Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Win Menolak



Aku dan Rui sudah tiba di gerbang depan. Kami melihat tiga pria cantik itu sedang tertawa renyah. Mereka pasti memiliki sesuatu yang lucu sedang dibicarakan.


"Hai, Win, Yets, Bim!" aku menyapa dengan wajah cerah.


"Hai! Kalian menikmati jamuannya?" Win melambaikan tangan, menggeser pantatnya agar kami memiliki tempat duduk.


"Rui, duduklah," aku meminta Rui duduk di samping Win, dia pasti senang sekali, lihatlah saja wajahnya yang bersemu merah itu. Aku tersenyum menahan tawa.


"Apa yang kalian butuhkan?" Win bertanya pada Rui yang kini duduk di sebelahnya.


Rui gelagapan hingga nyaris tersedak air liurnya sendiri, "Eh, itu, Jian memintaku menemaninya, jadi aku tidak tahu dia butuh apa."


Aku menepuk dahi, kenapa dia payah sekali? Sudah kuberikan kesempatan, kenapa dia melewatkannya begitu saja?


"Baiklah, Win, sebenarnya aku memiliki sesuatu yang cukup besar hingga membutuhkan bantuan kalian. Tapi, bisakah kalian rahasiakan ini? Aku akan menceritakan sesuatu yang sulit dipercayai kalian," aku menghela napas, berharap Win akan menyetujuinya dan memercayai ceritaku, bahwa kami berasal dari dunia lain.


"Apa itu?" Win bertanya antusias.


"Sebenarnya kami memiliki tujuan tertentu untuk datang ke tempat ini, Win." aku memulai ceritaku, "Bahwa kami berasal dari dunia lain, kami tersesat dan ingin pulang, Ratu Hudie mengatakan kalau kami harus mencari tiga benda pusaka untuk menemukan jalan pulang. Salah satunya adalah pusaka milik kalian," aku menunduk dalam.


Win saling menatap dengan dua teman lainnya. Mereka pasti tidak memercayai perkataanku sama sekali. Bagaimanapun, itu tetap terdengar tidak masuk akal.


"Sepertinya sedikit sulit, Kawan," Yets yang menjawab, pria tinggi gagah itu memasang wajah datar. Aku jadi ragu dia akan memberikan pusaka itu kepada kami.


Aku menunduk, sungguh tidak bisa mengharapkan apapun lagi, kami harus mencari cara lain agar mereka mengizinkan kami meminjam benda pusaka Akademi Dixia.


Rui terlihat putus asa, dia menyentuh tangan Win dengan lembut, "Win, aku mohon izinkan kami meminjamnya sebentar, kami membutuhkan benda itu untuk pulang. Aku, aku sudah sangat merindukan orang tuaku ...," Rui menahan tangisnya.


Aku ikut merasakan sedih itu, kami bertiga adalah remaja yang tersesat di dunia lain, kami memiliki keluarga di rumah, tidak bisa terus berkeliaran di Kota Pubu selamanya.


"Aku pernah mendengar tentang pelintas dimensi sebelumnya, jadi kamu tidak perlu merahasiakan itu" Win berkata pelan, "Sejujurnya kalau aku boleh bercerita sedikit, tuanku adalah seorang pelintas dimensi. Dia bilang datang dari dunia yang berbeda jauh dengan Kota Pubu," Win bercerita.


"Tuanmu adalah pelintas dimensi seperti kami?" Rui sejenak melupakan nasib kami yang menyedihkan ini.


"Tuanku bernama Xing Xing. Dia tiba di Kota Pubu sekitar seribu tahun yang lalu, dia tidak terkejut bertemu dunia aneh ini, dia bilang negaranya tidak jauh berbeda dengan Kota Pubu, mereka juga memiliki keahlian dalam sihir, kebanyakan dari mereka menggunakan pedang sebagai senjata. Saat datang ke sini, dia langsung menguasai teknik memanggil entitas sihir, aku menjadi binatang spiritualnya selama ratusan tahun hingga akhirnya dia meninggal," ungkap Win.


