Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Badai Salju Kedua



Kali ini, perjalanan kami tidak seburuk yang kemarin, meski di atas kami adalah bukit landai dengan batuan es yang runcing, tapi cuaca tidak buruk dan cukup cerah untuk melanjutkan sisa pendakian.


Kami bisa terbang agar lebih cepat sampai ke puncak dan menemukan Lilin Keabadian.


"Makan jatah sarapanmu, Rui," aku memberikan satu tusuk daging panggang rusa yang sama seperti semalam. Tentu saja yang ini baru dipanggang.


"Terima kasih, Jian," Rui menerimanya.


"Jian, kamu tahu tidak, kemarin itu kamu ...," Rui tidak melanjutkan kalimatnya lagi setelah aku melontarkan tatapan tajam padanya.


Aku tahu maksud Rui apa. Kami berdua menatap Neo yang duduk di depan api unggun, asik memakan jatah sarapannya.


"Jian, kamu menyadarinya?" Rui langsung mendekatiku, tatapan matanya berbinar penasaran.


"Eh, menyadari tentang apa?" aku langsung memasang wajah polos, membuat Rui mendengus kesal.


"Itu, loh ...," Rui semakin mendekat, "Saat badai reda, kamu terjatuh, dan Neo menangkapmu seperti menangkap seorang putri yang terjatuh dari ketinggian, itu akan menjadi sangat romantis jika diiringi dengan lagu romantis, Jian," Rui membisikkannya di telingaku.


Pipiku terasa memanas, aku langsung menjauhkan diri dari Rui, "Kamu jangan bicara omong kosong, Rui," aku memarahinya.


"Eh, tapi itu bukan omong kosong, itu sungguhan terjadi padamu dan dia, Jian. Kamu tidak bisa menganggapnya omong kosong bahkan jika aku tidak punya buktinya," Rui menyanggah, kembali mendekatkan kepalanya padaku.


"Sudahlah, lupakan saja, aku tidak ingin tahu lebih jauh," aku berucap datar.


"Kalau kamu tidak percaya, silakan tanyakan sendiri saja," Rui malah tersenyum jahil dan melanjutkan kalimatnya.


"Tidak perlu, aku tidak ingin."


"Memangnya kamu tidak ingin berterima kasih?" Rui bertanya lagi, kali ini dia menghilangkan nada jahilnya.


Aku terdiam, teringat semalam saat Neo bertanya aku berterima kasih untuk apa, saat itu aku memang berterima kasih padanya, tapi bukan untuk hal itu. Eh, mungkinkah Neo berharap aku berterima kasih untuk itu?


Kami mulai terbang setelah selesai makan. Aku menatap ke bawah, hamparan es runcing yang berukuran besar tampak indah ketika terpantul cahaya matahari. Seakan berkelap-kelip mengikuti irama angin salju.


"Menurut kalian, seperti apa tempat untuk menemukan Lilin Keabadian itu?" Neo bertanya.


Aku dan Rui mengangkat bahu.


"Mungkin itu seperti suatu tempat seperti Akademi Dixia?" Rui menjawab asal.


"Sepertinya tidak mungkin."


...----------------...


Kami tiba di puncak tepat pukul dua belas siang, puncak gunung ini, hanya hamparan salju landai saja. Tidak ada tempat khusus yang mungkin digunakan untuk menyimpan benda pusaka kedua.


"Neo, perlihatkan padaku petanya," aku menjulurkan tangan, Neo menyerahkannya.


Begitu melihatnya, seketika membuatku mengernyit heran, peta ini berbeda dari peta yang diberikan Ratu Hudie.


Peta ini berwarna putih polos seperti warna hamparan salju di bawah kaki kami. Tanpa ada gambar atau tulisan apapun di dalamnya.


"Neo, Zhi bilang ini peta yang bisa menunjukkan lokasi Lilin Keabadian itu?" aku menyerahkannya lagi pada Neo, "Aku tidak bisa melihat apapun di sana," dengusku.


