
Dont count your chickens before they are hatched..
🔥🔥🔥
"Rasanya itu sakit banget, apa orang yang mengalami mati rasanya juga kayak ini?"
Tanya Kim kepada kedua sahabatnya.
"Jelas lah, Kim. Kalo gak sakit, gak mungkin kan mereka sampai mati? Ngasih pertanyaan yang masuk akal dikit napa sih?"
Nada berucap dengan santai.
Kim diam sejenak dan menggigit bibirnya sendiri.
"Apa gue bunuh diri aja kali ya?"
"Bunuh diri? Bego lo piara, piara tuyul noh biar kaya."
Saut Dewi.
"Mati itu gak seenak yang lo pikirin, Kim. Emang lo udah kangen banget pingin ketemu sama teman teman lo di Neraka?"
"Setan maksud lo?"
"Ampun deh, masih jawab juga nih anak."
Dewi menaikan level emosinya menjadi siaga.
Nada mengulum senyum mendengar percakapan absurd kedua sahabatnya.
"Kim, Lo yakin mau mati sekarang? Lo gak inget kalo dosa lo masih banyak? Dan lo juga belum sempat tobat sampai sekarang kan?? Atau, lo mau mati dalam keadaan penuh dosa kayak gini? Nanti kalo lo ketemu sama Tuhan, lo mau ngomong apa coba? Bingung kan?"
Nada membayangkan pertemuan Kim dengan Tuhan jika Kim mati sekarang. Sesaat kemudian Nada bergidik ngeri,
"Serem Kim, sumpah. Gue kagak bohong."
"Lo berdua pada bercandain gue mulu, gue itu serius."
Ucap Kim merajuk,
"Emang ada orang bunuh diri yang mikir sampai sejauh itu? Gak ada kali. Orang sampai bunuh diri itu karena mereka berpikiran pendek dan sempit. Kalo orang bunuh di pake mikirin konsekuensinya, gak akan ada orang bunuh diri.
"Nah, lo tahu."
Nada setuju dengan pemikiran Kim.
"Tapi lo gak pernah tahu rasanya di putusin pas lagi cinta cintanya, Nad. Ibaratnya nih ya, lo di terbangin tinggi banget. Tapi sesaat kemudian, lo di hempas gitu aja tanpa aba aba."
"Itu sih lo aja yang ngarep di lamar sama Rick. Tapi bukannya di lamar, eh, malah di campakin." Nada meledek Kim habis habisan seraya terkikik geli.
"Makanya, dont count your chickens before they are hatched. Jangan menghitung anak ayam yang belum menetas."
"To the point aja napa sih Nad? gak usah pake acara muter muter segala."
Dewi menimpali perkataan Nada yang di rasa terlalu berbelit belit.
"Intinya adalah, gak perlu mengharap sesuatu yang gak pasti. Anggap aja hidup itu kayak lotre, lo cuma mengandalkan keberuntungan untuk hari esok. Dan keramat untuk berharap lebih. Better an egg today than a hen tomorrow.
Dewi mengangkat sebelah alisnya pertanda bingung dengan perkataan Nada barusan.
"Sebutir telur hari ini, lebih baik daripada seekor ayam di esok hari?"
Nada memutar bola matanya malas.
"Au ah. Males gue ngomong sama lo. Mubadzir doang suara gue."
Melihat ekspresi Kim yang menunjukan raut depresi, membuat Nada menarik nafas panjang.
"Okey, kalo itu mau lo. Okey, kita bantu. Emang lo mau mati dengan cara apa dulu??"
"Kelindes truck?"
Tanya Dewi serius.
Kim hanya diam dan tidak meanggapi.
"Jangan ah, Kim. Pasti sakit banget. Ngeri gue ngelihatnya. Berdarah darah di tengah jalan, di tutup koran. Ih, bayangin aja aku gak kuat. No no no."
Dewi bergidik ngeri dengan ucapannya sendiri.
"Next, "
Ucap Nada meminta Dewi memikirkan cara bunuh diri yang aman dan cepat selanjutnya.
