Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Paviliun Bunga Musim Semi



Aku berseru takjub. Rumah ini besar sekali, mirip rumah-rumah mewah milik artis ternama di kota kami.


Ada air terjun buatan di sisi kanan dan kiri rumah. Daun-daun kuning terang berguguran dari beberapa pohon yang berdiri tegak di sisi kanan, terlihat indah.


Di depan kami berjalan tiga orang penjaga kediaman yang berpakaian hitam-hitam. Mereka mengantarkan kami dari gerbang utama menuju paviliun kecil tempat tinggal Putri Wali Kota. Paviliun itu bernama Bunga Musim Semi.


"Silakan, Tuan, Nona. Tuan Besar berada di dalam paviliun ini." Para penjaga itu membukakan pintu, kemudian membiarkan kami masuk.


Paviliun berlantai tiga ini sangat luas bahkan di lantai pertamanya saja.


Ada beberapa pelayan wanita yang sedang membersihkan lantai pertama. Mereka mengatakan jika ingin bertemu Tuan Rumah, kami bisa pergi ke lantai dua.


Kami berjalan menaiki anak tangga meliuk dengan gaya arsitek kuno yang cukup mewah, tapi jika dibandingkan dengan rumah-rumah orang kaya di dunia kami, tangga di paviliun ini masih termasuk sederhana.


Kami tiba di lantai dua. Ada seorang pria berambut putih panjang sedang duduk di ranjang sambil memandangi sebuah foto.


Win mengetuk pintu yang sudah terbuka. Akhirnya Tuan Rumah mendongak ke arah kami. Lalu membiarkan kami masuk dan duduk di sofa panjang.


"Selamat siang, Tuan Wali Kota. Kami datang untuk memeriksa kondisi putrimu yang katanya sudah tidur selama seratus hari." Win membungkuk sopan.


Tuan Wali Kota tersenyum, "Haiyo, sudah satu minggu sejak tabib-tabib terkenal di seluruh dunia mengatakan menyerah untuk mengobati putriku lagi. Sejujurnya, aku sungguh sudah tidak memiliki harapan lagi."


Zhi tersenyum, "Tuan, aku adalah adik kembar si Tabib Bunga dari Desa Terkutuk di kaki Gunung Es Keabadian. Mengetahui reputasi kakakku, apakah Tuan bersedia membiarkan kami memeriksa putrimu?"


Tuan Wali Kota ini terdiam sebentar, kemudian mulai bereaksi berlebihan, "Haiyo, kau ternyata adik kembar si Tabib Bunga dari Desa Terkutuk itu? Kudengar dia merupakan tabib dari segala tabib yang ada di dunia ini. Awalnya aku ingin memanggilnya datang ke rumahku sejak satu minggu yang lalu, entah kenapa dia mengabaikan surat-surat yang kukirim begitu saja. Rupanya mendatangkan adiknya untuk menggantikannya datang."


Senyum Zhi memudar, dia membungkuk lagi di depan Tuan Wali Kota, "Saat ini, kakakku sedang memiliki pasien yang tidak bisa ditinggal sama sekali, Tuan. Hidup-mati pasien itu tergantung apakah aku hari ini berhasil menyembuhkan putrimu atau tidak. Jadi, bisakah kau memberiku izin untuk memeriksanya?"


Tuan Wali Kota berjalan menuju anak tangga ke lantai tiga, dia meminta kami untuk mengikutinya. Tampaknya putri tunggal ini ditempatkan di lantai teratas Paviliun Bunga Musim Semi.


Setelah melihat sendiri lantai tiga ini, aku jadi tahu alasan Tuan Wali Kota menempatkannya di sini.


Pemandangan di atas sana sangat indah. Atapnya terbuat dari material transparan yang membuat kami bisa melihat langsung awan-awan indah di langit.


