Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 3 ..



Love is love, but self esteem remains number one...


🔥🔥🔥


Entah bagaimana Kim telah berada di rumah Dewi. Kebetulan Nada juga sudah berada di sana.


Dewi menggoncang goncangkan tubuh Kim dengan khawatir.


Sejak kedatangan Kim satu jam yang lalu, Kim tetap berdiri di depan jendela untuk waktu yang lama, dan entah apa yang di lihatnya sedari tadi melalui kaca jendela lebar di kamar Dewi.


Seperti seonggok batu, diam mematung dan sama sekali tidak mengeluarkan suara.


"Kim, sebenernya lo kenapa sih? Jangan bikin gue merinding dong. Seriusan, gue takut beneran."


Kim "...."


"Wi, Kim kenapa sih?"


Tanya Nada mulai panik dengan tingkah aneh Kim.


Dewi hanya mengangkat bahu, tidak tahu menahu.


"Dari satu jam lalu, dia gak bergerak satu incipun. Gue takut nanti dia kram atau kesemutan, Nad."


Dewi mulai sedikit khawatir.


"Lo sebegitu bahagianya di beliin mobil baru sama papi? Sampe lo setengah gila kaya gini? Atau.."


Nada menghentikan kalimatnya dan berpikir sebentar, dengan mengetuk dahinya dengan jaru telunjuknya.


"Atau, lo kehabisan kata kata sama paket liburan ke bali? Bukannya gimana ya kim, tapi menurut gue sih, lo kan udah sering bolak balik Bali, masa iya lo masih shock gitu?? Malu maluin tau gak."


Nada mulai jengah dan tidak tahan melihat perubahan ekstrim kim.


"Bego lo pakein formalin, pantes awet."


Ucap Dewi menoyor kepala Nada.


"Apa Kim terlihat kayak orang yang lagi bahagia? Mikir dong? Bisa gak sih lo serius dikit?"


"Kutu kupret, sakit tau Wi. Asal toyor aja."


Jawab Nada sambil memegang kepalanya yang sebenarnya tidak sakit sama sekali.


"Sorry deh, sorry. Abisnya lo gitu sih? Emang lo gak kasian ma kita-kita, Kim? Kita udah lumutan nungguin lo ngomong."


"Lo sebenernya kenapa sih Kim?? cerita atau gimana gitu. Jangan bikin kita mati penasaran Kim."


Dewi mendekat dan menepuk nepuk pundak Kim.


"Are you okey? or, is there a serious problem?"


Kim menoleh, terdiam sesaat. Dan tiba tiba memeluk Dewi.


Giliran nada yang mematung menyaksikan ini. Nada jelas bingung dengan perubahan sikap Kim yang di rasa sangat aneh. Mungkin sedang PMS ?? Sebelum Nada sempat berasumsi lebih jauh, Kim mengeluarkan suaranya.


"Gue sebenernya, Gue putus Wi."


Ucap Kim yang hampir tidak terdengar.


"Apa??"


Dewi mengedip ngedipkan mata dan merasa jika ini tidaklah benar. Mungkin Dewi salah pendengaran atau otaknya sedikit lawbat hingga yang di dengar adalah kata kata aneh.


Putus? Tidak mungkin.


Dewi tetap menggeleng tak percaya dengan apa yang di dengarnya. Secara, Rick is the best man among the best. Oke?


"Rick mutusin gue."


Nada dan Dewi terdiam.


Menyeret dan mendudukan tubuh Kim di ranjang.


"Maksudnya Rick mutusin lo ?? why ??"


Nada langsung gaspol pake mode kepo.


"Dia mau bermigrasi ke Selandia Baru nyusul ibunya, dan dia gak bisa LDR sama gue. Jadi ya gitu."


Dewi menimpali dengan raut wajah emosi dan menggertakan giginya.


"Ini Selandia baru, bego. Bukan Afrika. Mana ada orang suku di selandia baru"


Nada menaikan lima oktaf nada suaranya.


"Sorry, sorry. Emosi gue. Maafkan anakmu ini Mak."


