
CTARR!
Suara petir menggelegar, diiringi kebangkitan seseorang dengan kekuatan begitu mengerikan. Aku mendongak menatapnya tak berkedip.
Pemuda yang baru saja kutangisi kepergiannya itu kini mengambang di tengah aula, tubuhnya diselimuti kilatan petir berwarna biru. Matanya menyala biru, menyorot Ratu Hudie yang baru saja terbanting dua langkah karena serangan mendadak darinya.
Neo melesat sepersekian detik kemudian, mengambang tepat di atas tubuh Ratu Hudie yang masih bergeming. Lantas mengentakkan tongkat sihirnya ke bawah.
Ratu Hudie menyilangkan tangan di atas, menahan serangan Neo mati-matian, dan melindungi kristal pusaka itu agar tidak direbut kembali oleh kami.
Zhu melesat masuk ke dalam pertarungan, Win menyusulnya. Mereka mengalirkan energi mereka ke tubuh Neo.
Bum!
Tapi entah kenapa, mereka justru terbanting ke belakang, tubuh Neo menolak energi mereka yang seharusnya masuk ke tubuhnya. Seperti magnet yang berlawanan.
"Zhu, apa yang terjadi padanya?" Rui berhenti di dekat kami, dia bertanya panik setelah menyadari kalau yang sedang bertarung itu adalah Neo.
"Aku tidak menyangka, pemuda itu ternyata cukup kuat juga," Yets berdiri di samping Rui, ikut menonton pertarungan dua orang ini.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi energiku tidak bisa masuk ke tubuhnya. Pertarungan ini, hanya bergantung pada kemampuan tubuhnya. Jika dia kalah, kita semua tamat di sini." Win berdiri sambil memapah Zhu yang terbanting paling keras.
"Kakak." Zhi bergumam pelan, dia berdiri sambil menggendong Bim yang baru saja kehilangan mutiara jiwanya, pemuda pendiam itu kembali berwujud rubah.
"Zhi, kau baik-baik saja?" Zhu tampak terkejut melihat Zhi yang tadinya tergeletak tak berdaya kini sudah berdiri tegak.
Zhi mengangguk, "Aku baik-baik saja. Itu bukan hal penting sekarang. Yang terpenting adalah kita harus menyelamatkan anak muda itu!" Zhi menatap Neo yang masih beradu kekuatan sihir dengan Ratu tak terkalahkan itu.
"Aku tahu, Zhi. Tapi sudah terlambat, tidak ada yang bisa membantunya lagi sekarang. Dia yang membuat pilihan itu, dia tahu konsekuensinya sendiri." Zhu mengembuskan napas kecewa.
"Tapi, Kak. Dia itu—"
"Zhi, katakan nanti setelah situasi membaik," Zhu memutus pembicaraan Zhi, tatapannya terlihat sangat serius. Zhi langsung terdiam begitu melihat kakaknya marah.
"Kau, dasar pengkhianat!" Neo berseru kencang. Suaranya menggema ke seluruh ruangan. Dia mengarahkan tinju tangan kirinya ke depan, lantas mendorong tubuh itu dengan energi yang begitu kuat.
Kami yang sudah menepi bahkan terhempas oleh angin yang keluar dari energi itu. Ratu Hudie terpental belasan meter.
Tapi jangankan terluka, tubuhnya masih berdiri tegak. Seperti sama sekali tidak bisa disakiti oleh energi sebesar itu.
"Win, haruskah kita mencoba menerobos lagi?" Zhu bertanya sekali lagi untuk membantu Neo.
Tapi Win menggeleng, "Itu hanya akan membuat semua orang berada dalam bahaya, Zhu. Termasuk Neo sendiri."
"Jian, bagaimana kalau kita saja yang maju?" Rui memegang lenganku.
Aku langsung menutup mulutnya dengan telunjukku. "Jangan terlalu keras, Rui." Aku berbisik.
Sejak itu, aku dan Rui berencana menerobos masuk ke dalam medan pertarungan. Menunggu Para Penjaga Pintu tidak menyadarinya.
"Satu,"
"Dua,"
"Tiga ...."
Splash!
Aku dan Rui melesat ke dalam zona pertarungan. Rui muncul di belakang Ratu Hudie, tangan kanannya menempel di punggung Ratu Hudie. Lantas mengeluarkan cahaya terang.
Ratu Hudie mengerang, punggungnya membara seperti lava. Aku memusatkan seranganku untuk mengalihkan perhatiannya, dan merebut Kristal Pusaka saat dia belum menyadarinya.
Di atas kami, Neo mengangkat tongkatnya yang kini berubah menjadi pedang. Pedang itu diselimuti petir menyala. Lantas dia menyabetkannya ke arah Ratu Hudie.
Aku dan Rui menyingkir sebentar. Sebelum akhirnya Win dan Zhu menarik tubuh kami kembali ke tepi aula.
