Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Naga Biru



Win sengaja memanggil Tuan Muda Ale ke halaman belakang Paviliun, dia bilang ingin mengibrol lebih banyak dengannya.


Sepertinya mereka juga pernah saling mengenal, Tuan Muda Ale begitu menghormati Win, begitu pun sebaliknya.


"Setelah berpisah lima ratus tahun lalu, tidak menyangka kita bisa bertemu lagi di sini," Win tersenyum senang.


Tuan Muda Ale mengangguk, "Saat itu aku terluka parah karena bertarung dengan binatang buas di depan wilayah kalian. Kalian datang menyelamatkanku dengan begitu gagah. Tuan Penjaga Pintu, aku berutang nyawa padamu, bisa bertemu di sini, entah apakah kau membiarkanku melunasi utang nyawa ini?*


Win terlihat menatap Zhi, meminta pendapat darinya. Zhi mengangguk kecil, Win kembali menatap wajah Tuan Muda Ale.


"Tuan Muda. Hari ini, aku juga sudah banyak membantumu dalam mengurus masalahmu ini. Jika kau benar-benar ingin melunasi utang budi ini, entah apa kau setuju, jika aku meminta bantuanmu mencari telur naga di dalam Gua Terpencil?" Win menatapnya serius.


Aku dan Rui saling bertukar pandang. Telur naga apa? Kenapa mendadak ada telur naga dalam pembahasan ini?


"Win, telur naga apa yang kau maksud?" aku bertanya padanya.


Ini adalah hal serius. Apakah ini hal yang berkaitan dengan Neo? Kenapa Win tidak membicarakannya lebih dulu denganku dan Rui?


Zhi memegang punggung tanganku dengan lembut, "Maafkan aku, Jian. Bukannya aku sengaja tidak membiarkanmu tahu tentang ini. Tapi tempat itu bukan tempat yang bisa didatangi manusia biasa seperti kalian. Sekarang kita sudah mendapatkan obat yang kita butuhkan. Kita butuh telur dari naga yang berusia jutaan tahun untuk memperbaiki Kristal Pusaka."


"Awalnya kami juga ingin memberitahu kalian, karena kupikir tidak terlalu benar merahasiakan hal ini terlalu lama. Aku dan Zhi tetap akan pergi ke Gua Terpencil, kalian bisa menunggu di sini, menemani Nona Chuntian." Win terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya.


Aku dan Rui saling tatap lagi.


"Tapi kami bukan termasuk manusia biasa lagi, kekuatan sihir kami sudah melewati Kartu Emas. Apakah kemampuan sebesar ini juga tidak bisa melewati wilayah itu?" Rui terlihat protes tidak terima.


Aku mengangguk, menyetujui kalimatnya, "Biarkan kami ikut, Win. Bagaimanapun, semua ini adalah demi kami bisa pulang ke dunia kami." Aku ikut membujuk mereka.


"Aku bisa membawa kalian ke Gua Terpencil." Tuan Muda Ale melerai perdebatan kami.


Win mengangguk, "Terima kasih, Tuan Muda."


"Tapi, Tuan Penjaga Pintu. Satu hal yang perlu kau ingat. Sebesar apapun kekuatanmu, seberapa tinggi kultivasimu, juga tidak akan bisa melewatinya jika hanya berdua. Kita membutuhkan dua orang lain untuk membuka formas Naga Biru di dalam gua itu, untuk mengambil inti telurnya. Jika memaksakan diri dengan jumlah orang yang tak mengikuti aturan, kau bisa mati kehabisan energi bahkan sebelum memasuki gua," Tuan Muda Ale menjelaskan dengan wajah datar.


Win menunduk terdiam, "Aku, tidak bisa membiarkan anak-anak ini menerjang bahaya lagi. Perjalanan mereka sebelumnya, aku tidak ingin mereka mengalaminya lagi," gumamnya.


Aku menatap Win dengan ekspresi lembut, "Win, kami sudah terbiasa. Sejak tiba di sini, Neo bahkan sudah menduga, perjalanan kami akan sesulit apa. Namun yang tidak pernah kuduga, kami harus kehilangan satu orang karena pengkhianatan orang yang kami percayai sendiri. Win, selagi kamu memperlakukan kami dengan baik, kami akan melakukan apapun, untuk membantumu. Ayolah, kita tidak bisa membiarkan Zhu, Yets dan Bim menunggu terlalu lama."


