
Aku membuka mata, tubuhku ditangkap oleh seseorang, lalu menurunkanku di tempat yang tak terjangkau badai, dia lagi-lagi adalah Neo.
Setelah memastikan aku aman, Neo kembali berlari menembus badai besar itu. Tubuh gagahnya hilang-muncul di antara badai.
Sroomm!
Sebuah penghalang melesat menuju ke arahku, aku membalikkan tubuh ke belakang, Rui berlari cepat dengan tongkat sihirnya, ada bekas air mata di pipinya.
Aku tersenyum lega, Rui memilih kembali dan membantuku dan Neo. Aku sudah menduganya, Rui tidak akan benar-benar meninggalkan kami.
Aku terduduk di dalam penghalang Rui, di bawahku adalah hamparan salju, tapi udara di dalam penghalang cukup hangat, Rui tahu aku kedinginan, jadi dia mengirimkan sedikit energi sihirnya bersama penghalang.
Meski tidak melihatnya dengan jelas, Rui sedang membantu Neo mengusir angin badai itu. Aku tidak mendengar seruan pertengkaran mereka, setelah ini, mereka akan kembali baik-baik saja.
Badai itu berhenti setelah tiga puluh menit memporak-porandakan seluruh puncak gunung, Rui dan Neo mendarat di depanku.
Neo tersenyum tipis, ada bekas darah di bibirnya yang pucat, "Badainya, sudah berhenti, Jian," gumamnya pelan, lalu terduduk di atas hamparan salju.
"Neo, apakah kamu sudah mengerti, apa arti sebenarnya dari perjalanan kita?" aku memakaikan jubah tebal di tubuh Neo, lalu berjongkok di depannya.
Neo tidak menjawab, menyeka ujung bibirnya, kemudian terkekeh, "Rui, aku minta maaf padamu," Neo menatap Rui yang berdiri membelakangi kami, "Bisakah kamu memaafkanku, Rui?" Neo berdiri, aku menatap kakinya yang gemetar hebat.
Neo sepertinya kehilangan begitu banyak energi spiritual. Tubuhnya lemas dan bahkan tak mampu berdiri.
Aku memapah Neo untuk berjalan mendekati Rui, "Buat dia mau memercayaimu lagi, Neo. Berterima kasih padanya, hari ini dia menyelamatkan nyawamu," aku berbisik di telinganya.
Neo menjulurkan tangan, "Kamu bisa menjabat tanganku jika kamu bersedia memaafkanku, Rui. Jika kesalahanku memang tidak bisa dimaafkan, kamu abaikan saja sampai aku membeku di sini," Neo tersenyum kecil.
Rui membalik tubuhnya, menatap Neo dengan tenang, lantas tanpa menunggu lagi, dia mendaratkan pelukannya di tubuh Neo.
Kami berdua mematung di tempat, menyaksikan Rui yang kembali menangis di pelukan Neo, masih tak bersuara hingga beberapa menit.
"Aku juga ingin berterima kasih padamu, Rui, kamu menyelamatkanku lagi," Neo kembali bersuara.
"Kita tetap berteman, Neo. Meski aku tidak memaafkanmu sekalipun, kita harus tetap berteman," Rui masih memeluknya, "Kita bertiga masih harus berteman," Rui menatapku.
Aku tersenyum senang, bergabung bersama mereka berdua. Pada akhirnya, kami bertiga memang harus tetap berteman.
"Lebih baik kita makan sekarang, Jian, Rui. Kita sudah melewatkan jam makan siang," Neo merogoh kantong kecilnya, "Sayangnya siang ini, kita harus makan roti lagi," Neo mengeluarkan bungkusan roti tawar, tersenyum lebar.
"Aku punya beberapa camilan manis, makan ini juga, Neo, Jian," Rui membagikan camilan manisnya pada kami.
Kami bertiga makan dengan kenyang meskipun terlambat satu jam lebih.
"Hal apa yang akan kalian lakukan pertama kali saat kita pulang?" Neo mengeluarkan pertanyaan acak.
Tapi itu cukup menyenangkan untuk mengisi kekosongan saat makan siang.
"Aku ingin membeli banyak komik baru, aku pasti tertinggal banyak musim," aku menjawab pertama kali.
"Kalau aku, aku ingin memeluk orang tuaku, aku benar-benar merindukan mereka," Rui tersenyum.
Neo tertawa, "Kupikir hanya Jian yang masih memikirkan komiknya," tawanya mengeras.
"Kalau kamu, Neo?" aku memotong tawanya dengan pertanyaan yang membuat Neo langsung terdiam.
"Aku ..., aku ingin membeli satu juta butir kelereng baru," Neo mengeluarkan sisa kelerengnya dari dalam kantong kecil, "Lihat, kelereng sebanyak itu hanya tersisa sepuluh butir," Neo menghitungnya dengan jari.
Aku dan Rui langsung terpingkal, tidak mampu menelan makanan lagi, benar-benar hanya bisa tertawa!
