Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Penjahat yang Sebenarnya



Malam hari akhirnya tiba. Kami diminta untuk datang ke Aula Besar. Ratu Hudie sudah duduk menunggu. Di hadapannya ada sebuah kotak besar berwarna perak, memancarkan cahaya lembut, terlihat indah.


Di belakang kami adalah Para Penjaga Pintu, mereka sudah menyempurnakan formasi Pembuka Kunci Pusaka, sedang bersiap menunggu Ratu Hudie memberi instruksi untuk mengaktifkan formasi itu untuk membuka kotak.


Di sekeliling kami, berkumpul teman-teman asrama kami. Kami belum sempat berbicara dengan Sue, Tomu dan yang lainnya.


Saat kami dipanggil untuk segera berkumpul di Aula Besar, teman-temanku itu sudah berada di sana, wajah mereka tampak datar, matanya menatap kosong, kulit mereka terlihat pucat. Mereka bahkan tidak menatap kami sama sekali.


Rui berbisik padaku untuk menghampiri teman-teman itu, tapi Neo menggeleng dan meminta kami berdiri di tempat yang sudah disediakan untuk kami.


"Kenapa teman-teman kita jadi seperti itu, Neo?" Rui berbisik di telinga Neo.


Neo mengangkat bahu, "Aku tidak tahu, Rui. Mungkin mereka lelah karena perjalanan jauh."


Kami tidak mengobrol lagi, memperhatikan situasi saat ini. Ratu Hudie sudah mengangkat tangan. Dia tidak berbicara sepatah kata pun. Tapi Para Penjaga Pintu langsung mengetahui apa yang diperintahkan ratu mereka.


Mereka mengambang di tengah Aula, membentuk lingkaran besar. Ratu meletakkan kotak bercahaya lembut itu di tengah-tengah formasi yang akan di bentuk.


Win menatap Neo tajam, pemuda itu terkejut, segera melemparkan kunci pusaka ke tengah-tengah formasi. Win menangkapnya.


Formasi itu mulai terbentuk, mengelilingi kotak harta karun dan lima orang penjaga pintu ini. Kami dibuat berseru takjub dengan keindahan formasinya.


"Neo, menurutmu, berapa lama lagi kita akan tiba di rumah?" Rui berbisik lagi.


"Tidak tahu, Rui. Kenapa kamu cerewet sekali? Lebih baik diam dan jangan banyak bertanya." Neo bersungut-sungut kesal.


Rui mendengus, dia bergeser dan pindah posisi menjadi di sebelahku. Aku terkekeh, mereka tidak berhenti bertengkar meski sudah mau kembali ke rumah.


Tapi aku merasa, proses pembukaan portal ini terlalu lancar, tidak ada yang terjadi hingga satu jam kemudian. Tidak ada orang jahat yang menerobos masuk ke dalam akademi dan berniat mencuri kristal ini dari kami.


Bukannya aku tidak bersyukur karena proses kepulangan kami berjalan lancar, tapi ini justru terasa janggal. Kristal ini adalah pusaka berharga yang tersembunyi ribuan tahun lamanya.


Berita jika pusaka ini akan segera dikeluarkan tentunya sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Memangnya masuk akal jika tidak ada yang tergiur untuk memilikinya?


"Para penjahat itu dihabisi di luar gerbang akademi, Jian. Ratu mengutus ratusan ribu prajurit terkuat Kota Pubu untuk melindungi akademi dengan ketat. Itulah kenapa formasi kita berjalan selancar ini." Neo menjelaskan, dia tahu apa yang kupikirkan, jadi menjawab tanpa perlu ditanya.


Aku mengangguk-angguk paham, itu tidak termasuk ke dalam rencana kami. Zhu dan Zhi memang memerintahkan lima puluh ribu pasukan Desa Terkutuk untuk mengawal kepergian kami, dan menyebarkan pasukan itu ke seluruh titik penting di luar akademi.


Tapi sepertinya Ratu Hudie juga memberikan langkah perlindungan lebih banyak dari yang dilakukan Zhu dan Zhi.


Aku menahan napas. Kotak itu mengeluarkan cahaya lebih terang setelah satu jam formasi diaktifkan. Para Penjaga Pintu mengangkat tangannya ke depan, mengeluarkan sebuah pelat yang disebut Pelat Pelindung.


