Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 39 ..



Mungkin, usaha memang tidak menghianati hasil.. Namun terkadang hasil yang telah menghianati usaha..


🔥🔥🔥


Kim membuka mata, mengerjapkannya dan kemudian melihat jam di dinding menunjukan pukul tiga dini hari.


Kim segera membuka selimut yang membungkus badannya, dan melebarkan mata saat mendapati gaunnya telah berganti menjadi baju rumahan.


Dan melihat gaun Kim telah tergeletak begitu saja di lantai beserta bra juga celana dalamnya.


Kim menjadi shock seketika.


Kim melihat tubuhnya sendiri, tidak ada bra atau celana dalam, hanya ada kaos kedodoran yang berhasil menutupi badan dan pantatnya.


Kim menelan ludah, dan mulai memikirkan tentang siapa yang membawa Kim pulang? Apa yang telah Kim lakukan? Dan terakhir, siapa yang mengganti gaun yang Kim kenakan dengan kaos ini?


Pertanyaan itu hilir mudik dan tumpang tindih di dalam pikiran Kim. Tanpa ada satupun pertanyaan yang berhasil Kim jawab.


Kim merasa bodoh karena telah berani mabuk tanpa ada Nada ataupun Dewi yang bertugas sebagai peri penolong saat dalam keadaan urgent.


Tapi, apalagi yang harus di sesali? Semua sudah terlanjur terjadi.


Kim segera berdiri, berjalan mondar mandir sampai beberapa kali.


Namun, Kim tidak merasakan keanehan apapun, ataupun nyeri di daerah kewanitaannya jika memang selaput daranya telah robek.


Kim tentu tidak mengetahuinya secara pasti, karena Kim hanya sekedar menyimpulkan dari artikel yang pernah Kim baca di Internet.


Namun berdasarkan ciri ciri umum yang tertulis didalam artikel, Kim tidak merasakan salah satu diantara itu.


Jadi, bisa di simpulkan bahwa Kim masih perawan untuk saat ini bukan?


Lagipula, Kim hanya merasa pusing dan mual, namun itu tidak ada hubungannya dengan virginity sama sekali, karena, itu hanya akibat dari mengkonsumsi alkohol yang berlebihan dan telah melebihi takaran.


Bukankah itu berita yang cukup bagus? Pertanda jika Kim memang masih tersegel dengan aman.


Kim mengangguk dan menghela nafas lega.


Kim mengawasi sekeliling, namun tidak menemukan keberadaan Sam dimanapun.


Sudah jelas jika Sam yang telah membawa Kim kembali ke hotel, namun tidak mungkin jika Sam yang mengganti baju Kim.


"Pasti pegawai Grand Palace yang telah melakukannya, pasti."


Kim berucap dengan yakin, bahkan sangat meyakini kesimpulannya sendiri.


Alasannya cukup sederhana, semua tentu karena Sam tidak akan pernah tega untuk melihat tubuh Kim yang bertelanjang.


Kim sungguh tidak ingin memikirkan ini lebih jauh, karena semua akan percuma. Kim hanya bisa menebak, dan dengan menebak, Kim hanya akan merasa semakin penasaran, penasaran dan sangat penasaran tanpa tahu kebenaran yang sebenarnya.


Dan itu hanya akan membuang energi untuk suatu hal yang tidak penting.


Kim segera mandi dan bersiap siap untuk mengejar penerbangan paginya kembali ke Jakarta.


Dan satu hal lagi, Kim tidak perlu mengkhawatirkan tentang Rubicon Bang Jodi, karena Kim yakin bahwa Sam telah menyelesaikannya dengan sempurna.


Kim segera melakukan Check out dan bergegas menuju Bandara Denpasar.



➡ Visual Kim ⬅


Lima puluh menit kemudian, Pesawat yang Kim tumpangi telah tiba di Jakarta.


Dan Kim merasa sangat puas dengan liburan singkatnya kali ini, meskipun menyisakan rasa lelah, namun sepadan dengan apa yang Kim rasakan selama di Sanur.


Dua tahun kemudian..


Kim sangat sibuk akhir akhir ini, menjadi asisten dosen membuat Kim merasakan pusing tujuh keliling sampai titik dimana Kim harus mondar mandir ke kelas untuk menggantikan memberikan materi pada jam pelajaran Mr. Antoni, karena Beliau absen tidak bisa menghadiri kelas pada hari ini.


