Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 12 ..



A new broom sweeps clean..


🔥🔥🔥


Next.


Misi ketiga Makan makan ..


"Makan makan maksud lo, Nad?"


"Iya, Kim. Lo kan udah baca listnya. Jangan bilang lo gak mau?"


Nada mulai sedikit mengeluarkan aura mengancam dari setiap kata yang di ucapkannya.


Mendengar ini, Dewi segera menoleh ke arah Kim, Kim hanya menanggapi dengan mengangkat bahu.


"Santai, Nad. Kalo Kim gak mau, ya udah gak usah di paksa lah. Lo kan masih punya gue? Sebagai sahabat yang baik dan benar, gue bakal makan apapun yang lo kasih."


Kim "......"


"Ye, siapa juga yang mau ngajak lo makan, Wi?


Makanya, lo cari pacar terus jadian gih, biar nanti kita rayain dengan makan makan."


Nada menawarkan solusi terbaik atas rasa pengharapan Dewi.


"Itu sih sama aja kayak mencari jarum dalam tumpukan jerami. Alias mustahil."


Belum juga memulai, namun Dewi telah menyerah lebih dulu.


"Alesan lo, pacar lo kan banyak, terakhir noh si Somad."


"Ya ampun, Nad. Bang Somad itu cuma penjual Siomay langganan gue, mana gue tega pacaran sama dia? Yang ada dia rugi banyak, gara gara siomaynya abis gue makan sebelum sempat di jual."


"Wi, Wi, lo itu gak pernah berubah sedikitpun, masih doyan makan aja sampai sekarang. Tapi, badan segitu aja, gak lebih tinggi?"


"Lha, emang ada hubungannya gitu? Antara banyak makan sama bikin tinggi? Gue rasa itu gak nyambung sama sekali deh, Nad."


"Lha, terus kalo gak ada hubungannya, lo mau apa? Mulut punya siapa?"


"Punya lo."


"Ya udah, berarti terserah mulut gue dong mau ngomong apa? Gak usah kebanyakan protes deh ah. Kecentilan lo."


Dewi terdiam seketika. Okey, Nada memang akan selalu merasa benar dengan tingkat percaya diri yang menggunung. Biasa, dia hanya mengandalkan tampang cantik doang, buat memperdaya orang lain yang memiliki otak lebih minimalis.


"Terserah lo deh Nad, mau ngomong apa, gue gak peduli. Yang jelas intinya, gue siap buat ngabisin makanan berapapun banyaknya, meskipun gue harus jadi gendut sekalipun."


Dewi tetap bersikeras dengan pendiriannya.


"Wi, lo itu suka sembarangan berasumsi deh? mana ada makan bisa bikin gendut?"


Dewi mulai terpancing.


"Terus?"


"Makan itu gak bakal bikin gendut, cuma bikin mengembang aja."


"Dasar peak lo Nad, au ah. Males gue dengerin omongan unfaedah lo."


Dewi sungguh sungguh merajuk.


"Gue gak mau tau, pokoknya lo harus traktir gue makan sampai gue kenyang. Titik."


Akhirnya Kim angkat bicara.


"Pake koma dong, Wi? Jangan terlalu kejam sama Nada? Kasian, Nada gak kuat nanggung. Lagi bokek dianya."


"Lo di kadalin sama Nada, Kim? Lo gak tahu sih, kemarin dia ngabisin banyak duit buat beli kemeja limited LV."


"Eh, tolong kondisikan mulut lo ya Wi? Emang dasar, gak bisa nyimpen rahasia. Bocor halus lo. Gak setia kawan. Pokoknya lo gue end."


Nada memperagakan gerakan memotong leher dengan tangannya.


"Ih, so what?"


Dewi menjulurkan lidah membalas tantangan Nada.


"Stop it, sebenernya gue atau lo berdua sih yang bego?"


Kim membuka suara jengahnya.


"Ya, jelas Dewi lah, Kim. Bukan gue apalagi lo."


Jawab Nada membela Kim dan dirinya sendiri.


"Nad, mana ada maling ngaku? Yang ada itu maling teriak maling, kalo maling ngaku, kasian polisinya entar gak ada kerjaan."


Dewi menunjukan raut prihatin yang mendalam.


Nada menimpali dengan sarkas.


Kim "......"


Dewi " ....?"


