
Oh tidak!
Mereka dapat melihat kami di lingkungan yang gelap ini? Ah iya, aku lupa. Rui baru saja mengangkat dua jarinya dan membuat obor kecil.
Cahaya sekecil ini bisa saja menarik perhatian orang di dalam yang mungkin saja bukan orang sungguhan. Tunggu, apakah mereka benar-benar hantu?
Crang!
Itu suara pedang yang dikeluarkan dari sarungnya! Kami bertiga saling menatap dengan wajah takut. Apakah orang di dalam sana benar-benar berniat melawan kami?
"Kita telah melewati perbatasan mereka, Jian. Tentu saja mereka marah. Apalagi kita dengan santai menjejakkan kaki di dalam halaman kastil mereka bahkan setelah dentuman meriam yang panjang," Neo terlihat menggenggam Pru dengan erat, dia berniat menyerang jika kami sudah mulai terdesak.
"Kamu benar, Neo. Mereka pasti marah sekali pada kita. Apa yang harus kita lakukan?" Rui menatapku penuh harap. Mungkin dia berharap agar aku memutuskan untuk pergi saja dari tempat terkutuk ini.
"Ayo kita bertarung, Teman-teman!" tapi Neo lebih dulu berlari ke depan dengan ekspresi mantap.
"Tunggu dulu, Neo! Kita datang dengan damai, ingin bertanya sesuatu, bukankah terbilang kasar jika kita harus melawan mereka?" aku ragu dengan keputusan Neo.
"Tapi mereka sudah memberi peringatan perang kepada kita, Jian! Meriam itu! Bukankah terlihat lemah jika kita tidak menggubris permintaan mereka?" Neo tampak keberatan dengan saranku.
Meong!
Sepertinya Piu Piu juga menyetujui Neo. Aku pasrah karena ini juga salah satu hal masuk akal yang dikatakan Neo. Maafkan aku, Rui, aku tidak bisa mencegah pertarungan ini.
Aku segera mengangkat Jilly ke depan. Piu Piu sudah melangkah maju lebih dulu bersama Neo. Dan terkadang aku heran, kucing itu adalah entitas sihirku, dia muncul karena mengenali kalung yang menyerap energi sihirku, tapi kenapa dia terlihat lebih dekat dengan Neo dari pada aku? Dan mereka terlihat memiliki banyak kesamaan. Termasuk suka makan.
"Jian, sulit sekali bertarung di tengah gelap, aku rasa aku tidak mampu." Rui mengeluh lagi.
Aku juga mengerti keluhan yang ini, Rui hanya dilatih untuk mengembangkan energi apinya yang menakjubkan. Di saat tertentu, bahkan memungkinkan bagi Rui untuk mengendalikan petir di atas sana. Sedangkan aku dilatih menjelikan kemampuan mendengarku karena aku mempelajari energi angin. Penting sekali pendengaran yang tajam ini untuk seorang pengendali angin.
"Pegang tanganku, Rui," aku tersenyum sambil mengulurkan tangan kananku.
"Jian," Rui menyeka air matanya.
"Kita menyerang ke depan bersama-sama, aku akan melindungimu ketika nyawamu dalam bahaya."
Rui tersenyum lebih lebar, "Terimakasih, Jian," api kecil di ujung telunjuknya menghilang, dia menengadahkan tangan kanannya, api besar muncul di sana. Aku dapat melihat dengan jelas wajah Rui yang bersiap menyerang, meski ketakutannya masih menggantung di sudut bola matanya.
"Lihatlah, Rui. Sekarang seperti ada matahari yang menyinari wajahmu. Kamu harus bisa mengandalkan kekuatanmu di saat genting seperti ini, Rui. Kamu harus menyadari kalau dirimu sangat hebat." Aku menggenggam tangannya dengan erat, siap menyusul Neo dan Piu Piu yang sudah bergerak lebih dulu.
"Kata siapa aku lemah, Jian!" Rui melompat ke depan, dia bahkan mampu terbang tanpa Riu meski tidak memiliki kekuatan angin sepertiku. Aku tersenyum senang melihat Rui membara dengan semangatnya.
