Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Desa Terkutuk



Kami memutuskan untuk mendatangi desa yang Rui kunjungi beberapa saat lalu. Rui bilang ada pasar yang sangat ramai di sana, karena satu arah, kami akan mampir sebentar untuk membeli beberapa keperluan dan makanan bekal.


Tapi sesuatu membuat kami terkejut. Desa kecil itu sama sekali bukan desa ramai seperti yang Rui bilang. Kami berjalan hati-hati di jalan lebar dengan tanah berwarna coklat keemasan ini.


Karena berbatasan langsung dengan Hutan Roh Penasaran, permukiman dengan belasan rumah ini memiliki tekstur tanah yang sama dengan Hutan Roh Penasaran, gersang dan tak berair.


"Rui, kamu yakin ini adalah desa?" Neo membuka petanya.


"Saat aku datang, permukiman kecil ini sangat ramai sekali, aku membeli beberapa roti, dan ada pasar yang sangat ramai, penduduknya pun ramah sekali, apakah ada yang salah?" Rui menoleh ke arah Neo.


"Entahlah, mungkin desa ini sama seperti Akademi Dixia. Dihuni para hantu. Bahkan desa ini sama sekali tak terlihat di peta," Neo menunjukkan petanya pada kami.


Aku dan Rui saling tatap, "Ini memang desa hantu," ucap kami bersamaan.


"Tidak apa-apa jika hantunya ramah, Rui. Aku perhatikan di depan sana sudah merupakan hamparan salju, tak jauh lagi adalah Gunung Es Keabadian. Mari kita periksa desa ini beberapa menit saja. Jika ada yang aneh, kita harus segera pergi."


Kami mengangguki saran dari Neo, berjalan lebih jauh lagi. Menyapu pandangan ke seluruh sudut desa. Tapi kami tidak menemukan tanda-tanda kehidupan apapun. Apalagi pasar ramai yang Rui ceritakan.


"Rui, pasarnya mana?" Neo bertanya dengan suara rendah. Kami sudah berkeliling lama sekali, tapi sama sekali tidak menemukan keramaian di mana pun.


Rui mengangkat bahu, "Aku sudah melihatnya bahkan sebelum memasuki desa, Neo. Suara keramaian itulah yang membuatku mendatanginya. Aku juga tidak tahu kenapa jadi sepi sekali," Rui menggaruk tengkuk bingung.


Aku merasa desiran angin di sekitarku tidak normal. Ada energi aneh yang sangat kuat, yang membuatku tidak mampu mengendalikan angin ini.


Bum!


Sebuah dentuman keras membuat tanah di depan kami meledak. Kami terpisah dengan jarak cukup jauh. Neo bahkan terpental belasan meter, tergeletak tak sadarkan diri.


Aku mati-matian berusaha berdiri, mencari keberadaan Rui. Tapi tidak menemukan siapapun di sekitarku.


Aura energi ini kuat sekali, dentuman itu pasti disebabkan oleh energi yang menurutku sedikit familiar ...


"Rui, hati-hati!" aku menemukan posisi Rui, di belakangnya ada sosok hitam yang bersiap menyerang.


Aku melemparkan Jilly, dan menarik Rui ke dekatku. Bayangan hitam itu berkesiur di mana-mana. Aku tidak bisa melihat desa kecil lagi. Hanya melihat asap tebal yang membumbung tinggi.


"Asapnya, jangan menghirup asapnya, Jian. Itu beracun," Rui bergumam pelan sebelum akhirnya pingsan.


Aku mengambil sapu tangan di dalam kantong kecilku, menutupkannya di separuh wajah. Aku harus menghadapi energi hitam ini. Asalnya adalah Rux, aku mengenali energinya, saat kami mencoba menjebaknya di Aula Besar Akademi Dixia.


Aku mengeluarkan Piu Piu, menyuruhnya mencari tubuh Neo, aku membuat penghalang di antara Rui, supaya pertarungan kami tidak mengganggunya.


Aku mengaktifkan energi spiritual rubah yang diberikan Bim. Menyatukannya dengan Kartu Perak milikku. Lalu mengerahkannya untuk melawan Rux yang kini seluruh tubuhnya tertutup mantra hitam.


