
Neo sudah mengambil kuda-kuda kokoh untuk kembali mengeluarkan mantra pembeku. Orang-orang itu dengan santainya berjalan ke arah kami setelah selamat dari mantra pembeku Neo.
Orang-orang ini, tampak lebih ramah setelah Neo membekukannya dengan mantra sihir. Mungkinkah mereka mau minta maaf? Atau malah mempersilakan kami masuk?
"Tunggu dulu, Neo," aku segera menahan Neo yang bersiap menyerang, "Mungkin mereka tidak berniat menyerang."
Neo merubah pedangnya menjadi Pru yang asli, kemudian menghilangkannya. Dia memutuskan untuk melihat dulu apa yang akan mereka lakukan pada kami setelah kami resmi memenangkan pertarungan ini, meski mereka tidak mati.
"Selamat datang, Kawan!" salah satu dari mereka berseru. Dia sepertinya seorang pria yang cantik.
Jika diperhatikan, semuanya adalah pria, namun mereka berambut panjang, aku tidak melihatnya dengan jelas karena waktu itu malam hari dan tidak cukup terang.
Tapi kini aku dapat melihat semuanya dengan jelas. Mereka hanya tiga orang, namun saat bertarung tadi, mereka seperti banyak sekali. Mungkinkah yang lain benar-benar hancur setelah membeku dan ikut menguap bersama angin?
"Kami mengakui kehebatan sihir kalian. Tak kusangka yang satu itu ternyata bisa mengeluarkan mantra pembeku yang hanya dikuasai beberapa orang saja di Kota Pubu. Kalian adalah Kartu Putih yang berbakat," yang tadi mengucapkan selamat datang melanjutkan kalimatnya lagi.
"Hei, minimal sebelum memuji, mereka harus tahu nama kita dulu," teman di sampingnya menegur.
"Ah, baiklah," dia menggaruk tengkuknya, "Namaku Win, di sampingku Yest, sebelah Yest adalah Bim. Kami adalah Arwah Penjaga." Win memperkenalkan semua temannya.
Rui terlihat menelan ludah, "Mereka benar-benar hantu," bisiknya di telingaku.
"Kalian cukup tangguh juga. Apalagi wanita berambut hitam itu, dia seorang diri mengalahkan Bim hingga lari terbirit-birit," Yest tertawa renyah, Bim terlihat kesal dengan pujian Yest yang terkesan menyinggungnya itu.
"Jadi rubah itu sebenarnya kalian?" aku bertanya pelan. Pantas saja rubah itu sulit dikalahkan, ternyata dia hantu.
"Bukan kami, hanya Bim saja. Dia satu-satunya dari kami yang bisa menyamar menjadi apa saja dan menjadi sebanyak yang dia mau, dia juga memiliki keahlian sesuai bentuk yang dia pilih." Win tersenyum, kali ini Bim tersenyum lebar karena dipuji sedemikian rupa oleh Win. Jadi yang banyak itu juga hanya bayangan, ya? Seperti ratusan rubah yang menyerang kami waktu itu, Bim yang melakukannya, karena dia bisa menjadi banyak.
"Kalian ini, transgender, ya?" Neo tiba-tiba menceletuk, aku refleks menutup mulutnya dengan telapak tanganku sendiri, "Sebaiknya kamu diam saja!" aku bergumam geram.
"Tapi benar, kan? Kalian juga pasti bingung, mereka ini sebenarnya pria atau wanita? Kenapa cantik sekali? Tapi sekaligus terlihat gagah juga." Neo menyingkirkan telapak tanganku dari mulutnya, memaksa terus menceloteh.
Aku menepuk dahi. Haruskah dia mengatakan hal yang sangat tidak sopan itu? Sekalipun mereka benar-benar seperti yang Neo tanyakan, seharusnya jangan bertanya secara langsung. Aku hanya khawatir mereka—
"Ah, kebetulan kami jantan," jawaban Win membuat pikiranku berhenti.
Apa? Jantan?
"Jantan? Memangnya kalian serangga?" Neo terkekeh mengejek.
"Benar, kami jantan, tapi bukan serangga. Aku Serigala Gunung Salju. Yets adalah Ular Danau, dan Bim adalah Rubah Gurun, tapi dia bisa menjadi apa saja." Win dengan senang mengatakan kepada kami siapa saja teman-temannya.
Aku terkejut karena mereka bukan manusia. Tapi, arwah memang bisa menjadi apa saja, kan? Apa lagi ini dunia serba tidak masuk akal.
"Kenapa kalian bisa berwujud manusia?" Rui bertanya takut-takut.
"Karena kami entitas sihir. Begitu tuan kami mati, kami akan ikut mati, tapi berubah wujud menjadi roh yang mendiami tubuh tuan kami. Hutan ini adalah tempat semua entitas sihir yang berubah wujud menjadi roh tuannya ketika sudah mati. Kami memiliki tugas khusus di tempat ini, tidak bisa kembali ke alam setelah mati, tidak bisa kembali menjadi wujud asli kami, hanya bisa berdiam di sini menunggu ribuan tahun hingga tugas itu selesai." Yets menghela napas pelan.
