
Love isn't a shop where everybody can enter to it for some shopping..
🔥🔥🔥
Tidak terasa dua jam telah berlalu, Ken menutup laptopnya dan kembali memasukannya kedalam ranselnya.
"Kim, gue pinjem Ken bentaran ya? Ya ya ya? Gue mau ngajak Ken buat survey lokasi."
Dinar meminta izin dengan sedikit memohon kepada Kim.
Kim terlihat berpikir sebentar,
"Okey, santai aja. Lagian gue juga bisa pulang sendiri naik taksi."
Kim menjawab entang.
"Lo bener baik baik aja?"
Ken kembali memastikan.
Kim tersenyum.
"Serius kak, gue ini udah gede. Gue juga sering pulang sendiri pas malam hari kan?"
Dinar memeluk Kim,
"Thank you, dear."
Kim membalas pelukan Dinar.
"No problem kak, this is just a small problem."
"Ya udah, gue cabs dulu. Jangan pulang terlalu malam, okey? Bahaya."
Ken memeluk Kim dan menanamkan ciuman dikening Kim.
Kim menangguk.
"Tentu, gue ngerti. Bye, have fun ya."
Ken melambaikan tangan, dan kedua sosok itu segera menghilang.
Kim kembali berpikir tentang Ken. Bahkan hari santai bersama temanpun diisi dengan ritual pekerjaan.
Ken memang luar biasa.
Kim terus memuji kehebatan Ken dalam segala aspek, selalu terencana dan tepat sasaran.
Itulah Ken.
"Ken ada project buat joinan distro gitu sama Dinar."
Suara Sam sedikit mengejutkan Kim.
Kim mengerutkan alis.
"Oh ya?"
"Hm, Dinar bagian produksi, sedangkan Ken bagian pemasaran."
Sam kembali menjelaskan.
"Mungkin akan ada banyak hal rumit yang harus mereka selesaikan dalam waktu yang cukup lama."
"Begitu ya?"
Sam mengangguk.
"Dinar sangat berbakat dalam hal disaign, sedangkan Ken cenderung lebih ke strategi pemasarannya, so they will definitely be suitable to be business partners."
"Pantas, belakangan ini Ken sibuk banget dan gak punya waktu santai, jadi itu sebabnya? Dia lagi bikin usaha baru."
Kim merasa kurang mengenal Ken. Untuk sesaat Kim benar benar merasa egois.
Kim tidak pernah bertanya atau sekedar ingin tahu tentang kegiatan Ken selama ini. Mungkin Ken memang sedikit kurang terbuka dan tidak ingin membebankan banyak hal kepada Kim.
"Kalo lo sendiri ada niatan buat bikin usaha?"
Suara serak Sam membuyarkan lamunan Kim.
Kim berpikir dahulu sebelum menjawab
"Belum sampai kearah itu sih, belum ada pengalaman dan gambaran juga."
"Kalo lo mau, terus punya niat, gue bisa minjemin beberapa buku tentang Manajemen Bisnis."
"Seriously? Kebetulan gue juga ngambil Bisnis sebagai prioritas acuan belajar gue. Ditambah masuk fakultas Bisnis biar gue bisa banyak belajar mengenal Bisnis lebih banyak lagi."
"Iya, itu pilihan yang sempurna. Karena Bisnis itu sebenarnya cukup menarik dan menantang. Em, gue juga punya banyak buku tentang peluang usaha, yang mungkin bisa di jadikan pilihan kalo lo udah punya gambaran tentang usaha apa yang akan lo pilih nantinya."
Mata Kim berbinar penuh kebahagiaan,
"Gue mau dong? Tapi, emang gue boleh minjem? Maksudnya, lo gak ada masalah?"
Kim merasa sedikit khawatir karena Sam adalah sosok yang dingin juga keras, dan kemungkinannya adalah Sam tidak akan menyukai jika barang barangnya disentuh oleh orang lain apalagi orang asing.
"Gue sih okey, tidak masalah, asal,...?"
Dan itu membuat Kim menjadi penasaran dengan apa kelanjutan kalimat Sam.
"Asal??"
"Asal lo mau jadi pacar gue,?"
Sam berucap dengan percaya diri.
