Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 36 ..



Keramahan adalah senjata penakluk yang paling jujur..


🔥🔥🔥


Kim melajukan kendaraannya ke arah tujuan tante Irena.


"Kamu menyukai mobil seperti ini?"


Suara tante Irena membuyarkan suasana sepi didalam mobil.


Kim menoleh ke arah Tante Irena yang juga tengah memperhatikan Kim lekat lekat.


Kim tersenyum,


"Gak kok Tan, aku pakai mobil jenis ini cuma iseng iseng aja."


"Kalau boleh tahu, kamu tinggal di Sanur?"


Kim menggeleng,


"No, sebenarnya aku tinggal di Jakarta, ini hanya liburan kelulusan singkat hadiah dari Mami."


Tante Irena mengangguk,


"Ngomong ngomong, Tante belum tahu nama kamu lho?"


"Oh ya?"


Kim menggaruk tengkuknya, dan merasa sedikit bersalah karena lupa untuk memperkenalkan diri.


"Maaf tante, aku lupa belum memperkenalkan diri, namaku Kimberly Florist, Tan."


Tante Irena mengangkat sebelah alisnya dan kembali mempertanyakan nama Kim untuk memastikan.


"Kimberly Florist?"


Mendengar keraguan tante Irena, membuat Kim sedikit terkejut.


"Iya, namaku memang Kimberly, Tante bisa panggil aku Kim? Kenapa? Apa ada sesuatu yang tante pikirkan?"


Kim mulai merasakan sedikit keanehan dari gerak gerik Tante Irena yang berubah secara tiba tiba.


Namun Kim segera menggelengkan kepala serta menghilangkan kecurigaan itu.


Kim hanya tidak ingin berperasangka buruk lebih jauh terhadap wanita yang kini duduk di sebelahnya.


Lagipula, Tante Irena tidak terlihat seperti orang jahat.


Tante Irena menggeleng,


"Tidak ada masalah serius Kim, tante hanya merasa pernah mendengar nama itu sebelumnya."


"Oh, mungkin tante salah orang, soalnya ada ratusan atau bahkan ribuan nama Kimberly di Jakarta sendiri, Tan."


Tante Irena hanya tersenyum.


"Tidak banyak gadis yang seperti kamu di zaman sekarang, Kim."


"Seperti aku? Memangnya menurut Tante, aku ini seperti apa?"


"Kamu baik hati, meskipun kamu tidak mengenal Tante, tapi kamu mau menolong dan menjadi repot dengan masalah Tante. Kamu juga sangat cantik. Beruntung Orang Tua yang memiliki Putri seperti kamu."


Mendengar pujian Tante Irena, Kim tersipu malu.


"Sebenarnya Tante terlalu berlebihan, seriusan aku tidak seperti yang Tante pikirkan."


Tante Irena menggeleng,


"No, kamu seperti yang Tante pikirkan."


Lima belas menit kemudian..


Kendaraan Kim memasuki sebuah pemukiman Elite di HRC.


Dan Kim menghentikan mobilnya pada properti Unit dua puluh dua.


"Kim, kamu mampir dulu ya?"


"Iya Tante, aku juga mau nunggu Bang Jodi kesini untuk mengembalikan mobil Tante terlebih dahulu, melihat hasil kerja Bang Jodi, terus kalau semuanya sudah beres, aku langsung pulang."


"Tidak perlu terburu buru Kim, Tante hanya ingin berterima kasih sama kamu dan ingin mengenal kamu lebih jauh."


Kim mengangguk dan hanya tersenyum menanggapi perkataan Tante Irena.


Tante Irena turun terlebih dahulu, disusul Kim yang kemudian berjalan bersisian.


Suasana di Kediaman putri Tante Irena cukup ramai, seperti tengah mengadakan suatu perayaan ataupun sejenisnya.


Kim ragu sejenak, namun Tante Irena berhasil meyakinkan Kim jika ini tidak akan membuat Kim canggung.


"Darimana aja sih, Ma? Kok baru datang? Terus ini siapa?"


Begitu memasuki pintu depan Unit dua puluh dua, terdengar suara seorang wanita muda menyapa dengan seorang bayi yang berada dalam gendongannya, dengan mengawasi Kim dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan penuh tanya.


"Maaf, Sa. Mobil Mama mogok, tapi untungnya ada Nak Kim yang mengantar Mama kesini. Kim, perkenalkan ini putri tante namanya Sasa."


Kim mengangguk,


"Hai kak Sasa, gue Kim."


Kim mengulurkan tangan.


Sasa membalas uluran tangan Kim,


"Kim?"


Kim sedikit bingung dengan pertanyaan Sasa, namun sedetik kemudian Kim mengerti dengan maksud yang sebenarnya dari pertanyaan Sasa.