Srakk!


Aku mengerang, lenganku terluka karena cakaran kuku serigala Rux. Lengan bajuku sampai robek, darah mengalir cukup deras.


Aku berdiri dengan kaki gemetar. Bahkan jika harus bertaruh nyawa, aku akan melindungi teman-temanku hingga kapanpun.


Siapapun tidak boleh menyakiti mereka!


Aku mengaum kencang, saat itu juga, Piu Piu mengalami transformasi mencengangkan. Tubuhnya membesar berkali-kali lipat, telinganya panjang dan runcing, cakarnya bagai mata pedang, ekornya menjuntai bermeter-meter.


Piu Piu berlari ke arahku, berdiri di depanku dengan sangat gagah. Demi melawannya, Rux berubah wujud menjadi serigala salju yang tak kalah gagah. Mereka beradu tinju dan saling mencakar.


Sesekali gerakan kaki Piu Piu menciptakan desingan angin yang sangat kuat, dia meniru energi tuannya. Sementara Rux melawannya dengan semburan es. Piu Piu mudah saja melewatinya.


Aku melesat mencari tubuh Neo. Piu Piu batal memindahkannya bersama Rui karena keadaanku yang terdesak.


Dia mengalihkan perhatian Rux untuk memberiku celah menemukan Neo.


"Neo, kamu baik-baik saja, kan?" aku bergegas memeluknya. Neo bersandar di salah satu dinding rumah yang sudah roboh separuh.


Aku menghela napas lega, Neo baik-baik saja. Aku langsung membawanya terbang menuju tempat Rui dibaringkan. Di sana ada penghalang yang bisa membuatnya aman.


Neo mencegah tanganku, "Tidak apa-apa, Jian. Aku akan ikut bertarung denganmu," Neo menggeleng saat aku hendak membaringkannya di samping Rui.


"Tapi kamu baru saja sembuh, Neo! Bagaimana kalau Rux menyakitimu lagi?" aku berseru kesal.


Neo berdiri perlahan, kuda-kudanya tidak mantap, dia mengentakkan tangannya, Pru muncul dalam bentuk cambuk.


Cambuk itu mengeluarkan kilatan-kilatan petir biru. Di kelilingi asap hitam.


"Neo, kekuatanmu—"


"Aku hanya memanfaatkan apa yang ada di depanku, Jian. Sepertinya menarik jika membunuh Rux dengan energi sihirnya sendiri," Neo melesat ke udara, cambuknya bergerak gila, menghancurkan seluruh desa.


Rux terlempar jauh setelah terkena satu hantaman cambuk petir Neo. Piu Piu menggeram kencang, suaranya membuat tanah bergetar. Tubuh besarnya melompat ke udara, mendarat di atas tubuh Rux yang masih berwujud serigala salju.


Piu Piu dengan ganas merobek telinga serigala itu, salah satu bola matanya terlepas dari tempatnya. Rux berubah menjadi manusia lagi dengan kondisi mengenaskan.


Neo menginjak dadanya, "Kudengar entitas sihir tidak boleh mempelajari sihir terlarang. Jika tidak, tubuhnya akan hangus perlahan sejak pertama kali kamu menggunakannya. Jika kamu mati, itu bukan sungguhan salahku, kan?" Neo nyengir lebar, melontarkan cambuknya ke udara, "Ini adalah hadiah terakhir dariku untukmu, Kawan!"


Pcut!!


Rux memuntahkan banyak sekali darah, tubuhnya pasti remuk redam karena dua pukulan cambuk Neo.


Tampaknya dia belum mati, bahkan masih sempat terkekeh, "Neo, sebenarnya, nasibmu sama sepertiku," ucapnya pelan tak bertenaga.


Neo memukulkan cambuknya sekali lagi, "Mati kau, keparat!" napasnya tersengal dengan wajah merah padam.


Rux tak bergerak lagi setelah pukulan ketiga. Asap di sekitar kami menghilang. Disusul kemunculan kunang-kunang dengan cahaya samar berwarna biru.


