Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Kunci Teka-teki



Kami terdiam membeku melihat titik merah itu. Bukan kolam panjang apalagi binatang-binatang buas, melainkan sebuah pintu besar yang menutupi seluruh lorong labirin. Kami tidak bisa melewati jalur kami, kecuali kami bisa membuka pintu es raksasa ini.


"Kita harus bagaimana?" Rui bertanya putus asa.


"Kuncinya aneh, Kawan. Ini bukan kunci yang seharusnya ada di dunia sihir seperti ini." Neo kembali setelah memeriksa di sekitar pintu.


"Itu kunci apa?" tanyaku.


"Semacam password."


"Password? Siapa di sini yang menggunakan password untuk mengunci pintu? Kuno sekali," Rui berdecak kesal.


"Kamu bilang kuno? Pintu rumahmu bahkan belum tentu sudah secanggih ini," Neo terkekeh geli.


"Coba aku yang lihat." Aku maju ke depan, melihat bagaimana rupa pintu yabg dikunci dengan password itu.


Tapi Neo benar, ini bukan password yang biasa kita temui sebelum membuka kotak brankas atau membuka ponsel.


Ini lebih mirip teka-teki. Di mana kami harus menjawab tiga pertanyaan sebelum membukanya.


"Bagaimana kalau Neo saja yang buka?" aku memiliki ide.


Neo melotot tak terima, "Aku bahkan tidak mengerti apa yang pintu itu bicarakan, Jian. Bagaimana aku akan membuka pintunya?"


"Kamu memang tidak akan mengerti, bukan karena tidak memahaminya, tapi karena pintu ini memang tidak berbicara, Neo. Seseorang yang menciptakannya mungkin ingin menguji seberapa tulus hati kita. Hingga memberikan pertanyaan semacam itu pada kita. Sementara urusan tulus dan setia, aku tahu kamu orang yang tepat," aku nyengir lebar, mendorong bahu Neo hingga menempel ke pintu es itu.


Neo bersungut-sungut, "Bahkan sebagian besar pertengkaran terjadi karena aku. Bagaimana aku bisa menjadi orang paling tulus di sini?"


"Kamu memang orang yang paling tulus, Neo. Bagaimanapun, kamu rela terjun ke Kota Pubu demi menyelamatkan kami, kan?" Rui membelaku, dia tersenyum kecil.


Neo mengembuskan napas kesal, memintaku memegangkan tongkat sihirnya sebentar. Dia berdiri di depan pintu dengan tiga pertanyaan teka-teki itu. Dia meregangkan otot-ototnya, kemudian meluruskan tangannya ke atas, lalu mengembuskan napas lagi, seperti sedang melakukan pemanasan olahraga.


"Kamu ini sedang apa?" Aku menimpuk kepalanya dengan tongkat sihirnya sendiri.


"Sabar, Jian. Jangan mengganggu konsentrasiku," Neo berseru jengkel.


Tangannya bergerak menyentuh tombol nomor satu. Pertanyaan pertama sudah muncul.


"Jika salah satu temanmu keracunan, dan temanmu yang lain adalah penawarnya, kamu akan membiarkan temanmu yang keracunan mati, atau temanmu yang menjadi penawarnya mati?"


Aku dan Rui saling menatap, Neo terlihat terdiam di depan pintu itu, dia belum memberikan jawaban apa yang dia pilih.


Tak lama, dia membalikkan tubuhnya, "Aku takut jawabanku tak cukup tulus untuk menjawab pertanyaan yang satu ini. Kau saja," Neo menarik Rui ke depan.


Rui langsung menarik lenganku, "Kamu saja, Jian."


"Hei, ini namanya sama saja dengan melemparkan teman sendiri ke lubang buaya," aku bersungut-sungut kesal.


"Seperti yang akan kalian lakukan padaku saat peta itu jatuh, kan?" Neo menceletuk, aku langsung menyuruhnya diam dan tak perlu membahas hal itu lagi.


"Kamu saja yang jawab, Jian," Rui kembali mendesakku untuk menjawab pertanyaan aneh itu.


