Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 7 ..



Mengapa Tuhan harus menciptakan bongkah yang di sebut dengan perasaan itu ke dalam hati kami? Perasaan yang sering kali menjadi penghianat sejati dalam tubuh kami? Mengapa??


🔥🔥🔥


Misi Pertama Minum Minum.


Sesampainya di ruang VIP Survive, Nada segera memesan beberapa botol minuman dengan kadar alkohol randah berbagai merk.


Bukan tanpa alasan, Nada hanya tidak ingin membangunkan beruang yang tengah berhibernasi.


Dan Nada adalah tipe sahabat yang pengertian dan paling tahu dengan sifat teman temannya yang tidak terbiasa minum.


Kalo mereka sampai mabuk, bakal ribet urusannya dan bakal panjang ceritanya.


Mending menghindari masalah daripada menambah masalah baru, dan bisa di pastikan akan semakin memperburuk keadaan.


Yah, bagaimanapun Nada juga masih memikirkan dan peduli dengan kedua sahabat biadabnya.


Pelayan mulai membawa beberapa botol minuman berbagai merk, beberapa buah gelas dan meletakannya di atas meja.


"Udah Kim, minum sepuasnya. Dan lupain si brengsek Rick. Semoga pesawat yang di tumpangi Rick jatuh, dan meledak, terus dia mati deh."


Ucap Dewi dan mulai menuang minuman untuk dirinya sendiri.


"Hust, jangan ngomong kayak gitu ah. Jangan bicara sembarangan. Pamali. Bagaimanapun dia juga masih mantan terindah Kim."


Bukannya mematikan api, Nada justru semakin menambah kayu bakar dan hampir meledakan emosi Kim.


Melihat wajah merah padam Kim, membuat Nada dan Dewi semakin tertawa dan tidak berhenti mengolok olok Kim.


Sedangkan Kim sama sekali tidak berniat untuk menanggapi ocehan konyol kedua sahabat nakalnya.


Kim tetap sibuk bermain bersama khayalannya. Banyak yang harus Kim pikirkan sekarang. Berpikir tentang Rick, tentang orang yang paling di cintainya selama dua tahun, ternyata tega meninggalkannya hanya dengan sebuah alasan kekanak kanakan.


Gak bisa LDR ??


Apa itu? Itu bahkan bukan sesuatu yang bisa di jadikan alasan. Karena itu sama sekali tidak realistis, tidak masuk akal. Alasan konyol yang bahkan tidak akan membuat Kim percaya.


Dan itu benar benar bukan sifat Rick, karena Rick tidak mungkin bersikap seperti itu. Rick tidak mungkin memakai alesan tidak mutu kayak gitu hanya untuk putus.


Tentu, Kim jelas sangat mengetahui tentang sifat dan kepribadian Rick. Kim yakin, pasti ada alasan lain di balik ini, tapi apa?


Kim hanya tidak mengerti dengan sikap Rick saat ini. Sungguh ini jelas sangat berbeda dengan Rick yang biasanya. Entahlah, Kim mulai merasa lelah sekarang, bahkan sangat lelah.


Putus dengan ******** itu bukanlah akhir dari dunia, Kim bisa dengan mudah mendapatkan yang jauh lebih baik daripada ******** itu. Tapi mengapa, hanya Rick yang bisa menjungkirbalikan perasaan Kim?


Seseorang yang jauh dan tidak bisa untuk Kim capai dengan mudah?


Kenapa Tuhan harus menciptakan bongkah yang di sebut dengan perasaan ke dalam hati kami? Perasaan yang seringkali menjadi penghianat sejati dalam tubuh kami? Mengapa?


Lots of questions about what and why fills the mind. Membuat kepala Kim semakin merasa pusing dan Kim semakin tidak bisa untuk tetap berpikir jernih.


Mungkin, efek alkohol mulai menggerayangi tubuh dan akal sehat Kim.


