
Srraakkk!
Agg tersungkur jatuh. Ini sudah kesekian kalinya, tapi dia selalu bangkit lagi. Jian dan Jilly tidak pernah memberikan kesempatan untuknya menyerang, tapi Agg selalu bangkit lagi berapa kali pun terjatuh.
Agg tidak memiliki tongkat sihir. Dia adalah murid pertama Akademi Hudie yang menggunakan pedang sebagai senjata. Jian sempat terkesiap kagum saat Agg mengeluarkan pedangnya. Pedang itu indah dengan warna keemasan yang memukau. ada asap keemasan yang keluar setiap Agg menebaskan pedangnya ke udara.
Kerja sama kelompok 4, Fu akan melindungi Jian dan Jez jika keduanya terdesak. Jez dan Jian akan bergantian menyerang sehingga tidak memberi celah untuk Agg menyerang balik.
Strategi itu berhasil sejauh ini. Tapi Agg tidak pernah menyerah meski tubuhnya selalu terbanting ke belakang. Peraturannya adalah, pertarungan belum berakhir jika lawan masih memilih untuk berdiri meski sudah berkali-kali terjatuh.
Agg tersenyum tipis, "Ini bukan lagi main-main, Kawan!" dia menancapkan pedangnya di lantai panggung, getarannya terasa hingga tanah yang dipijak. Jian kehilangan keseimbangan, Fu membantunya tetap berdiri tegak.
Jian merasakannya. Kekuatan yang dimiliki Agg lebih besar dari yang dia pikirkan. Selama ini mereka hanya menyerang magis dasarnya saja. Karena itulah Agg selalu bangkit kembali meski dirinya terbanting ke sana kemari. Dia baru saja mengeluarkan separuh kemampuannya. Jian berpikir kalau Agg pasti lebih hebat dari pada lawan Kartu Emas Rui.
Jian memegang Jilly erat-erat, dia berlari menyerang ke depan, Agg tidak mencabut pedangnya kembali. Melainkan mengangkat tangannya ke atas, "Maaf, Jian. Aku tidak bermaksud ingin mempersulit dirimu. Hanya saja, kamu lebih tangguh dari yang kukira. Terimalah kehormatan bertarung denganku!" Agg tersenyum.
Seekor macan tutul berlari dari hutan belantara di belakang akademi. Jian berseru tertahan. "Apa itu!?"
"Agg sudah mengeluarkan binatang magisnya!" Murid kelas atas tiga lainnya berseru-seru.
"Tampaknya akan lebih seru dari yang kita bayangkan!"
Jian merekatkan giginya, "Jika tidak di sini, aku mungkin saja akan menghadapi hewan-hewan seperti ini di tengah hutan nanti."gumamnya pelan.
"Fu, Jez, lakukan strategi yang sama. Tapi kali ini, kalian harus mengeluarkan kekuatan sihir yang lebih besar dari sebelumnya." Jian memberi instruksi pada dua rekannya.
Fu dan Jez mengangguk mantap.
Kali ini, mereka yang tidak memiliki kesempatan menyerang. Fu selalu kehilangan tamengnya, membuatnya berulang kali. Jez nyaris kehilangan tenaganya karena tak berhenti menyerang.
"Jian, aku sudah tidak mampu lagi." Fu berseru pelan, gerakan tamengnya lebih lambat dan tidak sekokoh sebelumnya.
"Bertahan sebentar lagi, Teman-teman. Itu hanya binatang magis dan tuannya saja." Jian juga tidak menghentikan serangannya.
"Hei, apa kamu ingat apa yang Neo lakukan pada Flo dan tongkatnya?" Jez berseru pelan.
"Benar, Jian. Kita bisa menyerang konsentrasi Agg untuk melemahkan hewan magisnya!" sahut Fu.
"Tapi hewan magis tidak dikendalikan tuannya, dia bisa bergerak sendiri!"
"Kita boleh melakukan apapun untuk menang, kan?" Fu bertanya. Jian mengangguk cepat
"Maka kita hancurkan saja hewan magis itu! Aku tahu kelemahan Agg ada pada dirinya sendiri." sambung Fu.