Perjalanan kami untuk pulang, tampak lebih menyenangkan dari pada saat pergi.
Kilatan api dan desiran angin terasa sangat kuat di medan pertarungan ini. Diselingi dengan pukulan kuat yang mampu menumbangkan satu pohon dari Neo. Juga kemampuannya menembakkan jarum kecil dari setetes air membuatku melongo sesaat. Ternyata Neo lebih hebat dari yang kukira.
Saat Ujian Bulanan kemarin, dia tidak benar-benar mengeluarkan seluruh kemampuannya. Tapi di sini, dia benar-benar lebih unggul dari kami. Aku salah selalu meremehkan Neo dan mengatainya bodoh.
"Hei, apa kalian menyadari sesuatu?" Neo tiba-tiba mendekati kami berdua, matanya menatap Piu Piu yang masih bertarung di depan sana.
"Ada apa?"
"Mereka kebal terhadap serangan," Neo memperhatikan Piu Piu yang tak berhenti menggoreskan cakarnya namun lawan tidak terluka sekecil apapun.
"Aku sudah menusuk mereka dengan banyak sekali anak panah air. Tapi mereka bahkan tidak terluka, bagaimana kita mengalahkan mereka, Jian, Rui?" Neo bertanya cemas, tapi wajahnya selalu santai dan menunjukkan kepiawaiannya dalam mengatur strategi.
Rui bergerak lebih dulu sebelum aku membuat keputusan, dia mengambang sepuluh meter di udara, tangannya terangkat tinggi, kemudian mengentakkannya ke bawah, api besar siap melalap semua yang ada di bawahnya. Menyadari situasi berbahaya, Piu Piu segera menyingkir dan membiarkan Rui membakar semua orang penghuni Akademi Dixia ini.
Rui mendarat dengan sempurna di sampingku, dia menyeka dahi yang dipenuhi keringat. Api yang dia keluarkan membuat pohon-pohon di halaman akademi jadi hangus terbakar. Aku juga berharap orang-orang itu terluka, minimal.
"Wow, hebat sekali, Rui!" Neo bertepuk tangan dengan wajah terhibur, kemudian dia mengeluarkan buku kecilnya lagi, "Aku juga harus mengabadikan momen ketika temanku mengeluarkan bola-bola api dari telapak tangannya."
Buk!
Apakah pukulan keras di kepala cukup membuatnya berpikir normal?
"Berhentilah bertingkah seperti orang bodoh, Neo. Aku mengakuinya kalau kamu tidak sebodoh yang kukira," aku memutar bola mata kesal.
"Diam, Neo! Sebaiknya kita segera masuk saja," aku menarik lengan Rui meninggalkan Neo, orang di depan sudah kalah, kita harus segera masuk.
"Awas!" Neo berseru, segera berteleportasi dan membuat tameng besar menyelimuti kami. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi itu pasti berbahaya sekali. Dan Neo menyelamatkan kami di waktu yang tepat.
"Apimu tidak membuat mereka hangus, Rui!" Neo berdiri di depan kami, Rui di sebelahku gemetar ketakutan.
Apa yang harus kami lakukan sekarang? Semua kekuatan sihir kami tidak berguna di tempat ini. Mereka berubah menjadi asap hitam ketika sesuatu menebas tubuh mereka.
Itu kemampuan yang sama denganku. Aku bisa berubah menjadi angin ketika sesuatu nyaris membunuhku, tapi aku tetap merasa sakit ketika kembali ke wujud asliku. Dan mereka tidak seperti itu.
Di depan sana, Neo sudah bergerak lagi, "Aku akan menggunakan segala cara untuk mengalahkan kalian!" serunya yang begitu bersemangat.
"Tidak ada kalah dan menang, Kawan. Melainkan hidup dan mati!" salah satu dari orang Akademi Dixia itu balas berseru.
Neo terkekeh, "Baik! Maka kalianlah yang akan mati!"