Jawab dewi setengah bercanda dengan menengadahkan kedua tangannya.


"Terus lo gak nangis gitu Kim?"


Kim mengedipkan mata dan berpikir sejenak. Di pikir pikir, iya juga sih, kok gue gak nangis ya??


"Emang harus banget pake acara nangis ya??"


Tanya Kim menunjukan wajah imut tanpa dosanya.


"Ah elah bambang. Lemot banget sih lo. Sedih. Nangis guling guling atau apa kek. Lebih menjiwai karakter gitu. Sekali kali juga perlu jadi melankonis Kim, perlu pake drama biar keren, anggap aja lagi meranin drama Korea. Sumpah, lo gak asik banget, Kim."


Nada geram dan mulai panas menghadapi sikap Kim yang di anggap biasa saja dan tidak ada sedih sedihnya.


"Sebenernya lo beneran cinta sama Rick kan Kim? Kalau di lihat dari ekspresi lo, kayaknya perasaan lo setengah setengah deh. Bisa di bilang gak ikhlas gitu."


Dewi menambahkan.


"Jelas cinta lah. Cinta mati malah. Cuma emang gak ada kata nangis dalam kamus gue. Gue pantangan banget buat nangisin sesuatu yang gak penting, apalagi buat cowok yang udah berani ninggalin gue pas lagi sayang sayangnya. Intinya adalah sedih boleh tapi nangis jangan."


Kim menjawab mantap. Menjelaskan salah satu prinsip hidup yang Kim anut dengan mengepalkan satu tangan dan mengangkatkan.


Tanda semangat.


"Sejujurnya, lo ada benernya juga sih Kim. Buat apa juga nangisin cowok. That guy is just trash."


"Tapi kalo alasan putus cuma gak bisa LDR lumayan janggal deh, gak masuk akal gitu. Lo ngerasa ada yang gak beres gak sama Rick sebelum dia mutusin lo? Misalnya kayak dia punya selingkuhan? Atau....?"


"Atau apa?"


Kim dan Nada bertanya serempak.


"Dia mau di nikahin secara paksa di Selandia, makanya dia mutusin lo karena gak mungkin punya dua betina dalam satu sangkar."


Kim "...."


Nada "...."


"Ya elah, Wi. Lo itu cuma bisa menganalisa dan menyimpulkan hasil dengan cara sok tau. Lo mau jadi detektif gadungan terus di uber masa gara gara ngasih analisa palsu?"


Ucap Nada setengah kesal setelah mendengar hasil analisa Dewi yang super ngaco.


Mendengar ini, Dewi nyengir dan mengangkat jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V tanda peace.


"Terus, lo nanya ada alesan lain lagi gak? Maksudnya mungkin lo kurang cantik? Kurang pinter atau kurang apa gitu?"


"Buat apa gue nanya kaya gitu? Gak ada gunanya juga, orang dia udah minta putus. Gue paling anti kalau harus mohon mohon cinta ke cowok. Love is love, but self esteem remains number one."


"Cinta sih cinta, tapi harga diri tetap nomor satu? Kalimat macam apa itu? Love is blind. Cinta itu buta, jadi gak ada yang namanya harga diri dalam cinta yang sebenarnya."


Nada menjelaskan dengan mengganggukan kepala, yang berarti bahwa Nada sangat setuju dengan ucapannya sendiri.


"Gak usah dengerin omongan Nada. Good job dear. Gue setuju banget sama lo dan gue juga suka gaya lo. Love is damn."


Dewi mengangkat tangan dan bertos ria dengan Kim.


"Tapi gue bener bener gak ngerti sama isi pikiran Rick. Bego dia mutusin lo. Di saat seratus cowok antri buat nyari perhatian lo, dia adalah satu satunya yang berani nyampakin lo. Salut gue."


Ucap dewi mulai terbawa suasana.


"Gede nyali juga dia."


"Udah lah, cowok sampah kaya gitu, mungut di got juga bangak kali. "


Hibur Nada.


"Oke. Mulai sekarang, lupain si brengsek Rick."