
Aku dan Rui sontak memelototi pemuda serakah itu. Sudah diberi kesempatan tetap hidup, masih mengharapkan keabadian.
"Heh, Neo. Kalau ingin abadi, kamu tidak usah pulang saja sekalian. Tinggal di sini hingga ribuan tahun. Lagipula jika kamu ikut pulang, semua keabadian itu hanya akan sia-sia saja, warga bumi akan menganggapmu makhluk jadi-jadian jika tidak mati sebelum seratus tahun." Rui menyeloroh, dia terlihat kesal sekali karena Neo meminta Rui mengajarinya Sihir Pembuka Portal.
"Tidak seperti itu, Rui," Neo langsung menyanggahnya, "Aku ini hanya bertanya. Tidak betulan ingin mempelajarinya. Lagipula aku sudah berjanji, hanya akan bersama-sama dengan kalian. Pulang dan hidup normal kembali. Menjadi abadi tidak ada gunanya jika hidup kesepian."
Rui menatapku, kami sama-sama terdiam, sedangkan Zhu segera menegur kami untuk segera memasuki portal sebelum tertutup kembali.
Hanya butuh beberapa detik, kami muncul di perbatasan terluar Akademi Dixia, depan pagar besar yang suram itu lagi.
Rui mendongak saat menoleh ke samping, dia menyikutku, "Meriam itu sudah tidak menembakkan pelurunya lagi," dia berbisik sambil menatap jeri ke atas.
Aku menganggukinya, "Itu artinya mereka hidup dengan nyaman akhir-akhir ini, Rui," jawabku sambil berbisik.
"Zhu, bagaimana cara kita masuk? Gerbang ini bahkan tidak memiliki celah sekalipun." Neo memeriksa ke segala arah.
Saat pertama kali datang, kami memang tidak tahu gerbang utama ini ternyata tidak ada bedanya seperti dinding besi raksasa. Saat itu, kami menyeberangi danau di tengah dentuman meriam, begitu mendarat langsung disambut serangan mematikan Para Penjaga Pintu. Tidak ada waktu bagi kami untuk memperhatikan pintu ini.
"Aku punya cara. Zhi, keluarkan petasannya."
Zhi mengangguk, dia mengangkat tangannya, sebuah alat muncul. Tapi itu lebih mirip pemantik api dari zaman kuno dari pada sebuah petasan.
Zhi mengambang lima meter, lalu melepaskan pelatuk di bagian bawah bambu sepanjang lima centimeter itu.
Begitu ditarik, muncul percikan api dari dalam bambu, lalu bambu itu melompat ke angkasa, anggap saja begitu. Lalu meledak seperti petasan.
"Zhu, kalian ini seharusnya bisa menciptakan petasan bobrok itu dengan lebih keren jika memakai sihir tahu!" Neo menggerutu.
Memang cara mengirim pesan ini kuno sekali. Di bumi kami bahkan sudah tidak ada yang seperti itu lagi. Meski di sini tidak ada ponsel, setidaknya sihir mereka lebih modern dari pada petasan zaman batu itu.
Zhi tertawa mendengar gerutuan Neo, dia bahkan menepuk pundak Zhu dan mengajaknya untuk tertawa bersama.
"Eh? Apa yang kalian tertawakan?" Neo menatap keduanya tidak mengerti.
"Bukan apa-apa, Neo. Tapi jika kami menggunakan sihir sebagai pertanda kehadiran kami, takutnya Para Penjaga Pintu tidak akan mengetahuinya. Itu adalah tanda sinyal khusus yang hanya boleh diberikan kepada sesama Penjaga Pintu. Bukan digunakan sembarang orang." Zhu memberikan penjelasan, "Karena aku sudah melepas sinyal khusus itu, setidaknya Win sudah mendengar suaranya, dia akan segera datang menyambut kita."
Neo menggaruk tengkuknya, tidak berbicara lagi.