Neo nyengir lebar, lalu menggulungnya lagi, dia memintaku dan Rui untuk mendekat dengannya.


"Kamu mau apa?" aku menatapnya malas.


"Agar kalian bisa membaca petanya, aku perlu menambahkan mantra tertentu ke dalam mata kalian," Neo berdiri satu langkah tepat di depanku, matanya menyorot lurus bola mataku.


Bola mata Neo berubah menjadi kebiruan, aku seakan terhipnotis dengan sendirinya ketika aku melakukan kontak mata langsung dengan Neo.


"Coba kamu perhatikan lagi petanya, Jian," Neo menyerahkan lagi gulungan petanya padaku.


"Giliranmu, Rui," Neo melakukan hal yang sama pada Rui.


Itu membuatku penasaran, "Neo, apakah kamu juga bertatapan seperti itu dengan Zhi saat pertama kali menerima petanya?" tanyaku.


Neo mengangkat bahu, "Memangnya kenapa? Kamu cemburu?"


Aku langsung terdiam, malas sekali menanggapi orang dengan tingkat kepercayaan diri yang terlalu tinggi.


"Menurut peta, kita harus pergi ke arah timur, Jian, Neo," Rui menceletuk, menunjuk tulisan di atas peta itu.


Kami segera mendekatinya, menatap peta bersama-sama. Lalu berjalan menuju arah timur seperti yang dikatakan di peta.


Setelah satu jam, kami tetap tidak tahu apa tujuan kami menuju ke arah timur. Karena bukannya terdapat suatu tempat yang mungkin seperti yang peta katakan, di depan kami hanya ada hamparan salju tak berujung, kami tidak menemukan apapun hingga memutuskan untuk tetap berjalan ke arah timur.


"Mungkin kita melupakan sesuatu, Neo," Rui dengan sabar memerimsa kembali petanya.


Tapi tidak terlihat kami melupakan sesuatu, arah kami sudah benar, dan peta tidak menunjukkan tulisan lain selain terus menuju timur.


"Dasar bodoh!" Neo merebut petanya dari tangan Rui.


Rui mematung sejenak, dia merasa dirinya tidak melakukan kesalahan apapun, tapi Neo mengatainya bodoh dengan nada membentak. Itu cukup untuk menyakiti hatinya.


"Kamu tidak apa-apa, Rui?" aku memeluk pundaknya yang bergetar.


Rui tidak menjawab pertanyaanku, matanya menyorot Neo dengan tajam, tapi laki-laki tak tahu diri itu tidak menyadarinya dan hanya fokus memahami isi peta.


Rui merampas peta dari Neo, lalu membuangnya sembarangan, tangannya yang terkepal meninju rahang Neo dengan telak.


Melihat teman satu timnya melakukan itu, Neo melotot todak terima, "Kau ini kenapa?!"


"Kamu bilang kau?" Rui membentaknya dengan mata berembun.


"Saat seseorang sedang putus asa, kamu pikir benar dengan mengatainya bodoh?" Rui bertanya dengan nada datar.


Temanku itu, tidak memiliki bakat yang cukup baik untuk marah-marah pada seseorang. Dia lebih suka mengucapkan kalimat-kalimat yang menusuk hati untuk membuat lawan bicara kapok membuatnya kesal lagi.


"Meski tidak pernah mengatakannya, aku tahu kamu selalu menganggapku yang paling lemah di antara kita, Neo. Kamu tidak memedulikanku saat aku terluka, kamu tidak ...," Rui menghentikan kalimatnya, air matanya tak mampu terbendung lagi, meluncur deras membasahi pipi, "Kamu tidak ...," Rui menunduk, "Lupakan saja, bagaimanapun mengatakannya, kamu selalu tidak bisa menjaga hati seseorang," Rui mengembuskan napas. Berbalik kembali menuju ke barat, ke titik kami semula.


"Rui!" aku berseru, hendak mengejarnya, tapi Rui melemparkan penghalang agar aku tidak bisa mengejarnya.