"Gantung diri?"
Tanya Dewi selanjutnya
"Jangan ah, sesek nafas. Lo pernah lihat orang gantung diri di televisi gak sih? Serem tau, lidahnya sampai melet gitu."
Jawab Dewi menjelaskan pendapatnya.
"Next, "
Nada memberi Dewi sebuah instruksi untuk melanjutkan.
"Minum racun?"
Tanya Dewi untuk ketiga kalinya.
"Boleh tuh. Boleh."
Jawab Kim antusias.
"Gak usah, minum racun juga gak kalah mengerikan, Kim. Setelah lo minum racun tikus atau racun serangga yang teruji ampuh, mulut lo langsung keluar busa gitu."
Ucap Dewi pada akhirnya.
"Eh, peak. Yang namanya bunuh diri itu pasti sakit lah. Kalo gak sakit, gak bakalan mati Wi."
Nada berucap dengan sangat kesal setelah mendengar ide bunuh diri juga efek samping konyol bin ajaib yang Dewi sebutkan.
"Ya udah, makanya gak usah bunuh diri. Sempit banget pikiran lo, Kim. Lo itu udah gede, lo udah bisa bedain yang bener sama yang salah. Bedain yang baik sama yang enggak. Apa perlu gue masukin lo ke SD lagi biar lo paham sama penjelasan dasar kayak gini? Jawab??"
"Iya deh, iya. Gue salah."
Jawab Kim pada akhirnya.
"Bagus lo sadar. "
Ucap Nada setengah lega. Meski Nada juga yakin kalau Kim gak mungkin senekat itu hanya gara gara cowok.
"Lo itu orang yang selalu perpikiran luas dan berpikiran positive. Lo yang paling waras di antara kita bertiga, Kim."
"Eh, lo gak usah bawa bawa gue bisa gak sih? gue juga ogah ikut ikutan."
Ucap Dewi yang tidak mau di sangkut pautkan dengan pemikiran gila Kim.
Nada melotot ke arah Dewi.
"Diem lo, cacing kremi. Gue lagi ceramah nih. Kapan lagi gue bisa dapat kesempatan buat ngeruqiah anak orang? Lo jangan ganggu kesenangan gue deh."
"Lagian ya Kim, bunuh diri itu gak bakal menyelesaikan masalah, yang ada justru menambah masalah baru."
"Nah, kalo ini gue setuju sama Nada."
"Ya udah ah, lo berdua bikin gue tambah pusing. Terus sekarang mau gimana lagi?"
Tanya Kim pada akhirnya mulai menyerah dengan rencana bunub dirinya.
"Kembali ke rencana awal lah, gue bakal bikin List tips and trik cepet move on. Bakal gue susun sebaik mungkin. Biar entar bisa langsung praktek."
"Tapi jangan yang aneh aneh lho?"
"Udah, Kim. Lo diem aja. Lo sebagai bos tinggal duduk manis. Nurut, biar kita yang notabennya adalah kacung lo yang ngerencanain semuanya. Dan semua di jamin berfaedah. Lo bisa lihat hasilnya nanti."
"Kalo gitu ya udah, gue gak bakal sungkan sungkan buat jadi bos yang baik dan benar, untuk mendisiplinkan kacung kacung gue."
Kim mengeluarkan seringai iblisnya.
"Idih, gak usah sok imut deh lo, jijik gue."
Nada dan Dewi berucap bersamaan.
"Ekh Wi, kita berdua nginep di sini aja ya?"
"Emang lo udah ngomong sama mami lo, Kim?"
"Udah kok, mami juga udah ngizinin. Tadi udah gue Whatsapp."
"Okelah, kalo lo Nad?"
"Sama, gue juga. Oia, Nyokap Bokap lo di rumah gak?"
Tanya nada dengan mata berbinar penuh harap.
"Gak, ke luar Kota. Dua hari baru balik."
Nada melihat jam Olivia Burton di pergelangan tangannya dan berpikir,
"Baru jam 10 malam. Kalo gitu gimana kalo kita jalankan rencana pertama?"