"Kalau begitu, lakukan saja, Fu. Kamu yang tahu caranya!" Jian berseru, dia juga tidak mampu mengeluarkan tenaga lagi.
Dia mengerti maksud Fu. Sebenarnya Agg tidak memiliki kekuatan magis khusus. Dia kuat karena mengendalikan pedang hebat dan memiliki hewan magis. Tanpa keduanya, Agg sama seperti penyihir kelas satu. Satu-satunya keterampilan Agg selain kebal terhadap pukulan adalah bisa mengendalikan lebih dari satu benda; tubuhnya, kartu identitas penyihir, dan pedang sihirnya.
Buk!
Cakar macam sudah melukai lengan Jian. Fu dan Jez menatapnya terkejut.
"Jian, kamu baik-baik saja?" macan tutul itu tiba-tiba menghilang, Agg segera menghampiri Jian dan membantunya berdiri.
"Jangan hiraukan aku, Agg. Pertarungan belum berakhir." Jian menepisnya.
"Kamu sudah terluka! Ujian ini tidak penting. Kamu harus mengobatinya dan beristirahat. Aku mengalah di pertarungan ini untukmu."
Agg tersungkur jatuh dengan mulut yang mengeluarkan darah. Neo menarik Jian menjauhi Agg. Tendangan di perut itu, Neo yang melakukannya. Dia tidak bisa menahannya lagi. Dia tidak ingin teman-temannya terlibat dengan orang Kota Pubu. Termasuk Agg.
...----------------...
Setelah kejadian itu, Jian dan Rui mengurung Neo di dalam kamar asrama mereka. Karena Neo, Agg jadi terluka parah.
Neo berpikir kalau Agg sengaja mencari kesempatan untuk melukai Jian. Tapi Jian hanya menganggap bahwa luka cakar itu tidak sengaja didapatnya. Toh, saat pertarungan itu, dia sendiri yang berencana memutus konsentrasi Agg dengan hewan magisnya, wajar jika macan itu melakukan sesuatu diluar kendali tuannya.
"Lihatlah dirimu, Neo. Jangan berpikir kamu sudah paling hebat hingga melukai seseorang begitu mudah. Itu pertarunganku, kamu orang luar tidak seharusnya ikut campur. Gara-gara kamu Agg jadi terluka. Gara-gara kamu juga ujian bulananku tidak lulus. Kamu puas karena kamu jadi murid tunggal terpilih Master Hudie? Kupikir kamu tidak akan menyukainya. Tak kusangka kamu bahkan menjadi murid tunggalnya." Jian protes dengan tindakan Neo saat di pertarungan tadi siang.
"Hei. Kamu dulu pendiam, kenapa kamu banyak bicara untuknya? Dia hanya Penyihir Kartu Emas saja. Dia juga melukaimu, aku tidak bisa diam saja membiarkanmu terluka. Penyihir itu pasti punya maksud lain," Neo membantah protesan Jian, mengatakan kalau itu tidak masuk akal.
"Dia tidak seperti itu, Neo. Kamu punya alasan apa hingga mencurigainya seperti itu?" sanggah Jian.
Neo mengerutkan dahi, "Aku hanya melakukan apa yang kamu lakukan saja."
"Hah?"
"Bukannya kamu tidak suka dengan Kota Pubu, ya? Kamu menuduh Ratu Hudie memiliki maksud lain dengan mengirim kita melakukan perjalanan itu. Jika ratunya saja tidak kamu percayai, itu artinya kamu lebih tidak memercayai rakyatnya. Termasuk Agg," jelas Neo.
Rui menatap keduanya dengan bingung, "Hei, kenapa kalian selalu bertengkar setiap kali bertemu? Kita harus saling memercayai, Jian, Neo. Kita sudah menyelesaikan Ujian Bulanan. Dua hari lagi kita akan melakukan perjalanan itu. Kenapa kalian malah sibuk bertengkar daripada menyiapkan bekal untuk perjalanan?"
