguk.


Nada melebarkan mata,


"Terus, lo berdua ngapain aja? Jangan bilang kalau kalian berdua duet bikin bayi semalam nonstop?"


"Gila lo."


Dewi menoyor kepala Nada.


"Kim itu cewek baik baik, Nad. Jadi gak mungkin Kim melakukan **** pra nikah. Dan itu juga melanggar janji yang udah kita bertiga ikrarkan didepan Guru ngaji gue."


Nada hanya memegang kepala bekas toyoran Dewi dan meringis.