Journey In A Fantasy World

Journey In A Fantasy World
Putri Tidur



Empat ekor serigala berjejer di depan tugu pembatas kota. Kami mendongak. Melihat pembatasnya saja, kami sudah dapat menebak bahwa Kota Luse tidak lebih megah dari Kota Pubu.


Tidak ada orang yang berpakaian mewah seperti orang-orang di Kota Pubu. Mereka lebih suka berpakaian gelap dan sederhana, berbeda dengan warga Kota Pubu yang suka berpakaian warna-warni dan mencolok dengan tongkat sihir berbuah kristal.


"Sepertinya kemampuan sihir mereka benar-benar rendah." Rui berbisik di telingaku.


Aku menganggukinya, sepertinya Rui benar. Di sini tidak ada orang berlalu-lalang menaiki tongkat sihir terbang.


Tapi juga tidak ada yang berlalu-lalang berjalan kaki. Mereka terbang rendah sekitar lima centimeter di atas tanah dengan alas sebuah papan panjang. Itu seperti skateboard tanpa roda.


Apakah kalian ingat permainan subway surf? Kurang lebih seperti itu bentuknya.


Aku dan Rui melangkah memasuki gerbang kota. Dan terus berjalan hendak bergabung dengan keramaian kota.


Win dan Zhi menghentikan langkah kami. Win menunjuk sebuah toko yang halaman luarnya dipenuhi papan-papan panjang seperti yang digunakan orang-orang.


"Apakah kita akan membelinya juga?" Rui menatapku, aku mengangkat bahu, mungkin iya.


Win nyengir lebar, "Melelahkan jika berjalan kaki, Rui. Selain itu, kita bisa saja menarik perhatian orang-orang jika terlihat berbeda sendiri."


Kami memasuki area toko. Pemilik toko bertanya papan apa yang kami butuhkan. Win bilang dia ingin papan yang bisa digunakan dalam jangka waktu panjang.


Penilik toko merekomendasikan beberapa jenis yang berbeda. Win memilih yang paling mahal. Dan mengambil empat papan dengan jenis yang sama.


Aku dan Rui saling tatap, apakah ini tidak disebut pemborosan?


Zhi tertawa melihat wajah kami yang terkejut, "Win itu punya banyak uang, Jian, Rui. Tidak perlu khawatir tentang menghemat uang, dia membawa banyak uang. Kita tidak akan kelaparan setidaknya satu bulan ke depan."


Aku dan Rui mengangguk-angguk, baiklah, kalau begitu aku jadi lega. Win membagikan papan-papan itu pada kami.


"Kita belum sarapan, ayo kita cari restoran kecil untuk makan." Win dengan santai melemparkan papannya, dan melompat ke atas papan melayang itu.


Dia kemudian mulai berjalan menuju jalanan yang ramai. Zhi menyusulnya, aku dan Rui juga menyusul. Awalnya tidak terlalu biasa, sulit untuk mengendalikan keseimbangan, tapi ini sama seperti menaiki tongkat sihir. Hanya saja kemampuan terbangnya rendah sekali. Hanya bisa terbang setinggi satu jengkal saja.


"Bisakah kita terbang lebih tinggi?" Rui menyejajari Zhi yang terbang di depan kami.


Zhi menggeleng, "Kau akan jatuh jika memaksa terbang lebih tinggi."


Rui kembali merendahkan papan panjangnya sambil nyengir lebar. Kami berhenti di sebuah bangunan berwarna cokelat tua.


Ada banyak orang keluar dan masuk dari pintu bangunan ini. Ini adalah restoran kecil yang baru saja disebutkan oleh Win.


Kami memilih meja berisi empat kursi yang bersebelahan dengan meja delapan kursi yang berisi perempuan-perempuan cantik yang sedang mengobrol santai.


Win duduk membelakangi gadis-gadis berpakaian jubah gelap itu, kami juga ikut menduduki kursi yang kosong.


Sebuah papan persegi melayang ke arah kami. Win mengambilnya. Sepertinya itu buku menu masakan. Win menyerahkannya pada Rui setelah memilih beberapa item.


Rui menunjukkan papan itu padaku, "Apa yang mau kamu makan, Jian?"


Aku melihat-lihatnya, nama-nama makanannya terdengar aneh, aku tidak berpikir makanannya akan seenak makanan lain yang sebelumnya pernah kumakan.


Aku juga melihat item yang ditandai Win, namanya aneh sekali, "Kamu dulu saja yang memilih, Rui." Aku menyerahkannya lagi pada Rui.


Tampaknya dia memilih menu yang sama dengan Win. Dia bilang, setidaknya Win mungkin tahu seperti apa wujud makanan yang dia pilih.


Aku menatapnya heran. "Aku lebih memilih acak saja," lantas menandai item dengan asal.


Aku menyerahkan papan itu pada Zhi, dia bahkan tidak berpikir dulu sebelum menandai item. Sepertinya Zhi memiliki pikiran yang sama denganku.


"Oh, tidak! Sepertinya hidup putri walikota tidak lama lagi." Orang di belakang kami mendadak berseru histeris.


