Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Petanya!



Tanah yang kami pijak mendadak bergetar hebat, seperti ada gempa bumi besar yang melanda labirin ini.


"Apakah getaran ini adalah titik merah yang sedang lewat?" Rui bertanya ketakutan.


Neo mengangkat bahu, "Boleh jadi iya, boleh jadi juga tidak, Rui. Boleh jadi ini gempa bumi labirin, getarannya hanya sebatas getaran kecil di beberapa petak saja."


Aku mendengus, jelas sekali dia hanya mengarang jawaban, memangnya ada gempa bumi labirin?


"Eh, Neo. Binatang apa yang ada di depan sana?" aku menyikut lengannya sambil berbisik.


"Aku juga tidak tahu, jadi, mari kita mengintip," Neo melongokkan kepalanya keluar.


Aku dan Rui ikut melongok. Titik merah akan segera muncul dari tikungan di depan kami. Dan kami benar-benar terkejut karena titik merah itu tidak menuju jalan kami sebelumnya.


Tapi menuju ke arah kami!


Kami bertiga langsung bersembunyi di sudut petak, getaran semakin terasa nyata begitu titik merah itu mendekati kami.


Aku menahan napas, jika dia melihat tiga manusia di sudut petak buntu ini, aku tidak tahu apakah kami benar-benar bisa selamat dari sini atau tidak.


"Woahh!" Neo berseru takjub.


Aku langsung menutup mulutnya, "Kita ini sedang bersembunyi. Bagaimana mungkin kamu bisa berseru seperti itu? Bagaimana kalau titik merah itu mendengarnya?" aku melotot protes.


Neo menyingkirkan tanganku dari mulutnya, "Tenang saja, Jian. Serigala itu sudah pergi!" Neo dengan santai melangkah keluar dari persembunyian kami.


"Hei!" aku meneriakinya.


"Cepat, Jian! Kita harus segera menuju jalan yang benar! Serigala itu cepat atau lambat akan berbalik lagi. Jalan di sana buntu!" Neo balas meneriaki kami.


Rui menarik lenganku berlari dan segera menyusul Neo, "Dia benar, sebaiknya kita segera pergi, Jian."


Kami menyusul Neo, dan benar saja, serigala itu kembali lagi hanya dalam beberapa detik. Aku segera mempercepat lariku, kami bertiga berbelok, serigala itu berlari lurus, sepertinya benar-benar tidak menyadari kami.


Aku mengembuskan napas lega. Duduk menjeplak di hamparan salju, lalu berbaring sambil mengatur napas. Di atas sana gelap, ada lapisan bercahaya tipis di atas labirin ini.


"Apakah kita sudah aman?" Rui melongok lagi, serigala itu sudah jauh sekali.


Hening sejenak.


"Hoaaeemm!" Neo menguap.


Aku dan Rui langsung menatapnya heran, apa dia sungguhan mengantuk?


"Kupikir, ini baru pukul delapan malam, iya kan?" Rui menyikut lenganku, aku mengangkat bahu.


"Kita lanjutkan dulu perjalanan kita. Untuk menghindari terlalu lelah, kita naik tongkat saja," Neo berdiri di atas tongkatnya dan mulai melayang terbang.


Aku dan Rui saling tatap, "Kalau begitu, kita tidak perlu capek-capek berlari menghindar dari beruang dan serigala tadi," aku bersungut-sungut.


Neo tertawa, "Kalian terlalu bodoh, tak berpendirian, selalu bergantung hidup padaku," celetuknya.


Aku dan Rui menyusulnya tanpa mengatakan apapun. Meski candaannya selalu kelewatan, yang Neo ucapkan memang hal benar, kami bodoh dan hanya bisa mengandalkan Neo dalam hal apapun.


Batas.


Kami memutuskan untuk beristirahat setelah lima jam berjalan. Aku mengingatkan Neo tentang ramuan obatnya lagi, dia selalu melupakannya setiap hari.


Kali ini aku yang berjaga lebih awal. Untuk mengusir rasa bosan, aku memutuskan untuk mempelajari peta labirin ini. Dari atas, jalur-jalur labirin ini terlihat sangat rumit.


Banyak jalur yang menuju jalan buntu, dan titik merah tersebar di segala arah. Aku meminjam bolpoin milik Neo dari kantong kecilnya.


Aku menandai jalur yang benar, dan tempat-tempat persembunyian dari titik merah. Setelah diperhatikan, lebih banyak titik yang tak bergerak daripada yang bergerak.


Mungkinkah yang tidak bergerak itu adalah jebakan? Atau hanya rintangan kecil saja? Dan sesuatu apalagi titik-titik merah yang bergerak ini?


Aku benar-benar tidak bisa berpikir dengan tenang selama masih ada banyak titik merah di sekitar kami. Entah itu jauh atau dekat, semuanya tetap mengerikan.


Aku menelusuri jalur menuju tengah labirin menggunakan bolpoin milik Neo. Aku juga menghitung jumlah titik merah yang akan kami lewati sepanjang jalan, ada sekitar lima titik merah lagi. Sisanya berada di jalur yang berbeda, dan berada cukup jauh dari jalur kami.


Dua titik adalah titik yang bergerak, aku memperkirakan salah satu titik bergerak ini akan tiba di tempat kami besok pagi. Aku akan membangunkan mereka sebelum titik merah itu tiba, dan bergerak setelah dia melewati kami.


