Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 35 ..



Barking dogs seldom hite..


🔥🔥🔥


Tidak terasa ini adalah hari terakhir Kim berada di Bali, karena besok Kim harus segera meninggalkan Bali dengan menggunakan penerbangan pagi.


Kim masih enggan untuk berpisah dengan Sanur, bagaimanapun Kim dan Sanur telah menyatu selama hampir satu minggu, jadi sangat wajar jika Kim merasa berat untuk meninggalkan Sanur dan kembali ke Jakarta.


Kim menghembuskan nafas penuh kekecewaan, ditambah jika mengingat undangan ulang tahun Kikan yang membuat Kim menjadi semakin dan sangat down.


Bagaimana tidak?


Kim masih single untuk saat ini, okey?


Jadi Kim tidak mempunyai pasangan yang bisa diajak ke acara laknat itu. Dan itu akan membuat Kim menggigit jari dengan semua pasangan kekasih yang akan datang ke ulang tahun Kikan.


Kim memutuskan untuk mencari hadiah Kikan siang ini. Dan jika boleh jujur, Kim juga masih memikirkan jenis hadiah apa yang mungkin akan Kikan inginkan.


Kim kembali mengamati bayangannya dicermin, dan setelah dirasa cukup, Kim segera mengambil kunci mobilnya, tidak lupa membawa tas dan segera meninggalkan hotel dengan cepat.



➡ Visual Kim ⬅


Kim mengendarai mobilnya di jalanan Ngurah Rai yang cukup ramai, namun dari sekian banyak pertokoan yang berderet panjang, Kim masih belum memiliki gambaran apapun untuk hadiah yang akan Kim berikan.


Kim terus melajukan mobilnya, dan mulai berpikir dengan keras, hingga beberapa saat kemudian, Kim seperti mengingat sesuatu, atau lebih tepatnya menemukan ide yang cukup brilian.


Kim tersenyum dalam hati.


Mobil Kim berhenti di sebuah pertokoan besar tiga lantai dipinggir Jalan Raya.


Kim memasuki toko dan melihat lihat beberapa model terbaru jam tangan import merk Olivia Burton.


"Mungkin Kikan akan menyukai ini."


Setelah beberapa saat memilih, pilihan Kim akhirnya jatuh pada sebuah jam tangan bertema Vintage berwarna peach yang akan sangat cocok untuk dikenakan dalam acara apapun.


Kim segera membawanya kekasir dan meminta agar pegawai toko membungkus jam tangan dengan sangat rapi.


Kim mengangguk puas dengan hasil dari kelincahan pegawai toko dalam membungkus hadiah istimewa untuk Kikan dengan sangat rapi dan juga indah.


Segera setelah itu selesai, Kim meninggalkan toko dengan cepat.


💫💫💫


Kim berencana akan menghabiskan hari ini dengan berkeliling dijalanan Sanur untuk melakukan perpisahan, karena entah kapan lagi Kim akan memiliki waktu luang untuk kembali mengunjungi Bali.


Apalagi, jika Kim mulai memasuki Universitas, Kim tentu akan menjadi sangat sibuk dan tidak akan ada waktu lagi untuk berlibur.


Tentu Kin harus memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.


Kim terus mengendarai mobilnya, entah kemana tanpa arah tujuan yang jelas. Kim bahkan tidak peduli dengan waktu yang telah terbuang sia sia dengan hal ini.


But, who cares?


Kim hanya mengikuti jalanan dan menghirup udara yang terasa sangat segar banyak banyak.


Sesekali Kim melihat kendaraan dibelakangnya melalui kaca spion, atau mengamati para pedagang cinderamata khas Bali yang bertengger disepanjang Jalan yang Kim lewati.


Semua begitu indah untuk dilewatkan.


Hingga tanpa sadar, Kim melihat sebuah mobil berwarna merah terparkir dipinggir jalan dengan seorang wanita paruh baya yang tampak tengah mondar mandir disekitar kendaraannya.


"Tidak mungkin jika ibu itu berhenti dengan sengaja disini kan? Atau Mungkin mobil itu mengalami masalah?"


Sebelum Kim dapat menemukan jawaban dari pertanyaannya sendiri, Kim mulai menyadari jika Kim sudah berkendara terlalu jauh, dan sekarang Kim bahkan berada di tempat yang entah berantah.


Kim melihat sekeliling sekali lagi, entah sudah sejak kapan Kim berkendara sangat jauh dari perkotaan. Hanya ada sawah yang membentang luas di sejauh mata memandang. Dan tidak ada satupun kendaraan yang terlihat melintas di jalan ini.


Kim menepuk keningnya sendiri dan meratapi kebodohannya karena gagal fokus dalam mengemudi.


"Astaga. **** **** ****."


Kim mulai memukul mukul setir dengan frustasi.


Kim menghela nafas panjang dan melihat jam dipergelangan tangannya.


"Ini sudah sore."


