
Hidup itu perlu keseimbangan. Mencintai itu boleh dan sah aja, tapi juga perlu di imbangi dengan antigores yang tebal agar bisa melindungi dan menjaga hati..
🔥🔥🔥
Dua hari kemudian dikamar Kim.
"Gimana gimana? Sukses?"
Nada langsung menerobos masuk ke kamar Kim tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dewi mengikuti dibelakang Nada.
"Iya Kim, udah dua hari ini? Udah dapetin hasil nya?"
"Gue harus jawab jujur atau bohong?"
"Jujur lah, bohong itu dosa, Kim."
Nada merasa jengkel dengan ucapan Dewi.
"Alah, gak usah ngomongin dosa sama gue deh, Wi. Dosa lo aja udah kagak keitung jumlahnya, plus udah menggunung ke gue. Terakhir kali, lo nyolong catokan gue kagak bilang bilang. Inget kan? Iya kan iya dong, bener kan bener dong? Ngaku lo, ngaku?"
Kim menggelengkan kepala.
"Nada cantik yang baik hati dan tidak sombong, yang namanya nyolong itu gak bakalan bilang, okey? Kalo minta izin dulu, itu namanya minjem, paham?"
Nada mengangguk, sedangkan Dewi celingukan karena sudah tertangkap basah ketahuan mengambil catokan Nada.
Dewi penasaran bagaimana Nada bisa tahu dengan sangat cepat tentang ini, padahal Dewi sudah sangat berhati hati saat mengambilnya, dan bahkan tidak meninggalkan jejak apapun.
"Kok lo tahu sih kalo gue yang nyolong, eh sorry, maksud gue ngambil catokan lo?"
"Apa yang gak gue tahu sih, Wi? Gue kan keturunan cenayang, jadi gue punya baskom berisi air buat menerawang kegiatan lo berdua."
"Itu mitos, Nada. Gak beneran ada, kalo emang ada, lo gak perlu pake panggilan vicall buat bisa lihat muka gue."
Mendengar perkataan Kim, Dewi segera mengangkat tangan dan mengajak Kim bertoss ria karena Kim berhasil mengskak Nada dengan satu perumpamaan kecil.
Dan menambahkan,
"Tapi, seriusan gue gak nyolong catokan lo, Nad. Gue juga udah minta izin sama lo."
Nada kembali mengingat kejadian tempo hari. Dan mulai meragukan pendengarannya sendiri.
"Lo beneran udah ngomong ke gue?"
"Udah, udah. Tapi, di dalam hati."
Dewi cengengesan dengan pengakuannya sendiri.
"Damn. **** you."
Nada mengangkat kedua tangan ke atas kepalanya, tanda menyerah.
"Okey, gue ngaku kalah deh. Gue udah nyerah. Males gue berurusan sama orang kayak lo lebih jauh. Oia, gue sampai lupa, gimana Kim? Ada perubahan gak yang lo rasakan?"
Kim berpikir sebentar,
"Em, sebenarnya sih gak ngefek banget, efeknya ya, mungkin hanya sekitar sepuluh poin dari seratus. Want to know why? Secara itu cuma gambar, kalo orisinilnya mungkin bakal langsung seratus poin hasilnya."
Nada "......."
Dewi "......."
Kim itu jadi anak suka gak sadar diri, gak tau terima kasih banget. Udah dikasih hati, malah minta jantung. Hedeuuhh.
Sedang Nada sendiri adalah tipe cewek yang simple, cenderung berkepribadian cuek, dan gak neko neko.
Dan poin pentingnya adalah Nada selalu konsisten. Kalo emang iya, bakalan bilang iya. Kalo enggak ya enggak.
Jujur, saking jujurnya, suka kelewatan malah.
Gak peduli orang mau ngomong apa, kalo hatinya udah sreg, ya udah langsung eksekusi.