"Putriku suka menikmati bintang dan bulan, aku akan membuka atap ini jika sudah memasuki pukul tujuh, membiarkan putriku mencium hawa dingin malam hari selama beberapa menit. Setiap hari, aku selalu berharap putriku bangun untuk melihat bulan dan bintang yang sangat dia sukai."


Zhi mendekati Putri Wali Kota yang terbaring lelap di atas ranjang halusnya. Dia mengucapkan sebuah mantra.


Jika boleh kutebak, sepertinya itu mantra untuk membuat Putri Wali Kota terbangun. Tapi setelah beberapa saat, Putri Wali Kota masih tidak terbangun juga.


"Win, apa yang harus kita lakukan?" Zhi berkata lirih, menatap Win yang juga merasa heran. Mengapa mantra Zhi tidak berguna sama sekali?


"Izinkan aku memindai tubuhnya sebentar." Win maju ke depan.


Dia mengarahkan tangannya ke depan, tubuh Putri Wali Kota bercahaya lembut, Win terlihat berkonsentrasi, apakah ada yang salah dengan tubuh putri Wali Kota?


"Bagaimana, Tuan Penyihir?" Wali Kota mendekati Win yang mengembuskan napas kencang setelah selesai memindai tubuh putrinya.


Aku dan Rui juga penasaran, ada apa dengan Putri Wali Kota ini? Kenapa bisa tidur sampai seratus hari?


"Tuan Wali Kota, bisakah kau menjawab beberapa pertanyaanku?" Win menatap Wali Kota dengan serius.


"Silakan Tuan Penyihir tanyakan saja." Wali Kota bergegas menggeser beberapa kursi untuk membiarkan kami duduk.


"Sebelum tertidur, apakah Putri Wali Kota sempat bertemu dengan seseorang? Atau berbincang dengan seseorang? Mungkin bertengkar, atau semacamnya?"


Wali Kota terdiam setelah mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Win. Melihat wajahnya, sepertinya memang ada sesuatu yang menimpa Putri Wali Kota sebelum dirinya berakhir seperti ini.


Win mengangguk, "Memang tidak ada yang salah dengan perjodohan itu, Tuan Wali Kota. Tapi ada orang lain yang sepertinya tidak menginginkan perjodohan ini dilanjutkan. Dia memasang mantra tidur pada Putri Wali Kota."


"Ini, bagaimana mungkin?" Tuan Wali Kota tentu terkejut dan tidak memercayainya, "Kenapa seseorang begitu berani untuk mencelakai putriku? Tuan Penyihir, tolonglah putriku, bagaimana melepaskan mantra tidur ini?"


"Ini mungkin sulit, Tuan Wali Kota," Zhi membungkuk dulu sebelum menjawab, dia menatap putri Wali Kota dengan tatapan kasihan, "Putrimu, tidak akan bangun, kecuali seseorang yang mencintainya membangunkannya dengan ciuman tulus."


Tuan Wali Kota terdiam, dia menatap putrinya dengan wajah cemas, "Apakah membutuhkan bantuan Pangeran Archi?"


"Kita tidak bisa berharap lebih. Karena Putri dan Pangeran Archi dijodohkan, belum tentu Pangeran Archi menyukainya dengan tulus, juga belum tentu Putri menyukainya juga. Ketulusan itu, sangat sulit dijumpai, Tuan." Win mengatakan kecemasannya dengan terang-terangan.


"Tapi kita bisa mencobanya kan, Win?" Rui tiba-tiba menerobos pembicaraan mereka.


Win menatap Rui tidak mengerti, "Apa maksudmu, Rui?"


"Jika kita membawa Pangeran Archi ke hadapan Putri Wali Kota, dan membiarkan Pangeran Archi menciumnya, entah itu berhasil membangunkannya atau tidak, juga tidak ada kerugian. Kita bisa tahu apakah dia pasangan yang cocok untuk Putri Wali Kota atau tidak. Jika tidak, kita hanya perlu mencari orang yang menyukainya dengan tulus saja."


