Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 10 ..



Di saat mimpi seperti nyata, dan di saat kenyataan seperti mimpi..


🔥🔥🔥


Next,


Misi keDua Bakar Foto Mantan.


"Emang misi kedua apaan, Nad?"


Tanya Kim dan Dewi serentak.


"Bakar foto mantan? Kalo perlu bakar sama orangnya sekalian."


Dewi "...."


Kim "....."


"Kenapa pada diem?"


"Gue? No comment."


Ucap Dewi to the point.


Kim mengerjapkan mata dan kemudian menggeleng.


"Gue juga, sama. Gak ada komentar."


"Ya udah, gue juga gak nyuruh lo berdua buat ngasih komentar."


"Terus?"


Dewi dan Kim kembali berucap serentak.


"Gue cuma mau ngasih tugas buat lo berdua."


"Apa?"


"Ngumpulin foto Rick yang masih tersimpan. Di bawah kasur, di bawah bantal, di bawah lemari, atau di bawah apa aja pokoknya."


Ucap Nada memberikan instruksi.


"Nad, lo gila? Yang bener aja? Kim mana punya foto Rick yang di cetak?"


Nada mengedipkan sebelah matanya ke arah Kim,


"Ya kali, iya gak Kim?"


"Bakar apa sih? Ngaco lo. Lagian, mana punya gue foto begituan? Ini tahun 2020, Nad."


"Nah, dengerin Nad. Ucapan gue bener, kan? Lo pikir, ini jaman nenek moyang lo, yang gak bisa menyimpan foto di galeri ponsel?"


"Tolol lo, Wi. Era Nenek moyang gue, mana ada ponsel?"


Dewi meringis mendengar ucapan Nada yang ada benernya juga.


"Stop it. Kembali ke topik. Terus sekarang lo maunya gimana, Nad? Jujur aja, gue gak megang foto Rick sama sekali. Ada sih, beberapa. Di galeri ponsel sama di Media Sosial. Masa iya, ponsel gue pake acara di bakar segala? Kasian, ponsel gue gak punya dosa sama lo, dan biarpun jadul juga gak salah apa apa."


"Okey, okey. Gue ralat deh. Hapus foto mantan jangan sampe ada yang nyisa."


Ucap Nada merivisi ulang kata katanya.


"Khususnya di galeri ponsel. Di IG, di FB semuanya deh. Termasuk gambar Rick yang masih ada di otak lo. Wajib di hapus terus di Restart ulang."


Sebenarnya, Kim juga tidak terlalu yakin dengan saran Nada, bagaimanapun Nada hanyalah cewek gila yang biasa ceplas ceplos dengan ucapannya.


However, it doesnt hurt to try.


Kim berhenti pada sebuah gambar. Mamandangnya untuk waktu yang lama, foto berlatar belakang lapangan basket, terlihat seorang wanita dan pria dengan senyum merekah, dan masih mengenakan putih abu abu yang khas


Semua masih terekam dengan sangat jelas dalam ingatan Kim. Mata itu, tatapan itu, debaran itu. Rasa yang tidak mampu untuk di ungkapkan. CINTA, ya cinta, dan untuk pertama kalinya Kim jatuh cinta pada seseorang yang akhirnya meninggalkanya.


Dari pertemuan pertama dengan Rick.


Pria yang penuh wibawa.


Pria yang selalu arogan dan dingin.


Pria yang cerdas dan tegas.


Pria yang dulu adalah kakak kelasnya.


Pria yang akan selalu ada untuknya.


Hanya Rick, dan akan selalu Rick.


Tanpa ragu, Kim segera menghapus foto itu.


Dan kembali menggulirnya, dan kembali berhenti di salah satu foto dengan latar belakang sunset. Indah, bahkan sangat indah.


Kim masih ingat betul, bahwa foto itu di ambil ketika hari ulang tahun Kim yang ke enam belas. Rick sengaja mengajak Kim untuk berkencan, dan melihat matahari terbenam. Serta makan malam yang paling romantis.


Rick bahkan memberikan hadiah sebuah kalung berbandul hati dan memasangkannya di leher Kim saat itu.


Tanpa terasa, Kim menyentuh sebuah kalung berbandul hati yang selalu terpasang pada lehernya. Dengan suara serak Rick yang masih terngiang jelas dalam pendengaran Kim.


Rick yang berjanji, akan selalu ada untuk Kim dalam situasi apapun dan berjanji tidak akan pernah untuk meninggalkannya, nyatanya semua hanyalah omong kosong.


Dan Rick yang juga mengatakan akan selalu datang kapanpun di saat Kim merasa sendirian dan sedih, namun sekarang, justru Rick sendiri yang telah menyebabkan kesedihan abadi untuk Kim.


Kim menggenggam kalungnya erat serta memejamkan matanya. Kembali memohon jika ini semua hanyalah mimpi, dan di saat Kim membuka matanya nanti, hal pertama yang akan di lihatnya adalah senyum tampan Rick.


Namun, di saat Kim membuka matanya. Di saat itu pula, Kim mendapati bahwa tidak ada sosok yang diharapkannya berada di sini. Kim semakin sadar, jika waktu tidak mungkin bisa untuk di hentikan ataupun di ulang kembali.


Sesuatu yang telah terjadi, hanya akan ada nanti dan esok untuk menanggung segala konsekuensinya. Dan masa lalu, akan tetap sama dan tidak bisa untuk di ubah.


Di saat mimpi terlihat seperti nyata, dan di saat kenyataan terlihat seperti mimpi. Membuat Kim tersadar sepenuhnya, bahwa pria itu hanyalah bagian dari kepingan masa lalu, yang harus hilang dan di gantikan oleh orang lain. Harus.


Kim menarik kalung yang melilit lehernya secara paksa, hingga terlepas. Kim mengamati untaian berwarna perak yang tidak pernah terlepas bahkan telah melekat erat padanya selama hampir dua tahun terakhir. Kim tersenyum, menyesali kebodohannya sendiri dan segela melemparnya ke luar jendela.


Mungkin dengan mengubur semua kenangan itu dalam dalam, kenangan itu akan menghilang dan menyatu dengan waktu.


Tanpa menunggu lagi, Kim segera menghapus semua foto yang tersimpan di galeri ponsel dan media sosial tanpa ada yang tersisa.


Kim menghela nafas panjang.


Dan sungguh, Kim merasa lebih lega sekarang. Seperti beban berat telah sedikit terangkat dari pundaknya.


"Kim, are you feeling better now?"


Tepukan lembut pada pundak Kim serta suara Nada menyadarkan Kim dari lamunannya.


Kim mengangguk.


"Em, very good. Gue bahkan gak pernah ngerasa sebaik ini sebelumnya."


"Syukur deh, kita khawatir banget ngeliat kondisi lo, Kim. Pokoknya, kita berdua janji, apapun yang terjadi kita akan selalu berdiri di samping lo dan bakal bantu lo sekuat tenaga kita."


Ucap Dewi bersungguh sungguh..


"Thank you, dear."


Ucap Kim seraya memeluk kedua sahabatnya. "Makasih banget, karena udah bantu gue sampai sejauh ini. Gue beruntung banget, punya kalian. Dan Kayaknya, tips lo udah mulai berguna deh Nad."