Zhi tersenyum lebar mendengar kalimatku, "Dia benar, Win. Tidak perlu banyak berdrama, toh tidak ada yang menonton. Sepertinya kita memang tidak bisa pergi tanpa mereka."


Rui ikut tersenyum, "Memang hanya Zhi yang bisa mengerti kita kan, Jian?"


Tuan Muda Ale terkekeh, "Aku sudah banyak mendengar kisah tentang Pelintas Dimensi. Kudengar pemimpin Kota Pubu juga ternyata seorang keturunan Pelintas Dimensi."


Zhi mengangguk, "Semua Pelintas Dimensi memiliki ambisi yang besar. Tujuan mereka menjadi orang terkuat dan terhebat. Tapi ayah Hudie berbeda. Dia menginginkan kembali pulang ke dunia asalnya.


"Anak-anak ini adalah Pelintas Dimensi kedua yang memiliki hati murni setelah ayah Hudie. Jika saat itu dia gagal kembali ke dunianya, aku akan berusaha lebih banyak untuk mengirim mereka kembali pulang." Zhi berkata mantap.


"Menurutmu, kapan kita akan berangkat?" Rui terlihat bersemangat dengan perjalanan baru ini.


Win dan Zhi saling menatap, "Menunggu Tuan Muda Ale puas menatap wajah Nona Chuntian."


Aku nyaris tertawa, tapi Tuan Muda Ale hanya menyunggingkan senyum tipis, terlihat tidak peduli dengan candaan ini.


"Sepertinya aku juga harus ikut mencari telur naga bersama kalian."


Suara indah yang begitu lembut mendadak menyapa telinga kami. Ucapan pendek itu sukses membuat hatiku bergetar karena suaranya yang begitu anggun.


Kami serempak menoleh ke belakang.


Sepertinya, Nona Chuntian sudah mendengar pembicaraan kami sejak tadi. Langkah kakinya yang anggun mendekati tempat kami berkumpul.


Tuan Muda Ale langsung berdiri dan menuntunnya untuk duduk bersama, "Kau masih lemah, Chuntian. Kenapa memaksakan untuk keluar dari paviliunmu?"


Chuntian tersenyum lebih lebar, "Aku mendengar kalian membicarakan telur naga. Dan merencanakan untuk pergi mencarinya. Ale, kau sungguh berpikir bisa meninggalkanku lagi?" wajahnya cemberut, terlihat menggemaskan sekali.


"Tapi ayahmu—"


"Padahal kau tahu, aku memiliki binatang spiritual yang berwujud Naga Emas. Sementara Naga Biru yang kalian cari ini, kultivasinya berada begitu jauh dari binatang spiritualku.


"Ingin menembus formasinya, kalian akan mengorbankan ribuan tahun kultivasi kalian tanpa bantuan kekuatan Naga Emas milikku. Jadi, jika kalian menyayangkan kekuatan besar kalian, lebih baik mengandalkan binatang sihirku saja.


Nona Chuntian tersenyum puas melihat ekspresi ketakutan kami setelah mendengar cerita darinya.


Sepertinya ini adalah cara yang lebih aman. Kita bisa menghemat energi untuk melawan anak-anak naga biru di sepanjang jalur gua.


"Jinlong!" Chuntian berseru dengan suara lembutnya.


Sesosok manusia bertubuh gagah dengan ketampanan tiada tara muncul di sampingnya.


Aku dan Rui terkesiap. Ternyata binatang sihir Nona Chuntian sudah memperoleh wujud manusianya lebih cepat dari milik siapapun.


Win bahkan barus memperoleh wujud manusianya setelah tuannya meninggal dan mengorbankan tubuhnya.


"Jinlong, apa kau merindukanku?" Chuntian tersenyum.


"Tuan, aku senang kau akhirnya beranjak dari tempat tidurmu!" Jinlong tertawa dengan riang.


Wajahnya kini terpaku pada kami yang duduk di sekeliling tuannya. Lalu berhenti tepat di tempat Tuan Muda Ale.


Jinlong langsung berlutut, "Terima kasih Tuan Muda sudah datang untuk tuanku!"


Tuan Muda Ale menepuk kepalanya, lalu Jinlong berdiri. Mereka tampaknya sudah saling mengenal juga.


"Jinlong, tuan ini bernama Win. Dia adalah salah satu dari Para Penjaga Pintu yang sebelumnya sudah sangat kamu kagumi. Di sampingnya, Nona Zhi, adalah adik dari tabib terhebat di dunia. Anak-anak perempuan ini bernama Jian dan Rui. Mereka seorang Pelintas Dimensi. Kau perkenalkan dirimu pada mereka dulu."


