Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 42 ..



Mengagumi, menyayangi dan kemudian berakhir dengan jatuh cinta..


🔥🔥🔥


Sam meringis dan menggaruk tengkuknya,


"Maybe? Gue sih berharap lo percaya, lagipula gue bingung mau nyari alasan apa biar bisa ketemu lo."


"Ya ampun kak, lo bisa serius dikit gak sih? Harga diri seorang pria sedang di pertaruhkan disini lho? Lagipula, mana ada sih cewek yang mau nikah sama cowok yang gak setya kayak lo?"


Perkataan Kim membuat Sam menjadi bingung.


Tidak setia??


Apa makna yang tersembunyi dari perkataan Kim yang sebenarnya??


Sam berpikir sejenak,


"Gue gak peduli. Hwek."


"Udah lah kak, gak usah ngegombal terus? Ini udah larut malam, tau?"


Kim menunjuk jam dipergelangan tangannya dengan jari telunjuknya.


"Ya udah, mau gue antar pulang sekarang?"


Kim menggeleng.


"Lo gak mau balik? Terus lo mau kemana?


Kim menggeleng.


"Lo bawa ponsel kan?"


Kim menggeleng.


"Atau, lo mau nyari hotel di tengah malam dengan cara manual?"


Kim kembali menggeleng.


"Gue tanya deh, terus lo mau ngapain sekarang?"


Kim mengangkat bahu.


"Ngomong dong, Kim? Jangan pelit sama suara ah?"


Kim meringis.


"Gue gak peduli, yang jelas gue gak mau balik. Titik."


"Gak mau balik? Mau disini aja?"


"Not a big problem."


Sam menghela nafas panjang.


"Kim, lo itu gak boleh jadi egois seperti ini, hidup itu gak selamanya mulus dan tanpa hambatan, jalan tol aja yang katanya bebas hambatan, ada kalanya juga bisa macet juga. Lo ngerti kan?"


"Iya kak, gue paham."


"Kalo lo udah mengerti, gue antar balik sekarang."


Kim tetap menggeleng.


Melihat kelakuan Kim, membuat Sam menepuk jidatnya sendiri dengan frustasi.


"Astaga Kim. Tadi lo bilang sudah paham, terus kenapa sekarang gak mau balik?"


"Gue cuma ingin sendiri dulu kak, gue perlu waktu untuk mencerna setiap insiden yang tiba tiba terjadi,"


Kim menghentikan kalimatnya dan menghela nafas sebentar.


"Rasanya itu sakit banget saat gue dibohongi oleh semua orang yang gue sayang. Mami, Papi, Ken, Vivian, bahkan Rick. Mereka semua menutupi masalah ini dari gue? Dan cuma gue, cuma gue yang tidak mengetahui apapun tentang ini."


Sam sangat mengerti dengan apa yang tengah Kim rasakan saat ini.


"Okey, kalo itu keinginan lo, lo ikut gue aja malam ini. Gimana?"


Kim mengangguk.


Sam segera menarik tangan Kim dan menjalinnya dengan tangan Sam sendiri hingga membentuk sebuah genggaman.


💫💫💫


Mobil Sam berhenti tepat di depan Apartemen.


"Kak, lo bawa gue ke Apartemen lo?"


Sam mengangguk.


"Why?"


"No, but doesnt that bother you?"


"Santai, gue malah senang kalau lo datang."


"Oh ya?"


"No, no no."


Kim berjalan bergandengan tangan dengan Sam. Memasuki lift, dan kemudian tiba di unit apartemen Sam.


Pintu terbuka, dan Kim kembali memasuki apartemen Sam untuk yang kedua kalinya.


Ruangan serta aromanya masih tetap sama, sama seperti terakhir kali saat Kim meninggalkan Unit ini.


"Santai aja, lo bisa tidur dikamar gue. Lo lapar?"


Kim menggelengkan kepala,


"Gue gak lapar kak."


"Okey, Lo bisa mandi dulu deh, gue juga mau mandi di kamar mandi tamu."


Kamar tamu?


Kim segera mengangkat alisnya, Kim sedikit penasaran dengan sifat dan sikap introvert Sam kepada orang lain namun tidak untuk Kim.


Sam bahkan berbeda seratus delapan puluh derajat jika dengan Kim.