Tugas itu pasti sulit sekali, mereka ternyata sudah lama sekali bergentayangan di hutan ini. Wajah mereka masih muda karena menjadi roh tuan mereka yang sudah mati.
"Silakan masuk, kalian sudah melewati tiga rintangan yang kami berikan sebagai Arwah Penjaga. Kalian sekarang adalah tamu kami. Jika boleh menebak, kalian pasti belum makan sejak semalam, karena sibuk melawan Meriam Berdentum Yets dan bertarung melawan kami," Win tersenyum ramah, membuka pintu kastil yang berwarna kelabu itu.
"Hei, bukankah kita barusaja memasuki kastil besar itu?" Rui berbisik di telingaku.
"Pintu dan gerbang itu hanya teknik kamuflase saja, Akademi Dixia yang sebenarnya ada di depan kalian. Sama sekali tidak menyeramkan seperti yang kalian lihat dari kejauhan," Win menjelaskan dengan senang hati.
"Apakah kalian punya banyak emas?" Neo bertanya asal.
Aku melotot, nyaris menimpuk kepalanya lagi. Tapi Win tampak tidak keberatan dengan Neo yang selalu bertingkah acak.
"Kami tidak punya emas, tapi satu potong keramik Akademi Dixia jika dijual, akan menghasilkan uang hingga jutaan keping," Win dengan semangat menjawab.
"Kalau begitu, apa aku boleh meminta sedikit? Hanya sebesar kuku jari saja." Neo nyengir lebar sambil menggosokkan kedua tangannya.
Aku memandang jijik, "Kamu norak sekali, Neo."
Neo tertawa, "Jika aku memiliki uang sebanyak itu, kamu pasti minjam kan, Jian? Kamu punya banyak utang di kantin, jangan melupakannya," Neo memasang wajah menyebalkan lagi. Dia selalu bisa membuatku kesal, itulah kenapa aku tidak pernah akur dengannya.
"Tapi Neo, maaf sekali, keramik Akademi Dixia tidak bisa diambil dengan mudah. Itu adalah batu mulia yang hanya ada di Tanah Dixia ini. Menggoresnya sedikit saja bahkan bisa membuatmu terpanggang petir merah. Kamu sanggup menahannya, Neo? Jika sanggup, kami akan membantumu melakukannya," Win tersenyum lebih lebar lagi.
Neo langsung memasang wajah masam, "Kupikir itu sepadan dengan yang akan dihasilkan. Tapi aku terlalu menyayangi nyawaku. Jutaan keping emas tidak bisa membayar bahkan satu hela napas ini. Aku tidak sanggup," Neo menggaruk tengkuknya.
Aku terpingkal pelan, bagus, Win! Aku berharap kami ikut saja dengan kami dalam perjalanan ini, jawaban telak dari mulutmu mungkin bisa membuatnya kapok berbicara.
"Tenang saja, Neo. Aku punya hadiah yang lebih menarik daripada keramik murahan," Win melambaikan tangan, mengajak kami masuk ke dalam.
Neo berseru tertahan, "Jian, bahkan dia menganggap remeh jutaan keping emas," bisiknya pelan.
"Diam, Neo," aku balas berbisik sambil mencubit perutnya, "Bicara sepatah kata lagi, aku berjanji akan menendangmu keluar!"
Neo langsung diam dan berjalan seakan tidak terjadi apa-apa, dia tidak tahu aku sudah berkali-kali menahan diri agar tidak menendangnya jauh. Dasar bodoh!
"Kalian beristirahatlah di kamar tamu sebentar, mandi, atau berbaring sejenak, aku tahu kalian lelah dan tidak tidur sejak semalam. Kami menunggu di sini satu jam kemudian untuk makan bersama," Win meminta Bim untuk mengantar kami ke kamar tamu.
Bim mengantar kami hingga depan lorong kamar tamu. Di Akademi Dixia, tidak ada asrama murid, karena semua murid di sini adalah arwah penasaran yang tidak tidur atau tidur ketika mau saja. Dan mereka bisa tidur di mana saja.
"Hei, menurutmu, apakah Bim itu bisu? Atau hanya malas bicara saja?" Neo berbisik-bisik dengan Rui.
Rui mengangkat bahu, "Mungkin dia memang pendiam, kulihat, mereka bertiga memiliki sifat yang berbeda. Win sangat cerewet, tapi Yets sangat dingin dan cuek, dan hanya bicara seperlunya saja. Dan Bim bahkan belum bicara sepatah katapun."
Aku diam memperhatikan mereka bicara.
"Itu bukan pendiam namanya, Rui. Yets yang pendiam karena bicara sepentingnya saja. Tapi Bim, dia mungkin benar-benar bisu," Neo membuka pintu yang terakhir.
By the way, Neo barusaja membuka seluruh pintu yang ada. Mungkin dia ingin memilih kamar mana yang lebih luas.
"Puh!" Neo mendengus lalu membuka pintu lain dengan asal.
"Kamu tidak jadi memilih, Neo?" aku tersenyum jahil. Pasti hasilnya mengecewakan.
"Semua kamarnya serupa. Tidak ada yang lebih keren. Memilih yang mana saja tidak masalah," Neo menutup pintu kamarnya dengan keras.