"Neo, apa yang kamu lakukan? Membuatnya marah?" aku mendorong bahu Neo, merasa cukup kesal karena dia tidak bertindak sedikitpun melihat Rui meninggalkan kami.


"Dia saja yang berlebihan, Jian. Kenapa harus marah hanya karena aku mengatainya bodoh?" Neo malah balas membentakku. Terus berjalan ke arah timur.


Bagaimana ini? Kenapa tim kami terpisah begitu saja? Hanya karena masalah kecil yang tidak seharusnya menjadi besar.


"Neo!" aku mengejarnya, aku tidak bisa membiarkan kedua temanku bertengkar di masa-masa seperti ini. Kami harus tetap bersama agar bisa kembali ke dunia kami.


"Neo, kamu harus ingat, berpencar tidak akan membuat kita menemukan benda pusaka berikutnya! Pikirkan itu, Neo! Kembalilah!" aku berseru parau, Neo masih tidak mendengarkanku.


Aku terdiam cukup lama, dua orang yang telah lama berada di sampingku kini memilih jalan yang berbeda. Aku mengembuskan napas pelan, memungut peta yang ditinggalkan Rui dan Neo.


Aku menggeram gemas, gara-gara peta ini, teman-temanku jadi bertengkar.


"Berjalan menuju timur."


Aku menatap tulisan hampa itu, tidak ada gambar, tidak ada petunjuk lain, hanya tulisan itu saja.


Tapi sesaat setelah memperhatikan dengan cukup konsentrasi, aku menemukan sesuatu yang lain.


"Badai Salju Kedua."


Apa maksudnya itu? Mana badai salju pertama?


Aku teringat bagaimana kami bertengkar saat mendaki kemarin, itu adalah pertengkaran kecil yang terjadi di antara kami.


Saat aku meminta untuk beristirahat karena Rui kelelahan, Neo menolak dan mengatakan...


"Kamu pikir hanya dia yang perlu istirahat? Aku juga sama lelahnya, tapi kita harus terus mendaki sampai menemukan tempat yang aman untuk beristirahat!"


Neo, itu pasti menyakiti hati Rui juga. Saat itu Rui tidak mengatakan apapun karena tubuhnya sudah sangat lelah. Saat itulah badai salju pertama muncul.


Tapi kali ini, Neo mengatainya bodoh, Rui tidak bisa menahannya lagi, memutuskan untuk benar-benar meninggalkanku dan Neo.


Apakah, badai salju kedua itu akan datang setelah ini?


Belum selesai aku berpikir, langit di atas bergemuruh kencang, menerbangkan salju ke mana-mana. Aku segera menancapkan tongkat sihirku di tanah dan menggenggamnya erat, tubuhku hampir saja terbawa angin.


"Neo, hati-hati!" aku berseru kencang, Neo menoleh ke belakang, aku tidak bisa melihat wajahnya lagi, badai salju menutupi penglihatanku.


Aku tidak bisa diam saja begini, teman-temanku bisa berada dalam bahaya jika tidak segera kutolong.


Aku melompat ke udara, berkonsentrasi penuh sambil menjaga agar tubuhku tidak terseret angin. Sekarang aku sudah menguasai mantranya berkat pelajaran singkat dari Neo.


Jika saat itu dia tidak membantuku, mungkin aku tidak akan bisa melakukannya sendiri kali ini. Aku akan berterima kasih sekali lagi padanya nanti.


Aku mengangkat tongkat sihirku tinggi-tinggi, menjaga konsentrasi sekaligus menjaga kuda-kuda di atas angin ini. Badai mulai mengelilingiku, aku tidak bisa melihat apapun selain angin salju.


Aku berteriak kencang, menebaskan kedua tanganku ke samping, badai itu pecah seperti badai sebelumnya. Tapi tanpa bantuan Neo, badai itu tidak sepenuhnya hilang. Aku terjun bebas ke bawah, aku memejamkan mata, semoga saja tubuhku tidak jatuh di antara bebatuan tebing yang kasar itu.