
"Pangeran Archi, apa kau bersedia bergabung bersama kami untuk mendapat pengakuan Wali Kota?" salah satu peserta ujian itu bertanya dengan nada mengejek.
Pangeran Archi refleks membusungkan dadanya, "Tentu saja! Aku sudah terikat benang merah dengan Putri Wali Kota. Mengalahkan kalian hanya butuh satu detik saja!" serunya penuh kesombongan.
Aku menepuk dahi, pangeran yang katanya begitu didambakan wanita-wanita muda ini ternyata sangat mudah terpancing emosinya.
Rui mendengus, "Bukankah terdengar membosankan?" bisiknya padaku.
Aku mengangguk setuju.
"Yang Mulia. Kami mohon, jangan menyulitkan kami!" Para pengawal yang sebelumnya menunggu di belakang mendadak berlari ke depan dan berlutut di depan pangeran mereka.
Pangeran Archi terlihat bingung, hendak mengusir para pengawal itu, tapi entah kenapa mengurungkannya, "Ada apa?" tanyanya dingin.
"Yang Mulia. Jangan menyulitkan kami lagi. Kota Archi kita lebih membutuhkanmu dari pada Putri Wali Kota. Melihatmu yang rela mempertaruhkan nyawa untuknya memang cukup bagus, tapi bisakah kamu mengalahkan mereka? Mereka ini penyihir tingkat tinggi kedua, kamu baru mencapai tingkat pertama. Takutnya sulit bagimu untuk bertahan, lalu bukankah kamu memang tidak—"
Cott!!
"Aw!" pengawal yang baru saja mengomel itu mendadak berteriak dan tidak menyelesaikan kalimatnya. Karena Pangeran Archi tanpa ragu menginjak punggung tangan mereka dengan sepatu keras yang dia kenakan.
"Lancang!" Pangeran Archi berseru garang.
Para pengawal itu menunduk dan tidak berani bicara lagi.
"Yang Mulia, mohon jangan menyulitkan kami," yang bersujud paling belakang berseru lagi.
"Tolong jangan menyulitkan kami!" yang lain berseru menyusul.
Aku dan Rui saling menatap. Ini pemandangan yang cukup langka. Tidak pernah menyaksikannya seumur hidup, ternyata masih ada pangeran keras kepala modelan seperti itu!
"Huh!" Pangeran Archi mendengus.
Dia membalik tubuhnya menghadap Wali Kota, lalu membungkuk sedalam-dalamnya, "Tuan, jika bukan karena mengutamakan rakyat, aku sudah pasti akan mengikuti ujian ini. Tapi jika aku hanya memedulikan Tuan Putri Wali Kota, bukankah berarti aku sudah melalaikan tugasku sebagai penerus tahta Kota Archi? Kalau begitu, mohon pengertiannya saja."
Aku nyaris tertawa mendengarnya, bisa-bisanya dia menjadikan rakyat sebagai alasan untuk melarikan diri dari masalah yang dia timbulkan sendiri?
Rui menggelengkan kepalanya gemas, "Dia sangat norak sekali."
"Dia orang kerajaan, Rui. Bukankah seharusnya memang begitu?" aku menyahut sambil terkekeh.
"Tidak berani tinggal bilang saja, apa susahnya?" Rui kembali mendumel sendiri.
Aku tertawa renyah, "Kita tonton saja dramanya, Rui. Ini lebih seru dari pada drama-drama mandarin yang ditonton Neo."
Rui membalas tawaku, "Kamu benar."
Usai kepergian Pangeran Archi, Wali Kota meminta para peserta untuk memulai ujian pertama. Ada sekitar sebelas peserta.
Wali Kota ingin mereka menjawab beberapa pertanyaan yang berhubungan dengan Putri Wali Kota.
"Jika kalian berani mengikuti sayembara ini, berarti kalian sudah siap dengan macam-macam ujian yang kuberikan." Tuan Wali Kota berdiri, berjalan-jalan pelan di depan para pemuda tampan itu berdiri, memeriksa wajah-wajah tegas mereka satu-persatu.
"Pertanyaan pertama!"
Wajah para pemuda itu mendadak menegang, beberapa terlihat sedang menahan napas. Aku bahkan ikut menahan napas, pertanyaan apa yang akan diajukan Wali Kota?
"Sejak kecil, aku tidak pernah mengumumkan nama anak tunggalku ini kepada siapapun. Satu-satunya orang yang tahu adalah putriku itu sendiri. Jika kalian benar-benar menyukainya, apakah kalian mengetahui siapa namanya?"
Para pemuda itu diam saling menatap. Sepertinya memang tidak pernah ada orang yang benar-benar tahu tentang nama asli putri Wali Kota ini.
"Apakah ada orang yang benar-benar tidak memublikasikan namanya sampai seperti itu?" Rui menyikut lenganku sambil berbisik.
"Mungkin ada, Rui. Sejak datang ke sini, bukankah tidak ada yang pernah menyebut nama asli Putri Wali Kota?"
"Tuliskan jawaban kalian di kertas emas, lalu serahkan padaku." Tuan Wali Kota memberi instruksi lagi.
Sudah ada dua pemuda yang memberikan kertas emas mereka. Lalu menyusul yang lainnya.
"Bukankah jika tidak ada yang tahu, berarti jawaban mereka semua itu salah?" Rui berbisik lagi.
Aku mengangkat bahu, "Mungkin itu hanya pertanyaan menjebak saja."
Setelah memeriksa jawaban-jawaban itu, mata Tuan Wali Kota terus tertuju pada empat pemuda yang menyerahkan jawaban paling akhir.
