
Terkadang apa yang tidak seharusnya lo tahu adalah yang terbaik buat lo..
🔥🔥🔥
"Hallo, Sam lagi mandi, nanti gue bilang sama Sam buat manggil lo lagi. Okey?"
Kim akan menutup panggilan, hingga suara seorang wanita terdengar.
"Ini siapa ya? Kok bisa ada suara cewek dari ponselnya Sam?"
"Gue gak penting, gue cuma orang asing yang nyasar ke apartemen Sam."
"Kok bisa sih?"
"Bisa dong, dan kebetulan lo manggil tepat saat Sam lagi di kamar mandi. So, gue terpaksa ngangkat panggilan lo."
Kim mencoba menjelaskan dengan ramah.
"Oh gitu? lo pacarnya Sam?"
"Sebenarnya gue,.."
Kim berpikir sebentar, sebenarnya Kim bingung harus menjawab apa.
"Hallo? Lo masih disitu kan?"
"Iya, iya, gue masih bisa mendengar suara lo kok. Em, Bisa dibilang kalo gue ini adiknya?"
"Maaf aja ya? Setahu gue Sam itu gak punya adik."
"Oh ya? Kok lo bisa tahu kalo Sam gak punya adik? Sebenarnya lo itu siapa? Terus ada kepentingan apa? Nanti gue sampaikan ke Sam kalau orangnya udah keluar dari kamar mandi. Gimana?"
"Kalian berdua habis ngapain sih? Soalnya setahu gue, Sam itu gak pernah ngajak orang lain ke apartemennya?"
'Mampus gue.' Kim menepuk jidatnya sendiri. Meringis karena kebodohan lidahnya membuat semuanya menjadi cukup rumit. Dan akan sangat buruk, jika wanita di ujung sana adalah tunangan Sam.
'Bodo ah. Kagak mikir gue.'
"Kita gak ngapa ngpain kok? Seriusan? Tunggu tunggu, kok lo tahu banyak tentang Sam sih? Jangan jangan,..."
"Jangan jangan apa? Kalo ngomong jangan setengah setengah dong?"
"Lo tunangannya Sam?"
"No, tebakan lo salah, lo sendiri siapa? Maksud gue nama lo siapa?"
Mendengar ini, Kim menjadi sangat lega. Seperti beban berat telah terangkat dari pundaknya.
"Syukur deh, kalo lo itu bukan tunangannya. Karena seriusan gue gak melakukan apapun dengan Sam dan kita juga gak ada hubungan apa apa."
"Gue gak percaya!! Titik. Jadi nama lo siapa?"
"Gue,"
Kim ragu sejenak
"Gue Kim, Kimberly."
"Nama panjang?"
"Kimberly Florist."
"Oh, Kimberly Florist? Kalau begitu, salam kenal ya? Gue Samantha, kakaknya Sam."
'Apaaaa??
Kakaknya Sam?'
Kim mengerang dalam hati, pantas saja jika wanita ini tahu banyak tentang Sam, ternyata dia sebenarnya adalah kakak perempuan yang pernah Sam ceritakan.
Tapi masih mending jika wanita ini adalah kakak Sam, daripada tunangan Sam?
"Udah, santai aja, gak usah gugup. Kalau kalian memang ada hubungan spesial juga bukan masalah. Jujur, gue malah senang kalau Sam akhirnya mempunyai pacar. Gue sebenarnya takut kalau Sam itu Gay."
Kim dapat mendengar suara tawa dari ujung panggilan.
Waow, Kakaknya Sam jadi curhat kan. Tega dia, ngatain adiknya sendiri pecinta sesama jenis.
"Aduh, gue jadi gak enak ini, kita seriusan gak ada hubungan apapun. Dan lo tenang aja, Sam itu masih tertarik sama lawan jenis kok, dan Sam juga sangat normal."
Samantha tertawa geli dari ujung panggilan.
'Ups, gue salah ngomong lagi, ini lidah memang gak bisa diajak kompromi.'
Kim mengumpat dalam hati.
"Udah, have fun aja. Gue cuma mau minta tolong bilang sama Sam untuk nyusul Mama sama Papa di tempat gue. Itu aja, Thanks, semoga kita bisa bertemu secara langsung ya? Ya udah, gue gak mau jadi obat nyamuk, so gue tutup. Bye"
Tut.. tut.. tut..
Samantha memutuskan panggilan.
Kim menghembuskan nafas penuh kelegaan.