Kim menatap mata Sam sampai ke kedalaman matanya dan mengawasi selama beberapa detik, namun Kim tidak berhasil menemukan apapun.
Kim sedikit merajuk,
"Bercanda lo itu sama sekali gak lucu, kak."
Sam sedikit terkejut mendengar jawaban Kim yang tidak sesuai dengan bayangannya, namun beberapa detik kemudian ekspresi Sam kembali menjadi tenang seperti biasa.
"Siapa yang bilang kalau gue itu bercanda? Gue itu serius tau."
"Okey okey, terserah lo aja deh, tapi,.."
Kim menggantung kalimatnya.
"Tapi??"
Dengan malu malu Kim mengeluarkan suara pelannya dan berbisik ditelinga Sam,
"Gue belum siap diseriusin."
Dan Kim tersenyum setelah mengatakannya.
"Aduh, Kim. Jangan diterusin lagi, please? Hati gue udah gak kuat."
Sam salah tingkah dengan jawaban yang terlontar dari bibir Kim seraya memegang dadanya yang tiba tiba meledak karena hal kecil yang Kim lakukan.
"Ya ampun Kak, gak usah lebay deh."
Ucap Kim seraya melihat jam tangan yang melingkar indah pada pergelangan tangannya.
Melihat ini, Sam mengambil sedikit inisiative,
"Udah sore, mau gue anter pulang?"
Kim berpikir sebentar, sebenarnya tawaran Sam tidak terlalu buruk, lumayan juga sih. Daripada repot nyari taksi?
Kim mengangguk,
"Selama itu gak ngerepotin lo sih jawaban gue yes."
"Okey,"
Sam mengangguk puas.
"Tapi, gue naik motor? Lo baik baik aja kan?"
Sam merasa sedikit khawatir jika Kim tidak menyukai debu akan mengotori kulitnya jika menaiki motor. Bagaimanapun wanita seanggun Kim, mungkin tidak suka berurusan dengan terik matahari.
"No problem, Im fine."
💫💫💫
Kim menunggu Sam tepat didepan pintu masuk coffeshop bertuliskan Twenty One dengan huruf Kapital yang dicetak tebal, juga berkerlap kerlip dengan lampu lampu kecil disetiap hurufnya.
Sam mengambil motor diparkiran yang diperuntukan khusus untuk karyawan.
Ada semacam garasi pribadi yang sengaja disediakan untuk para pekerja di Twenty One.
Mungkin itu bertujuan untuk membedakan antara kendaraan milik karyawan dan milik pengunjung.
Dan untuk ukuran coffeshop baru, Twenty One cukup diminati. Terlihat dari ramainya pengunjung bahkan pada siang hari menjelang sore saat ini.
Lokasinya sangat strategis, dekat dengan beberapa perkantoran besar, beberapa sekolah, juga deretan perumahan yang berjajar rapi.
Untuk sekedar nongkrong ataupun istirahat kantor ini bisa menjadi pilihan yang menarik.
Sebuah motor Sport Fairing atau bisa juga di sebut Sportbike muncul dan berhenti tepat didepan Kim.
Sangat jelas bahwa Sam tidak menyukai touring. Alasan pertama, bisa dilihat dari pilihan motor Sam yang tidak akan nyaman untuk di bawa touring.
Dan alasan kedua, motor jenis ini lebih banyak diminati oleh speed freak ataupun sekelas pembalap amatir. Mungkin sekitar 1000 cc dan sangat mumpuni diatas trek..
Dan kesimpulannya adalah Sam lebih menyukai arena balap dibanding touring.
May be? Kim hanya asal menebak saat ini, dan
mungkin Kim akan menanyakan hal ini nanti.
Karena kebetulan Ken juga mempunyai beberapa jenis motor sportbike dan beberapa mobil sport juga. Tidak tau apa daya tariknya?
Apakah Ken juga menyukai arena balap? Atau hanya sekedar hobi?
Entahlah, Kim menggeleng tidak tahu.
Karena untuk Kim pribadi memang tidak begitu peduli tentang mesin ataupun keunggulan suatu kendaraan, Kim hanya mengikuti apa yang sedang menjadi trend.