Zhu pernah bercerita pada kami, kalau pelat itu diberikan kepada lima penjaga pintu yang tersebar di seluruh Hutan Roh Penasaran. Dia memiliki Pelat Pelindung yang bernama Su, Zhi bernama Hu, milik Win bernama Yi, milik Yets bernama Wu dan milik Bim bernama Qi.


Pelat Pelindung itu adalah kunci formasi yang sedang mereka bentuk ini. Formasi dilakukan untuk memasukkan kunci ke dalam lubang di bawah kotak. Dan mengeluarkan Kristal Pusaka dari dalamnya.


Jika satu pelat hilang, atau satu orang Penjaga Pintu tidak ikut dalam formasi, maka tidak akan ada kemungkinan berhasil.


Aku menatap wajah Ratu Hudie yang terlihat sangat antusias. Hanya perlu menunggu tiga puluh detik hingga kotak itu terbuka sempurna.


Neo mengeluarkan tongkat sihirnya, ekspresi wajahnya serius. Aku juga mengeluarkan tongkat sihirku, juga mengeluarkan Piu Piu. Rui mengikutiku, mengeluarkan tongkat sihir dan binatang magisnya.


Kami bersiap-siap di sini, untuk melindungi Para Penjaga Pintu yang akan membuat penghalang di sekeliling Kristal Pusaka kalau-kalau ada yang berniat mencurinya di tengah formasi yang sedang terbentuk.


Tiga.


Dua.


Satu.


Prang!!


Formasi itu pecah tepat setelah kotak terbuka. Zhu mengacungkan tangannya ke arah kristal yang keluar, menghalang muncul di sana.


Kami semua berseru senang. Kristal itu akhirnya keluar, Win bergerak hendak mengambil kristal itu dari kotaknya.


Seorang Prajurit Kota Pubu menerobos masuk, "Musuh sudah dihabisi, Yang Mulia!"


Bersamaan dengan Ratu Hudie yang tiba-tiba melemparkan tongkatnya persis ke tengah-tengah formasi yang hancur.


Para Penjaga Pintu terlempar ke segala arah, Neo segera melompat melindungi siapapun yang mungkin terkena dampak serangan.


Win melenting ke atas, merampas kristal yang nyaris jatuh ke tangan Ratu Hudie.


Tapi di dalan sini sendiri, seseorang menunggu sambil berpangku tangan, hanya perlu mengeluarkan sedikit tenaga untuk menghancurkan semuanya dan merampas tongkat itu.


Para Penjaga Pintu kembali berdiri, memasang tubuh mereka di depan Win yang sedang menyempurnakan formas itu sendirian.


"Ratu, apa yang kau maksud?" Zhu bertanya dengan napas menderu, "Kau menghabisi lima puluh ribu pasukanku yang tidak bersalah? Kenapa?"


Kami tidak percaya, bahwa Ratu-lah yang berniat mencuri kristal itu dari kami.


"Habisi Para Penjaga Pintu!" Ratu berteriak kencang, dia mengangkat kedua tangannya, ribuan ekor kupu-kupu terbang ke arah kami.


Juga teman-teman kami, mereka mengeluarkan tongkat sihir mereka. Berlari ke arah kami. Para Penjaga Pintu sudah terlibat pertarungan mengalahkan teman-teman kami dan ribuan kupu-kupu berwarna hitam itu.


"Neo, kita harus bagaimana?" Rui bertanya cemas, dia menatap kekacauan di depannya.


"Apalagi? Kita harus bertarung!" Neo melompat dengan gagah, tongkat sihirnya mengambang di udara, Neo merentangkan tangan, tongkat itu memecah menjadi ratusan keping. Terbang ke segala arah, menjatuhkan ratusan kupu-kupu hitam.


Aku menatapnya tak berkedip, kekuatan Neo meningkat begitu pesat.


"Jian, sebenarnya kita di pihak siapa? Kenapa Ratu Hudie menyerang formasi yang sedang diaktifkan Para Penjaga Pintu?" Rui memegang lenganku dengan erat.


Aku menatapnya dengan tegas, "Ratu Hudie yang menyerang duluan, Rui. Dia juga membunuh seluruh pasukan kita. Walaupun dia itu master kita, tadi dia berniat menghalangi jalan kita untuk pulang. Kamu pasti tahu di pihak mana kita seharusnya."


