Kimberly Florist

Kimberly Florist
SKS Chapter 4 ..



Karena melupakan sesuatu yang pernah singgah di hati kita, tidak semudah membalikan telapak tangan..


🔥🔥🔥


"Lupain? Lo gila? Ekspetasi itu gak pernah segampang teori Nad. Dan ngelupain orang yang pernah lo sayang itu gak segampang lo balikin telapak tangan. Ngomong sih gampang, tapi prakteknya yang susah."


Ucap Kim menolak tegas saran Nada yang di nilai tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.


"Ya, maksud gue bukan gitu. Calm dong. Lagian lo juga sih, jalin hubungan pake acara bawa perasaan segala, pas putus repot sendiri kan lo." Ucap nada asal asalan.


"Yang namanya orang pacaran dan hubungan normalnya pasti bakal bawa perasaan Nad, emang ada orang pacaran yang bawa selimut tetangga? Nggak kan Nad?"


Nada "...."


Kim "....."


Okey, up to you.


"Emang ada hubungan yang murni gak pake feel? Lo gak pernah pacaran sih Nad, jadi lo gak bakal ngerti. Gue saranin ya, sekali kali lo juga perlu belajar untuk jatuh cinta. Anggap aja sebagai bentuk magang dan kerja di lapangan." Jawab Dewi mengangkat tangan dan mengajak Kim untuk tos kembali seraya mentertawakan wajah emosi Nada.


"Sialan. Lo berdua pasti seneng kan? Ngaku gak lo??"


"Seneng apaan sih, Nad?? Ngaco lo. Kita sih kagak seneng, cuma bahagia aja."


Dewi tersenyum lebar dan merasa puas karena berhasil menaikan tekanan darah Nada.


"By the way, Kapan dia berangkat ke Selandia Baru?"


"Mana gue tau, emang gue emaknya."


Jawab Kim super jutek dengan ketebalan emosi yang telah berlapis lapis.


"Sans ngapa sih Kim? Ngegas mulu bawaannya. Slowdown, dear."


Ucap Nada mencairkan suasana.


"Eits, tapi, tunggu dulu. Lo tenang aja. Gak usah gundah gulana. Cowok itu banyak Kim. Mau model yang kayak gimana, tinggal milih aja. Lagipula, dengan wujud cantik dan otak jenius kayak lo, gue yakin seribu persen, lo bakalan cepet dapetin pengganti Rick. Percaya deh sama gue. Dan Gue jamin lo gak bakal kekurangan stok cowok. One falls and a thousand spring up. Alias mati satu tumbuh seribu."


Ucap Nada meyakinkan.


"One falls and a thousand spring up? Perasaan, cepet banget numbuh Nad? Masa, baru mati satu, langsung secepat itu numbuh seribu? Emang ngembang biakinnya dimana sih?? Gue penasaran banget, pingin tahu sumpah."


Tanya Dewi dengan intonasi dan ekspresi sepolos mungkin.


"Pingin gue tampol? Lo lama lama ngeselin juga ya. Lo di kasih makan apaan sih sama emak lo?? Kayaknya ngebesarin anak kayak lo itu gak ada untungnya sama sekali deh. Cuma bikin boros, ngabisin oksigen."


"Hih, atut."


Dewi berpura pura takut dan segera menyembunyikan wajahnya di balik bantal.


"Lo salah Nad, gue gak cuma bisa ngabisin oksigen, tapi gue juga bisa ngabisin harta orang tua. Eaaa."


"Gak penting. Dasar cewek gila. Ya udah, Next, masa lalu di lewatin aja. Semua juga tetap sama dan gak bakal ada yang berubah. Dan satu satunya hal yang bisa ngerubah adalah dengan melupakan semuanya."


Ucap nada mulai serius.


"Ya elah, gak perlu lo jabarin, semua orang juga udah hafal di luar kepala sama teori itu kali Nad."


Dewi menggelengkan kepala sebagai bentuk keprihatinan.