Hati hati dalam segala hal, Nada gak bakal ngambil keputusan asal tanpa melewati perhitungan ketat lebih dulu. Harus jelas secara rinci, mulai dari rencana, eksekutor, realisasi dan konsekuensinya sekalipun.
Kalau belum yakin seratus persen, Nada gak akan berani mengeksekusi begitu aja.
Maklum, anak seorang pengusaha memang gitu, sejak masih dalam kandungan sudah ditanamkan jiwa seorang pengusaha sejati.
Supaya begitu gede, bisa langsung terjun ke dunia bisnis.
Paling dewasa, baik sikap ataupun penampilan, Nada selalu menonjolkan aura kedewasaan yang kuat.
Dan orang yang hanya melihat sekilas, tidak akan percaya kalo Nada masih delapan belas.
➡ Visual Nada ⬅
"Kim,"
"Em,"
"Lo jujur deh sama kita, perasaan lo sekarang gimana? Apa lo masih mengharap dia balik lagi sama lo?"
Kim terdiam. Kim sendiri masih bingung dengan pertanyaan seperti ini. Jujur, jika ditanya masih sayang atau tidak, Kim tentu akan menjawab masih sangat sayang.
Namun, jika di tanya tentang mengharap dia kembali, Kim tidak tau harus menjawab apa.
"Diemnya lo udah jadi jawaban, Kim. Lo gak perlu jelasin apapun lagi. Gue ngerti kok, semua juga harus pelan pelan. Apa lagi kalo inget sifat lo yang dikit dikit bawa perasaan. Lo cuma harus inget satu hal, dia udah buang lo."
Kim menelan ludah, perkataan Nada ngena banget dan langsung nusuk pada titik paling sensitive di dalam hati Kim.
"Gue cuma pingin dia ngasih alasan yang real, Nad. Kalau lo tanya, gue masih sayang atau gak, gue bakalan jawab iya. Tapi kalo lo nanya, gue masih mengharap dia balik sama gue lagi apa gak? Gue angkat tangan deh, gue nyerah."
"Why?"
"Sudah sangat jelas, bahwa gue gak bisa menjalani hubungan yang udah terlanjur pacah. Sekali pecah, udah gak akan bisa utuh lagi. Mau dipakein lem apapun, sekalipun kembali utuh, tetep akan meninggalkan goresan luka."
Nada masih tetap meremehkan Kim yang dianggap masih sangat mengharap Rick kembali.
"Kalo lo cuma pingin denger alesan dia, lo nanya langsung aja ke dia. Gampang kan?"
Dewi menyaksikan perdebatan itu, dan mulai merasa akan ada perang jika tidak segera dihentikan,
"Nad, lo pikir gampang nanya kayak gitu ke Rick? Lo kayak gak kenal Rick aja deh."
"Iya juga sih, Rick itu jadi orang selalu sok misterius. Eh eh, tapi lo tau gak kalo Rick udah berangkat ke Selandia? Gue liat postingan dia gitu waktu dia di bandara, kayaknya sih mau transit ke Singapura deh."
"Congrat ya Nad, lo jadi orang terakhir yang tau. Gue sama Dewi udah tau dari kemaren banget."
Dewi mengangguk setuju.
Kim menghentikan argumen yang bahkan belum di mulai.
"Udahlah, Lupain aja. Lagian sekarang gue juga udah gak sedih lagi kok. Gue cuma butuh pemulihan untuk mereparasi hati yang patah."
"Cuileeh, makanya Kim, jangan kebanyakan makan hati. Hidup itu perlu keseimbangan. mencintai itu boleh dan gak dosa, tapi harus diimbangi dengan antigores yang tebal agar bisa melindungi dan menjaga hati."
"Iya, meskipun misi keempat gak terlalu sukses. Tapi gak bisa di bilang gagal kan? Ini masih mendinganlah. Gak gagal total kayak misi pertama. Kayaknya kita bisa lanjutin misi selanjutnya sebelum Kim berangkat ke Bali deh."