Aku melompat lebih dulu, mengarahkan tongkatku pada siapapun yang berniat mencelakai Para Penjaga Pintu. Mengarahkannya pada siapapun yang berada di bawah kendali Ratu Hudie si pengkhianat itu.


HYAK!!


BUM!


Sue terpental ke udara, Yets menyerangnya dengan sihir tingkat tinggi, melindungiku yang sedang melindungi Win.


Aku menatap Sue dengan tatapan nanar, "Sue ...."


"Teman-temanmu di akademi sepertinya sudah diracun, Jian. Mereka dijadikan boneka untuk melindungi nyawa Hudie. Sepertinya Hudie sudah melakukan konspirasi ini dari jauh-jauh hari. Kamu jangan berbelas kasih pada siapapun yang berani melukaimu, meski itu bukan kemauan mereka, mereka tetap bisa membunuhmu kapan saja." Yets mengatakan itu padaku, aku mengangguk tegas.


Rui juga sudah mulai menyerang sejak tadi. Anjingnya menyemburkan api, Rui melemparkan api itu ke segala arah. Saat seseorang mengarahkan tongkat di depannya, anjingnya juga bertindak melindungi tuannya.


Aku menyeka air mata, menatap teman-teman yang kukenal kini menyerang siapapun dengan brutal, bukan seperti manusia lagi.


"Neo, aku punya cara." Aku menghampiri Neo yang berdiri tak jauh dariku.


"Cara apa?" Neo mengentakkan tongkatnya ke lantai, membuat lantai hancur berkeping-keping, kepingan itu terbang, terlempat ke segala arah.


"Teman-teman kita diracun, mereka jadi seperti boneka tak terkendali. Kita harus menyelinap ke dalam kamar Ratu Hudie dan mencari penawarnya. Yang terpenting sekarang adalah menyadarkan ratusan pelajar sihir ini. Supaya mereka juga memihak kita!"


Neo mengangguk, "Itu masuk akal, Jian. Tapi ruangan itu berada di belakang Ratu Hudie sendiri. Kita harus mengalihkan perhatiannya sebelum menerobos masuk ke sana. Kamu punya cara?"


Aku menatap ke depan. Di belakang Ratu Hudie berdiri adalah pintu besar ruangan itu. Ingin memasukinya, tentu jangan sampai Ratu Hudie tahu.


"Aku punya cara!" Neo menatapku antusias.


"Apa?"


"Kita serang saja dia!" Neo berkata mantap.


Aku melotot, "Tidak bisa, itu terlalu berisiko. Dia seorang ratu, usianya lima ribu tahun lebih. Kita saja hampir mati berkali-kali saat mengalahkan Rux, apalagi dia yang belum kita ketahui kekuatannya. Itu berbahaya. Kamu juga baru sembuh!" Aku mengomelinya, "Lebih baik kita alihkan perhatiannya saja."


Neo mengangguk, "Kalau begitu, kamu ajaklah Rui, dia punya bubuk menghilang, aku akan membuat sihir ilusi untuk mengalihkan perhatiannya. Kalian bisa menerobos masuk selagi dia belum menyadarinya."


Aku langsung melesat ke arah Rui, lalu membisikkan rencanaku dengan Neo. Dia mengangguk, mengeluarkan kantong kecil berisi Serbuk Menghilang.


Brak!


Kami menoleh ke belakang, Win terjatuh dari tempatnya, kristal itu terlempar jauh, Ratu Hudie terbang untuk menangkapnya.


Neo berteriak kencang, tongkat sihirnya terlempar lurus ke depan, menghalangi Ratu Hudie yang berusaha merebut Kristal Pusaka.


Ratu Hudie hanya perlu menebaskan tangannya ke samping, tongkat itu terpental. Neo terbatuk hingga mengeluarkan darah.


Aku dan Rui bergegas menyelamatkannya, kristal itu sungguhan jatuh ke tangan Ratu Hudie.


Aula Besar mendadak senyap. Noda darah terlihat di mana-mana, puluhan orang tewas. Zhu masih berdiri tegak, tubuhnya bergetar penuh luka, di depannya, Zhi tergeletak tak bergerak.