
Sepanjang perjalanan menuju akademi, kami bertiga merasa sangat cemas. Bukan cemas karena hal buruk, tapi hanya cemas saja.
Perasaan terlalu campur aduk, tidak tahu harus merasa senang atau sedih, sebentar lagi kami akan berpisah dari teman-teman dekat kami, sebentar lagi kami akan bertemu kembali dengan keluarga kami.
Rui bahkan sudah menangis dua kali, tetap merasa cemas dan tidak tenang. Hanya Neo yang sedikit bisa lebih santai.
"Kita sudah di depan gerbang, Jian." Neo menatap ke depan.
Di depan kami sungguhan gerbang besar Akademi Hudie. Kami berlinang air mata, akan bertemu kembali dengan teman-teman sekolah kami dahulu.
Aku menahan napas. Kami segera melewati gerbang depan yang megah itu. Para penjaga ini langsung membawa kami ke ruangan Ratu Hudie.
Kami menunggu Ratu datang menemui kami sambil tersenyum lebar. Kami bersiap menyambut dengan wajah-wajah gembira.
"Kalau kita masih harus menunggu, bukankah seharusnya kita datang nanti saja bersama Win dan yang lainnya, ya?" Rui berbisik di dekat telingaku, dia yang merasa paling tegang di antara kami.
Neo menggeleng, "Sepertinya dia ingin berpamitan secara khusus kepada kita, Rui. Tidak mengizinkan siapapun mengganggu. Jadi datang mengundang kita lebih awal," jawabnya asal.
Rui menyikut lengannya, "Jangan terlalu percaya diri."
"Siapa yang tidak boleh percaya diri?"
Suara tegas itu bergema di dalam ruangan, terdengar suara ketukan sepatu dengan nada teratur. Bayangannya memantul di cermin besar di depan kami.
Ratu yang bijaksana dan berumur panjang itu berjalan memasuki ruangan. Terlihat luar biasa setelah tidak melihatnya lama sekali.
Aku, Rui dan Neo langsung menunduk di depannya, memberi salam.
"Bagaimana kabar kalian akhir-akhir ini?" Ratu Hudie tersenyum sambil menyuruh kami duduk, "Aku sengaja mengundang kalian terlebih dahulu, karena ingin memberikan sesuatu yang rahasia untuk kalian. Para Penjaga Pintu itu, tentu tidak boleh tahu." Ratu Hudie mengangkat tangannya. Itu sebuah kotak hitam kecil, ukurannya sekitar dua kali telapak tangan.
Tapi apa yang membuatnya begitu dirahasiakan, bahkan Para Penjaga Pintu tidak boleh mengetahuinya?
"Anak-anak, kalian ini, meski sudah mau pulang sekalipun, tetap menjadi muridku selamanya. Ini adalah plakat hitam yang kubuat khusus untuk murid berprestasi besar seperti kalian. Kelak saat kalian membutuhkan bantuan, menegakkan keadilan, gunakan plakat ini sebagai senjata. Jika kalian tidak membutuhkannya karena menganggap dunia kalian lebih damai dari duniaku, setidaknya simpanlah. Itu hadiah terbesar yang bisa kuberikan pada kalian."
Plakat bundar ini sepertinya terdiri dari dua lapis dengan sisi-sisi longgar, di dalamnya tersembunyi pisau-pisau kecil yang akan keluar ketika dientakkan.
Master satu ini, kenapa mendadak memberikan kami alat yang begitu bagus untuk dibawa pulang?
"Terima kasih atas hadiahnya, Master. Neo, sudah menerimanya," Neo menautkan tangannya dan membungkuk sedikit untuk berterima kasih.
Aku menyikut lengannya. Dia ini, yang benar saja mau menerimanya dan membawanya pulang? Bagaimana kalau hilang dan disalahgunakan?
"Kalau tidak suka, jual saja, Jian. Alat sebagus ini, jika dijual kepada prajurit negara, mungkin kita bisa menghasilkan banyak uang dalam sekejap." Neo berbisik di telingaku, membalas sikutan lenganku tadi.