"Diam, Rui!" keduanya justru berseru marah bersamaan. Membuat Rui langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kamu tidak perlu cerewet, aku hanya ingin membantunya menjadi anak bodoh saja." Neo memandang jijik ke arah Jian, "Orang pintar tidak dibutuhkan di sini. Buktinya, hanya orang bodoh sepertiku yang mampu memahaminya secara rasional. Bukan menjadikannya tidak masuk akal."
"Kamu pikir cara berpikirmu masuk akal?! Dengarkan aku, Rui. Apakah bagimu juga masuk akal jika menuruti perkataan seorang penyihir yang menyuruh anak kelas dua SMA melakukan perjalanan mematikan itu? Lebih baik kita mencari cara sendiri!" Jian membantah lagi.
Neo menepuk dahi, "Kamu benar-benar sudah lebih bodoh dariku, Jian. Kita bukan anak SMA lagi. Kita murid Kartu Putih Akademi Hudie dengan kemampuan standar. Kenapa kamu begitu keras kepala? Bukankah kita sudah menyepakatinya? Kenapa kita harus bertengkar lagi?" Neo menatapnya tidak percaya.
"Karena kamu melukai Agg!"
Neo memutar bola mata kesal, "Anak ini!" dia mengembuskan napas kasar, menatap Rui yang sudah menjadi harapan terakhirnya, "Rui, dua hari lagi, apa kamu akan ikut denganku menuju Hutan Roh Penasaran demi mencari Jam Pasir Ajaib agar kita bisa pulang? Atau mengikuti saran Jian untuk pergi sendiri mencari jalan keluar?"
"Eh?" Rui menatap Jian yang sudah membuang mukanya. "Jian, menurutku, Neo benar. Kita berada di sini saja sudah tidak masuk akal. Begitu masuk akademi dan mulai belajar sihir, ini sudah lebih tidak masuk akal lagi. Bagaimana kita akan berpikir rasional jika sudah seperti ini jalannya? Mari kita menelusuri petunjuk yang sudah diberikan saja. Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa, ini akan berbeda jika kita tidak memiliki kemampuan sihir apapun. Kamu lihat, kan? Neo sekarang bukan lagi murid menyebalkan yang duduk di meja belakang lagi. Dengan adanya Neo di samping kita, aku percaya kita akan segera pulang."
Jian menatap Rui intens, "Benar, Rui. Kita punya Jilly, Riu, dan Pru. Mari kita berusaha saja."
"Kenapa kamu tiba-tiba bisa memahaminya dengan mudah?" Neo menatap tidak mengerti.
"Penjelasan orang bodoh selalu berbelit-belit, aku tidak tahu apa ada orang lain yang bisa memahami penjelasanmu selain Rui." Jian mengibaskan tangan ke arah Neo, menyuruhnya pergi.
"Jadi, kamu sudah memutuskannya, Jian?" Rui bertanya memastikan saat Neo sudah pergi dari kamar mereka.
"Aku menolaknya karena takut terjadi sesuatu pada kita di luar sana, Rui. Itu hanya berisi hutan belantara, dan kita bertiga seperti gelandangan di sana. Bukankah lebih baik mencari cara lain, dan tetap tinggal di akademi sebagai tempat pulang saat kita tidak menemukan apapun?"
Rui memeluk Jian, "Akhirnya aku memahami kekhawatiranmu, tapi tenang saja, berjanjilah pada diri sendiri bahwa kita akan selamat hingga akhir."
Jian mengangguk, "Bukannya aku memercayai Neo, aku hanya ingin memercayaimu karena kamu sahabatku."
"Kamu tahu, Jian. Sebenarnya, tadi aku juga tidak memahami maksudmu menolak dengan keras petunjuk yang sudah diberikan Ratu Hudie. Aku ragu ada orang lain yang akan mengerti kalimatmu yang berbelit-belit. Perdebatan kalian tadi seperti menonton Drama Korea tanpa teks terjemahan. Tidak mengerti."
Jian terdiam lama. "Benarkah?"
Tampaknya, Jian dan Neo tidak akan pernah menujukkan sisi pertemanan mereka. Hingga saat ini, meski Jian sudah menyepakatinya lagi, mereka tetap berdebat di beberapa pertemuan.