
Sesuatu yang sederhana biasanya akan mengandung banyak kebahagiaan di dalamnya..
🔥🔥🔥
Matahari mulai meninggi.
Kim bergeliat manja diatas ranjangnya, membuka mata dan melirik jam di meja samping tempat tidurnya. Menunjukan pukul sembilan pagi.
Ups, siang maksudnya.
Kim tertawa dalam hati.
Kim mendudukan diri dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang, Kim tertidur nyenyak sejak kemarin.
Hanya terbangun sekali ketika dini hari hanya untuk meminum obat tidur yang telah Nada siapkan.
Entah sudah berapa lama sejak Kim tidak pernah merasakan tidur dengan sangat nyenyak.
Semua tentu berkat ide gila Nada, namun Kim sungguh berhasil merasakan apa yang di sebut dengan mimpi indah, benar benar menakjubkan.
Ide sampah yang briliant.
Kim berdecak kagum.
Sejak Kim terobsesi dengan nilai nilai Akademis dan Non Akademis di sekolahnya, Kim tidak pernah sekalipun merasa tidur dengan nyenyak, bahkan dalam mimpipun, Kim akan di teror dengan materi ulangan yang tidak ada habisnya.
Ditambah, sejak Kim dicampakan, Kim tidak bisa tidur lebih nyenyak dari sebelumnya. Apalagi untuk berpikir jernih, kehilangan separuh IQnya tentu membuat otak Kim menjadi tumpul dalam seketika, dan seperti kehilangan sayap untuk terbang.
Kim sungguh bukan apa apa dan bukan siapa siapa lagi dengan posisinya saat ini.
Tapi, semua mulai berubah dan telah berbeda untuk sekarang. Meja telah berbalik, dan hati Kim juga telah terbuka sedikit demi sedikit.
Entah sejak kapan itu terjadi, entah sejak Nada menanamkan ide ide gila untuk melupakan ******** itu? Atau sejak Kim merelakan kepargian ******** itu dari hidupnya?
Entahlah, Kim tidak tahu dan juga tidak ingin tahu.
Namun sayangnya, semua itu tidak lagi penting untuk sekarang. Entah ada atau tidaknya Rick dalam kehidupan Kim, tetap tidak akan ada yang berubah. Kim akan selalu Kim, dan Kim tetap akan menjadi Kim.
Kim akan selalu melangkah ke depan.
Lagipula, ini sudah terlalu jauh untuk kembali ataupun berbalik arah. Bagaimanapun, garis finish sudah di depan mata. Kembali keawal lagi, tentu akan menjadi sangat canggung.
Kecuali jika mengatur ulang semuanya dari awal, tapi itu akan membutuhkan waktu lebih lama.
Ibarat seorang gamer telah berhasil mencapai level tertinggi, telah mengupgrade semua tokoh dan telah meraih banyak poin di setiap levelnya dengan susah payah. Namun, tiba tiba, permainan diambil alih oleh hacker, dan tidak hanya merebut paksa, hacker itu juga telah mengacaukan jalan permainanya. Dan parahnya, si hacker tidak dapat mencapai akhir permainan dengan memenangkan gamenya, namun justru meninggalkan permainan dalam keadaan yang sangat berantakan.
Maka, tentu hanya akan ada dua pilihan tersisa, yaitu, opsi pertama, menghapus game dan mendowload ulang? Atau, opsi kedua memperbaiki dan menata ulang semua kerusakan dan kekacauan yang telah disebabkan hacker dengan proses yang lebih rumit dan jangka waktu yang lama?
Tentu kedua jawaban itu sama sama sulit. Tergantung darimana sudut pandang kita melihatnya.
Namun, untuk Kim secara pribadi, akan lebih memilih untuk memperbaiki kemudian menata ulang semua kerusakan dan kekacauan yang Rick sebabkan, walau sangat rumit dan memakan waktu lebih banyak.
Itu akan lebih baik, daripada harus merestart kembali.
Dan mungkin itu akan sebanding dengan harga mahal yang harus ditebus untuk sebuah kata, yaitu kebahagiaan.
Tok tok tok..
Suara ketukan pintu mengalihkan pikiran Kim.
Kim masih bergelung di dalam selimutnya tanpa ada niat untuk bangun sekedar mencuci muka atau membukakan pintu untuk seseorang yang mungkin masih berdiri dan menunggu didepan pintu kamarnya.
