Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Orang Bernama Qian



Yets membaringkan tubuh Neo di atas ranjang tidur. Zhu memeriksanya sekali lagi. Tapi yang namanya sudah tidak bernyawa, berapa kali pun diperiksa, apakah hasilnya akan berbeda?


Win pergi ke Aula Besar bersama Zhi, mereka mengurus sisa kekacauan semalam. Murid-murid akademi yang terluka menerima pertolongan dari tabib-tabib hebat yang didatangkan langsung dari Desa Terkutuk.


"Anak-anak, jika kalian bersedia menemani kami mencari Tumbuhan Akar Seribu di Kota Luse, dalam tiga bulan, Neo bisa hidup menggunakan tubuh aslinya lagi. Untuk sementara waktu, aku akan memasukkan Inti Jiwa Neo ke dalam Botol Jiwa milik Bim. Supaya saat bangun nanti, kalian bisa kembali berkumpul tanpa kekurangan satu pun kenangan indah." Yets menjelaskannya dengan lembut.


Aku dan Rui masih menunduk lesu. Ternyata petualangan kami sama sekali belum selesai. Zhu memerlukan waktu tiga bulan untuk memperbaiki Kristal Pusaka.


Yets dan Zhi akan mencari tumbuhan langka di dunia ini untuk menyambung kembali syaraf-syaraf di tubuh Neo yang rusak.


Mereka benar-benar melakukan segalanya untuk membantu kami kembali pulang ke tempat asal kami. Apakah masuk akal jika aku dan Rui hanya berdiam menunggu?


Rui menghela napas, "Aku akan pergi." Tekadnya membulat, Rui mencengkeram tongkat sihirnya dengan erat.


Yets tersenyum bangga, "Bagus, Rui. Bola-bola apimu akan sangat berguna di perjalanan nanti."


"Rui," aku bergumam sambil menatapnya sendu.


Rui tersenyum padaku, "Neo sudah melakukan segalanya untuk kita, Jian. Giliran kita yang harus melakukan sesuatu untuknya."


Aku membalas senyum tipisnya, "Terima kasih, Rui. Aku akan ikut bersamamu."


Zhi tersenyum lebar, "Aku yakin kita akan menemukan tumbuhan obat itu kurang dari satu bulan."


"Kalian pergilah berisitirahat, pukul dua siang nanti, aku akan menginterogasi murid-murid yang selamat itu, apa yang terjadi pada akademi mereka hingga kekacauan besar ini terjadi." Yets berdiri, Zhi mengikutinya.


Mereka pergi ke Aula Kedua untuk melihat orang-orang yang terluka akibat pertempuran semalam.


"Yets, kapan kita akan berangkat?" Rui mengacungkan tangannya, membuat langkah Yets berhenti.


"Kita tidak sedang terburu-buru, Rui. Biarkan tubuh kalian istirahat secukup mungkin, perjalanan ini tidak mudah, kita akan memulainya setelah lima hari." Yets tersenyum setelah memberikan jawaban itu kepada Rui.


Aku meminta Rui untuk kembali ke kamar terlebih dahulu. Aku terus merasa ingin menemani Neo lebih lama lagi. Aku mendudukkan pantatku di tepi ranjang, melihatnya yang tidak menyadari kehadiranku di sini.


"Kamu dengar tidak, Neo? Aku dan Rui akan melanjutkan petualangan kita lagi. Kali ini tujuan kami bukan untuk Kristal Pusaka, tapi untuk menyembuhkan tubuhmu."


"Neo, setelah kamu bangun, bisakah kamu tidak menentukan pilihanmu sendiri tanpa membicarakannya dengan kami?"


"Aku sangat takut terjadi sesuatu padamu, Neo. Aku tahu kamu selalu berpikir sepuluh langkah lebih maju dari pada kami. Meskipun begitu, bisakah jangan membuat kami takut lagi?"


"Besok, tubuhmu akan dibekukan, Neo. Jiwamu akan ikut bersama kami melakukan perjalanan jauh itu. Bisakah kamu menyadarinya?"


Aku terdiam sejenak. Berbicara sebanyak apapun, apakah dia mendengarnya?


"Neo, aku akan memberitahumu sebuah rahasia yang hanya aku sendiri yang tahu. Maukah kamu mendengarnya? Aku sebenarnya ingin memberitahumu lebih awal. Tapi aku tidak pernah berani untuk mengutarakannya secara langsung padamu. Lalu, bisakah aku memberitahumu sekarang saja? Aku tidak peduli kamu dengar atau tidak."


Aku menarik napas pendek, "Aku memiliki seseorang yang sangat kusukai. Sebenarnya kami cukup dekat. Tapi aku tidak tahu apakah dia mengetahuinya juga, atau hanya menganggapku sebagai sahabat terdekatnya saja. Apa kamu tahu, Neo? Apa yang sebenarnya dia rasakan saat berjalan bersamaku?"


...----------------...


Aku dan Rui ikut bersama Para Penjaga Pintu untuk menginterogasi murid-murid itu. Salah satunya Agg. Dia adalah satu-satunya yang kami kenal yang selamat dari pertempuran semalam.


Ada sekitar delapan ratus orang yang selamat. Tujuh puluh di antaranya adalah murid akademi. Sisanya adalah Pasukan Kota Pubu yang dikendalikan oleh Ratu Hudie. Mereka kini dikembalikan ke tempatnya untuk menjalani hukuman.


Aku berdiri di samping Win dan Yets, menatap Agg yang terlihat canggung.


Menurut pengetahuan kami, tidak ada yang pernah melihat langsung Para Penjaga Pintu ini. Kecuali kami, yang berjalan bersisian dengan mereka melewati hidup-mati.