Lagipula, aku mana mungkin memilih salah satu antara Rui dan Neo? Keduanya penting bagiku. Pertanyaan macam ini, bukan pertanyaan yang pantas diajukan untuk sekadar membuka pintu.


Aku mulai menulis di atas papan bercahaya itu, "Aku memilih mengorbankan diriku sendiri untuk menyelamatkan keduanya."


Itu yang kutulis di sana. Rui dan Neo dibuat terkejut dengan jawaban yang kuberikan.


Aku terkekeh, "Itu hanya pertanyaan, Teman-teman. Tidak perlu dipikirkan lebih jauh."


Tiba-tiba papan bercahaya di pintu itu menghilangkan jawabanku dan menunjukkan layar berwarna merah.


"Tidak lulus tes ketulusan."


Sialan.


Aku merutuk dalam hati, bagaimana mungkin jawaban yang begitu sempurna tidak dianggap begitu tulus?


Melihat layar berwarna merah, Neo langsung tertawa, "Itu artinya kamu berbohong, Jian. Lagipula, siapa yang rela mengorbankan nyawanya demi nyawa orang lain? Aku lebih memilih jujur dan mengorbankan nyawa salah satu dari kalian untuk menyelamatkan salah satu dari kalian juga."


"Kamu terlalu jujur, Neo." Rui maju lagi, mencoba menjawab pertanyaan yang saat kujawab katanya kurang tulus itu.


"Aku akan mengorbankan Neo untuk menyelamatkan Jian."


Neo melotot tidak terima, "Hei, Rui. Meski aku kurang menyukaimu, kamu juga tidak boleh membenciku sampai segitunya! Bagaimana kalau ternyata jawabanmu ini kelewat tulus sampai-sampai kita tak perlu menjawab pertanyaan lain?" serunya protes.


"Maka itu termasuk kabar baik," Rui menjawab tak peduli. Membuat Neo hampir kehilangan kesabaran dibuatnya.


Aku tertawa renyah, "Lihat, Neo. Ini giliranmu menjawabnya, jawaban Rui tetap saja dianggap tidak tulus," ucapku lagi, dia harus tahu kalau layarnya berubah menjadi merah lagi bahkan setelah Rui mengeluarkan jawaban paling jujur yang dia punya.


"Mungkinkah mesinnya rusak?" Neo maju ke depan lagi. Dia dengan wajah sombongnya itu mulai mengutak-atik layar persegi yang terpampang di pojok pintu.


"Mungkin saja dia rusak, Jian. Katanya sudah ribuan tahun pusaka itu tersegel di dalam kotak. Ratusan orang yang mencoba mencari kuncinya pun tidak ada yang berhasil sebelum mencapai labirin ini. Bukankah kita yang pertama setelah ribuan tahun?"


Aku dan Rui saling tatap. Neo mungkin saja benar. Kami adalah yang pertama setelah ribuan tahun, jadi bagaimana mungkin kami dianggap tidak tulus meski sudah bertahan hingga memasuki labirin ini?


"Karena kita yang pertama, seharusnya kita sudah cukup tulus, kan? Kita bahkan sudah melewati banyak titik merah di dalam labirin ini. Tidak mungkin gagal hanya karena tidak bisa menjawab satu pertanyaan, kan?" Neo masih mengutak-atik layar itu.


"Kamu coba saja dulu, Neo. Satu orang belum mencobanya, maka tidak bisa mengklaim apapun karena belum melihat hasil terakhirnya," Rui memberi saran, dia gemas karena Neo hanya pandai berbicara tapi tak mau berbuat apa-apa.


"Baiklah, baiklah. Akan kucoba."


"Ehm!" Neo berdeham, lalu mendekatkan jarinya di layar itu.


Aku dan Rui mulai mengintip, tapi dia menutupi seluruh layar dengan tubuhnya, membuat kami tidak bisa melihatnya.


"Kamu pelit sekali, Neo," aku menatapnya malas.


"Bukan pelit, Jian. Ini namanya waspada. Siapapun tidak ingin menunjukkan password kartu debitnya pada orang lain, kan?" Neo tetap menutupi jawabannya dari kami.