"Win, apakah tuanmu tidak pulang kembali ke dunianya?" mendengarnya cerita Win, sepertinya Xing Xing datang ke Kota Pubu pada masa kekaisaran China, dilihat dari nama dan latar dunianya, mirip dengan komik kolosal China yang sering aku baca saat jam pelajaran kosong.


"Sayangnya, tuanku terlalu termakan obsesi. Dia tidak bisa mengumpulkan tiga benda pusaka. Dia pernah hampir mati tiga kali karena berusaha mengumpulkan tiga benda pusaka demi kembali pulang, tapi dia akhirnya mati di tempat ini," Win menunduk.


"Jadi, Win, apa kamu khawatir nasib kami akan seperti tuanmu?" Rui yang sepertinya mengerti maksud cerita Win akhirnya memutuskan bertanya.


"Benar," Yets yang menjawab, "Mengambil tiga benda pusaka dari tempatnya bukan hal yang mudah. Harus memiliki hati yang tulus dan pengorbanan yang besar. Sedangkan hati manusia selalu dipenuhi obsesi dan rasa benci. Aku tidak bisa membantu kalian jika kalian tetap memaksa meminjamnya," ini pertama kalinya aku mendengar Yets berbicara begitu banyak.


Mungkin Yets benar, setiap manusia selalu memiliki penyesalan di hatinya, penyesalan itu menimbulkan rasa benci, dan setiap manusia selalu memiliki obsesi terhadap sesuatu. Saat kami putus asa tidak bisa pulang, kami bisa saja nekat berjalan sendiri demi obsesi itu. Ya Tuhan, apa yang harus kami lakukan?


"Jian, Rui. Bukannya aku meragukan ketulusan kalian, aku sudah melihatnya secara langsung, Neo terjatuh di antara kawanan rubah demi menyelamatkan Rui. Jian mempertaruhkan nyawa melawan Bim sendirian demi kedua temannya. Kalian bertiga saling membantu dan melindungi saat bertarung melawan kami di depan gerbang, kami tahu hati kalian tulus saling melindungi satu sama lain. Tapi kami tidak bisa membiarkan kalian melakukannya." Win menatap kami satu-persatu.


"Kenapa, Win?" Rui bertanya dengan manik berembun, dia pasti ingin menangis saja jika kami benar-benar tidak bisa pulang.


"Kami tidak bisa membiarkan kalian celaka," Yets yang menjawab dengan wajah datarnya.


"Selama ribuan tahun, ada banyak pelintas dimensi yang tercatat dalam sejarah kota. Dan tidak ada satupun dari mereka berhasil mengumpulkan tiga benda pusaka. Aku tidak mau kalian bergabung bersama para pelintas dimensi itu," Win menjelaskan maksud Yets.


Aku dan Rui saling tatap, "Kenapa harus seperti ini?"


"Win, bisakah kamu mengizinkan kami sekali saja? Kami berjanji tidak akan menyalahgunakan benda itu, kami hanya ingin berupaya menemukan jalan pulang. Bisakah kalian mengizinkannya saja?" Rui menunduk lagi, kalimatnya kini bergetar karena perasaan sedih yang mendalam.


Mereka bertiga saling tatap, seperti mendiskusikan sesuatu yang berat. Ini memang bukan hal mudah. Neo salah karena menebak pertemuan ini akan berjalan lancar, kami bahkan harus memohon sambil menangis dulu agar Win dan Yets mau menunjukkan belas kasihannya.


"Baiklah, Teman-teman," Win tersenyum lebar, "Kami akan membantu kalian mendapatkan pusaka ajaib kami," disusul senyuman lebar Yets dan Bim.


Aku dan Rui langsung membulatkan mata saking senangnya, "Benarkah?"


"Tentu saja, tapi aku harus mengumpulkan semua teman-temanku dulu, karena pusaka itu adalah milik seluruh Akademi Dixia, kami harus meminta pendapat semua orang, apa kalian keberatan? Tenang saja, jika ada yang tidak setuju, kami akan membujuk mereka," jelas Win.


"Apakah harus begitu?" Rui lebih dulu keberatan sebelum aku mengangguk, "Bukankah sulit mencapai kesepakatan bersama? Apalagi ada banyak sekali orang di Akademi Dixia."


