Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 19 ..



Karena yang namanya sahabat sejati tidak akan pernah melihat persahabatannya dengan materi. Namun mengukur kedalamannya dengan hati.


🔥🔥🔥


"Gue gak percaya sama lo lah, takut musyrik. Gue percaya sama Tuhan aja."


Kim berucap dengan penuh keyakinan.


"Sama, gue juga."


Ucap Dewi ikut ikutan.


"Idih, lo mah bisanya ngikutin gue mulu, heran gue, sekali kali kreatif dong, Wi."


Dewi menutupi separuh wajahnya karena merasa malu dengan ucapan Kim


"Biarin aja napa sih? Lagian, kalo gue gak ngikut lo, gue mau ngikut siapa coba? Ngikut Nada sih males, aliran sesat dia."


Nada angkat suara,


"Mana ada aliran sesat di sini? Yang ada itu aliran listrik."


"Garing."


"Ya udah, terserah lo berdua deh mau kayak gimana baiknya, bukannya gue sok tau juga ya guys, jujur aja kalo menurut gue pribadi, gue emang belum bisa beribadah secara maksimal. Gue akui, gue pake jilbab juga waktu lebaran doang, terus gue juga bukan orang baik. Tapi minimal gue gak munafik. Gue gak pernah berkoar koar ngaku baik yang mengatasnamakan agama gue. Gue juga selalu meminimalisir semua hal yang berkedok tentang kejahatan di dalam diri gue."


Terlihat bentuk keseriusan dalam pandangan Nada yang menunjukan bahwa Nada sangat serius untuk hal yang satu ini, dan tidak main main.


Kim dan dewi mendengarkan dengan seksama dari awal sampai akhir, dan mengangguk setuju.


"Tapi lo gak pernah ngerasa kalo lo itu sering ngebully gue? Itu juga salah satu bentuk kejahatan, Nad."


Ucap Dewi mencari kesempatan atas ketidakadilan yang Dewi terima selama ini.


"Kalo lo itu pengecualian, Wi. Artinya lo terlalu special buat di anggurin. Sayang kalo gak di bully."


Jawab Nada disertai dengan devil smirk.


Dewi bergidik ngeri melihat seringai Nada yang dipenuhi dengan aura kelicikan yang kuat.


"Itu namanya gak adil, Nad."


"Gak ada yang adil didunia ini, Wi. Karena keadilan cuma milik Tuhan."


Ucap Nada terus membela dirinya sendiri.


Mendengar jawaban enteng Nada, Dewi speechless. Nada selalu menyerang titik kelemahan Dewi.


Nada jelas sangat mengetahui titik lemah Dewi, dan selalu menggunakan itu untuk menyerang Dewi. Jika sudah menyangkut Tuhan, Dewi bakal gampang dibuat KO.


Nada tersenyum lebar atas kemenangannya kali ini. Dan merasa telah menang bahkan sebelum bertanding.


Selalu seperti itu, pembicaraan random yang tidak ada habisnya. Tapi itu pula yang membuat dunia Kim menjadi indah dan penuh warna.


Bisa dibayangkan betapa sepinya dunia jika tidak diciptakan manusia sekelas Dewi dan Nada? Dengan kepribadian yang berbeda dan latar belakang yang berbada pula. Namun, intinya adalah berbeda beda tetapi tetap satu jua.


Perbedaan bukan masalah. Justru keberagaman itu keren.



"Sejujurnya gue masih penasaran, apa sih yang lo lakuin sampe bisa dapet obat langsung dari dokter? Maksudnya bukan obat yang di beli sembarangan tanpa resep, secara lo lulus pemeriksaan dokter gitu lho."


Dewi bertanya dengan serius.


"Wi, gue prihatin. gue turut berduka cita atas kematian IQ lo? Tapi cukup, lo gak usah kebanyakan mikir, otak lo itu cuma sedikit, jadi harus di irit irit."


Ucap Nada dengan ekspresi sedih palsu yang di buat buat.


"Wah wah wah, parah lo Nad. Otak gue seratus persen masih okey, cuma sedikit somplak aja, dan itu tidak dihitung sebagai suatu kerusakan kan?"


Kim "...."


Nada "..."


Nada berdehem untuk menghentikan perdebatan gila yang mungkin akan segera berlangsung.


"Lo seriusan ngeraguin kecerdasan otak gue, Wi?? wah, lo ngeremehin gue rupanya? Gue juga udah berkorban banyak buat nebus obat ini, Wi."


Nada menujukan botol obat serta menunjuk merk obat dengan jari telunjuknya


"Gue bahkan pake acara bobong segala demi memuluskan misi kita. Gue pura pura insomnia akut, biar dikasih obat dosis gede. Lagian Dokter kan hanya menganalisis dan melakukan pemeriksaan dasar doang."


"Salut gue sama lo, Nad."


Kim dan Dewi bertepuk tangan memuji kehebatan Nada yang memang pantas untuk dianugerahi gelar pembohong dan perencana terbaik.


"Untuk dosisnya sendiri, Lo bisa minum satu kapsul tiap 8 jam sekali. Lo inget ya, ini obat bukan sembarang obat, ini dosisnya gede. Jangan kebanyakan mengkonsumsinya, inget, ini obat, bukan permen. Okey."


Nada menjelaska lebih rinci.


"Ya ampun, Nad. Semua orang juga tau kali tentang pengetahuan dasar kayak gitu. Lagian, Kim itu udah gede, jadi lo gak perlu khawatir tentang dosis obat yang bakal Kim minum."


Dewi selalu berada dalam kubu Kim, dan selalu membela Kim hingga titik darah penghabisan.


"Iya, entar gue minum deh. Kalo perlu tidur 20 jam sekalian. Biar pengorbanan lo gak sia sia dan biar lo puas, iya kan Nad?."


Ucap Kim seraya mencubit paha Nada karena kesal setengah mati.


"Aw, sakit tau, Kim. Ih, lo mah kejam. Dasar emak tiri."


Kim menjulurkan lidah,


"Emang gue pikirin."


Sebenarnya, mana ada Kim minum obat kayak begituan. Bahkan semasa sakit saja, Kim sangat malas untuk meminum obatnya,apalagi di waktu sehat?


Kim lebih memilih untuk mengubur dirinya dalam selimut saat Kim mengalami demam, selama berjam jam hingga demamnya mereda dan berangsur angsur pulih.


Tapi apalah daya, Kim tidak tega menolak niat baik Nada. Apalagi jika mengingat perjuangan Nada yang telah bersusah payah dengan taruhan nyawa untuk mendapatkan obat laknat itu.


Kim dengan sangat terpaksa mengiyakan misi terberat dari Nada. Okeylah, ini hanya obat tidur, dan bukan racun. Kim bisa sedikit lebih tenang sekarang.


Nada melirik jam tangan Olivia Burton bertema Vintage yang melingkar di pergelangan tangannya. Dan menunjukan pukul empat sore.


"Lo minum obat sekarang aja, Kim. Udah hampir jam empat sore, entar tengah malam, lo bangun terus minum lagi. Kalo tepat waktu, besok sekitar jam tujuh atau delapan pagi seharusnua efek obatnya udah ilang, dan seharusnya lo udah bangun, tapi, kalo lo gak bangun, berarti Tuhan berkehendak lain."


"KUTU KUPRET LO NAD, PERSETAN DENGAN OBAT TIDUR!!!!"