Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Teman Terbaik



Rui mendongak, menatap salju yang kembali turun dari langit. Dia sudah sangat merasa cemas. Kini Neo dalam keadaan koma setelah memaksakan diri menghabisi Rux.


Mereka terpisah sangat jauh dari Jian. Rui bahkan tidak tahu bagaimana kabar Jian di puncak gunung sana. Apakah dia menemui bahaya? Apakah dia baik-baik saja?


Rui menghela napas, dia berharap di atas sana tidak terjadi badai salju lagi.


Rui mengamati sekeliling, tidak ada siapapun di Kediaman Zhi dan Zhu saat hari mulai gelap. Dia berjalan mengendap memeriksa kamar Neo.


Pemuda itu masih berbaring tak sadarkan diri. Tubuhnya diselimuti Sihir Penyembuhan Zhu yang sangat hebat.


Rui mengendap lagi menuju beranda rumah. Pelan-pelan dia membuka pintu, mengintip, setelah memastikan aman, dia membuka pintu lebih lebar, kemudian keluar dari rumah kayu itu.


"Tidak peduli seberapa sering Zhi dan Zhu melarangku, aku akan tetap naik gunung untuk mencari Jian." Rui bertekad dalam hati. Dia menaburkan Bubuk Menghilang ke seluruh tubuhnya.


Sejak beberapa hari lalu, Rui memang selalu ingin keluar untuk mencari Jian. Tapi peri kembar itu tak pernah mengizinkannya.


Bilang kalau mereka sudah mengirim orang untuk mencari Jian di sana. Rui terlalu tidak sabar, dia bertanya setiap hari apakah ada perkembangan tentang pencarian Jian.


Zhu dan Zhi selalu menggeleng, bilang kalau orang-orang mereka belum menemukan Jian. Dan terus meyakinkan Rui kalau Jian baik-baik saja.


Sekarang Rui sudah tidak bisa menunggu lagi. Dia harus turun tangan untuk mencari Jian. Lagipula badai salju tidak akan menjadi halangan untuknya. Dia akan melewati apapun asalkan bisa menemukan Jian.


Rui terbang di tengah badai salju yang mengamuk, tubuhnya tidak terlihat. Harusnya perjalanannya akan aman hingga puncak gunung.


Rui terus menundukkan kepalanya, mencari Jian di tempat manapun yang dia lewati. Meski tidak ada petunjuk, setidaknya dia akan tahu saat menemukan sesuatu yang mungkin Jian jatuhkan untuk menjadi penunjuk arah.


Saat malam datang, Rui mengangkat tangannya, dia membuat obor dengan tenaganya sendiri. Rui berhenti di depan tebing curam yang pernah mereka lewati hari itu. Rui bahkan tidak yakin sudah berapa lama sejak pertama kali dia memanjat tebing ini.


Rui mengaktifkan penghalang, dia nekat terbang menuju tebing berikutnya. Harusnya tidak terjadi apa-apa jika dia terbang perlahan saja.


"Kamu di mana, Jian? Kenapa setelah berjam-jam mencari, aku tetap belum menemukanmu?" Rui menyeka pipinya. Terus memeriksa dari atas apakah dia menemukan Jian atau tidak.


"Jian!" Rui menyerukan namanya.


Seratus kali Rui berteriak memanggil Jian. Bahkan tidak ada seorangpun yang terlihat, mungkinkah dia bisa menemukan Jian?


Pukul sepuluh malam, Rui tiba di depan tebing berikutnya yang lebih landai, dia beristirahat sejenak di bawah pohon pinus.


Dia menatap kosong ke depan. Teringat saat Piu Piu menggendong dia dan Neo turun gunung. Mereka sempat terjatuh di tempat ini.


Neo pingsan di tengah jalan, Piu Piu berusaha membangunkannya. Badai saat itu sangat besar. Beberapa pohon bahkan tumbang. Rui yang terkena racun hitam memaksakan diri agar membuat Neo tetap merasa hangat.