Tapi itu bukan password kartu debit, dan bukan password lain yag milik pribadi.


"Wow!" Neo berseru kaget, layar berubah menjadi hijau setelah Neo menuliskan jawabannya.


Aku dan Rui saling tatap, sebenarnya setulus apa pemuda petakilan ini?


"Kalau begitu, lanjutkan saja, Neo. Jawab dua pertanyaan berikutnya!" Rui sampai melompat bersemangat.


Aku justru penasaran setengah mati, jawaban apa yang membuat layar ini berkedip hijau?


Pertanyaan berikutnya muncul.


"Jika hanya ada dua orang yang boleh memasuki portal, maukah kamu mengalah dan tetap tinggal demi teman-temanmu?"


"Wow. Yang satu ini tidak lebih ekstrim dari yang sebelumnya," Neo menutupo layar itu lagi.


Beberapa detik berlalu, layar kembali menjadi hijau. Neo tersenyum lebar, memasang wajah sombongnya, "Aku memang sangat tulus kepala siapapun."


"Apakah kamu memilih tinggal, Neo?" aku bertanya padanya.


"Itu rahasia," Neo menggeleng tegas.


"Jika kamu tidak memilih tinggal, tidak ada jawaban lain yang menunjukkan ketulusan, Neo," Rui menyanggah, dia menatap Neo dengan malas.


"Lupakan saja. Kita lanjutkan." Neo menekan tombol lagi. Pertanyaan yang terakhir sudah keluar.


"Salah satu temanmu berkhianat, dan berencana untuk memasuki portal sendirian. Kalian saling menyerang, bahkan pengkhianat itu berencana membunuhmu. Apakah kamu akan menyerang dan membunuhnya juga?"


Neo terdiam, lalu berbalik menatap kami. Tatapannya serius dan tidak ada guratan canda di matanya.


"Jian, Rui. Apakah salah satu dari kalian ada yang pernah berpikir seperti itu?" dia bertanya dengan wajah menunduk.


Aku dan Rui refleks menggeleng kuat, tidak mungkin kami seperti itu. Kami akan melakukan apapun bersama-sama bagaimana pun situasinya.


"Aku, sangat benci ketika seseorang mengkhianatiku." Neo menunduk, dia belum menuliskan jawabannya di layar itu, "Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi dalam kehidupanku yang sekarang, Jian, Rui." Neo mendongak menatap kami.


Aku tidak tahu apa yang dia bicarakan, dan kenapa mendadak jadi sok serius begini?


"Baiklah, jika kalian tidak pernah berpikir untuk mengkhianatiku. Kalian tentu tahu sudah berapa banyak yang aku lakukan untuk menolong kalian. Aku akan benci sekali jika kalian sampai mengkhianatiku." Neo membuang muka, tubuhnya kembali menutupi layar, dan menuliskan jawabannya.


"Kecuali urusan percintaan, kami memang tidak mudah berkhianat," aku menceletuk asal.


Rui refleks melotot ke arahku, "Kamu bilang apa, Jian?"


"Aku bilang, kecuali urusan percintaan, kami memang tidak mudah berkhianat. Benar, kan?" aku mengulangi ucapanku.


Rui menggeleng, "Aku tidak memintamu mengulanginya, tapi menanyakan tentang apa maksudnya?"


"Maksudnya adalah, aku suka sekali mengkhianati pasanganku. Setiap berganti komik, pasanganku juga ikut ganti." Aku mengangkat bahu tak peduli.


Rui menimpuk kepalaku, "Dasar bodoh!"


Lihat! Jawaban terakhir juga benar!


Aku dan Rui memasang wajah kosong, Neo hebat sekali. Dia terbukti adalah orang yang paling tulus di antara kami.


"Terima kasih, Neo. Kamu tahu, tanpa kamu, tim ini tidak akan jadi apa-apa."


"Tes ketulusan telah berakhir. Selamat jalan."


Pintu itu menghilang begitu saja, menunjukkan kami jalan yang harus kami lewati untuk menuju tengah labirin.