"Tidak apa-apa, Rui. Selagi kita memintanya dengan sopan, mereka akan memahami apa yang kita butuhkan," aku tersenyum memegang pundak Rui.


"Jian, tapi aku takut kita benar-benar tidak bisa pulang," Rui menunduk.


Saat itulah, Win langsung merangkul pundaknya, "Jangan khawatir, Rui, aku akan membantumu bagaimanapun caranya. Aku tahu rasanya hidup jauh dari orang tua, kalian masih anak-anak usia belasan tahun, tentu saja hal yang kalian alami ini sangat berat bagi kalian.


"Kalian datanglah ke aula sore nanti, ya? Aku akan mengumpulkan teman-temanku yang lain."


Kami kembali ke kamar kami, Neo masuk dan bergabung bersama kami, bertanya bagaimana hasil pertemuannya.


"Di awal sedikit rumit. Nyaris tidak berhasil. Tapi akhirnya mereka menyetujuinya, tapi harus mencapai kesepakatan bersama dari semua hantu yang menghuni Akademi Dixia," aku menghela napas.


Neo terdiam lama, "Baguslah. Itu lebih mudah dari yang aku bayangkan. Kupikir kalian harus menjadi pesuruhnya dulu, atau menjadi juru masak gratis, aku melakukan pekerjaan berat lainnya dulu sebagai bayaran untuk—"


"Kamu ini bicara apa? Dan siapa yang membiarkanmu masuk? Pergi sana! Kami lelah ingin istirahat," Rui memotong ocehan Neo, mengusirnya dengan nada ketus.


"Dia ini kenapa?" Neo mengernyit menatapku. Aku hanya mengangkat bahu. Rui masih sensitif mungkin.


...----------------...


Sore hari akhirnya tiba. Semua hantu berkumpul di Aula Besar. Win berdiri di atas panggung untuk menyampaikan hal itu pada yang lain.


"Jadi begini, Teman-teman. Aku berencana mengeluarkan Jam Pasir Ajaib untuk membantu tamu-tamu kita. Mereka membutuhkannya untuk digabungkan dengan pusaka lain yang ada di Gunung Es Keabadian. Bisakah kalian menyetujui rencanaku?" Win bertanya dengan nada bicara yang terdengar mantap.


"Jadi, apakah mereka pelintas dimensi?" Rux mengajukan pertanyaan.


Win mengangguk, "Mereka tidak sengaja menemukan portal masuk ke dunia kita, Teman-teman. Mereka tersesat dan ingin pulang."


"Lalu, apa kamu ingat apa yang terjadi pada tuanmu, Win? Kamu akan mengizinkan anak-anak itu melalui perjalanan panjang yang mematikan demi mengumpulkan benda-benda itu?" June berbicara serius kepada Win.


"Aku tahu, June. Tapi mereka benar-benar membutuhkannya. Aku hanya ingin membantu sekali saja. Mereka mungkin memiliki kesempatan besar untuk kembali pulang," Win membela kami.


"Bagaimana jika mereka menyalahgunakannya? Aku tidak setuju!" hantu lain berseru marah.


"Ya! Kami tidak setuju!" yang lain menimpali.


Bagaimana ini? Aku sudah menduga ini tidak akan mudah. Mereka tidak mengenal kami secara dekat seperti Win, Yets dan Bim. Mereka pasti berpikir buruk tentang kami.


"Bagaimana kalau mereka tidak bisa menjaga Jam Pasir Ajaib dengan baik, Win? Bahkan jika mereka hanya anak-anak yang lugu, bisakah kami memercayakan benda penting itu pada mereka? Bagaimana jika hilang? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika ia jatuh ke tangan orang jahat?" Paw menambahkan.


"Maaf, Win, bukannya kami tidak peduli pada anak-anak itu, kami hanya merasa waspada. Kamu juga mengerti betapa kami merasa takut setiap malam gerhana bulan. Kami tidak bisa menyerahkan benda pusaka semudah yang kamu rencanakan," Kie mengangguki penjelasan Paw.


Akhirnya, tidak ada satupun dari hantu-hantu Akademi Dixia yang menyetujui rencana Win dan dua temannya.


Baiklah. Aku mengembuskan napas panjang. Kami harus memikirkan cara lain agar mendapat kepercayaan para hantu.