"Gue, eh aku Kimberly Florist."


"Oh, Kimberly Florist."


Sasa terlihat seperti mengingat sesuatu hal dengan nama Kimberly. Namun sedetik kemudian raut wajah Sasa kembali seperti semula.


"Udah, santai aja. Gak usah baku banget, gue juga sukanya pake bahasa lo gue biar lebih akrab."


"Iya, kak. Gue cuma ngerasa gak enak aja kalau pakai bahasa lo gue sama orang yang lebih tua dari gue. Takutnya dikira gak sopan aja."


Kim menjelaskan penuh kejujuran.


"Okey okey, gue ngerti."


Sasa mengangguk.


"Salam kenal ya dan terimakasih banyak udah mengantar Mama pulang, zaman sekarang gak banyak anak muda yang peduli buat nolongin orang lain"


"Ya sudah, Tante tinggal sebentar ya? Sebelum Tante kembali, kamu tidak di izinkan untuk pergi, Janji?


"I promise, Tante."


Tante Irena menepuk pundak Kim dan segera berlalu.


"Silahkan duduk Kim, lo mau minum apa?"


"Gak usah kak, gak perlu repot repot. Btw, ini baby boy?"


Kim memperhatikan bayi didalam gendongan Sasa yang tidak memakai anting. So, sudah pasti ini adalah bayi laki laki.


"Bayi yang tampan."


Sasa mengangguk,


"Namanya Rafael."


"Gue boleh gendong?"


"Tentu,"


Sasa menyerahkan Rafael kepada Kim, Dan Kim menggedongnya dengan hati hati.


Kim sungguh mengagumi bayi laki laki kecil yang sekarang berada dalam dekapannya.


Tanpa sadar, Kim tersenyum, membayangkan kehidupan seorang Ibu yang sebenarnya tidak mudah.


"Sepertinya lo udah pantas menjadi seorang Ibu deh?"


Perkataan Sasa membangunkan Kim dari lamunannya.


Kim meringis,


"Mana mungkin kak? Gue masih terlalu muda untuk mempunyai bayi sendiri."


"No no no, lo salah? Lo itu udah pantas banget jadi seorang Ibu, Lihat aja, Rafael juga merasa nyaman sama kamu."


Sebenarnya, perkataan Sasa ada benarnya, apa memang benar jika Kim sudah pantas menjadi seorang Ibu?


Dan jawabannya adalah, No, big no.


Karena, Kim akan menjadi seorang Ibu setelah Kim berhasil membuktikan ke Papi kalau Wanita dan Pria adalah sederajat di Abad ke dua puluh satu.


Tin tin tin..


Tiba tiba sebuah klakson mobil mengagetkan Kim dari khayalannya.


"Rafael sama mami dulu ya? Tante mau melihat hasil kerja teknisi Bang Jodi."


Kim mencium dahi Rafael dan segera menyerahkan Rafael kepada Sasa.


"Kak, gue mau keluar sebentar buat melihat mobil Tante Irena."


Sasa menerima Rafael,


"Ya udah, ayo kedepan bareng, gue juga mau ngelihat."


Kim mengangguk.


Begitu keluar dari rumah, lemparan kunci Bang Jodi melayang dan dengan refleks Kim menangkap kunci mobil dan berhasil mendarat tepat dengan sempurna di tangan Kim.


"Gila lo Bang, hampir kena muka gue. Kalau gue mati gimana coba? Abang mau tanggung jawab?"


Ucap Kim penuh emosi.


"Sorry sorry, Gue se-ng-aja."


Ucap Bang Jodi mengeja kata Sengaja dengan keras.


"Emang orang bisa mati hanya dengan lemparan kunci mobil? Dasar halu."


Kim merengut


"Tapi, mobilnya udah beres kan, Bang?"


"Sip, lo harus berterimakasih sama Dirno yang udah benerin mobil tante lo."


Mendengar ini, Kim segera menoleh ke arah Dirno.


"Thanks bli, tipsnya gue titipin ke Bang Jodi."


Dirno hanya tersenyum.


"Alah, sok sokan mau ngasih tips, inget hutang banyak, Kim."


Bang Jodi berkata dengan sarkastik.


"Ya ampun Bang, jangan buka aib gue dong? Malu ini gue, malu bang."


Kim menutupi wajahnya dengan dramatis.


"Sejak kapan lo punya malu? Setahu gue, urat malu lo itu udah putus."


"Enak aja, udah disambung lagi tahu. Udah ah, balik sono!! Mb. Citra ngajak olahraga."


Kim tertawa terbahak bahak dengan leluconnya sendiri.


"Siapa juga yang mau lama lama sama lo? GR. Yuk cabut Dir."


Bang Jodi dan Dirno pamit setelah mengantar mobil tante Irena.