"Kak, buat apa sih lo siapin kamar tamu, sementara lo sendiri gak pernah memasukan orang lain kesini?"


"Kenapa? Em,.."


Sam terlihat seperti tengah berpikir,


"Gue juga gak tau, mungkin supaya bisa dipakai untuk kamar anak kita nantinya."


Mendengar ini, Kim melongo.


'WTF?? anak kita??'


Sebelum Kim dapat memikirkan semua lebih jauh, Sam kembali membuka mulutnya.


"Udah sana mandi, gak perlu over thinking."


Kim menurut dan segera memasuki kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, Kim keluar dengan mengenakan handuk. Kim berjalan kearah lemari pakaian Sam.


Kim membukanya, dan sangat terkejut saat melihat penghuni lemari bukan lagi kemeja serta kaos, melainkan ada beberapa gaun juga baju rumahan untuk wanita yang berada didalam lemari Sam.


"Sejak kapan kak Sam menyimpan baju perempuan? Apa sekarang kak Sam sering membawa pulang seorang gadis?"


Kim bertanya kepada dirinya sendiri dengan nada suara yang mengandung rasa kekecewaan.


Entahlah, jika memang Sam sering membawa pulang seorang gadis ke apartemennya sendiri, lalu apa hubungannya dengan Kim?


Meski Kim sangat ingin marah, namun apakah Kim memiliki hak untuk marah?


Dan jawabannya adalah TIDAK, Kim tidak diizinkan untuk marah sekalipun Kim sangat ingin, Lagipula Kim juga harus sadar bahwa tidak ada hubungan khusus yang terjalin diantara Sam dan Kim.


Sudah jelas jika wanita itu adalah tunangan yang pernah Sam ceritakan.


Tapi jika itu memang tunangan resmi Sam, kenapa Kim tiba tiba merasakan sesak didalam hatinya? Bukankah Kim telah mengetahui resiko ini sejak awal dengan sangat jelas?


Kim mencengkeram dadanya erat,


Perasaan apa ini?


Kenapa rasanya sesakit ini?


Tidak mungkin jika ini adalah perasaan cemburu?


Bukankah sejak awal, Kim memang telah menjaga hatinya dari Sam? Apalagi semenjak kabar pertunangan Sam telah dikumandangkan dan Sam juga telah membenarkannya.


Kim mencoba untuk mundur teratur dan mencoba agar tidak jatuh kedalam pesona serta kehangatan seorang Sam lebih jauh.


Namun kebaikan serta perhatian yang Sam tunjukan justru telah memberikan harapan semu untuk Kim.


Kim sendiri tidak pernah mengharapkan apapun, apalagi mencintai ataupun dicintai oleh seseorang yang telah memiliki pasangan. Lagipula Kim juga tidak ingin skandal seperti orang tua Kim akan terulang kembali dan terjadi kepada Kim.


Kim tidak akan pernah merebut sesuatu yang telah sah menjadi milik orang lain.


Lalu kenapa? Kenapa Kim harus memiliki perasaan sialan itu sekarang? Perasaan yang datang entah sejak kapan.


Mungkin karena Kim telah salah mengartikan dan justru menganggap lebih tentang perhatian Sam selama ini, hingga Kim menjadi bias dan hanya mengharapkan harapan palsu atas semua tindakan manis yang telah Sam lakukan.


Kim tidak menampik perasaan itu sama sekali. Kim mengakui dengan jujur bahwa Kim telah jatuh hati, bahkan lebih dari sekedar itu kepada Sam.


Kim mengagumi Sam, mulai menyayangi Sam, kemudian berakhir dengan jatuh cinta kepada pria itu. Semua mengalir begitu saja tanpa Kim sadari.


Perasaan sialan yang kini sudah terlanjur muncul tidak akan bisa di ubah begitu saja.


Kim menghela nafas panjang.


Lalu apa artinya semua ini bagi Sam? Jika Sam bahkan tidak pernah menganggap Kim lebih dari seorang adik? Seharusnya Sam tidak memberikan harapan palsu kepada Kim, jika Sam telah memelihara seorang wanita yang memang telah Sam nantikan selama ini.


Kim melihat bayangannya sendiri didepan cermin.


"Only sister?"