Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 14 ..



Berusaha sekuat tenaga untuk menghindari badai, namun apalah daya saat badai justru datang tepat di hadapan..


🔥🔥🔥


Kediaman Kim..


Berbagai macam hidangan laut tersaji di atas meja makan. Semua adalah makanan favourite keluarga Kim, dan makan malam di keluarga Kim selalu sama, dipenuhi tawa dan kehangatan.


"Makan yang banyak, Kim. Biar kamu tetap sehat."


Kim mengangguk dan memberi hormat setelah mendengar perintah papinya.


"Ashiiaap, pi."


"Papi denger kamu putus sama Rick?"


Kim meletakan sendok dan garpu yang di pegangnya secara tiba tiba. Pertanyaan papi cukup mengejutkan Kim, bahwa Kim berarti tidak perlu membicarakan ini secara langsung kepada papinya, karena angin yang akan meneruskan dan membawa berita itu selanjutnya, bahkan akan menjadi lebih cepat dari biasanya.


Kim menoleh ke arah papinya, serta mengangkat sebelah alisnya,


"Papi tau dari mana?"


Sudah pasti dan sangat jelas, biang onarnya adalah kakaknya sendiri. Tidak mungkin tidak.


Dasar bocor halus makhluk satu ini.


Kim melirik kak Ken, dan yang dilirik hanya mengangkat bahu, berpura pura tidak tahu.


Kim dapat melihat gelagat mencurigakan yang kakaknya tunjukan, bahkan Kim dapat membacanya dengan sangat jelas.


Kim akui, sejak dahulu, Ken adalah seseorang yang mempunyai kualitas sangat buruk dalam urusan bohong berbohong. Dan kebiasaan itu tetap di sandangnya hingga sekarang.


Jadi, jangan harap Kim akan mempercayai setiap gerak gerik kebohongan yang tidak bisa Ken tutupi dengan baik.


"Gak penting papi tau dari mana,"


Papi tetap berkilah, berusaha melindungi saksi kunci yang notabennya adalah putranya sendiri.


"Papi mengerti kalau Rick adalah anak yang baik, jujur, sopan dan cerdas. Tapi kamu tidak di izinkan untuk mengharapkan dia kembali."


"Tapi, kenapa pi? Aku cuma butuh alasan yang real pi, biar ada titik terang. Semua terasa menggantung dan tidak ada kejelasan yang bisa membuka pikiran aku."


Albert (papinya Kim) melirik Diana (maminya Kim),


Dan Diana menggeleng.


"Tidak semua yang dilakukan harus ada alasannya, Kim. Dan tidak semua hal bisa kamu mengerti. Semua pertanyaan dan keraguan kamu, mungkin akan terjawab jika waktunya sudah tepat, dan saat itu juga, kamu pasti akan mengetahui dan mengerti."


"Adek harus dengerin papi, papi itu benar. Cepat atau lambat semua juga akan terjawab. semakin kesini juga akan semakin jelas."


Mami menambahkan.


Kim terdiam, dan sesekali melirik Ken, mencoba bertanya dengan isyarat mata. Yang berarti "Why?"


Tapi, Ken hanya menggelengkan kepala pertanda jika Ken juga tidak mengerti.


"Sudahlah Kim, kamu tidak perlu berpikir berlebihan, dan tidak usah bawa perasaan. Papi tidak punya maksud lain, Papi hanya ingin kamu jangan berkecil hati. Mungkin, Rick bukan jodoh kamu, dan bukan yang terbaik buat kamu."


"Iya, aku juga tahu, Pi. Aku udah gede, jadi putus cinta bukan lagi hal keramat di saat umur aku udah delapan belas tahun."


"Gadis baik, itu baru putri papi."


Papi mengangkat kedua ibu jarinya untuk memuji kehebatan Kim.


Hebat?? Entahlah, mungkin papi hanya merasa lelah.


"Karena sekarang kamu udah jomblo, gimana kalo papi kenalin kamu sama anak teman papi? Gimana? Kamu tenang aja, anaknya Om Prayoga itu baik, berpendidikan, dan poin pentingnya adalah anaknya juga ganteng maksimal. Gak kalah deh sama kakak kamu."


Papi justru mempromosikan anak mitra bisnisnya dengan sangat serius. Berharap agar Kim bisa cocok dengan anak Om Prayoga.


