
Kami hanya perlu melewati dua titik merah lagi untuk tiba di pusat labirin. Rute sekarang adalah belok kiri dan bertemu persimpangan terakhir. Titik merah tak bergerak berada di persimpangan itu.
Kami harus melewatinya dan berbelok ke rute kiri, jalan kami berikutnya seharusnya lebih mudah, hanya perlu mengikuti jalan yang ada, kemudian berbelok kanan di rute terakhir. Di situlah nanti akan ada titik merah terakhir yang bergerak.
Kami harus melewati titik merah tak bergerak ini sebelum dua jam, agar titik merah bergerak tidak duluan tiba di tempat kami. Jika seperti itu, semua rencana kami akan gagal total!
"Berhenti!" tongkat sihir Neo berhenti mendadak.
Aku dan Rui mati-matian memperlambat laju tongkat sihir kami. Kenapa Neo tiba-tiba berhenti?
"Lihat!" Neo berseru pelan, tangannya menunjuk lurus ke depan, "Mungkinkah itu titik merah berikutnya? Dia menutupi persimpangan yang akan kita lewati, Jian."
Aku menyipitkan mata, "Dekati saja dulu."
"Kenapa dari sini terlihat seperti sesuatu sedang tertidur?" Rui melongok ke depan.
Kami sudah melihatnya. Itu adalah seekor anjing. Yang sedang tertidur pulas di tengah persimpangan yang seharusnya kami lewati.
"Kenapa dipermasalahkan? Dia hanya tidur, kan? Kita lewat saja di atasnya. Itu tidak akan membuatnya bangun." Neo sudah hendak menaiki tongkat sihirnya lagi.
Tapi anjing besar itu langsung terbangun dan menggonggong galak karena suara Neo. Kami refleks menjauh, anjing itu kembali tenang setelah kami tak bersuara, dia tertidur lelap lagi.
"Kita tidak boleh membangunkan anjing tidur, Neo," Rui berbisik.
"Bodo amat, dia bukan anjing kita juga." Neo mengangkat bahu tidak peduli, lalu hendak melayang di atas tubuh anjing itu lagi.
Aku segera menariknya kembali ke belakang, "Bukan tanpa alasan, Neo. Tapi kamu tahu kalau anjing satu ini sangat mudah terbangun. Dan dia cukup galak, lihatlah wajahnya yang menyeramkan itu, bukankah terlalu berisiko tinggi untuk melewatinya begitu saja?" aku mencoba menjelaskan sejelas mungkin padanya.
"Apakah harus serumit itu?" Neo memegang tongkatnya erat-erat, lalu membaca sebuah mantra.
Mantra itu membuat suara apapun yang keluar dari mulut kita jadi tidak bisa didengar oleh siapapun. Aku mengerti maksud Neo. Ini adalah cara yang sempurna untuk melewati anjing tidur ini tanpa perlu mengganggunya tidur.
Kami jadi percaya diri melewatinya dengan bantuan mantra ini.
Tapi, kelebihan anjing sejatinya bukanlah pendengaran. Melainkan indra penciumannya yang sangat peka.
Saat kami tepat berada di atas anjing itu, kami dibuat terkejut karena anjing itu tiba-tiba terbangun dan memukul kami dengan kaki depannya.
Dap!
Neo terlempar belasan meter, aku mendaratkan diri di samping Neo. Dari pada menunggu dia melempar tubuhku, lebih baik menyerah dulu saja untuk merancang rencana baru.
Rui mengikutiku, kami berkumpul lagi, tapi posisi kami semakin jauh dari persimpangan sebelah kiri yang harusnya kami lewati.
"Anjing sialan. Apa pekerjaanmu selain tidur adalah mengganggu kami? Sebaiknya lakukan yang lain saja. Kami sedang sibuk, tak ada waktu untuk melayanimu!" Neo berdiri dengan perasaan kesal, dia berdiri susah payah, "Keluarkan entitas sihirmu, Jian. Seekor kucing akan sangat membantu dalam rangka menyerang anjing galak ini."
Aku menurutinya saja, menjetikkan jariku, Piu Piu keluar, aku memintanya untuk mengaktifkan mode transformasi. Piu Piu menjadi lebih besar dua kali lipat, tubuhnya seperti seekor harimau, telinganya meruncing seperti kucing gurun, keempat kakinya menapak salju dengan gagah. Dia menggeram.
"Serang anjing itu, Piu Piu, bukankah kalian musuh bebuyutan?" Neo melipat lengan di depan dada.
Anjing itu menggonggong. Mulai bersiap mengejar Piu Piu. Tapi aku segera menghilangkan Piu Piu dan membuatnya muncul di sebelahlu sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Eh, kenapa, Jian?" Neo melotot di depanku, "Kamu tidak perlu khawatir anjing ini akan membunuh binatang spiritualmu, meski binatang spiritualmu mati, dia tidak akan mati betulan, ia akan tetap hidup selama tuannya masih punya kemampuan sihir, kan?"
"Buka begitu, Neo. Tapi kenapa kamu tidak gunakan trik yang sama saja seperti saat kita melarikan diri dari beruang kutub?" aku mengajukan rencanaku.
Neo mengangguk setuju, dia bilang dia tidak terpikirkan akan menggunakan cara yang sama untuk menghadapi hewan yang berbeda. Anjing tidak mudah ditipu, itu katanya.
Tapi kita akan mencoba cara apapun untuk menyingkirkan anjing ini.
Neo menggambar sesuatu di buku kecilnya, itu adalah kami bertiga, lalu menerapkan mantra ilusi pada gambar itu. Gambar itu berubah menjadi kami.