Melihat Kim dan Dewi yang hanya melongo dan tidak menanggapi, Nada menambahkan,


"Susah emang kalo ngomong sama orang bego, gak bakal nyaut, Gimana dong Kim??"


"Em, must say yes to food. Lo pada pesen aja entar biar gue yang bayar."


Kim menyombongkan dirinya.


Mendengar ucapan Kim, Dewi sontak melebarkan matanya,


"Seriously? Lo lagi banyak duit?"


Kim tertawa dan mengeluarkan PlatinumCard dari dalam tasnya dan menaruhnya di atas meja


"Dapet nyolong."


Di rumah..


"Kiiiiimmmmm, balikin kartu kredit gueeeeee...." Teriakan Ken mengejutkan seisi rumah.


Mami tergopoh mendatangi sumber suara yang berasal di lantai dua.


"Ada apa sih kak? kakak kenapa? Ada yang sakit?"


Mami memeriksa Ken dari bawah ke atas kemudian kebawah lagi berulang kali. Namun Mami tetap tidak menemukan luka apapun dari setiap anggota tubuh Ken.


"Itu Mi, Kim nyolong PlatinumCard kakak."


Ken mengadu kepada Maminya, berharap akan mendapatkan keadilan yang pantas Ken dapatkan.


"Ya ampun, gitu doang? Kirain ada apaan? Bikin Mami jantungan aja deh, udah ah biarin aja, entar juga di balikin sama di adek. Mami bilangin nih ya, jadi kakak itu jangan pelit pelit sama adeknya."


Ken tertegun mendengar jawaban Mami yang tidak sesuai dengan harapannya. Ken menggelengkan kepala dan berkata "Wanita memang selalu rumit. Dan susah di mengerti."


Di sebuah cafe..


Achu..


Kim menggosok hidungnya yang tiba tiba bersin sebanyak tiga kali berturut turut.


"Kok gue ngerasa ada yang lagi ghibahin gue ya?"


"Perasaan lo aja kali Kim, gak usah di pikirin, makan aja yang banyak. Menurut buku yang gue baca kalo perut kenyang hatipun senang."


Dewi berucap dengan riang gembira saat melihat banyak makanan mahal tersaji di hadapannya.


"Alah, pengetahuan dasar kayak gitu sih gak perlu pake buku, anak SD juga paham kali. Emang buku apa yang lo baca?"


Nada sedikit penasaran.


"Secret dong."


"Nah, yang modelan kayak gini nih, yang pantas untuk di curigai. Palingan juga buku karangan sendiri. Udah Kim, gak usah dengerin ocehan gak penting Dewi, tapi asal lo tau aja ya, kalo makan banyak itu bisa bikin cepet move on."


Nada menjelaskan.


"Kok bisa?"


Kim dan Dewi bertanya serempak.


"Ya bisa dong, orang dengan kondisi perut yang kenyang, cenderung lebih berpikiran positive daripada orang yang kelaparan. Terus akan lebih bijak mengambil keputusan, akan mempertimbangkan semua dengan sangat hati hati dan matang, serta akan lebih bahagia tentunya."


"Masa sih?"


"Ampun deh, lo berdua gak percayaan amat sih, gini gini gue itu udah ada pengalaman. Kalo belum ada survey yang membuktikan, gue juga gak akan berani asal ngomong."


"Tapi muka lo itu gak synkron sama ucapan lo deh, Nad? Gak nunjukin keseriusan sama sekali? Ketahuan ngarangnya sumpah. Lagipula, kita itu gak lagi bikin karangan bebas, Nad? Ini sih akal akalan lo aja biar bisa makan gratis."


Ucap Dewi seraya menjulurkan lidahnya kepada Nada.


"Omongan lo kok gitu sih, Wi? Suka bener."


Kim tertawa cekikikan.


"Udah deh makan aja napa sih ,debat mulu. Percuma juga, pemenang debat juga gak bakal dapet apa apa."


Mereka bertiga memutuskan untuk makan dengan sangat lahap. Di selingi dengan bercanda ria, serta berbicara dengan random. Tanpa ada tema, alur ataupun latar. Semua mengalir begitu saja.


Tanpa Kim menyadari, Kim juga mulai melupakan kesedihannya sedikit demi sedikit. Serta mulai menikmati jalan yang telah Tuhan pilihkan.