Papi menyeringai membayangkan jika rencana perjodohan itu akan mudah dan berjalan lancar.


Jiwa narsistik Ken mulai mencuat ke permukaan.


"Idih PD kakak kebangetan. Gak tahu malu emang. Dasar jomblo."


Kim meledek Ken habis habisan.


"Ngaca dong, Adek juga sekarang jomblo kan? Kita senasib dek, jadi sesama jomblo dilarang untuk saling menghina. Okey?"


Ken menampilkan senyum penuh kemenangan.


"Males, kakak aja sana, aku sih enggak."


Kemudian Kim menoleh kearah Papi dan memohon agar tidak menyusun rencana konyol untuknya.


"Pi, aku bisa nyari cowok sendiri kok. Gak perlu bawa anak Om Prayoga segala, ya ya ya? Please? Lagian aku juga masih laku keras dan belum kadaluarsa kok, kenapa papi gak coba nyari jodoh buat kakak aja? Lihat tuh muka kakak, terlihat menyedihkan karena kelamaan jomblo."


Kim menunjuk wajah Ken yang sama sekali tidak berekspresi dengan senyum kelegaan.


Firasat Kim mengatakan bahwa Kim akan menemui nasib buruk dalam makan malam kali ini, dan semua terbukti benar saat papi menawarkan perjodohan gila itu untuknya.


Dan mengkambing hitamkan Ken adalah upaya terakhir Kim saat ini untuk menghindari perjodohan konyol yang cepat atau lambat akan segera menimpanya.


"Kakak kamu itu masih harus fokus sama kuliah dulu, dek. Jadi, kakak kamu gak boleh main cinta cintaan sebelum jadi pria dewasa yang mapan."


Ucapan Mami menghancurkan semua harapan Kim, seperti tengah menghindari badai, namun apalah daya, badai itu justru datang tepat di hadapannya.


Kim menghela nafas panjang.


"Dengerin tuh ucapan Mami."


Ken bangga kepada dirinya sendiri karena telah menang banyak kali ini.


"Udah, turutin aja permintaan papi, kasihan, papi udah berharap banyak sama lo."


"Aku juga masih harus fokus sama kuliah dulu Mi, Pi."


Kim tetap berusaha mencari keamanan dengan terus berjuang membela dirinya.


"Kamu itu perempuan, Kim. Jadi kamu wajib mengikuti suami kamu nantinya. Kalau suami kamu meminta agar kamu menjadi ibu rumah tangga yang seutuhnya, maka kuliah tidak lagi penting untuk sekarang ini."


'WTF? Hanya karena gue cewek, jadi maksud papi adalah kuliah tidak penting buat gue, gitu?'


Kim mengerang dalam hati.


"Kamu lihat, mami kamu. Mami kamu lebih memilih jadi ibu yang baik dan tinggal di rumah buat jaga kalian."


Papi melanjutkan kicauan konyolnya.


"Pi, ini abad kedua puluh satu, dan pria sama wanita itu sederajat untuk saat ini. Coba papi pikirin, beruntung kalo suami aku kaya raya nantinya, tapi kalo suami aku miskin, gimana?"


"Nanti, papi kasih modal buat usaha."


Papi menjawab dengan enteng tanpa memperhatikan Mami dan Ken yang telah susah payah menahan tawa, namun saat mereka melihat ekspresi kesal Kim, membuat Mami dan Ken mengurungkan niat untuk meledek Kim lebih jauh.


Kim tetap tidak menyerah untuk mendapatkan hak asasinya atas perlakuan tidak adil papi yang lebih mengutamakan Ken daripada Kim dalam masalah pendidikan


"Terus, kalo aku pisah sama suami aku, aku gak punya pendidikan, gak punya modal, aku mau gimana coba?"


Sejauh ini mami dan Ken masih tetap diam menyimak perdebatan ayah dan putrinya,


tanpa ada niatan untuk menghentikannya.


"Gampang, kamu tinggal balik ke rumah, papi sama kak Ken masih cukup kaya kalau hanya memberi kamu makan. Tapi, kalau kamu menikah dengan anak Om Prayoga, Papi berani jamin, kalau kamu tidak akan mengalami hal yang kamu cemaskan itu."


Ken "....."


Mami "......"


"PAAPPPIIIIII...."