Menunggu beberapa saat, gerbang kokoh itu akhirnya terbuka. Suaranya berderit menyeramkan, butuh waktu satu menit lebih untuk membuka keseluruhannya.
Siapa bilang kami menunggu gerbang itu terbuka sempurna baru masuk, tentu saja kami langsung masuk begitu gerbang itu terbuka, satu-persatu, dengan sabar, tanpa menunggu terlalu lama.
"Win!" Neo langsung berseru melihat sosok laki-laki gagah yang berdiri menyambut kami di dalam gerbang.
"Apa kabar, Neo?" Win menerima pelukan Neo.
"Kami datang untuk mengembalikan benda pusaka kalian, Win," Neo tersenyum setelah selesai melepas rindu.
Zhu dan Zhi tersenyum mengangguki sapaan Neo, "Kami datang mewakili Desa Terkutuk untuk berterima kasih padamu, Win. Anak-anak hebat ini, berhasil mendapatkan kunci itu hanya dalam beberapa bulan saja," sambung Zhu.
"Kalian benar-benar mendapatkan kunci itu?" Win menatap Neo penuh rasa takjub.
Neo mengangguk begitu semangat, "Perjalanan kami dari Akademi Dixia ini benar-benar mempertaruhkan nyawa, Win. Kami hampir mati berkali-kali, syukurlah keberuntungan kami masih bagus, dipertemukan dengan peri baik hati seperti mereka." Neo bahkan tersenyum begitu lebar.
Rui langsung menyikut lenganku, "Suasana hatinya sedang begitu baik, Jian. Maukah kamu membantuku membuat masalah dengannya?"
Aku menggeleng pelan, "Sudah cukup, Rui. Berhentilah mengganggunya sehari saja, karena suasana hatinya baik, lebih cocok jika kita memanfaatkan hal ini untuk mengambil keuntungan darinya." Aku menaikkan sebelah alis, membuat kesepakatan buruk bersama Rui.
"Apa yang kalian bisikkan?" Neo tiba-tiba sudah berdiri di depan kami, membuatku dan Rui terkejut.
Untung saja, kami masih punya kemampuan untuk menyembunyikan omong kosong tadi, "Bukan apa-apa, Neo. Hanya memujimu dari belakang saja." Aku menutup mulut, berusaha untuk tidak tertawa.
Ternyata para tetua itu memperhatikan kami bertengkar sejak tadi, terkikik-kikik tidak jelas sambil menonton kami.
Aku segera berjalan menjauhi dua teman durhaka itu. Yang satunya bermulut ember, yang satunya suka memancing kemarahan. Entah bagaimana aku bisa tahan berteman dengan orang-orang seperti ini.
"Aku benar-benar merindukan pertengkaran kecil itu, setengah bulan mereka tinggal di akademi kami, setelah pergi, jadi terasa sangat sepi." Win berbicara pada Zhu dan Zhi.
"Pertengkaran apaan? Itu hanya karena Neo selalu membuatku dan Rui kesal saja. Jika tidak, aku juga malas berbicara dengannya," aku melipat kengan di depan dada.
Zhu dan Zhi tertawa renyah, "Pertemanan kalian ini, sangat penting di masa depan, Jian. Meskipun kelak tidak perlu saling mempertaruhkan nyawa lagi, jangan pernah melepaskan jalinan hubungan kalian ini."
Aku menghela napas, Zhi benar. Selama ini kami tidak pernah akur juga membuat hubungan kami bertiga semakin dekat. Jangan hanya karena kelak akan pulang, jadi mengabaikannya karena akan hidup masing-masing lagi.
Rui berlari menyusulku, "Jian, dia benar-benar tidak marah meski aku mengatainya seperti tadi."
Aku menatapnya terkejut, "Mengatai seperti apa?"
Rui memberi isyarat padaku, mendekatkan mulutnya di telingaku, "Rencana burukmu itu."
