Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 22 ..



Kebahagiaan bermula dari satu hal sederhana..


🔥🔥🔥


Kim sangat mengetahui bahwa Ken memang cukup sibuk belakangan ini.


Ken bahkan tidak mempunyai sedikit waktu luang hanya untuk sekedar berkumpul atau pergi bersama teman temannya.


Kim juga dapat melihat wajah lelah Ken dengan sangat jelas, Namun, sesibuk apapun Ken, Ken tetaplah seorang Ken.


Yang akan selalu menyempatkan diri hanya untuk sekedar menyapa ataupun dan berbincang ringan dengan Kim.


Dan selalu menjadi kakak sekaligus teman yang baik untuk Kim, juga selalu memanjakan Kim dan memberikan kasih sayang tulus sebanyak yang Kim butuhkan.


Melihat kedatangan Kim, Ken segera menutup laptopnya dan memasukannya ke dalam ranselnya. Menoleh ke arah Kim,


"Aduh, cantik banget sih adek gue? Gue jadi gemes pingin cubit."


Ucap Ken seraya mencubit ke dua pipi Kim dengan gemas.


"Aw, sakit tau."


Kim menggosok pipinya yang mendapat cubitan manja dari Ken.


"Emang lo baru tau kalo gue cantik? Hellow, kemana aja lo?"


"Iya iya, gue kalah. Udah gak usah kepanjangan."


Ken mengangkat kedua tangan keatas tanda menyerah.


"Kuy ah, berangkat. Udah telat juga, kasihan anak anak pasti udah lama nunggunya."


Kim mengangguk, segera berdiri, meneliti penampilannya sekali lagi, dan kemudian mengangguk puas.


Kim memakai celana pendek denim putih, dengan kaos lengan panjang bergaris, di tambah sneakers cokelat dan juga rambut panjang yang di ikat setengahnya membuat penampilan Kim terlihat santai namun tetap mempesona.



➡ Visual Kim ⬅


Sama sekali tidak menghilangkan aura keanggunan yang selalu Kim pancarkan. Serta memberikan kesan hangat dan ceria.


Di coffeshop..


Kim menggandeng siku Ken memasuki ruangan private di lantai dua.


Kim mengawasi sekeliling. Terlihat sebuah ruangan luas dan rapi dengan desain romantic classic.


Tema yang dipilih jelas diperuntukan untuk anak muda yang gemar nongkrong dicafe dengan suasana tenang dan nyaman, serta sangat santai untuk sekedar mengerjakan tugas kelompok ataupun berbincang ringan tentang pekerjaan.


Terdapat sebuah meja panjang serta sofa panjang yang mengitari meja, juga dua buah meja biliard yang terletak dibagian tengah ruangan juga didekat jendela.


Tampak beberapa cangkir cofe tergeletak di atas meja juga beberapa makanan ringan yang mendampinginya, sangat jelas jika pemilik cangkir telah menunggu cukup lama disini.


Semua orang tampak sibuk dengan urusannya masing masing, ada beberapa yang tidak mengalihkan pandangan dari ponsel, dan ada juga yang sibuk mengetik sesuatu dilaptopnya tanpa berniat untuk melihat kedatangan Ken.


"Ken, hebat banget, lo telat dua puluh menit."


Ucap seorang wanita seraya melihat jam tangan Chanel yang melingkar dilengannya, namun sama sekali tidak melepaskan pandangan dari layar laptopnya.


"Gak usah pake alasan macet, cari alesan lain yang lebih kreatif."


Ken meringis, serta menggaruk tengkuknya untuk menutupi sedikit rasa bersalahnya.


"Lagian siapa bilang kalo gue telat gara gara macet? Gue itu telat karena nunggu dia."


Ken melirik Kim.


Semua orang di ruangan sontak menghentikan kesibukan mereka dan segera menoleh kearah yang Ken tunjuk.


Kim berusaha untuk tetap mengandalkan gaya coolnya untuk menutupi rasa malu yang Ken sebabkan.