Aku refleks menyikut perut Rui, "Maksudmu, kamu mau membiarkan begitu banyak pria untuk menciumnya, begitu?"


Rui berdecak kesal, "Tidak seperti itu, Jian. Ini seperti sayembara saja. Orang yang bersedia membangunkan Putri Wali Kota dengan ketulusan cintanya, akan diuji menggunakan beberapa pertarungan hidup-mati. Jika ada salah satu dari mereka yang benar-benar rela mempertaruhkan nyawa untuk Putri Wali Kota, maka dialah orangnya. Ketulusan, tidak bisa ditemukan hanya dengan sebuah omong kosong. Kita perlu tahu tindakan apa yang dia persembahkan untuk membuktikan ketulusannya ini."


Aku benar-benar tidak bisa mengatakan apapun lagi. Sepertinya saran dari Rui benar-benar bisa direncanakan.


"Jian, kita berkelana di luar sana, bukankah juga mengandalkan ketulusan satu sama lain? Kita bisa mencobanya dari pengalaman yang sudah kita lalui. Menurutmu, berapa banyak rintangan hidup-mati yang rela kita lalui demi melindungi satu sama lain?" Rui menatapku sambil tersenyum, "Bukankah yang kita lakukan sekarang, juga termasuk ketulusan kita terhadap Neo kita, Jian?"


Aku menyeka pipiku, lalu membalas senyumnya dengan begitu ceria, "Kamu benar, Rui. Setiap hari, kita diasah dengan segenap ketulusan yang kita miliki."


"Bagaimana menurutmu, Zhi, Win?" Rui menatap kedua senior kami dengan senyuman lebarnya. Win dan Zhi mengangguk tanpa ragu.


Aku menatap Tuan Wali Kota Luse, "Tuan, kami bersedia pergi ke Kota Archi untuk mengundang Pangeran Archi demi membangunkan putrimu," aku menunduk dan mengucapkan kalimat itu dengan sepenuh hati.


"Izinkan kami, Tuan Wali Kota," Rui juga menunduk di sebelahku.


Win dan Zhi tampak saling menatap, dia tersenyum senang dengan keputusan yang kami ambil.


Tuan Wali Kota mengangguk, "Baiklah, jika itu adalah upaya yang kalian lakukan demi putriku, aku akan meminjamkan Portal Teleportasi untuk kalian. Lebih cepat maka akan lebih baik."


Aku dan Rui saling tatap. Tak disangka, bahkan Wali Kota Luse meminjamkan kami barang yang begitu berharga di tempat ini.


Dengan portal teleportasi itu, kami sudah muncul di depan gerbang istana Kota Archi hanya dalam waktu sepersekian detik saja.


"Kota ini indah sekali. Bagaikan kota di atas awan!" Rui berseru takjub.


Aku mengangguk, "Sepertinya memang berada di atas awan," aku menarik lengan Rui, menunjuk ke belakang.


Di belakang kami adalah padang rumput luas, namun beberapa kilometer di depannya bagaikan jurang, lalu beberapa kilometer dari jurang itu, terdapat sebuah pulau yang mengambang.


Jika aku boleh menebak, Kota ini mengambang di atas awan. Saat mendongak ke atas, aku baru mengetahuinya, Kota ini terdiri dari gugusan pulau di atas langit. Terlihat indah.


"Berikan kabar pada Pangeran Archi, kami utusan dari Kota Luse, mengundang Pangeran Archi untuk datang ke Paviliun Bunga Musim Semi milik Putri Wali Kota Luse." Win memberikan kartu undangan berwarna merah muda itu pada pengawal yang menjaga gerbang istana.


Pengawal itu masuk, lalu kembali setelah beberapa menit di dalam, dia membawa undangan dari kami kembali keluar.


"Mohon Maaf, Tuan. Pangeran Kami menolak untuk datang," pengawal itu menunduk sebentar.