Aku langsung mencubit lengannya, "Itu tidak benar, Rui. Aku hanya bercanda. Meskipun dia sedang memiliki suasana hati yang baik, kita juga tidak bisa memanfaatkannya untuk menjadi pesuruh kita. Neo sdalah teman kita."
Rui terdiam keheranan mendengar ucapanku, "Kamu ini, benar-benar hanya bercanda?"
Aku tidak menghiraukannya lagi. Kami akan sampai di Aula Besar, di dalam sana, ada banyak sekali hantu-hantu yang menyambut kami datang. Termasuk Yets dan Bim.
Mereka mengadakan perjamuan khusus untuk kedatangan kami. Win bilang ini adalah perjamuan yang berbeda dari perjamuan yang kami lihat saat pertama kali datang. Perjamuan ini diadakan khusus untuk menyambut kami datang. Eh, mungkin untuk menyambut kembalinya pusaka mereka?
"Neo, bisakah kamu ceritakan tentang perjalanan kalian ini? Tampaknya seru sekali." Win tertarik dengan kisah perjalanan kami.
Neo menggeleng, "Jika diceritakan, akan jadi sangat panjang, Win. Bahkan jika menceritakannya siang malam, juga tidak akan cukup."
"Kenapa tidak kamu buka saja jurnalmu itu, Neo? Bukankah katamu, akan mencatat semua perjalanan kita?" aku mengimbuhkan.
"Tidak boleh!" Neo malah langsung berseru tidak terima. Bahkan menyembunyikan kantong kecilnya di bawah ketiak. Sungguh kekanak-kanakan.
Lagipula aku tidak berniat sampai mau merebut buku kecil lusuh itu juga. Dia ini terlalu percaya diri.
"Pokoknya, yang paling penting adalah aku membunuh Rux sampai dua kali. Yang pertama saat baru tiba di Desa Terkutuk. Kami masuk ke dalam labirin raksasa, lalu mendapatkan Lilin Keabadian. Setelah itu kami bertarung dengan Rux lagi, lalu aku memaksa Jian untuk mengambil kunci itu sendirian. Dan aku membunuh Rux lagi," Neo nyengir lebar, "Aku hebat kan, Win? Apakah sudah bisa menjadi penerusmu?"
Buk!
Aku langsung memukul kepalanya, "Kenapa kamu jadi banyak sekali beromong kosong, Neo? Aku memaafkanmu saat kamu bercanda tentang mempelajari sihir teleportasi. Sekarang kamu mengajukan diri menjadi penerus Para Penjaga Pintu. Menurutmu itu lucu?"
"Aku kan hanya bercanda, Jian. Tidak perlu menganggap serius," Neo mengusap kepalanya yang terasa sakit.
"Tapi tidak ada salahnya juga jika dia mengajukan diri untuk meneruskan tugas Win, Jian. Bukankah berarti beban kita berkurang satu? Kita tidak perlu membawa wabah ini kembali ke dunia kita. Hanya bisa merepotkan saja." Rui dengan santai mengejek Neo dengan kalimatnya yang menusuk hati sambil menenggak arak.
Neo melotot tidak percaya, "Benarkah kamu setega ini, Rui?"
"Tidak perlu berakting, aku tahu trikmu," Rui melambaikan tangan tidak peduli.
Sungguh menyenangkan menggoda Neo seperti ini. Memangnya hanya dia yang bisa menggoda kami?
Beberapa menit ke depan, kami masih makan sambil saling melempar candaan. Kali ini, kedatangan kami benar-benar bisa beristirahat sepuasnya.
Win bilang, kami bisa memuaskan diri kami di Kota Pubu selama beberapa hari, baru mereka akan mengantar kami ke Akademi Hudie untuk membuka kotak kristal pusaka.
Meski beberapa hari ini kami sudah tidak sabar untuk segera pulang, tapi kami juga harus meluangkan beberapa hari untuk berpamitan dengan teman-teman kami di sini.