Tapi anjing itu bahkan tidak tertarik mendekati barang tiruan yang Neo buat, dia tetap mengejar kami. Dan menggonggong hendak menghabisi kami.
Neo sudah lari duluan, tapi aku masih menunggui Rui. Anak itu malah diam mematung di depan si anjing. Dan si anjing tidak menyerangnya meski mereka berhadapan begitu dekat.
"Rui!" aku berseru menyuruhnya menyingkir.
Karena terlalu gemas, Neo berniat menyeretnya dengan energi sihirnya.
Tapi Rui mengangkat tangan kanan, "Tunggu, Neo." Dia melangkahkan kakinya lebih mendekat dengan si anjing.
Aku dan Neo berdiri di jarak lima meter lebih jauh. Menonton apa yang akan Rui lakukan pada anjing itu.
Rui mendekatkan tangan kanannya ke wajah anjing, kami melihat anjing itu bahkan tak bersuara di depan Rui.
"Kamu, terkurung di sini, ya?" Rui bergumam pelan.
Anjing itu menggonggong pelan, suaranya tampak menyedihkan. Sepertinya, anjing ini kesepian selama ribuan tahun selama segel Lilin Keabadian aktif.
"Kami juga terkurung di sini, Kawan," Rui mengelus wajahnya. Anjing itu tidak memberontak, justru membiarkan Rui mengelus kepalanya lebih banyak.
"Kami ingin keluar, bukankah kamu juga ingin?"
"Bagaimana jika kamu membiarkan kami lewat? Tujuan kami di sini, adalah ingin membantumu keluar dari tempat ini, Kawan. Jika kamu membiarkan kami lewat, kami akan menyelamatkanmu dari sini."
Anjing itu menggonggong, suaranya bukan lagi terdengar menyeramkan, melainkan berubah menjadi suara gonggongan anak anjing yang menggemaskan.
"Bisakah kamu membantu kami dengan membiarkan kami lewat?" Rui tersenyum lembut. Anjing itu menyingkirkan tubuhnya dari persimpangan.
Rui mengacungkan ibu jari ke arah kami. Kami segera mendekat ke arahnya. Anjing galak itu dengan santai menjilati tubuhnya, seakan tidak peduli lagi kepada kami yang berdiri dekat sekali dengannya.
"Wahh, Rui. Kamu punya kemampuan khusus dalam menghadapai seekor anjing galak." Neo memujinya.
Rui terkekeh, "Dia itu bukan anjing galak. Dia hanya merasa terancam dengan kehadiran kita. Dia berada di sini sudah sangat lama, dan tidak pernah mendapat gangguan sebelumnya. Tapi kita datang dan membuatnya terkejut. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa, dia mengizinkan kita pergi."
"Bagaimana kamu melakukannya, Rui?" aku bertanya, menatap anjing besar itu yang sekarang tampak akur sekali dengan Rui.
"Aku pernah memelihara anjing, Jian. Apa kamu ingat Huihui?" Rui ikut menatap anjing itu, "Dia seperti Huihui, Jian. Warnanya, bola matanya, suaranya, ekornya, aku seperti sudah mengenalnya sejak awal. Yang membedakan adalah, ukuran tubuh dia lebih besar berkali-kali lipat dari Huihui," Rui menyeka air matanya, "Itu sebabnya aku sangat memahami kesedihan seekor anjing."
Huihui adalah anak anjing yang Rui dapatkan dari ayahnya sebelum ayahnya meninggal. Tapi Huihui tidak berumur panjang. Anak anjing itu mati di tahun pertama Rui memeliharanya. Dia bersedih selama berhari-hari, aku sampai lelah membawanya ke rumah anjing setiap akhir pekan. Rui belum menemukan anjing yang bisa menggantikan Huihui di hatinya.
Aku memeluk pundaknya, "Kenapa tidak kamu ambil saja dia sebagai hewan peliharaanmu, Rui?"
Rui terdiam, "Jika dia bukan segel, aku mungkin—"
"Ambil saja, Rui. Dia itu sama seperti entitas sihir. Sekali kamu mengalirkan sihirmu ke dalam darah anjing ini, bagaimanapun masa lalunya, dia sudah menjadi entitas sihir milikmu." Neo menyerahkan sebuah buku, "Aku membawanya dari akademi, ini berisi tentang bagaimana cara menjadikan binatang liar sebagai entitas sihir yang sah bagi seorang Penyihir Kartu Perak Akademi Hudie," jelasnya.
Rui menerima buku itu, lalu tersenyum dan mengucapkan terimakasih kepada Neo. Dia membungkuk di depan anjing itu, seperti meminta izin untuk mengambilnya pergi.
"Aku, menyukaimu sejak pertama melihatmu, jika aku ingin memeliharamu, bagaimana?"
Anjing itu langsung melompat-lompat girang, menggonggong senang, dan berputar-putar di sekitar Rui.
"Dia merasa senang, Rui!" aku berseru senang.
"Jika Rui benar-benar akan memiliki entitas sihir, bukankah berarti hanya aku sendiri yang tidak memilikinya?" Neo mendengus.
"Apakah kamu mau memungut satu juga, Neo? Bukankah sebelumnya kita juga bertemu rusa, serigala dan beruang kutub? Kamu bisa memungut salah satunya," aku mengelus puncak kepala Piu Piu, Rui memeluk anjing barunya.
Neo memasang tatapan jijik, "Maaf tapi aku tidak begitu menyukai binatang."
Sekarang, kami hanya perlu melewati satu titik merah lagi menuju pusat labirin ini. Lalu menghancurkan segel Lilin Keabadian. Kami akan segera pulang.