Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 2 ..



Not all problems can be solves merely by analyses..


🔥🔥🔥


"Mi."


Kim memberi kode kepada Mami meminta izin untuk menjawab panggilan telepon sebentar. Setelah Mami mengangguk, Kim segera menjauh dan menjawab panggilan teleponnya.


"Hallo."


"Hallo kim, are you good now?"


Terdengar suara serak seorang pria dari ujung telepon.


"Yes, why ?"


"No, Im just a little worried about you. Aku hanya ingin mengucapkan selamat dan aku sangat bangga dengan kerja kerasmu."


"Yes, of course, thank you very much dear."


Sejak dua tahun menjalin hubungan dengan Rick. membuat Kim terbiasa dengan panggilan aku kamu. Terkesan lebih saling menghormati antara sepasang kekasih.


"Tapi, apa kamu gak mau ngucapin selamat secara langsung?"


"Mau dong sayang, aku juga ingin ketemu sama kamu. Ada satu hal penting yang harus kita bicarakan. Apa kamu punya waktu malam ini?"


"As you wish, Sesibuk apapun kalau buat kamu aku gak punya alasan buat nolak dan aku akan punya ratusan bahkan ribuan waktu buat datang dan ketemu kamu."


Jawab kim tersenyum sambil memainkan ujung rambutnya. Persis anak SMP yang baru pertama kali jatuh cinta.


"Oke, sekarang kamu dimana? apa perlu aku jemput?"


"Em, Aku lagi ngerayain kelulusan sama keluarga aku. Kayaknya gak perlu jemput deh, aku bisa datang sendiri. Kamu pilih tempatnya aja."


"Baiklah, kalau itu keinginan kamu, aku gak bisa maksa kamu"


Terdengar tawa ringan dari ujung panggilan.


"Di cafe biasa, gimana?"


"Oke, jam tujuh malam aku akan sampai di sana tepat waktu. Kamu juga jangan sampai telat."


"I promise."


"Aku percaya sama kamu, aku akan tutup panggilannya dan I Love You."


"Thank you very much and Love you too."


Tut.. tut.. tut...


Sambungan panggilan terputus.


Kim pulang ke rumah bersama keluargnya.


Sesampainya di rumah.


Kim segera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rasa lelah hilang dalam seketika setelah membayangkan kencan romantisnya bersama Rick.


Kim mulai bermain dengan khayalannya. Memikirkan tentang banyak hal. And there are many questions about what and why.


Mungkinkah Rick akan mengajak bertunangan??


Apa Rick telah seserius itu dengan hubungan mereka?


Apakah ini tidak terlalu terburu buru?


Kim menggigit bibirnya sendiri.


Semakin di pikir semakin membuat Kim merona dan bahagia. Tidak, bahkan sangat bahagia.


Dan kim tidak bisa untuk berhenti tersenyum.


Untuk sesaat Kim lupa tentang dunia.


Yang ada hanya Kim dan Rick dengan hubungan yang harmonis. Menikah, memiliki anak. Dan berbahagia selamanya.


Betapa indahnya.


Betapa Kim mencintai Rick sangat dalam, hingga kim tidak mengetahui seberapa kedalamannya.


Kim tersadar, segera bangun dan berjalan menuju kamar mandi.


Sesat kemudian, Kim keluar dari kamar mandi. Berjalan ke lemari dan memilih gaun yang akan di kenakannya untuk menemui Rick.


Setelah sekian lama memilih, akhirnya pilihan Kim jatuh kepada gaun V neck putih di atas lutut tanpa lengan, dengan hak putih senada.


Mengaplikasikan riasan ringan pada wajahnya, dan tampak sangat natural.


Serta rambut yang di gerai begitu saja membuat Kim tampak seperti wanita muda yang anggun dan menawan.


Jam O6.30, Kim berangkat.


Menaiki Audi baru hadiah dari Papi.


Mungkin ini akan membuat Kim tiba lebih cepat. Tapi sungguh, Kim hanya tidak ingin Rick menunggu terlalu lama.


Tangannya dingin dan berkeringat sangat banyak.


Sesekali Kim melirik kaca spion dan melihat kendaraan lain di belakangnya. Dan memutar musik classic untuk menetralkan perasaan serta detak jantungnya.


Tanpa terasa, Kim telah tiba di depan sebuah cafe sederhana. Kim memarkirkan mobilnya.