Aku langsung menyuruhnya diam. Aku menautkan tangan dan mulai membungkuk, berniat menolak hadiah sebesar ini, tapi Rui lebih dulu membungkuk dan mengucapkan terima kasih atas pemberian hadiah ini.
Aku kan, jadi terpaksa menerimanya juga. Apalagi Ratu Hudie tahu apa yang kupikirkan sekarang. Dia bahkan tertawa melihat raut wajahku yang memerah malu ini.
"Karena kalian sudah menerima hadiah dariku, tentu aku tidak bisa membiarkan kalian hanya berdiri di sini saja. Pergilah ke asrama dan beristirahat di kamar." Ratu Hudie tersenyum lagi.
"Master, sepertinya aku harus menanyakan satu hal padamu." Aku mengangkat tangan sebelum pergi.
"Tanyakan saja, Jian."
"Sejak masuk gerbang, kenapa aku tidak melihat satu pun Murid Akademi? Mungkinkah mereka sedang sekolah di tempat lain?" Aku bertanya, memang saat masuk tadi, asrama dan akademi sepertinya sangat sepi, terlihat hanya bangunan kosong. Ke mana teman-temanku ini?
Ratu Hudie tertawa, "Kalian ini, mungkinkah karena terlalu lama di luar, jadi tidak tahu kalau aku sudah meliburkan semua murid?"
Kami bertiga saling tatap, diliburkan? Tapi sepertinya ini bukan bulan liburan. Meski kami tidak pernah menghubungi teman-teman di akademi, tapi aku tahu kapan akademi akan libur dan kapan libur itu berakhir. Dan ini bukan waktunya libur.
"Oh begitu, ya?" Aku mengangguk saja, "Master, bisakah aku meminjam plakat komunikasi itu sebentar?" Aku bertanya lebih pelan, menunjuk salah satu kubus kecil di atas meja. Itu dikenal sebagai plakat komunikasi di Kota Pubu.
"Untuk apa?" Master Hudie meraih plakat itu, lalu berjalan ke dekatku. Mungkin untuk menyerahkannya padaku.
Ratu Hudie tertawa mendengarnya bicara, "Nak, jangan berpikir aku tidak mengerti hal-hal seperti ini. Aku sudah mengirim pesan kepada teman-temanmu untuk datang ke Akademi malam ini. Sekarang kalian hanya perlu istirahat sebentar saja, aku yakin Para Penjaga Pintu sudah tiba di akademi. Pergilah."
Kami bertiga membungkuk, lalu meninggalkan ruangan mewah itu dan pergi menuju asrama. Mungkin Win dan yang lain sudah menunggu di sana.
"Neo, tentang rencana yang kamu sebutkan kemarin, itu bagaimana?" Rui berbisik di telinga Neo.
"Sstt ..., jangan bicarakan itu, Rui. Kita sebaiknya segera bergabung bersama Win dan teman-temannya." Neo berjalan lebih cepat.
Kami memasuki lorong-lorong asrama, gelap gulita, kami tidak akan melihat apapun jika tidak mengetahuinya dengan obor kecil yang dibuat Rui.
"Jika memang semua murid diliburkan, apakah harus membuat seluruh asrama dan akademi menjadi gelap gulita?" Neo memeriksa setiap pintu kamar. Memang terkunci dari luar, seperti para pemiliknya memang sedang pergi liburan.
"Memangnya kenapa?" Rui bertanya polos.
Aku menepuk dahi, "Rui, kamu tidak benar-benar tidak mengerti kan?"
Rui membalasnya dengan gelengan kepala, "Aku mana mengerti, kalian bertingkah aneh sejak bertemu Ratu Hudie. Dan tidak memberitahuku satu hal pun."
"Rui, kita ini sebentar lagi akan mengeluarkan benda pusaka dari kotaknya. Ini harta karun terbesar di Kota Pubu. Dalam proses pengeluarannya, mungkin ada orang jahat yang sudah mengincar kita sejak berangkat dari Akademi Dixia. Itulah kenapa, Win tidak memperbolehkan kita untuk terpisah dari mereka. Tapi Akademi Hudie malah meminta kita untuk datang terlebih dahulu tanpa membawa Para Penjaga Pintu. Menurutmu, apakah itu bukan hal janggal?"