"Tidak ada gunanya kalian bertarung bersisian, Jian, Rui! Neo bukan lagi seperti teman kalian. Kekuatan terbesarnya sudah muncul, dia sudah dikuasai ambisi sihir yang kuat. Bahkan bisa saja menyerang kalian tanpa ampun."
Jlebb!
Suasana menjadi lengang seketika. Terdengar jeritan terakhir dari seorang wanita yang kini diam tak bergerak bersandar dinding.
Sebuah pedang panjang menembus tubuhnya, Kristal Pusaka terjatuh dari genggamannya. Terbelah menjadi dua.
Kami semua menatapnya tidak percaya. Kristal itu pecah, terbelah menjadi dua. Lalu bagaimana kami bisa pulang kembali ke rumah?
Lupakan kembali ke rumah. Neo terjatuh dari ketinggian sepuluh meter dengan kondisi pingsan. Zhu segera membawanya berbaring di tempat yang lebih teduh.
Aku mengangguk tanpa berpikir, "Kristal itu perlu diperbaiki. Neo butuh waktu lebih lama untuk menyembuhkan luka-lukanya. Berapa lama pun kami harus menunggu, asalkan Neo bisa sembuh lagi, pasti akan kulakukan."
Zhu menatap Win dan Yets, wajahnya terlihat tidak senang.
"Anak-anak, kali ini, Neo mungkin tidak bisa selamat lagi." Zhu bergumam pelan.
Aku dan Rui diam tak bersuara, tapi tangisan memecahkan segalanya. Apa yang mereka maksud? Kenapa Neo tidak bisa diselamatkan lagi?
"Zhu, bukankah selama ini teknik pengobatanmu yang paling hebat? Kenapa sekarang malah tidak bisa menyelamatkan Neo? Bukankah sebelumnya, kamu juga pernah menyembuhkan lukanya?" Rui bertanya dengan suara gemetar.
"Aku minta maaf karena sudah merahasiakan hal itu dari kalian." Zhi menunduk dalam.
"Hal apa yang kalian sembunyikan dari kami?" Aku bertanya dengan nada ketus, "Jika terjadi sesuatu pada Neo, bagaimana kami akan menjelaskannya pada orang tua Neo nanti, Zhu? Bagaimana?"
Zhu mengabaikanku, tubuhnya menghilang, kemudian muncul di depan Ratu Hudie yang sudah kehabisan napas. Lantas dengan penuh tenaga, dia memblokir beberapa titik di dalam tubuh Ratu Hudie.
"Kau tidak bisa menguasai sihir apapun lagi."
"Jiwamu tidak bisa bersembunyi di dalam tubuh kosong."
"Semua ingatanmu, akan menghilang seiring nyawamu melayang!"
Dap!
Ratu Hudie berteriak kencang, suaranya nyaring memekakkan telinga. Lantas tubuh itu berubah menjadi ribuan kupu-kupu hitam berukuran kecil. Mutiara jiwanya keluar setelah tubuh itu memudar. Zhu menghancurkannya dengan ujung tongkatnya.
Zhu muncul kembali di antara kami yang sedang menangis putus asa. Tatapan matanya menyiratkan penyesalan, dia mengusap tongkat sihir Neo yang dipenuhi noda darah. Air matanya menetes kalut.
"Neo, aku sudah membalaskan dendammu." Zhu bergumam pelan sambil menggenggam erat tongkat sihir itu.
Beberapa detik kemudian, dari dalam tongkat itu keluar benda seperti kelereng kecil yang bercahaya. Zhu hendak memasukkannya ke dalam tubuh Neo.
Tapi Win menghentikannya, "Jika dimasukkan, dia tidak akan pernah bangun lagi, Zhu."
"Lantas jika kita memisahkan inti jiwanya, apakah dia masih bisa membuka membuka mata?" Zhu bersikeras ingin memasukkan kelereng itu ke dalam tubuh Neo.
"Bisa." Win dan Yets menjawab serempak. Bim yang kini seekor rubah menggerak-gerakkan ekornya.
Win menghela napas pelan, "Meski aku merasa sedih karena Bim mengosongkan botol jiwanya, tapi aku tahu, dia melakukan itu untuk melindungi nyawa dua orang. Dia memasukkan inti jiwanya ke dalam tubuh Zhi, lantas separuh jiwanya lagi keluar dari tubuh manusia yang sudah dia tempati selama ribuan tahun, kembali ke wujud aslinya. Karena sudah seperti ini, masukkan saja inti jiwa Neo ke dalam Botol Jiwa milik Bim, Zhu. Kita bisa menghidupkannya lagi di dalam tubuh manusia yang sudah mati. Seperti yang Bim lakukan untuk Zhi." Win memberikan penjelasan begitu rinci.
Aku dan Rui saling menatap, masih tidak mengerti apa yang mereka katakan. Apa maksudnya Botol Jiwa? Apa maksudnya menghidupkannya kembali? Apa pula maksudnya inti jiwa?