Setelah besok pagi, hanya tersisa empat titik merah di jalur kami. Satu titik bergerak tersisa berada di ujung perjalanan, mungkin kami baru bertemu dengannya setelah melewati dua titik merah tak bergerak.


Aku mengembuskan napas panjang, perjalanan kami sangat rumit. Aku berpikir tentang bagaimana kami keluar dari labirin ini setelah berhasil mendapatkan Lilin Keabadian?


Atau pertanyaan yang lebih tepat, bisakah kami keluar dari sini? Karena mencari jalan keluar terdengar sangat sulit.


Batas.


Rui membangunkanku pukul enam pagi—menurut Rui itu jam enam pagi. Neo menguap lebar, menenggak air, aku mengingatkannya agar tidak minum terlalu banyak, kami harus menghemat perbekalan kami.


"Omong-omong, akan ada satu titik merah yang melewati tempat ini, jaraknya sekitar ...," aku membuka peta yang semalam kucoret-coret itu, "Sekitar sepuluh menit lagi mungkin."


Neo mendengus, "Kenapa tidak katakan sejak tadi?" Neo melotot kesal, dia merasa lapar, tapi bangun tidur langsung diingatkan tentang titik merah yang bergerak ke arah kami. Neo terlihat kesal sekali.


"Kumpulkan dulu nyawamu, Neo. Kamu harus tahu kalau kita sudah di tempat yang aman. Hanya perlu menunggu sesuatu itu melewati kita, setelah itu baru kita lanjutkan perjalanan lagi," aku memberinya satu penggal roti tawar, Neo mengambilnya dan langsung menyantapnya habis.


"Kamu mencoret-coret peta kita, Jian?" Neo menatap peta itu, ada garis bolpoin menuju titik tengah labirin ini. Itu memang aku yang membuatnya semalam.


Aku mengangguk, "Itu mempermudah perjalanan kita, Neo. Jadi kita tidak perlu berpikir dan membuka peta lagi setiap bertemu persimpangan, hanya perlu mengikuti garis itu saja," aku juga menjelaskan tentang lima titik merah yang akan kami lewati itu. Salah satunya sedang menuju ke arah kami.


"Apakah dia tidak akan tahu keberadaan kita, Jian?" Rui menyikut lenganku.


Aku mengangkat bahu, "Tapi kemungkinan besar, kita tidak akan ketahuan, Rui. Kamu tenang saja," aku tersenyum menenangkannya.


"Lihatlah, titik merahnya sebentar lagi lewat!" Neo menunjuk petanya. Aku dan Rui ikut menoleh, titik merah itu memang sudah mendekat, sisa dua tikungan lagi untuk melewati jalur kami.


Kami bertiga kembali mengintip dari balik dinding es raksasa ini. Sesuatu itu melesat sangat cepat, kami tidak bisa melihat wujudnya, hanya melihat asap mengepul dan angin kencang yang dibawanya.


"Apakah itu hewan?" Rui melongok dengan mata membulat.


"Hewan apa yang berlari begitu cepat?" aku menatap asap mengepul yang semakin menjauh itu.


"Mungkin rusa kutub," Neo menceletuk, dia sedang menulis di buku kecilnya.


"Memangnya rusa kutub bisa berlari secepat itu?" Rui tampak tidak percaya.


"Kalau tidak bisa lari cepat, kenapa Santa Claus memilih rusa untuk mengantarkannya membagikan hadiah natal kepada anak-anak?" Neo terus memberikan jawaban dengan teka-teki anehnya meski tangannya sibuk menulis.


Rui menatapku, "Bukankah rusa kutub milik Santa itu terbang, ya?"


Neo langsung terdiam, "Aku tidak merayakan natal, jadi aku tidak tahu kalau rusa bisa terbang," Neo menjawab malas, "Lagipula di dunia nyata, rusa memang berlari cepat, kan?"


Aku mengangguk-angguk, "Lupakan saja, ayo kita segera bergerak. Di depan sana, ada satu titik merah yang tidak bergerak. Kita harus bersiap-siap, mungkin yang satu ini benar-benar harus bertarung."


Kami melesat terbang sekitar dua jam, satu tikungan lagi adalah titik merah itu. Karena berhadapan langsung, kami bersiap-siap menyerang jika harus menyerang.


Setelah berbelok, kami mematung sesaat. Ternyata titik merah di depan kami adalah kolam besar yang tidak terlihat kedalamannya. Mungkin itu lebih dalam dari tinggi badan kita.


"Rintangan apa ini? Hanya sebuah kolam kecil saja? Huh! Siapapun juga bisa melewatinya, bodoh!" Neo berdiri lagi di atas tongkatnya, melesat dengan santai di atas kolam dengan panjang sekitar sepuluh meter itu.


Byurr!!


Sesuatu tiba-tiba keluar dari dalam air dan menyambar tubuh Neo. Aku berseru kaget, bergerak refleks menggunakan sihirku untuk menarik Neo kembali.


Peta kami terjatuh ke dalam air, tongkat sihir Neo hampir terjatuh, tapi Neo sempat menangkapnya sebelum dirinya jatuh berdebam di sampingku.


Ya. Neo tidak sempat menangkap peta kami. Kami sudah kehilangan peta itu. Peta itu sudah hilang. Padahal kami masih sangat membutuhkannya.


Kami membatu, tubuh kami tak mampu bergerak, seakan semua harapan kami lenyap bersama peta itu.


Ratusan ekor buaya mendadak muncul dari dalam kolam. Sungguh mustahil untuk mendapatkan peta itu kembali.