Kim ragu sejenak. Antara turun atau Tidak, dan itu membuat Kim semakin gugup.


Dilihatnya mobil Rick pun sudah tiba.


Kim menghembuskan nafas panjang, segera turun dan memasuki cafe.


Mengawasi sekeliling, dan pandangan Kim berhenti pada sosok Tampan yang terduduk di sudut dekat jendela.


Kim melambaikan tangan, dan Rick membalas dengan kata "disini."


Kim segera mendudukan diri di hadapan Rick, dan menelan ludah melihat penampilan Rick malam ini. Kim tersenyum lembut dan menatap Rick untuk waktu yang lama.


Rick memancarkan aura dingin dan arogan. Tampan serta berwibawa. Bagaimanapun, Rick adalah sosok pria dengan sedikit berbicara, lebih banyak berpikir dan kemudian akan bertindak secara cepat dan tepat.


Mungkin Rick terlalu gugup saat ini, bagaimanapun melamar seorang gadis memerlukan waktu dan suasana yang tepat.


Juga membutuhkan mental yang kuat untuk itu. Namun, Rick bukanlah orang yang pandai berkata manis dan romantis, Rick cenderung akan menunjukan sikap sebagai bentuk kepeduliannya kepada Kim.


Apakah Rick akan berlutut di depannya untuk melamarnya?


Atau dia akan menaruh cincin pertunangan di dalam sebuah kue?


Kim menggeleng frustasi mendapati pertanyaan pertanyaan gila semacam itu tumpang tindih di dalam pikirannya.


Kim adalah sosok wanita yang selalu berpandangan luas dan berpikir positive. Dan Kim bukanlah gadis bodoh yang tidak bisa membaca pemikiran seorang pria melalui tingkah lakunya dan Kim tidak akan pernah berharap pada sesuatu yang tidak mungkin untuk di milikinya.


Namun, Tidak selamanya persoalan dapat di selesaikan dengan cara menganalisa.


Kecuali satu, yaitu dengan memastikannya sendiri secara langsung.


"Rick, What happened? Are you alright? I feel youre a little weird today? Atau, kamu merasa tidak enak badan?"


Pertanyaan Kim memecah keheningan di antara mereka. Kim merasa sedikit khawatir melihat Rick yang lesu dan tidak bersemangat. Juga wajah pucat dan sangat berbeda dengan rick yang biasanya.


Rick terbangun dari lamunannya dan menoleh ke arah Kim.


"Tidak sayang. Sama sekali tidak ada yang salah. Em, apa aku menakutimu? Belakangan ini aku hanya terlalu lelah dan terlalu banyak berpikir."


"Aku hanya khawatir, wajahmu tampak pucat."


Aakah melamar gadis sesulit itu?? Hingga rick yang selalu tenang bersikap tenang, bisa merasa frustasi??


Entahlah, tapi di lihat dari wajah lelah Rick, sepertinya ada permasalahan penting yang telah mengganggunya belakangan ini.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan? apakah itu sungguh penting?"


Rick mengangguk dengan enggan.


"Sebelumnya aku minta maaf Kim. Aku sungguh sangat mencintaimu. Sangat dalam, sampai aku sendiri tidak mengetahui seberapa dalamnya."


Kim mendengarkannya dengan seksama.


Rick melanjutkan,


"Ibuku memintaku menyusulnya ke Selandia Baru. Sepertinya aku juga akan melanjutkan study ku ke sana."


"Bukankah itu bagus? Kamu akan segera bertemu ibumu. Dan seharusnya kamu merasa senang bukan??"


Kim bertanya tanpa memalingkan pandangannya dari wajah serius Rick.


Rick menundukan pandangannya, dan tidak berani menatap Kim.


"Dan itu masalahnya. Aku harus mengakhiri hubungan kita."


Dua detik.


Lima detik.


Lima belas detik.


Suasana hening dan mencekam dalam sekejap.


Tiba tiba Kim tertawa,


"Jangan bercanda Rick. Ini sama sekali tidak lucu."


"Im sorry Kim, tapi aku bahkan tidak pernah seserius ini seumur hidupku."


Kim terpaku mendengar ini.


Dan secepatnya mencerna kata kata laknat itu.


Setelah sepersekian detik, Kim akhirnya kembali ke akal sehatnya dan mulai mengerti kemana arah pembicaraan Rick yang sebenarnya.


Kim terkejut setengah mati dan berteriak.


"APPAAA ??? PUTTUUUUSSS???