Akibatnya, Kim mulai meracau tidak jelas. Meski baru beberapa gelas alkohol yang Kim minum, namun efek mabuknya sangat luar biasa.


Sungguh toleransi alkohol yang amat sangat buruk.


Dewi dan Nada hanya menggelengkan kepala dan merasa prihatin melihat keadaan Kim saat ini. Heartbreak is indeed very terrible. Mengerikan, bahkan sangat mengerikan.


Tidak heran, banyak kasus orang bunuh diri hanya karena alasan patah hati dan cukup ramai mengisi berita kriminal di beberapa stasiun televisi di Tanah Air.


"Gue kangen sama lo Rick, kangen lo yang dulu. Yang sayang sama gue, yang selalu ada buat gue, bukan Rick yang ninggalin gue gitu aja tanpa alasan. Lo tinggal ngomong kurangnya gue itu apa? Dan dimana?


Gue mungkin bisa merubah sifat dan sikap gue sedikit demi sedikit. Tapi soal perasaan, gue gak bakal bisa ngerubah perasaan gue gitu aja. Dan lo pikir gue mau kaya gini? Gak, ini bukan gue, tapi hati gue. Hati gue yang terus manggil nama lo dan butuh lo.


Lo emang berengsek Rick, lo itu ********. Lo ngajak putus gitu aja tanpa mikirin perasaan gue. Gue benci sama lo. I really hate you, really hate it."


"Rick, lo dimana? gue butuh lo sekarang, gue gak bisa jalanin semua ini kalo gak ada lo. Berat Rick. Gue gak bisa. Dan gue gak mampu."


Waktu terus berjalan, semakin lama racauan Kim semakin tidak beraturan dan tidak jelas.


Dewi dan Nada hanya bisa menghela nafas mendengarkan suara menyedihkan Kim.


Ternyata benar kata orang. Kalau suara hati orang yang tengah mabuk, delapan puluh persen mungkin adalah yang paling jujur dari dalam hati.


Nada melihat jam di pergelangan tangannya. Dan nenunjukan pukul tengah malam.


Tidak terasa, sudah cukup lama mereka disini. Mungkin mereka memang harus pulang sekarang. Lagipula, gak baik juga anak perawan masih keluyuran sampai tengah malam kayak gini. Kalau kata orang tua sih, pamali.


Kim telah kehilangan kesadaran dan tertidur nyenyak.


"Wi, pulang yuk? Udah tengah malam nih."


Nada menyenggol siku Dewi.


"Yuk ah, gue juga udah capek banget, liat Kim kayak gitu."


Jawab Dewi yang terus mengawasi Kim tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun.


"Terus Kim gimana?"


Dewi mengangkat bahu.


"Ya mana gue tau? Lo tanya noh sama rumput yang bergoyang."


"Bego lo Wi, ini Survive! Mana ada rumput disini."


Jawab Nada dengan kedunguan hakikinya yang masih on sampai sekarang.


"Ya, kali aja ada rumput sintetis."


Punya temen lola emang bikin emosi, Dewi mengumpat ratusan umpatan dalam hati. Meratapi kesialannya hari ini gara gara tips konyol Nada.


"Ya udah kita papah aja. Lo kanan gue kiri."


Ucap Dewi menawarkan solusi terbaik.


"Okey, gue setuju. Kuy kita angkat."


Dengan susah payah, akhirnya Kim bisa di masukan ke dalam mobil.


"Gila itu anak, badannya kecil tapi beratnya minta ampun. Kebanyakan makan riba kali ya?"


Rutuk Nada dengan ngos ngosan setelah berhasil menyeret Kim dari Survive menuju parkiran, dan melempar Kim ke dalam mobil.


"Hust, gak boleh berperasangka buruk sama temen sendiri. Kim itu berat bukan karena kebanyakan makan riba, Nad. Tapi karena kebanyakan dosa."


Ucap Dewi tidak mau kalah.


"Sama aja dodol."