"Wuih, mungut bidadari dimana Ken?"


Tanya seorang wanita lainnya, yang memperhatikan Kim lekat lekat dengan senyum ramahnya.


"Dia adek gue, Dinar."


"Adek?"


Beberapa orang bertanya serempak.


Ken mengangguk pertanda mengiyakan pertanyaan konyol teman temannya yang masih tidak percaya jika Ken memiliki seorang adik perempuan.


"Iya, adek gue. Namanya Kim."


Ken memperkenalkan satu persatu teman temannya kepada Kim.


Kim mengangguk.


"Terus di sebelah Daniel itu namanya Tomy. Terakhir, lo udah kenal juga, namanya Sam."


Kim kembali mengangguk.


"Halo semuanya, salam kenal, gue Kimberly Florist. Gue dek biologisnya Kak Ken.."


Kim memperkenalkan diri dengan senyum ramah.


"Hallo, Kim. Salam kenal juga, gue Dinar. Lo cantik banget."


Dinar mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Kim.


Kim menerima uluran tangan Dinar.


"Makasih kak, kak Dinar juga cantik."


"Hai, gue Niken."


Niken yang juga menjabat tangan Kim.


"Hai, kak. Salam kenal."


"Perkenalkan, gue Tomy"


Tomy mengulurkan tangan dan Kim segera menerima uluran tangan Tomy dengan senyum merekah.


"Cowok paling ganteng disini. Kalo nanti malam Kim ada waktu, boleh dong Aa ajak nonton bioskop."


"Cie cie, aciieee. Jangan percaya sama Kadal korea, Kim. Tampol aja wajahnya."


"Alah, bohong lo gak natural, Tom."


Semua orang di dalam ruangan meledek Tomy habis habisan, dan yang diledek hanya meringis,


"Jangan percaya, Kim. Serius gue ngomong kayak gitu sama lo doang."


Tomy mengangkat tangan dan membentuk huruf V dengan jari jemarinya tanda suer.


"Anjay lo, dasar kutubusuk, buaya afrika, kemarin aja lo ngomong kayak gitu ke gue."


Niken mengeluarkan devilsmirk dengan niat untuk menjatuhkan nama Tomy sedalam dalamnya.


"Eh, diem lo tiran Prancis, gak usah bawa bawa kita ya? Lo sama gue kan udah end."


Tomy tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membalas olokan Niken.


"Cuih, gue sih ogah punya mantan pacar yang amburadul kayak lo."


Tomy menyeringai.


"Alah, ngaku lo, ngaku aja, udah gak usah malu. Gue mantan terindah lo kan?"


Niken merengut dan mengerucutkan bibir, berniat untuk mengerjai Tomy malah justru Niken yang terkena jebakan Batman.


Ini sih namanya senjata makan tuan.


"Adek lo cakep ya Ken? Kok lo gak pernah ngenalin dia ke gue sih? Siapa tau gue cocok jadi adik ipar lo."


Tomy setengah menggoda, berharap agar Kim diizinkan untuk menjalin hubungan kasih dengannya.


"Ngarep lo, mana mau Ken punya adek ipar gila kayak lo."


Daniel yang dari tadi hanya terdiam membuka suara.


"Eh eh eh, jangan salah, gini gini juga banyak yang mau Dan, lo aja yang pernah tahu."


Tomy bersikeras untuk tetap membela dirinya.


"Udah Kim, gak ada manfaatnya dengerin ocehan tomy."


Daniel memberi nasihat kepada Kim.


Kim hanya mengangguk serta tersenyum manis kepada Daniel.


"Duduk sini, Kim, sebelah gue."


Sam yang sejak tadi hanya sibuk dengan ponselnya, akhirnya mengeluarkan suara seraya


sambil menepuk sofa di sebelahnya.


"Udah cepetan duduk, gak usah kebanyakan mikir, atau.... mau gue cium lagi?"