Tidak mendapat jawaban apapun dari dalam, Ken berinisiatif untuk memanggil nama Kim, walau sudah pasti pintu tidak di kunci, Namun Ken tidak akan membukanya sebelum mendapat izin dari penghuni kamar. Dan menganggap ini adalah bagian dari privasi adik perempuannya.
"Kim, lo udah bangun? Gue bawa sarapan nih buat lo?"
Ken setengah berteriak.
"Iya kak, gue udah bangun. Pintunya gak di kunci, langsung masuk aja."
➡ Visual Ken ⬅
Kakaknya selalu dan sangat tampan.
Itulah seorang Kenzo Albertian, kakak paling tampan yang Kim miliki, kakak pertama dan satu satu nya yang akan selalu memberikan kasih sayang tulus tanpa mengharapkan imbalan apapun.
Dan yang menjadi pusat perhatian Kim adalah nampan yang dibawanya, terlihat sepiring nasi goreng dan segelas susu berada diatasnya.
Ken meletakan nampan diatas meja, kemudian meletakan telapak tangannya pada dahi Kim, untuk memeriksa suhu tubuh Kim.
Suhunya normal dan Kim juga sehat dan baik baik saja, jadi tidak ada yang perlu untuk di khawatirkan.
"Kim, gue buatin sarapan kesukaan lo. Lo pasti lapar kan? Soalnya, lo gak makan dari kemarin. Terus kemarin malam lo juga gak makan malam, terus tadi pagi lo juga gak turun buat sarapan. Nada bilang, lo kecapean dan butuh istirahat, jadi Papi sama Mami gak enak buat ganggu waktu istirahat lo."
Kim hanya tersenyum mendengar pengakuan Ken yang sangat manis.
Melihat senyum menakutkan yang Kim tunjukan, membuat Ken bergidik ngeri.
"Idih, malah senyum senyum gak jelas? Udah jelas banget, kalo lo itu kesambet? Lagian lo gak pernah dengerin petuah gue sih?"
Ken sedikit terlihat kesal.
Kim cukup terkejut, sejak kapan Ken percaya dengan yang namanya hantu dan tahayul? Kim hanya mengangkat bahu dan malas untuk memikirkannya.
"Petuah lo banyak banget kak, gue aja sampai lupa saking banyaknya?"
"Yang nomor empat lima, isinya adalah jangan keluyuran sampai larut malam, lo gak tahu aja sih kalo pohon gede didepan kompleks itu ada penghuninya."
Ken berkata dengan nada serius untuk meyakinkan Kim.
"Seriously? Terus sejak kapan lo percaya sama yang namanya makhluk halus?"
"Sejak lihat lo kesambet kayak gini, pokoknya lo harus hati hati mulai dari sekarang sama Tuyul penghuni pohon depan kompleks."
Kim berpikir sebentar, merasa bahwa perkataan Ken cukup bias, Lagipula sejak kapan Tuyul tinggal dipohon? Bukannya penghuni pohon yang sah adalah Kunti?
"Setahu gue, penghuni pohon itu Kunti kak, bukan Tuyul?"
"Sama aja, Kim. Masih sejenis setan berarti mereka satu keluarga."
Mendengar ini, Kim menjatuhkan rahangnya. Okey, Kakaknya sudah sangat pintar sekarang, pintar mengarang cerita. Kerja yang cukup bagus.
Kim menyeringai penuh kelicikan.
"Waow, its amazing. Gue juga mau melihara tuyul ah, biar bisa kaya raya tanpa usaha."
"Idih? Lo pikir melihara Tuyul itu gak perlu pake usaha? Justru, usahanya itu ekstrem, Kim."
"Ya kali, lo itu cuma sok tau, kayak pernah melihara Tuyul aja?"
Ken menyembunyikan senyum licik yang tersembunyi dengan baik dan tidak terlihat.
"Emang pernah,"
Kim celingukan mencari dimana keberadaan Tuyul yang mungkin Ken pelihara, jangan bilang kalau Tuyul sekarang berada dikamarnya? Kan serem juga, kalau harus diawasi oleh sejenis makhluk tidak kasat mata.
"Dimana? Kok gue gak pernah lihat sih?"
Ken menahan tawa melihat wajah penasaran adiknya, dan jiwa nakal Ken mulai memcuat kepermukaan.
"Kalo lo berdiri didepan cermin, lo juga bakal lihat Tuyulnya."
Kim kehilangan senyumnya sekarang, dan membeku seketika,
"WTF, KAK. KEN, GUE BUKAN TUYUL. GUE VAMPIRE, ISTRINYA EDWARD CULLEN.