Win menghela napas kecewa, "Maafkan aku, Jian. Sulit membuat orang lain percaya dengan ucapanku. Tapi aku memahami mereka. Memang tidak mudah mendapat kepercayaan orang lain di tengah situasi seperti ini."


Aku tersenyum, berusaha menguatkan diri, "Tidak apa-apa, Win. Aku juga mengerti. Kalau begitu, kami akan kembali ke kamar kami," aku berjalan gontai, menarik lengan Neo yang masih tidak terima dengan hasil pertemuan ini.


"Tapi, Win. Ingatlah, kami tidak akan menyerah, kami akan berusaha mendapatkan kepercayaan semua orang agar kami bisa meminjam benda itu dari kalian. Aku tahu, orang kaya selalu mendapatkan segala yang dia inginkan karena uang. Tapi kami akan mendapatkan yang kami butuhkan karena usaha keras. Jangan lupakan itu, Win!" Neo berseru sambil menatap tajam Win yang masih menunjukkan perasaan bersalahnya.


Di kamarku dan Rui, Neo terus bersungut-sungut bahwa hantu-hantu itu tidak memiliki hati nurani, "Bisa-bisanya mereka tidak merasa iba dengan anak-anak kecil yang tersesat ini. Toh kita hanya meminjam, saat tidak dibutuhkan lagi, akan kita kembalikan, kan? Kenapa mereka harus begitu keberatan?"


"Sudahlah, Neo. Kamu sendiri yang mengatakannya, kita harus berusaha keras. Kita hanya perlu tinggal beberapa hari lagi, melakukan beberapa pendekatan. Mereka mungkin akan berubah pikiran," Rui berusaha menenangkan Neo.


"Kupikir mereka memiliki ingatan buruk tentang seorang pelintas dimensi. Mereka menyebut kita seperti itu, kan? Ini sebenarnya tentang kelembutan hati mereka saja. Mereka tidak mau hal yang menimpa pelintas dimensi lain menimpa kita juga. Juga tentang bagaimana mereka melaksanakan tugas wajib mereka dalam menjaga pusaka itu. Kita tidak bisa memaksa, hanya bisa menunggu waktu yang tepat," aku mengembuskan napas pelan.


"Tapi, Jian. Kalau tidak malam ini, kapan kita akan melakukannya? Gerhana bulan bukan peristiwa alam yang terjadi setiap hari. Bahkan di dunia antah berantah ini, langit di atas sana masih sama. Kita tidak punya banyak waktu!" Neo membantah.


"Aku tahu, Neo. Coba kamu pikirkan dulu. Yang terpenting saat ini adalah mendapatkan kepercayaan mereka, jika itu sudah terpenuhi, baru kita mencari cara membuka segel barunya tanpa menunggu gerhana bulan berikutnya," aku menatapnya tajam, bisakah dia berpikir jernih sekali saja?


"Kalau ingin cepat, kenapa tidak kita curi saja pusaka itu?" Neo tiba-tiba memikirkan ide yang begitu buruk.


Rui langsung menimpuk kepalanya, "Itu tidak baik! Kita harus mendapatkan kepercayaan mereka, kenapa kamu malah berpikir untuk mencurinya? Beruntung jika kita berhasil, bagaimana jika gagal? Tidak akan ada kesempatan berikutnya untuk kita!" Rui sampai marah besar.


"Kamu kalah, Neo. Aku dan Rui tidak setuju dengan ide bodohmu itu! Sebaiknya jangan pernah membicarakan tentang mencuri lagi."


Neo tidak mengatakan apapun dan pergi begitu saja dari kamar kami. Entahlah. Aku merasa pusing. Aku hanya berharap Neo tidak melanjutkan pikirannya tentang mencuri pusaka.


Hei, bukankah dia adalah Murid Tunggal Yang Terpilih? Seharusnya dia bisa berpikir kalau mencuri itu bukan sesuatu yang dibenarkan.


...----------------...


Malam gerhana bulan, entah apakah aku masih bisa mempercayai Neo lagi atau tidak...


Pasalnya, pusaka itu benar-benar hilang dari tempatnya, dan semua orang menuduh kami yang melakukannya.