Mereka kembali menunggangi Piu Piu menuju Desa Terkutuk. Mencari rumah Zhu dan Zhi. Mengobati Neo, dan menyadari kalau Neo benar-benar sangat terluka karena pertarungan sengit di dalam gua hari itu.


Rui menghela napas. Kini dia mengerti kenapa saat itu Jian sangat tidak menyetujui tentang perjalanan ini. Risiko mati di tengah jalan memang sangat mungkin. Dan mereka harus mempersiapkan kemungkinan itu dengan matang.


Rui berdiri lagi, menaiki tongkatnya lagi, menelusuri tebing lagi. Dia terus mencari Jian ke segala arah. Memeriksa sela-sela pohon pinus, memeriksa ceruk-ceruk gunung, memeriksa gua-gua kecil.


Semalaman dia terus mencari. Tidak tahu waktu tidur, tidak tahu waktu makan, tidak tahu waktu istirahat. Dalam kepalanya hanya memikirkan untuk bertemu dengan Jian secepatnya.


Rui berhenti di tengah-tengah hamparan salju di puncak gunung. Terakhir kali melihat badai datang di puncak ini, dia dan Neo sedang bertengkar, Jian sedih karena teman-temannya bertengkar. Lalu badai datang.


Badai itu membuat Rui memahami kenapa dia harus satu tim dengan Neo. Badai itu juga membuat Rui tahu tentang betapa pentingnya memiliki teman yang saling melindungi satu sama lain.


Pemikiran itu tidak bisa membuat Rui selalu membenci Neo. Rui harus mempercayai Neo, memercayai kedua temannya.


Tapi sekarang mereka terpisah. Neo terluka sangat parah, tidak bisa melindunginya dan Jian lagi. Jian menghilang entah ke mana, tidak bisa melindunginya dan Neo lagi.


Kini, giliran Rui yang harus melindungi Jian dan Neo. Giliran Rui yang harus menunjukkan ketulusannya pada mereka.


Setelah kehilangan Jian, Rui tidak pernah berpikir tentang pulang ke rumah lagi. Dia hanya berpikir untuk segera menemukan Jian. Itu saja.


Dia hanya ingin bertemu dengan Jian lagi.


Tiba-tiba sebuah cahaya terang membuat Rui harus menutup matanya. Ada dua portal yang tiba-tiba muncul di atas hamparan salju itu.


Rui berdiri, ini portal apa? Ke mana saja tujuannya? Apakah ada seseorang yang membuatnya muncul di sini?


Rui mengangkat tongkatnya untuk berjaga-jaga jika ada orang jahat yang mendadak muncul di hadapannya.


Rui membaca tulisan yang muncul di atas portal-portal itu. Tanpa berpikir panjang, Rui melompat masuk ke portal di sebelah kanannya.


Dia sudah bilang, kan? Dia hanya ingin menemukan Jian untuk sekarang.


...----------------...


"Zhu, ini gawat!" Zhi berlari dari lorong kamarnya menuju Zhu yang saat ini sedang memeriksa Neo.


Zhu berdiri karena terkejut dengan seruan adiknya, "Ada apa?"


"Rui tidak ada di kamarnya, Zhu." Zhi sangat panik, dia bahkan menangis karena lalai menjaga Rui.


"Ke mana dia pergi? Kenapa kamu tidak menjaganya dengan baik? Dia baru saja pulih dari Racun Hitam. Bagaimana kamu membiarkannya pergi tanpa pengawasan?" Zhu terlihat marah, meletakkan tongkat sihirnya di atas meja.


Zhi menunduk dalam, "Maafkan aku, Zhu. Aku pergi merebus obat sebentar, aku tidak berpikir Rui benar-benar berniat kabur dari rumah kita," ucapnya penuh penyesalan.


Zhu menarik napas panjang, "Baiklah. Apakah dia pernah mengatakan sesuatu yang mencurigakan?"