"Jian, bagaimana ini? Apakah Neo benar-benar akan membunuh mereka? Kita bahkan tidak pernah membunuh orang, kan?" Rui memegang erat lenganku.
"Anggap saja kita sedang berburu harimau, Rui. Tidak banyak perasaan bersalah jika kita menganggap mereka binatang," aku memberi saran.
"Bagaimana memburu harimau? Aku saja tidak bisa memburu kadal gurun, Jian," Rui menunduk.
Anak ini, entah bagaimana dia menjadi begitu bodoh sejak kami tiba di Kota Pubu, "Kalau begitu, anggap saja sedang berburu nyamuk, Rui."
Aku segera maju membantu Neo mengerahkan segalanya. Bagaimanapun, kami benar-benar tidak boleh terbunuh di sini. Kami harus pulang ke rumah kami, ke kota kami, ke sekolah kami dan menjalani kehidupan normal kami.
"Jian, tunggu aku!" Rui berseru pelan, dia juga mulai menebaskan tongkatnya ke segala arah. Aku tersenyum tipis.
Neo terlihat gagah kali ini, Pru menjadi tongkat yang lebih keren dari sebelumnya. Tapi sehebat apapun Neo, dia tetap belum menjatuhkan satu lawan pun.
"Pru, siapkan transformasi!" Neo tiba-tiba berseru, dia berputar di tempat lalu mengambang beberapa meter di udara, Pru berubah menjadi sebuah pedang yang gagah, pedang itu dialiri energi air dari tangan Neo.
Aku nyaris berseru tertahan melihatnya, rupanya Neo menguasai energi air, pantas saja dia bisa membuat panah air yang tajam untuk melawan mereka.
Aku tiba-tiba terpikirkan sebuah ide, aku menggunakan anginku untuk mengurung mereka dan membunuh mereka.
Aku membuat pusaran angin kecil yang membesar seiring mereka melepaskan energi. Semakin banyak angin yang terkumpul, semakin besar peluang kami menang.
Tapi aku tiba-tiba tidak yakin kekuatanku akan berguna. Karena mereka menguasai kemampuan yang sama.
Kulihat Neo sedang berkonsentrasi penuh mengendalikan pedang barunya. Pedang itu adalah Pru, tapi dia seperti tidak berwujud karena dialiri energi air.
Neo tiba-tiba berteriak kencang sambil melempar pedangnya ke depan. Pedang Neo menancap tepat di depan orang-orang itu berdiri.
Neo mengentakkan tangannya ke bawah, aku, Rui dan Piu Piu melompat ke udara bersama Neo, lantas tiba-tiba tanah gersang di depan kami diselimuti es tebal, energi anginku membeku, lalu pecah berkeping-keping, termasuk orang-orang yang menyerang kami, mereka membeku, lalu hancur.
Kami terdiam sesaat, kejadian itu cepat sekali. Akhirnya, kami benar-benar mengalahkan mereka. Secepat itu.
"Astaga, kemampuanku meningkat dalam beberapa menit saja." Neo menatap kedua telapak tangannya tidak percaya, "Aku, jadi mirip Elsa."
Aku tidak bisa menahan tawaku lagi, "Neo, kekuatan sihirmu sedikit feminim, apa kamu tidak memiliki kemampuan lain yang lebih cocok dengan karakter pria?"
Neo mendengus, "Setidaknya kali ini kita berhasil selamat berkat kekuatan frozen yang kumiliki."
"Bagaimana kamu bisa berpikir untuk membuat mereka beku, Neo?" Rui bertanya lebih serius, kakinya masih gemetar karena takut.
"Entahlah, aku hanya terpikirkan itu sekilas saja. Ternyata berhasil."
Namun masalahnya, kami tidak mengatasi orang-orang itu hingga tuntas. Matahari terbit begitu kami menyelesaikan pertarungan dengan kemenangan.
Es di depan kami meleleh dan menguap, berpikir orang-orang itu telah mati, ternyata mereka masih seperti sebelumnya, sama sekali tidak terluka!
"Sepertinya kekuatan frozenku tidak bertahan lama, Teman-teman," Neo menatap tanpa berkedip.