Bahkan memisahkan jawaban mereka dari jawaban pemuda lain.
"Putriku tidak suka berkomunikasi dengan orang asing. Satu-satunya hal yang dia suka adalah merawat tumbuhan. Semua jenis tumbuhan selalu ada di setiap jengkal paviliun miliknya. Tapi ada satu tumbuhan yang tak pernah tumbuh di tempat itu. Apa kalian tahu tumbuhan apa itu?"
Para pemuda itu kembali terdiam. Aku ingat saat pertama kali mengunjungi Paviliun Bunga Musim Semi itu, memang ada berbagai jenis bunga dan tumbuhan. Bagaimana mungkin orang akan tahu apa yang ada dan tidak ada?
Wali Kota membagikan kertas emas berikutnya. Para pemuda mulai menuliskan jawabannya. Lagi-lagi, Wali Kota dibuat terdiam dengan jawaban empat orang pemuda tadi.
Mereka sepertinya selalu mengumpulkan jawaban paling akhir. Membuat Wali Kota lebih memerhatikan kertas jawaban mereka.
"Pertanyaan terakhir, putriku ini adalah gadis yang pemilih, tapi selera makannya begitu buruk. Dalam satu minggu, dia bisa terus-menerus memakan kambing guling. Minggu kedua masih dengan menu yang sama. Lalu apakah kalian bisa menebak, menu apa yang akan dia makan pada minggu berikutnya?"
Aku dan Rui saling menatap, pertanyaan ini lebih buruk dari sebelumnya. Apakah Wali Kota berpikir para pemuda ini adalah dewa? Bagaimana mungkin mengetahui hal-hal yang tidak terduga seperti itu?
Wali Kota membagikan kertas emas lagi. Dan lagi-lagi empat pemuda tadi mengumpulkan paling terakhir. Wali Kota lagi-lagi menatap mereka, ekspresi wajahnya tampak memuaskan.
"Orang-orang yang bertahan sudah kupilih." Tuan Wali Kota menaruh kertas jawaban terakhir dengan senyuman lebar, "Selain keempat pemuda ini, kalian tidak lulus ujian pertama."
Tujuh pemuda yang tereliminasi mengaduh pelan, mereka dengan kusut berjalan menepi. Sepertinya masih tertarik dengan kelanjutan ujian ini.
Aku dan Rui bertanya-tanya ujian kedua ini dalam bentuk apa? Apakah pertanyaan seperti sebelumnya?
"Ujian kedua ini harusnya ujian sihir," Zhi berbisik di telingaku.
"Pasti akan sangat seru!" aku nyengir lebar sambil menjawab bisikannya.
"Jian, apa kamu memerhatikan wajah pemuda yang berdiri di sebelah kiri itu?" Rui menyikut lenganku, aku langsung mengarahkan mataku mengikuti pandangan mata Rui.
"Dia kenapa?" aku bergumam.
"Sepertinya dia sangat yakin akan menang."
Aku menatap Rui tidak percaya, "Bagaimana kamu tahu?"
"Ekspresinya sama dengan ekspresi Neo saat kita pertama kali memasuki labirin es itu, Jian. Apa kamu ingat?"
Aku mengangguk, "Sepertinya memang begitu."
"Karena kalian adalah calon suami yang kupilih sendiri untuk putriku, bisakah sebutkan nama kalian?"
"Namaku Aio. Putra tunggal pemilik Penginapan Wuilan di Kota Luse." Pemuda yang berada di sisi kanan memberi hormat.
"Namaku Jeon. Ayahku pemilik Paviliun Naga Biru." Pemuda di samping Aio juga menunduk dan tersenyum.
"Rupanya kau putra tunggal Tuan Mario, penyihir hebat pemilik Paviliun Naga Biru yang begitu terkenal itu? Merupakan keberuntungan bagi putriku jika kau bisa memenangkan ujian ini, Tuan Muda Jeon." Wali Kota tersenyum dan memberi hormat.
"Terima kasih sudah memercayaiku, Tuan Wali Kota." Jeon tersenyum lebih lebar.
"Tampaknya pemuda itu yang akan memenangkan ujian ini, Rui. Tuan Wali Kota begitu menghormatinya." Aku berbisik di telinga Rui.
"Menurutku yang berdiri di sebelah kiri itu."
Entah kenapa Rui begitu yakin dengan pemuda di sebelah kiri itu.
"Namaku Chan, Tuan Muda Ketiga dari Paviliun Mutiara." Pemuda yang berdiri di samping Jeon menyusul memberi hormat, Tuan Wali Kota tampak mengangguk sopan.
Kini, Tuan Wali Kota sudah berdiri di depan pemuda terakhir yang berdiri paling kiri.
Rui tampak menantikan pemuda itu berbicara. Tentu saja, dia berharap pemuda itu mendapat respon baik dari Tuan Wali yang seperti Jeon tadi.
"Tuan Wali Kota, kita bertemu lagi setelah dua ribu tahun tak bertemu."
Semua orang di tempat itu seketika terdiam. Suasana hening menyergap begitu pemuda terakhir mengeluarkan suaranya. Bukan perkenalan atau kalimat sapa yang biasa, sepertinya, pemuda ini pernah bertemu dan memiliki hubungan dengan Tuan Wali Kota jauh sebelum ujian ini dilangsungkan.
Tapi, sepertinya harapan Rui sudah hancur.
Wajah Tuan Wali Kota terlihat tidak nyaman begitu mendengar sapaan akrab dari pemuda terakhir ini.