Sam telah menganggap Kim seperti adiknya sendiri, dan bagaimanapun Sam adalah anak terakhir, jadi wajar saja kalau Sam sangat menyayangi Kim dan memperlakukan Kim dengan sangat baik.
Tapi apakah Sam juga berpikiran seperti itu? Entahlah, Kim juga tidak tahu.
Sam sebenarnya seumuran dengan Ken, yaitu satu tahun lebih tua daripada Kim.
Sedangkan Rick dua tahun lebih tua dari Kim.
'Astaga, kenapa harus ada nama Rick lagi yang muncul?'
Kim memijat ruang diantara alisnya,
Kim menyandarkan tubuhkan di sofa dan memejamkan mata sebentar, tidak tidur. Kim hanya perlu waktu untuk menenangkan hatinya.
"Kim, lo baik baik aja kan?"
➡ Visual Sam ⬅
Kim menelan ludah, merasa jika saat ini Sam terlihat berkali kali lebih tampan dari biasanya.
Sam duduk di sebelah Kim.
Kim sontak menyandarkan kepalanya pada bahu Sam. Dan Sam pun melingkarkan lengannya di pundak Kim, serta memainkan ujung rambut Kim dengan jari jemarinya.
Untuk sepersekian detik Kim memandang Sam,
"Kayaknya gue gak cocok ngambil manajemen deh."
"Why?"
"Gue lebih cocok jadi model kayaknya."
Kim tertawa lebar.
"Idih, kalo lo mau, lo bisa kok jadi model di hati gue."
Ucap Sam menggoda.
"Cie.. cie.."
Sam mencubit dagu Kim.
"Itu sih maunya lo."
Sam terkekeh,
"Emang. Tapi, kalau gue boleh jujur, gue gak pernah sedeket ini sama cewek, sekalipun itu kakak perempuan gue sendiri."
Kim menoleh dan memandang mata Sam, namun Kim tidak menemukan jejak kebohongan sama sekali.
"Jadi gue yang pertama buat lo?"
Sam mengangguk.
"Iya, dan akan selalu seperti itu."
"Lo sekarang mau alih profesi dari pembisnis menjadi tukang gombal?"
Sam tersenyum,
"Bisnis tetap pekerjaan utama, kalau tukang gombal itu sekedar sampingan."
"Idih, dasar tukang gombal."
"Biarin, gombalnya kan sama kamu doang."
"Tuhkan, mulai lagi. Oia, gue hampir lupa, tadi Samantha telepon pas lo lagi mandi, jadi terpaksa gue angkat panggilannya."
"Dia ngomong apa?"
"Nyuruh lo buat nyusul Mama sama Papa ditempat dia."
"Terus?"
"Udah, itu aja."
"Yakin gak ngomongin yang lain?"
Sam dapat menebak jika Samantha pasti curhat colongan kepada Kim.
"Ih, kok tau sih? Lo cenayang ya?"
"Bukan, gue penyaayang."
"Kak Sam,"
Kim mencubit paha Sam.
"Aw, sakit tau."
Sam menggosok paha yang terkena cubitan manja Kim.
"Abisnya lo godain gue terus."
"Lo aja yang baperan. Kim gue mau bobo dong?"
"Ya udah, tinggal tidur aja, apa susahnya sih?"
"Maunya disini."
Sam menunjuk paha Kim.
Kim melebarkan mata sedikit terkejut, Namun beberapa saat kemudian ekspresi Kim kembali seperti semula.
"Ya udah, siniin kepalanya."
Sam membaringkan tubuhnya di sofa dengan kepala yang berada pada paha Kim.
Dan Kim mengelus ujung kepala Sam dengan lembut.
"Sejujurnya cowok itu selalu misterius, gue sama sekali gak tau apa yang ada di dalam pikiran mereka. Gue gak bisa menebak meskipun hanya sekedar ingin tahu tentang apa yang mereka pikirkan. Lo, Ken, Rick, bahkan papi gue sekalipun. Semua selalu tidak menunjukan apapun untuk di ketahui."
"Lo gak harus tahu, Kim. Terkadang apa yang gak seharusnya lo tahu, mungkin itu adalah yang terbaik buat lo."
Langit mulai menunjukan warna gelapnya, Pakaian kim sudah di antarkan,
Dan Sam juga mengantar Kim pulang.
Sepanjang perjalanan hanya diisi dengan kesunyian, baik Kim ataupun Sam masing masing bermain dengan pikirannya sendiri.