"Dia sudah tertidur selama seratus hari. Wali Kota memanggil kita agar menari untuknya, pun tidak berdampak apa-apa. Kita sudah terbiasa membangunkannya dengan lagu kita, Putri Wali Kota selalu marah ketika mendengar alunan lagu kita, sehingga langsung terbangun meski tidurnya begitu nyengak. Kini hanya bergeming bahkan setelah kita menari selama seratus hari," temannya menyahut dengan nada sedih.


"Apakah tidak ada tabib yang bisa menyembuhkan penyakitnya?" temannya lagi menyahut dan bertanya.


Mereka mengangkat bahu, "Untuk saat ini, Kota Luse tidak mempunyai tabib yang bisa menyembuhkannya."


"Kudengar ada tanaman obat Seribu Akar di belakang rumah Wali Kota. Itu adalah obat langka, apakah tidak bisa digunakan untuk membangunkan Putri Wali Kota?"


Mendengar mereka bahkan mengatakan tentang Tanaman Seribu Akar, Win langsung menoleh ke belakang, ikut mendengar pembicaraan mereka.


"Tumbuhan itu memang sangat berkhasiat, konon dia bisa menyambung kaki yang terpisah dari tubuhnya, bisa memperbaiki organ dalam yang hancur, meridian yang rusak, tenaga dalam yang berantakan, mata buta, bahkan bisa menghidupkan orang mati. Tapi sayang, Putri Wali Kota sebenarnya baik-baik saja, dia tidak membutuhkan obat seperti itu untuk membuatnya bangun."


"Permisi Nona-nona, maaf aku mengganggu waktu kalian sebentar." Zhi tiba-tiba sudah berada di antara mereka saja.


Kami memperhatikan dari meja seberang, kelihatannya Nona-nona ini cukup baik, mereka bahkan menggeser satu kursi lagi untuk membiarkan Zhi duduk bergabung dengan mereka.


"Aku bersama tiga orang temanku, mereka di sana," Zhi tersenyum sambil menunjuk meja kami. Kami menunduk dan tersenyum. Nona-nona itu tersenyum membalas senyuman kami.


"Namaku, Zhi. Saat makan tadi, aku tidak sengaja mendengar kalian menyebut tentang Tanaman Seribu Akar, apakah lokasinya benar-benar di belakang rumah Wali Kota?" Zhi bertanya tanpa basa-basi.


Nona-nona itu saling tatap, lalu salah-satunya mengangguk, "Memang ada di belakang rumah Wali Kota. Tapi, kenapa kau menanyakannya?" dia bertanya lagi.


Zhi menggeleng, "Salah satu teman kami menderita sakit parah, organ dalamnya hancur dan tak bisa diperbaiki dengan sihir. Senior kami memerintahkan kami untuk mencari Tanaman Seribu Akar." Zhi bahkan tanpa ragu menceritakan keberadaan kami di sini.


Nona-nona itu mengangguk-angguk, tampaknya mereka tidak keberatan dengan cerita Zhi, "Tapi Wali Kota adalah orang yang sangat pelit. Belakangan dia sedang resah karena putri semata wayangnya tak kunjung bangun setelah tidur selama seratus hari lebih. Sepertinya kalian akan sulit jika pergi ke sana dan meminta tolong untuk mengambil beberapa lembar daun." Nona itu tampak menyesal dengan jawabannya yang tak membantu Zhi sama sekali.


Temannya menepuk pundaknya, "Mungkin ada cara," dia menatap Zhi dan tersenyum lebar.


"Apa itu?"


"Wali Kota sangat menyayangi putrinya. Dia sangat khawatir karena putri tak kunjung bangun. Jika kalian bisa membangunkannya, mungkin Wali Kota dengan senang hati membiarkan kalian membawa seluruh tangkai Seribu Akar sekalipun." Nona itu tersenyum lebih lebar, "Kalian cobalah. Meski kemungkinannya kecil, jika berusaha, mungkin takdir akan membantu."


Zhi tersenyum berterima kasih, "Jika tidak bertemu Nona, mungkin sulit bagi kami untuk mendapatkan informasi. Terima kasih."


Mereka yang ada di meja itu mengucapkan sama-sama, "Semoga temanmu kembali sehat seperti sebelumnya, Zhi."


"Tentu, kami akan berusaha keras untuk mendapatkannya." Zhi berdiri, membungkuk dan berjalan kembali ke meja kami.


"Jika kalian bisa membangunkannya, bukan hanya Wali Kota saja yang berterima kasih, bahkan seluruh warga Kota Luse juga harus berterima kasih pada kalian! Karena itu, semangat!"


Aku dan Rui tersenyum senang. Kota ini, lebih baik dari Kota Pubu yang pernah kami tinggali.


Makanan kami akhirnya datang. Aku nyaris terkejut melihat tampilannya. Aku menatap Win yang langsung menyantapnya tanpa ragu.


"Ini apa?" Rui memandang tak selera makanan di depannya.


Aku juga memiliki pikiran yang sama. Ini makanan apa? Kenapa bentuknya aneh sekali? Seperti cacing hidup yang berlendir.


Kami memesan makanan yang berbeda, tapi datang dengan bentuk yang sama. Sebenarnya, apa gunanya menu masakan itu jika yang didatangkan satu jenis makanan saja?


Win terkekeh, "Cicipi dulu saja, Jian. Rasanya enak, asam manis dan gurih."


Aku mengernyit, menatap makananku saja tidak berselera. Apakah tidak ada yang lain?