Jika aku adalah Agg, aku juga akan merasakan hal yang sama. Meski aku sudah lama mengenal sosok-sosok hebat ini, ketika melihat mereka lebih baik, aku selalu merasa kagum diam-diam.


"Satu minggu yang lalu, Master mengumpulkan seluruh murid akademi di Aula Besar. Dia mengadakan Ujian Pemilihan Kandidat untuk menjadi pemimpin murid yang baru. Sebelumnya adalah Senior Kai, tapi dia meninggal begitu saja, kami mendengar cerita itu secara mendadak langsung dari Master.


"Kupikir itu hanya ujian pemilihan biasa. Puluhan murid yang kalah akan diberikan hadiah karena sudah berpartisipasi dalam ujian."


"Siapa yang memenangkan ujian itu?" Yets bertanya.


"Peraturan apa yang dia rubah?"


"Ada sebuah peraturan dasar yang mengharuskan seluruh murid memakai tongkat sihir. Setelah Qian menjadi pemimpin baru, dia malah melarang tongkat sihir digunakan oleh murid-murid Akademi Hudie."


Aku mengernyit heran, kenapa bisa seperti itu?


"Senjata apa yang diperbolehkan?" Win mengajukan pertanyaan berikutnya.


"Cakram Hitam."


Aku menelan ludah. Sudah kuduga ini tidak sesederhana yang terlihat. Ratu Hudie tidak memberikan cakram itu hanya pada kami. Tapi dia lebih dulu memberikannya pada semua murid di akademi untuk mengendalikan kekuatan dan hati mereka.


"Aku merasa ada yang tidak beres sejak pengangkatan pemimpin baru. Semua tongkat sihir dimusnahkan. Kami hanya boleh memakai Cakram Hitam sebagai sarana latihan."


"Bagaimana denganmu, Agg? Bukankah senjatamu adalah pedang?" Rui menerobos bicara.


Agg mengangguk, "Aku menyembunyikan pedangku di tempat tersembunyi. Lalu memakai cakram itu seperti murid lainnya. Semuanya berjalan lancar. Hingga kabar tentang kepulangan kalian bertiga yang membawa kunci menuju pusaka itu ...," Agg menghentikan kalimatnya.


Wajahnya terdengar tidak senang, matanya langsung berair.


"Kami mulai dikendalikan seperti boneka yang diberi nyawa."


Aku dan Rui saling tatap. Nasib mereka di sini lebih buruk dari kami yang terlantar di alam liar.


"Aku sudah menduganya. Hudie tidak mungkin melakukannya sendirian. Ada yang membantunya. Orang bernama Qian itu, tidak sesederhana yang kita dengar." Zhu menghela napas pasrah, "Win, tampaknya kita tidak bisa tinggal terlalu lama di sini."


Win mengangguki ucapan Zhu, "Apakah kamu melihat Qian di pertarungan semalam?"


Agg menggeleng, "Orang itu menghilang beberapa jam sebelum kalian tiba."


"Ini sudah setengah hari sejak kematian Hudie tersebar keluar. Seharusnya dia akan pergi ke sini untuk memeriksa apakah rumor itu benar." Zhu membalik tubuhnya menatap kami, "Win, Zhi. Sebaiknya kalian pergi malam ini juga. Aku akan membawa tubuh Neo ke dalam ruangan hampa. Yets, kau bantu aku mengawasi tempat ini dua hari ke depan. Jika tak terjadi apa-apa, pasang sinyal penghalang di luar akademi. Yets, kamu harus menangkap orang bernama Qian itu hidup-hidup. Lalu bawa padaku, aku akan mempersembahkan seluruh organ dalamnya untuk Neo." Zhu mengentakkan tongkat sihirnya dengab keras, membuat lantai menjadi retak.


Aku menahan napas. Zhu terlihat menyeramkan ketika marah atau kesal. Sebelumnya, Yets akan ikut bersama kami untuk mencari tumbuhan langka itu. Tapi sekarang dia mendapat tugas penting dari Zhu.


"Anak-anak, kita akan berangkat malam ini." Win menatapku dan Rui. Aku hanya bisa mengangguk saja.


Sebelumnya aku bahkan tidak benar-benar siap hendak melakukan perjalanan lagi. Aku baru saja menghela napas lega beberapa hari yang lalu.


Tiba-tiba Zhi memeluk pundakku dan Rui. Dia tersenyum lebar, "Kali ini aku juga ikut menemani kalian. Pasti jauh lebih seru. Benar kan, Kak?"


Zhu tertawa, lalu mengangguk senang, "Tentu saja, adikku adalah teman seperjalanan yang menarik."


Rui mengangguk, "Baiklah. Kami akan beristirahat sebentar lagi dan bersiap-siap." Rui langsung menggandeng tanganku dan berjalan keluar dari kamar Agg.


...----------------...


Pukul enam sore, Win berseru-seru sambil memukul-mukul pintu kamar kami. Aku membukanya dengan terburu-buru.


"Kita pergi sekarang, Jian!" Win berseru sambil menyeret lenganku keluar dari kamar. Rui berlari di belakangku.


"Ada apa, Win?" Aku yang masih terkejut bertanya giras.


"Tidak ada waktu lagi. Orang bernama Qian itu ...."


BRAK!


Aku melihat Bim yang melompat dari jendela kaca. Pecahannya berhamburan ke mana-mana. Lalu melompat ribuan rubah lainnya dari jendela yang sama.


"Win, kenapa kita tidak membantu Yets dan Bim?" Rui berlari menyusul.


"Jangan, Rui!" Win langsung menariknya. "Kita harus segera pergi. Yets dan Bim bisa mengatasinya. Kita punya tugas yang lebih penting. Yaitu menyelamatkan nyawa Neo!"