Zhi berpikir sebentar, "Dia terus menanyakan kabar tentang Jian. Tapi orang-orang yang kita kirim ke atas gunung tidak memberikan kabar apapun. Mereka belum menemukan Jian. Jadi aku katakan padanya untuk menunggu sebentar."


"Kamu bodoh, Zhi." Zhu meraih tongkatnya, berlari keluar dari kamar Neo, "Dia jelas pergi untuk mencari Jian. Kamu diam di sini. Jangan sampai Neo mendengar tentang hal ini, aku akan keluar mencari mereka berdua."


Zhi mengangguk pelan, "Maafkan aku, Zhu."


Zhi duduk di depan ranjang Neo, memeriksa nadinya sekali lagi, "Semoga kamu sadar saat teman-temanmu sudah ditemukan, Neo. Jika kamu bangun sekarang, mungkin hatimu tidak akan bisa tenang."


...----------------...


Rui menepuk-nepukkan tangannya yang dipenuhi salju. Memeriksa sekeliling. Dia jatuh ke dalam gua luas setelah melintasi portal yang saat ini masih belum menutup.


"Tongkat sihirku hilang." Rui melangkah maju, matanya terus memeriksa ke segala arah. Tongkat sihirnya hilang.


Rui menepuk dahi, "Dasar bodoh! Bukankah aku meninggalkannya di puncak? Bagaimana aku bisa seceroboh ini?" Rui merutuki dirinya sendiri.


Dia merasa familier dengan gua satu ini. Dan benar saja. Dia muncul kembali di dalam gua terakhir kali saat dia ditangkap oleh Rux. Rui tidak tahu apa yang terjadi selama dia pingsan. Hanya menyadari bahwa Jian tidak ada di sampingnya sejak Neo membawanya keluar.


Rui berjalan menuju dinding seberang. Melihat dari kejauhan, dinding seberang sana terlihat hancur sebagian, Rui merasa itu adalah bekas pertarungan Rux saat itu.


Harusnya ada petunjuk tentang keberadaan Jian jika dia memeriksa ke arah sana.


"Jian, apakah kamu berada di sini?" Rui berseru pelan. Dia berjalan mendekati dinding itu. Bekas api unggun terlihat tertimbun salju. Rui mendekat ke dinding, mengamati bekas noda darah yang masih terlihat jelas.


"Apakah pertarungan saat itu benar-benar pertarungan besar?"


Tuk!


"Ini apa?" Rui terkejut saat dirinya menginjak sesuatu.


Itu terasa seperti menginjak tongkat besi yang berat. Rui memeriksanya, benda itu terkubur dalam salju. Saat menemukan benda yang diinjaknya, Rui semakin yakin, kalau Jian masih ada di gua ini.


"Tongkat Jilly!" Rui berseru senang, dia senang saat menemukan tongkat sihir Jian.


Juga sekaligus sedih karena menemukan tongkat ini tertutup butiran salju cukup tebal. Jika tongkatnya saja begitu lama tergeletak di sini, lantas di mana dia bisa menemukan Jian?


"Jian, bisakah kamu mendengarku?" Rui berseru sekali lagi. Dia berjalan perlahan sambil menggenggam tongkat Jian dengan erat.


Rui duduk bersandar dinding batu sejenak, dia menghela napas pelan. Matanya menatap lurus ke arah portal tempat dia muncul. Portal itu tidak menutup setelah tiga puluh menit lebih.


"Portal itu, pasti menungguku menemukan Jian, kan?" Rui bertanya pada diri sendiri sambil menatap portal itu dari kejauhan.


Saat itulah. Rui menyadari hamparan salju di depannya ini aneh. Seperti menggunung sedikit, seakan ada sesuatu yang terkubur di dalamnya.


"Jian!" Rui segera mendekatinya. Instingnya mengatakan kalau ada seseorang yang terkubur didalam hamparan salju ini.


Rui menggalinya sedikit, lalu nampak beberapa jari tangan manusia yang membeku. Rui mematung di tempat, tak kuat menahan air matanya lagi.


"Jian ...."