"Neo, kupikir hanya kamu yang mementingkan hal tidak penting seperti kelereng!" Rui tertawa lagi, kali ini lebih kencang dengan mulut terbuka lebar.
Neo berdecih, "Komik baru Jian tidak lebih penting dari kelerengku!" Neo menyimpan sisa kelerengnya lagi.
Aku tertawa terpingkal, "Kelerengmu lebih tidak berguna lagi, Neo!"
Rui langsung mengangguk, "Lebih baik membeli pewarna rambut baru dari pada membeli satu juta butir kelereng!" serunya.
Ledakan keras tiba-tiba menghentikan tawa kami, kami segera membuat penghalang besar untuk melindungi diri.
Asap tebal mengepul begitu saja, Neo mengusir asap gelap, memeriksa apa yang terjatuh itu, sehingga menyebabkan dentuman begitu kencang dan menyebabkan tanah bergetar.
Begitu asap tebal menghilang, kami dibuat silau oleh sesuatu yang amat bersinar terang. Itu adalah sebuah portal!
"Neo, lihat ini!" aku memperlihatkan peta puncak gunung, tulisan di sana berubah, bukan lagi menuliskan petunjuk arah.
"Portal Putih."
Itulah yang tertulis di sana. Kami dengan bersemangat segera melompat ke dalam portal.
Batas.
Setelah tiba di ujung portal, kami benar-benar harus lebih memahami tentang arti perjalanan kami. Karena semakin jauh perjalanan kami, semakin banyak rintangan yang menghalangi jalan kami.
Satu-satunya cara untuk memecahkannya adalah dengan bersatu.
Kami berjalan menyusuri labirin es yang tinggi menjulang. Peta di tanganku berubah menjadi petak-petak labirin yang sedang kami lewati. Ada tiga titik berwarna biru di tepi kiri. Itu adalah kami. Dan ada sekitar dua puluh titik berwarna merah yang tersebar di sekuruh penjuru labirin. Aku masih belum tahu apa titik merah itu.
"Ke mana kita akan berjalan?" Neo menceletuk.
"Kita ikuti saja petunjuk arahnya. Peta ini tidak mungkin berbohong, kan?" aku menjawab asal, berjalan lebih dulu.
"Bagaimana jika peta itu ternyata kembaran Google Maps?" Neo menyusulku.
"Tidak mungkin, Neo. Peta itu adalah reinkarnasi peta milik Dora," Rui menyejajari langka kami.
Kami sontak tertawa renyah menyadari bahwa kami sedang beromong kosong.
"Tentu saja peta tidak akan berbohong, jika dia berbohong, maka Zhi yang harus disalahkan," Neo mengambil peta itu dari tanganku.
"Kita belok kiri," Neo belok kiri, "Belok kanan," setelah itu Neo belok kanan.
"Itu jalan buntu, Neo," aku menarik tudung jubahnya.
"Eh, kita kembali lagi dulu, aku salah mengambil jalan, seharusnya bukan ke kanan, tapi ke kiri lagi," Neo berbalik, kembali ke titik sebelumnya.
"Neo, titik merah apa di depan itu?" Rui bertanya sambil menunjuk ke peta.
"Seharusnya itu rintangan selanjutnya,"jawaban Neo terdengar seperti tidak terlalu memedulikannya.
Tapi titik merah itu terlihat mendekat ke arah kami, "Neo, kupikir seharusnya kita mencari jalan lain dulu, setelah titik merah itu lewat, baru kita melewatinya," aku memberi saran paling aman untuk keselamatan nyawa kami bertiga.
Neo malah terkekeh, "Kamu takut, Jian?" wajahnya terlihat sekali sedang menyombong.
"Jangan meremehkan sesuatu yang belum kita lihat sebelumnya, Neo," Rui berjalan dengan perasaan cemas. Aku mengangguk, "Seharusnya kita waspada sejak dini, Neo," ucapku memperingatkan.
Neo melambaikan tangan, "Lagipula, apa yang bisa berada di tengah labirin es ini, Jian? Paling hanya beberapa rintangan kecil seperti jebakan saja," ucapnya dengan nada bicara yang terdengar menyebalkan.
Aku dan Rui saling menatap, baiklah, terserah Neo saja. Menasihatinya tidak akan berguna, biarkan dia mengerti dulu apa itu waspada.
Kami sudah berjalanan di jalur yang benar, titik merah itu terus berjalan menuju kami. Sekarang kami benar-benar tidak bisa menebak rintangan apa itu sebenarnya.
Kami tiba di persimpangan berikutnya. Kali ini arah kami adalah kanan, dan ketika kami berbelok, kami akan langsung berhadapan dengan titik merah itu.
"Siapkan tongkat sihir kalian," Neo segera mengeluarkan Pru sebelum berbelok.
Aku dan Rui mengangguk, segera mengeluarkan tongkat sihir, Piu Piu juga keluar dalam posisi transformasinya.
"Satu ..., dua ..., tiga!" Neo melangkah maju.
Kami bertiga sontak terdiam mematung melihat titik merah yang berjalan itu.
Ternyata adalah ....