Kim yang telah melewati mobil merah itu segera memutar balik, menepikan mobilnya dan menghentikan tepat didepan mobil merah.


Turun dari mobil, Kim menyapa wanita paruh baya yang sepertinya mulai terlihat panik.


"Permisi, mobil ibu kenapa?"


Kim bertanya dengan sangat sopan.


Mendengar suara Kim, wanita itu menoleh, dan mulai memindai Kim dari atas kebawah entah sampai berapa kali.


Kim melambaikan tangan didepan mata wanita itu yang terlihat seperti tengah berpikir keras.


"Bu, maaf sebelumnya, tapi saya bukan orang jahat. Saya tidak sengaja melihat ibu yang sepertinya tengah mengalami masalah dengan mobil ini. Jadi saya berhenti untuk memastikan. Apa ibu keberatan?"


Mendengar suara Kim, wanita itu tersadar dari lamunannya.


"Oh, terimakasih banyak, Nak. Kamu adalah anak yang baik, maafkan tante, tante hanya terlalu banyak berpikir. Kamu bisa panggil tante Irena saja."


Kim mengangguk,


"Iya tante Irena, mobil tante bermasalah?".


"Tante juga tidak tahu kenapa? Tadi masih baik baik saja, tapi mendadak jadi mogok seperti ini."


Tante Irena menjelaskan dengan raut wajah yang penuh kekecewaan.


Kim menghela nafas,


"Aduh, gimana ya Tan, kalau soal masalah mesin, saya juga tidak tahu Tan, tapi saya punya kenalan teknisi handal, siapa tahu dia bisa membantu memperbeiki mobil Tante?"


Kim mencoba memberikan solusi untuk permasalahan ini.


Mata Tante Irena berbinar,


"Terimakasih, Nak? Tapi, apakah itu tidak merepotkan kamu?"


Kim menggeleng,


"Tante tenang aja, saya punya banyak waktu luang hari ini."


"Baik, sekali lagi terima kasih, Nak?"


"Jangan sungkan, Tan."


Kin segera menekan layar ponselnya secara cepat. Dan kemudian meletakan ditelinganya.


Terdengar suara 'Hallo' dari ujung panggilan.


"Hallo Bang, ini gue."


'Ada apa Kim?"


"Gue bisa minta tolong buat benerin mobil gak?"


"Bisa bisa, masalahnya apa?"


"Gak tahu juga, tiba tiba mogok gitu."


"Mobil siapa sih? Rubicon lo?"


"No, ini mobil tante gue."


"Okey okey, gue harus datang kemana nih?"


"Gue juga gak tahu"


Kim meringis.


"Emang **** lo, ya udah share lok. Gue tutup."


Tut tut tut.


Panggilan terputus.


Setelah panggilan terputus, Kim kembali menoleh ke arah Tante Irena.


"Kalau boleh tahu, tujuan tante kemana?"


"Sebenarnya, Tante akan mengunjungi anak Tante di daerah sini."


"Tante buru buru?"


"Iya, bisa dibilang seperti itu, Nak."


Kim mengangguk.


Setengah jam kemudian..


Bang jodi datang dengan seorang teknisi.


"Thank you Bang, udah datang."


"Iya, gue bela belain datang secara pribadi buat lo, jadi mobil ini yang harus diperbaiki?"


Bang Jodi menunjuk mobil Merah di sampingnya.


Kim mengangguk,


"Iya Bang."


"Okey, coba lo cek dulu, Dir."


Bang Jodi memberikan instruksi kepada teknisinya untuk memeriksa mesin mana yang bermasalah.


Entah apa yang Bang Jodi dan teknisinya diskusikan selama beberapa menit terakhir.


Hingga akhirnya Bang Jodi menghampiri Kim.


"Sorry Kim, ini akan memakan banyak waktu, banyak mesin yang bermasalah, Lo mau nunggu atau gimana?"


Kim berpikir sebentar, memikirkan perkataan Tante Irena yang tengah buru buru, mungkin tidak ada waktu untuk menunggu lebih lama.


"Kayaknya gue gak bisa nunggu Bang, gue harus mengantar tante Irena balik secepatnya, tante Irena lagi buru buru banget dan gak bisa nunggu lebih lama lagi. Jadi, apa gak merepotkan kalau gue tinggal mobilnya sama lo?"


"No problem, lo percayakan sama teknisi andalan gue, dijamin akan balik seperti semula, meski harus sesuai prosedur pembongkaran dan perbaikan mesin yang juga akan memakan banyak waktu. Tapi, hasilnya akan sepadan."


"Iya iya, gue percaya banget sama lo Bang, Terus, lo mau disini sama teknisi lo?"


"Sebenarnya gue juga gak bisa kelamaan disini, gue ada urusan lain, Nanti lo share lok aja kemana harus di antar mobil ini kalo udah bener, okey?"


"Sip, gue setuju. Ya udah, gue cabut duluan ya Bang, sekali lagi terimakasih, semoga sukses."