"Tapi, kalo di pikir lagi, kadang omongan lo itu cukup masuk akal juga sih, Nad. Masih bisa di cerna lah. Gue sempat mikir kalo lo itu lebih cocok jadi Motivator deh daripada Manajemen Bisnis. Lo lebih pantes buat jadi penyemangat dan ngasih motivasi buat orang orang yang mulai depresi dengan hidup mereka. Contohnya kayak gue ini."


"Emang lo ngerasa depresi, Kim?"


Dewi memandang Kim tanpa berkedip.


"Menurut lo?"


"Kim, Kim. Dewi mana bisa mikir. Percuma lo nyuruh dia buat mikir, otak Dewi ketinggal di sekolah waktu acara Wisuda."


Nada tertawa lebar, merasa menang kali ini. Dengan poin, satu sama.


Dewi hanya mengerucutkan bibir dan berlagak marah.


"Kalo gue jadi motivator, terus siapa yang bakal ngambil alih Perusahaan bokap gue?"


Nada mengangkat sebelah alisnya.


"Setau kita, lo kan masih punya adek?"


Ucap Dewi dan Kim bersamaan.


Nada menunjukan ke empat jarinya.


"Seriously? Empat tahun? Waow."


Kim dan Dewi tersenyum canggung.


"Maap maap. Maap ya Nad. Gue khilaf."


Ucap dewi dengan tanda peace.


"Back to theme. Sebenernya, melupakan mantan itu gampang gampang susah sih, Kim. Apa lagi, tahu sendiri lah cowok limited edision kayak Rick itu mungkin hanya tersisa beberapa spesies di sekitar kita. Jadi sudah jelas, sangat susah untuk di hapus dari ingatan."


Nada mulai menganalisa situasi.


"Gaya lo, Nad, kayak pernah punya mantan pacar aja."


Dewi tersenyum seraya menjulurkan lidah.


"Diem lo. Resek."


Nada juga membalas menjulurkan lidah pula.


"Ucapan gue bener kan, Kim?"


"Em,"


Kim memutar bola matanya. Dan mengangguk.


"Menurut gue sih, lo bener. Emang susah. Susah banget malah, apa lagi kalo perasaan gue masih pake mode on."


"Nah itu tu, makanya lo harus bersyukur punya temen kayak gue. Anak Manajemen Bisnis."


Ucap Nada membanggakan dirinya sendiri.


"Apa hubungan move on sama Manajemen Bisnis, Markonah??"


Tanya Kim dan Dewi bersamaan.


"Nah, ini nih yang kagak gue suka dari sifat loading lama yang lo berdua tanam dalam otak lo selama bertahun tahun hingga berkembang biak."


Kim "....?"


Dewi ".....??"


Nada berdehem.


"Lo pada gak pake otak sih, Gitu aja masih nanya. Percuma kalian sekolah mahal mahal, kalo ujung ujungnya masih bego aja. Gini ya, dalam Manajemen Bisnis itu ada istilah yang disebut dengan Perencana, Pengelola, Pelaksana dan Pemasaran."


Nada menjelaskan dengan mode sok pinter.


"Terus, terus."


Dewi mulai tertarik.


"Move on juga sama. Perlu Perencanaan. Usaha tetep jalan dong. Tapi kalau rencananya udah mateng, eksekusinya juga bakal maksimal."


"Sebenernya Nada gak seratus persen salah kok Kim, Nada ada benernya juga. Gimanapun, lo juga butuh rencana buat kedepannya. Sukses atau enggaknya tergantung kemampuan lo."


Dewi menambahkan.


Kim diam dan berpikir.


"Udah, kalo lo masih bingung, lo percaya aja sama kita. Kita akan usahain biar semua lancar, aman dan terkendali."


Ucap nada semakin meyakinkan.


"Gue bukannya gak percaya sama lo berdua. Tapi, jujur aja, gue gak percaya sama hati gue sendiri."


Kim berkata dengan suara yang terdengar lesu.


"Udahlah, lo percaya aja sama Nada. Gue berani jamin, kalo Nada itu ahlinya di bidang ini."


Dewi ikut ikutan membujuk Kim.


"Tapi, sakitnya itu di sini, Nad."


Ucap Kim seraya memegang dadanya dengan ekspresi kesakitan.


"Sakit tapi gak berdarah."