"Itu tidak bisa dilakukan padanya, Win. Dia akan kehilangan seluruh ingatannya tentang anak-anak ini dan kita. Dia akan hidup seakan-akan dia adalah pemilik tubuh itu. Kita tidak bisa membiarkannya tidak mengenali anak-anak ini dengan nama Neo. Itu berbeda dengan Bim menyerahkan jiwanya pada Zhi, mereka sebelumnya saling terhubung. Juga antara kalian dan tuan kalian. Jika kita membiarkan jiwa Neo memasuki tubuh orang lain, bukankah berarti memberi kesempatan kedua bagi orang yang tidak kita ketahui? Lagipula Neo bukan entitas sihir yang bisa memindahkan jiwanya ke mana pun tanpa takut kehilangan ingatan." Zhu keberatan dengan ide Win. Dia menolak dengan keras apapun yang terjadi.
Win menghela napas, "Aku tahu, Zhu. Tapi hanya itu yang yang bisa kita lakukan untuk mempertahankan hidupnya."
"Win, maaf aku menyela. Tapi, kenapa Neo tidak bisa dihidupkan di dalam tubuhnya sendiri? Bukankah itu sama saja? Dari pada memindahkan jiwanya ke tubuh orang lain, jika bisa dihidupkan kembali, kenapa tidak di dalam tubuh aslinya saja?" Aku mengangkat tangan, mengekuarkan pertanyaan yang sejak tadi aku tahan-tahan sendiri.
Zhu menghela napas, "Apakah Neo benar-benar tidak menceritakan apapun pada kalian?"
Aku dan Rui menggeleng bersamaan. "Memangnya kenapa?"
Suasana mendadak lengang, ekspresi wajah Para Penjaga Pintu mendadak berubah menjadi suram. Zhi bahkan menitikkan air matanya.
"Sebenarnya ada apa, Zhu?" Aku memegang tangannya, Zhu harus menceritakan apapun yang terjadi pada Neo kepada kami.
"Kalian ini benar-benar tidak peka." Yets bersungut-sungut.
Aku dan Rui semakin tidak mengerti. Kenapa Yets mengatai kami tidak peka? Apakah Neo menginginkan sesuatu dari kami dan dia tidak mengatakannya?
Zhu menghela napas panjang, "Sebelumnya saat belajar di akademi, Neo sendiri yang mendatangi Hudie untuk mempelajari teknik tersembunyi. Hudie memberinya salah satu sihir terlarang dengan jaminan nyawa Neo sendiri. Neo bilang saat itu, Hudie nyaris tidak memberinya mantra sihir itu. Tapi Neo sendirilah yang memaksa. Dia bilang dia ingin melindungi teman-temannya dari bahaya. Dia ingin kekuatan sihirnya lebih kuat dari teman-temannya itu. Jadi Hudie memberinya sihir terlarang yang seharusnya tidak dikembangkan di dalam tubuh yang kartu sihirnya masih putih.
"Energi terlarang itulah yang membuatnya mampu merubah bentuk tongkatnya menjadi apa saja. Tongkat itu diciptakan menggunakan inti jiwanya sendiri, sedangkan inti kekuatan tongkat itu dimasukkan ke tubuh Neo untuk mengisi kekosongan yang ada, karena itulah dia bisa merubah bentuknya sesuai dengan apa yang Neo butuhkan.
"Neo sendiri sudah tahu konsekuensi apa yang harus dia harapi di masa depan jika dia menggunakan sihir terlarang itu. Dia bilang dia hanya ingin teman-temannya tetap aman. Dia berani menjamin tubuhnya akan baik-baik saja hingga kartu sihir dilepas nanti. Asal dia tidak terlalu sering memakai kekuatan itu, dia akan baik-baik saja.
"Nyatanya, bahaya di luar lebih berat dari yang dia perkirakan. Neo mengeluarkan kekuatan lebih banyak dari yang seharusnya. Tubuhnya bahkan harus dihantam sihir terlarang lainnya. Yaitu sihir hitam milik Rux saat dia di Aula Akademi Dixia waktu itu.
"Dia tidak berpikir betapa buruknya dampak negatif saat dua energi terlarang saling tubrukan. Pemicu sihir terlarang di tibuh Neo bangkit. Dan menjalar ke seluruh tubuhnya mencari makanan. Sejak saat itu, Neo harus lebih berhati-hati lagi saat menggunakan sihir. Tapi dia mengabaikannya, selalu mengabaikannya setiap kali kalian dalam bahaya.
"Perlahan, tubuh Neo habis digerogoti inti energi tongkat itu sendiri. Jika kita memasukkan jiwanya ke dalam tubuhnya semula, maka dia benar-benar akan mati."
Aku menahan napas sambil menatap sendu ke arah sahabatku yang kini sudah tak bernapas itu. Neo, kenapa kamu mengambil keputusan itu tanpa menceritakannya kepada kami?
"Lalu, Win. Apakah ada cara untuk membuat tubuhnya kembali seperti semula?" Rui bertanya setelah menyeka air matanya.