Puluhan kunang-kunang itu berubah menjadi mausia ketika mendarat di tanah. Rupanya energi spiritual mereka diserap oleh Rux, membuat mereka terperangkap di dalam wadah spiritualnya.


Kini Rux mati, dan kami menyelamatkan puluhan nyawa warga desa ini.


...----------------...


Aku terbangun dengan keringat mengucur deras. Memandang persekitaranku, aku berada di dalam sebuah rumah. Dengan dekorasi yang cukup kuno.


"Rui, Neo!" aku berseru panik, aku terbangun tanpa kedua temanku di sisiku. Tentu saja aku panik.


"Eh, Nona, tidak perlu panik. Kedua temanmu dibaringkan di kamar yang berbeda. Kondisi tubuhmu baik-baik saja, kamu hanya perlu minum obatmu saja, supaya rasa sakit di tubuhmu mereda, setelah itu aku akan mengantarmu ke kamar mereka," seorang nona muda tersenyum senang saat melihatku bangun, dia duduk di sampingku dan menyodorkan nampan berisi obat.


Aku memegang lenganku yang waktu itu robek karena cakaran serigala, kini sudah dibalut perban dengan rapi.


Aku mengangguk sopan dan segera meminum obatnya, terasa pahit, tapi aku harus menghabiskannya, kan?


"Nona, namaku adalah Zhi, aku adalah peri yang mendiami desa ini, aku dan warga desa lain sangat berterimakasih padamu dan dua temanmu, kalian sudah menyelamatkan kami dari penyihir hitam tadi," Zhi menunduk di depanku dengan ucapan terima kasihnya yang manis.


Aku menggeleng pelan, "Kami tidak melakukan apapun, Zhi. Itu sudah ditugaskan kepada kami dari Para Penjaga Pintu Akademi Dixia. Dia membelot dan mencuri pusaka mereka saat kami ingin meminjamnya," aku menunduk dalam.


Omong-omong, aku meceritakan kejadian tentang pusaka itu kepada Zhi karena dia sudah membantu kami, juga karena dia terlihat baik hati.


Zhi menatapku prihatin, "Kalian adalah pelintas dimensi pertama yang kami temui dengan hati yang sangat tulus, semoga takdir berpihak pada kalian," Zhi tersenyum lagi.


"Bagaimana kamu tahu, Zhi?" aku bertanya penasaran.


"Kami memiliki tugas yang sama seperti Para Penjaga Pintu di Akademi Dixia. Yaitu menjaga benda pusaka yang menuntun kita menuju harta karun yang tak ternilai harganya. Ada banyak pelintas dimensi yang mencarinya untuk kembali ke dunia mereka, sejauh ini belum ada yang berhasil, karena mereka sama sekali tidak memiliki hati yang murni untuk melepas segelnya," Zhi dengan senang hati menjelaskannya padaku, "Belakangan aku mendengar kalau Jam Pasir telah dicuri seorang pembelot, kami berusaha mengambilnya kembali, tapi malah terjebak begitu saja," Zhi menghela napas kecewa.


"Zhi, bisakah antarkan aku kepada Rui dan Neo dulu?" aku bertanya tidak sabaran.


Zhi terkekeh pelan, "Aku melupakannya, Nona, maafkan aku," Zhi mengantarku keluar kamar.


"Omong-omong, Nona, namamu siapa?" Zhi bertanya lagi.


"Namaku Jian, temanku yang pirang adalah Rui, yang laki-laki bernama Neo," aku mengenalkan semua teman-temanku.


"Yang laki-laki itu, kakakku bilang kondisinya sangat parah, sedangkan yang pirang menghirup asap beracun dari energi hitam. Tapi mereka akan segera baik-baik saja, kami klan peri tak pernah gagal dalam mengobati seseorang," Zhi mengedipkan sebelah matanya.


Aku terkekeh kecil, Zhi dan kakaknya pasti sangat baik.


Kami masuk ke kamar Rui, dia berbaring dengan wajah pucat, aku meneteskan air mata, sahabatku, dia kasihan sekali.