Akibatnya adalah Kim merasakan letih pada seluruh tubuh serta pikiran karena harus menguras otak untuk mempelajari Manajemen sampai detail terkecil dengan teliti.


Kim bahkan belum sempat mengirimkan email hasil tugas dari masing masing mahasiswa yang telah mengikuti kelas Mr. Antoni.


Dan naasnya, Kim tidak membawa kendaraan hari ini, Kim berangkat bersama Ken. Namun Ken telah pulang terlebih dahulu sejak tiga jam yang lalu. Menyisakan Kim yang sekarang masih berdiri sendirian didepan Universitas dengan buku buku tebal di tangannya.


Hari mulai terlihat gelap, dan Kim mulai merasa sedikit takut sendirian berada disini.


Tin tin..


Suara klakson mobil semakin mengejutkan Kim dari ketakutannya. Semua tentu karena Ken sering menceritakan kisah seram yang katanya sering terjadi di area Kampus saat malam hari.


Dan itu telah menciutkan nyali Kim. Meski sejujurnya Kim tidak terlalu mempercayai cerita konyol Ken, namun suasana seram sungguh tercipta meski hanya berdiri di depan gerbang kampus yang langsung menghadap ke jalan raya.


Namun suara klakson yang Kim dengar tidak mungkin hantu kan?


Kim menoleh kebelakang dan mendapati sebuah Audi berwarna biru berhenti tepat dibelakangnya, dan lebih tidak mungkin lagi Hantu akan menaiki mobil keluaran terbaru sekelas Audi bukan?


"Kim, ayo masuk? Jangan bengong disitu? Udah malam ini."


Suara Sam membuyarkan lamunan aneh seorang Kim.


Kim tersenyum dan segera memasuki mobil.


Sejak dua tahun terakhir, hubungan Kim dan Sam memang telah menjadi semakin dekat dan akrab dari sebelumnya.


"Kenapa Kim? Muka lo pucat? Lo sakit?"


Ucap Sam seraya menyentuh kening Kim dengan telapak tangannya.


"No, gue cuma merasa sedikit takut karena hari hampir gelap tapi gue masih berada di Universitas sendirian."


Sam tersenyum,


"Takut ada setan?"


Kim mengangguk.


Dan Sam segera mengemudikan mobilnya menuju kediaman Kim.


"Ya udah, yuk gue antar pulang, daripada lo pingsan karena ketakutan."


Sam semakin meledek Kim begitu mengetahui jika Kim takut dengan Hantu.


Kim merengut,


"Ledek aja terus, sampai puas."


"Ya ampun Kim, kayak gini doang sih gak bakal bikin puas? Kecuali kalau lo tidur sama gue, mungkin itu baru bisa muasin gue."


Sam menyeringai.


"Uh."


Mendengar ini, Kim segera membayangkan apa yang Sam bicarakan dengan bayangan liar, dan Kim segera menggeleng.


"No no no, itu lebih menyeramkan dari hantu."


"Itu karena lo belum tahu performa gue, dan gue berani jamin lo gak akan menyesal di sepanjang hidup lo jika melakukan yang pertama sama gue."


Kim mengangkat sebelah alisnya,


"Emang lo pernah melakukan itu sebelumnya?"


Kim bertanya dengan sangat penasaran.


"Belum."


Sam menjawab enteng.


"Belum? Tapi kok lo bisa yakin banget dengan performa lo sih?"


"Itu karena kalau kita melakukannya berdua pasti akan menjadi duet yang menyenangkan."


Sam mengeluarkan devilsmirk.


"Meskipun gue belum ada pengalaman, tapi gue yakin itu akan sangat hebat."


"Idih, ngaco banget deh. Udah ah, omongan lo semakin ngelantur."


"Siapa yang ngelantur sih? Gue serius?"


Sam mengangkat tangan tanda suer dengan penuh tekad.


"Lo jadi pacar gue aja ya? Please?"


Sam memohon dengan nada serius.


"Kak, ini gak mungkin? Lo udah punya tunangan, okey?"


"Berarti kalau gue gak punya tunangan, lo mau jadi pacar gue?"


Sam bertanya dengan puppy eyes yang cukup menyentuh hati.


"NO."