Jinlong tersenyum ke arah kami, "Namaku Jinlong," dia berseru dengan ekspresi senang.


"Jinlong. Tuan-tuan ini, akan pergi ke Gua Terpencil untuk mencari Naga Biru. Mereka membutuhkan bantuan kita. Aku memberimu waktu lima hari untuk berkultivasi lagi. Setelah kultivasimu selesai, datanglah lagi di tempat ini, apakah kau bisa?"


Jinlong mengangguk-angguk, "Kalau begitu, aku akan mulai bermeditasi sekarang!"


Kami semua begitu berutang budi pada Nona Chuntian yang baik hati ini.


"Terima kasih, Nona. Kau sudah mempermudah urusan kami. Aku mewakili semua warga Kota Pubu berterima kasih padamu." Win menunduk memberi hormat.


Chuntian tersenyum, "Kudengar, kalian tahu tentang mantra tidurku ini. Barulah kalian membuat rencana sayembara itu untuk membuatku bangun. Jodohku dengan Ale masih tersambung, barulah kami bertemu kembali. Akulah yang harus berterima kasih. Anggap saja aku sedang membalas utang budi.


"Kudengar salah satu teman kalian sedang sekarat. Makanya datang ke kediaman Wali Kota Luse untuk membeli beberapa jumput tumbuhan langka yang ada di halaman paviliunku ini. Semoga dengan bantuanku yang satu ini, teman kalian itu bisa kembali hidup tanpa kurang sehelai rambut pun."


Win tersenyum lega. Neo mendadak muncul begitu saja. Ekornya yang mungil bergerak-gerak seperti seekor anak anjing.


Dia menundukkan kepalanya di depan Chuntian. Sepertinya Neo masih tahu terima kasih.


Kami tertawa dengan tingkah bayi serigala Neo yang menggemaskan ini.


"Tuan Win. Kenapa binatang spiritualmu begitu kecil? Padahal usiamu sudah ribuan tahun." Tuan Muda Ale bertanya lagi setelah tidak tahan tertawa.


"Ah, iya. Dia sudah terlalu tua, aku memperbarui sistem umurnya lagi," Win menjawab asal.


"Tapi bayi serigala ini tidak akan membantu banyak saat kita masuk ke Gua Terpencil nanti. Bukankah hanya akan merepotkan saja? Binatang magis sangat dibutuhkan di sini. Aku akan membantumu membuat serigalamu menjadi lebih besar lagi sedikit." Tuan Muda Ale mengangkat tangannya, telunjuknya sudah dialiri cahaya kuning.


Kaki depan Neo lebih dulu terangkat ke depan, itu adalah kekuatan yang besar. Menumbangkan sebuah pohon besar di belakang Tuan Muda Ale.


Pemuda bergelar Penyihir Dari Langit ini terbelalak kaget, "Bayi serigala sepertimu, ternyata memiliki kekuatan yang cukup mencengangkan!"


"Tentu saja, Tuan Muda. Meskipun wujudnya sekarang hanya seekor bayi serigala, tapi kekuatannya setara dengan kekuatan serigala berusia ribuan tahun,"


Aku dan Rui terkekeh, Neo sangat mengejutkan. Sepertinya itu kekuatan kartu emas yang sudah melekat dengan jiwanya.


"Ale, kita cukupkan dulu bincang-bincang ini. Kita belum berbicara berdua dengan leluasa. Mari bicarakan pernikahan kita dulu, kau bisa mendatangi ayahku untuk melamar besok pagi." Chuntian menggandeng tangan Tuan Muda Ale dengan manja.


"Chuntian, bukankah terlalu cepat? Kita diskusikan nanti saja setelah pulang dari Gua Terpencil, bagaimana?" Tuan Muda Ale memasang wajah memelas.


"Tidak bisa! Kau mau ke mana lagi? Aku mengorbankan hidupku selama seratus hari demi hari ini. Tapi kau ..., kau menundanya? Apa yang akan dikatakan langit padaku nanti?" Chuntian marah besar.


Kami berempat tertawa mendengar pertengkaran manja sepasang kekasih ini.


"Kalau begitu, kami tidak akan mengganggu lagi!" Win berdiri, lalu berniat pergi dari halaman Paviliun Bunga Musim Semi untuk beristirahat di paviliun yang sudah disediakan untuk kami,


Biarkan mereka berbincang berdua dengan leluasa.