
Tidak ingin terus terjebak di dalam arus saat bisa mencapai tepi.
🔥🔥🔥
Kim masih belum bisa memejamkan matanya.
Bagaimana bisa Kim tertidur sementara Kim telah menghancurkan kebahagiaan seseorang yang telah dijodohkan dengan Sam di luar sana?
Kim bahkan telah melanggar hati nuraninya sendiri karena telah memilih jalan yang salah.
Mungkin Kim akan mwnghindari Sam untuk beberapa waktu kedepan setelah ini.
Karena Kim sungguh tidak ingin terlibat dengan Sam lebih jauh lagi, apalagi sampai membawa perasaan diatas itu.
Tanpa terasa, Kim mulai tertidur dan pergi kealam mimpi.
💫💫💫
Keesokan harinya..
Kim membuka matanya, namun terkejut saat merasakan seseorang memeluk Kim dengan erat dari belakang.
Kim merasa gugup saat ini, tidak mungkin jika Sam tidur disampingnya sepanjang malam bukan?
Namun jika bukan Sam, lalu siapa lagi? Bukankah hanya ada Sam dan Kim diapartemen ini?
Bahkan Kim dapat merasakan jika tangan pria ini masuk di antara paha Kim dan bahkan menyentuh daerah kewanitaan Kim.
Kim menelan ludah, dan memutuskan untuk mengintip tubuhnya sendiri di dalam selimut.
"Astaga!!!"
Kim mencoba menutup mulutnya sendiri saat mendapati tidak ada sehelai benangpun yang menutupi tubuhnya di balik selimut, juga Sam yang tidak mengenakan apapun.
Kim mulai mengingat tentang apa yang kira kira terjadi semalam. Apakah Kim dan Sam sungguh melakukan itu?
"Impossible." Kim menggeleng tidak percaya. Tidak mungkin mereka berdua melakukannya. Tidak. Ini pasti salah.
Lagipula, hal sepenting itu, tidak mungkin jika Kim tidak merasakannya sama sekali.
Kim mencoba untuk melepaskan pelukan itu, dan segera beranjak, namun sebelum Kim bisa pergi, Kim segera ditahan oleh Pria itu yang kembali memeluk Kim dengan erat.
"Tidur lagi, Ini masih terlalu pagi."
Suara serak Sam sungguh menggetarkan hati juga perasaan Kim.
Kim melihat jam yang tergeletak di atas meja, dan telah menunjukan pukul sembilan pagi.
WTF?? Kim ada kuliah pagi hari ini, namun apalah daya, saat Sam tidak melonggarkan apalagi melepaskan pelukannya.
Kim meronta untuk bangun, namun Sam sama sekali tidak menghiraukannya.
"Kim, kalau lo gak ingin gue jadi buas, maka lo jangan bergerak lagi, okey? Atau lo tanggung sendiri akibatnya."
Suara yang lembut namun mengandung makna yang menghanyutkan.
Kim tidak lagi ingin bergerak sekarang, Kim merasa jika ini adalah dosa yang harus segera di cari jalan keluarnya.
Jangan harap Kim akan tetap bersikap sama saat berhasil keluar dari sini nantinya, Kim bahkan telah berniat untuk menjauhi Sam sejauh yang Kim bisa.
Dan Kim tidak ingin terjebak di dalam arus saat Kim bisa mencapai tepi.
Harus bisa.
Namun ada apa dengan tubuh telanjang ini? Kim bahkan merasa takut untuk memikirkan ini.
Sam menelan ludah saat melihat dada Kim yang terlihat sempurna dan menggoda. Dada yang telah Sam nikmati tadi malam, juga hutan lindung di bawah sana yang luput dari keganasan seorang Sam.
Namun, segila apapun seorang Sam, Sam tidak akan pernah merusak sesuatu yang harus dijaganya hingga nanti, sesuatu yang hanya bisa dinikmati saat mereka telah menjadi sah dimata hukum serta agama nantinya.
"Kim, lo harus janji akan selalu ada disamping gue apapun yang terjadi. Okey?"
Mendengar ini, Kim mengalihkan pandangan dan tidak berani memandang Sam sekali.
Bagaimanapun, Kim tidak akan pernah menjajikan sesuatu yang tidak bisa untuk Kim tepati.
"Kim jawab? Jangan kayak gini dong? Jangan buat gue takut."
Sam menggoncang goncangkan tubuh Kim,
"Kak Sam, gue mohon! Gue gak mau bahas itu sekarang."
"Gue gak bisa kalau harus tanpa lo, Kim. Gue gak mampu."
Suara Sam berubah menjadi sendu.
Namun, semua ini dan perpisahan ini tetap akan terjadi cepat atau lambat, dan hanya tinggal menunggu waktu untuk besok atau lusanya.
Melihat wajah murung Sam, membangkitkan keberanian Kim untuk mengulurkan tangan dan memeluk Sam.
Sam menyembunyikan wajahnya di belahan dada Kim, dan Kim beberapa saat kemudian Kim dapat merasakan sesuatu yang hangat membasahi dadanya.
Sam menangis?
What? Sam menangis?
"Dont cry, Kak. Gue masih disini. Gue gak akan kemana mana."
"Tapi lo gak mau janji untuk selalu berada di samping gue, Kim. Lo udah punya niat kan buat ninggalin gue?"
Kim tidak mengerti, kenapa Sam bisa membaca isi hatinya?
Kim berdehem,
"Kak, tolong. Gue lagi gak mau mikirin ini. Gue mau fokus kuliah dulu. Tolong ngertiin gue."
Kim menghela nafas panjang dan segera menepuk pelan punggung Sam, hingga akhirnya Sam tertidur kembali dengan tubuh telanjang mereka yang masih terjalin.
Kim tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Sam telah melihat tubuh bahkan telah memegang area berbahaya yang telah Kim garis bawahi.
Kim merasa dirinya tidak lagi perawan sekarang. Meskipun kata perawan sebenarnya adalah kata yang kompleks dan cenderung mengandung artian yang luas.
Namun Kim tetap merasa tubuhnya telah ternoda sekarang. Kim bahkan merasa sangat malu dengan dirinya sendiri.
Kim ingin menangis, namun Kim tidak ingin membuat Sam semakin sedih dan semakin merasa bersalah serta menyalahkan dirinya sendiri.
Bagaimanapun Sam tetaplah pria normal yang menginginkan hubungan seperti itu dengan lawan jenisnya, dan Sam juga tidak mungkin membawa perasaannya dalam melakukan ini kepada Kim.
Mungkin Sam hanya terbawa suasana dan menjadi khilaf, dan Kim juga bisa memaklumi itu serta menganggap bahwa kejadian ini tidak pernah terjadi.
Setelah dirasa Sam telah tertidur nyenyak, Kim segera melepaskan pelukan Sam dengan paksa, serta berjinjit menuju kamar mandi dengan sangat pelan.
Kim mandi dengan cepat serta mengambil salah satu gaun yang tersedia didalam lemari Sam secara acak dan segera mengenakannya.
Kim mendekat ke arah ranjang tempat Sam tertidur. Mencium kening serta berbisik pelan.
"Im sorry, i cant."
Dan Kim segera meninggalkan apartemen Sam secepat kilat tanpa menoleh lagi kebelakang.