Rui terdiam cukup lama setelah aku menjelaskan, "Memang cukup janggal, tapi aku masih tidak peduli untuk saat ini, Jian. Kita pergi dulu menemui Win dan teman-temannya."
Neo mengangguk, segera berjalan lebih cepat menuju Asrama Utara di mana Win dan yang lainnya tiba.
"Apa yang dibicarakan Ratu dengan kalian?" Win bertanya setibanya kami di sana.
Neo menggeleng, "Hanya memberikan hadiah kecil, tidak ada hal khusus."
"Zhu, apakah sudah ada kabar?" Yets bertanya datar.
Zhu mengangguk, "Para penjahat itu, sesuai dugaan kita. Mereka sedang menuju ke sini, menyiapkan rencana matang untuk merebut Kristal Pusaka yang akan kita keluarkan."
"Kita jalankan sesuai rencana saja, yang penting mereka datang terang-terangan, tidak mengendap-endap seperti maling tak tahu diri," Neo menyahut, dengan santai menyeruput teh yang disajikan sejak tadi, "Ah, sudah dingin." Lalu bersungut-sungut tidak jelas.
"Zhu, apakah pusaka itu benar-benar tidak boleh jatuh ke tangan orang lain?" Rui bertanya polos.
Mendengar pertanyaan itu, Zhu tersenyum sambil memegang punggung tangan Rui, "Rui, apapun yang terjadi nantinya, kalian hanya perlu melindungi diri kalian masing-masing. Tugas kami di sini, bukanlah untuk melindungi kalian, melainkan melindungi pusaka yang sudah kami jaga selama ribuan tahun dari tangan orang jahat. Tentu tidak boleh membiarkan jatuh ke tangan orang lain. Tindakan kami ini, hanya tindakan pencegahan saja, seandainya berjalan lancar, juga termasuk beruntung."
Kami bertiga serempak mengangguk, "Baik, Zhu. Kami akan berusaha untuk melindungi diri kami masing-masing, tidak akan merepotkan kalian. Sebaliknya, kalian juga harus menjaga diri kalian."
Win tersenyum, "Bahkan jika kami harus mati di sini, jika menjaga pusaka dengan baik, tidak akan ada penyesalan. Hidup ribuan tahun ini, tugas kami akhirnya selesai, kami sudah merasa lega dan pergi dengan damai. Meneruskan posisi kami kepada pemuda-pemuda berbakat dari Akademi Dixia."
Neo terkekeh pelan, "Tidak baik membicarakan kematian di saat seperti ini, Win."
"Baiklah, kalian kembalik ke kamar kalian masing-masing, kami perlu melatih kekuatan formasi leluhur kami untuk membantu kami membuka kotak harta karun itu. Istirahatlah menunggu malam datang." Win mengangguk kepada kami.
Kami menutup pintu kamar kami, ruangan ini senyap. Aku menahan napas, suasana ini lebih menenangkan dari pada saat kami menghadapi rintangan-rintangan sebelumnya.
"Neo, kamu sungguhan ingin merahasiakan pertemuan kita dengan Ratu Hudie siang tadi?" Rp menatap Neo yang dengan santai sudah merebahkan tubuh di atas ranjang.
Neo mengangguk tidak peduli, "Dia itu tidak penting, Rui. Hadiah kecil itu, tidak penting untuk memberitahu Win dan Zhu. Merepotkan mereka untuk hal-hal sepele bukanlah pilihan bijak."
"Neo, kamu sungguhan memercayai Ratu Hudie?" giliran aku yang bertanya padanya.
Neo beringsut duduk, "Jian. Kamu tidak memercayai pilihanku?" dia bertanya serius.
Aku menautkan alis, "Aku tidak pernah mengatakan hal semacam itu."
Neo menatapku tajam, "Jian. Master Hudie adalah masterku. Dia yang memberiku kekuatan sebesar itu hingga aku mampu melindungi kalian segenap raga. Jadi bagaimanapun, dia tidak akan mempersulit kita, aku memercayainya. Urusan kamu memercayainya atau tidak, aku tidak peduli."
"Neo!" aku berseru kesal.