
Kami berempat terpaksa berlutut di depan gerbang istana, membujuk Pangeran Archi agar mau keluar dan bersedia ikut bersama kami menjenguk Putri Wali Kota.
Setelah tiga jam, seorang kasim keluar dari gerbang istana, membawa surat dengan amplop berwarna merah dan diberikan pada kami.
Win menerimanya, dan langsung membacanya di tempat.
Menilik dari ekspresi wajah Win, sepertinya surat itu bukan termasuk kabar baik bagi kami. Apakah Pangeran Archi menyuruh kami pergi dari Kota Archi?
"Kalian berdirilah, segera tinggalkan istana kami. Jika ingin menginap beberapa hari, di pusat kota ada banyak penginapan-penginapan besar yang cukup untuk membuat kalian nyaman daripada hanya berlutut di sini. Pangeran kami tidak akan membiarkan kalian masuk." Kasim itu memegang tangan Win, membantunya untuk berdiri.
Aku, Rui dan Zhi ikut berdiri, kakiku sampai mati rasa. Entah kenapa harus melalui penderitaan ini untuk orang lain. Astaga.
"Tidak boleh mengeluh, Jian. Harus disertai ketulusan," Rui menyikut lenganku sambil berbisik lirih. Sepertinya dia sudah melihat ekspresi wajah lelahku tadi.
"Teman-teman, kita pergi dulu dari sini. Sepertinya ada yang tidak beres dengan pangeran ini." Win berjalan ke arah kami, lalu menyuruh kami untuk segera meninggalkan istana ini.
Kami berhenti di depan sebuah penginapan besar. Win memesan dua kamar. Sepertinya kami memang harus menginap beberapa hari di kota ini.
"Win, ada apa? Kau buru-buru meninggalkan gerbang istana." Zhi duduk di kursi yang menghadap langsung ke arah istana kerajaan Archi yang begitu besar ini.
Angin bertiup kencang, pemandangan dari lantai tiga penginapan terlihat indah. Aku mengikuti pandangan Zhi, jaraknya sekitar seribu meter dari penginapan terdekat tempat kami singgah ini.
"Menurutmu, apa alasan Pangeran Archi menolak undangan kita?" Win bertanya pelan sambil menatap puncak istana yang megah.
"Mungkinkah dia tidak menginginkan perjodohan ini?" Zhi menebaknya dengan acak.
Win menggeleng, "Kota Archi dan Kota Luse bersebelahan. Meski keduanya saling bertolak belakang, tapi pemerintahan keduanya tidak pernah mengalami masalah dan selalu berhubungan baik. Jika tebakanku benar, Raja dan Wali Kota menjodohkan anak mereka, adalah demi menyatukan dua kota besar ini. Tapi sepertinya, Pangeran Archi memiliki rencananya sendiri."
Aku dan Rui saling tatap. Perkataannya ini sulit sekali dimengerti.
"Jelaskan lebih baik, Win. Aku tidak terlalu mengerti," Zhi mendengus.
"Aku juga tidak tahu kenapa Pangeran Archi bersikap seperti itu. Jika dia menolak perjodohan, dia mengabaikan hubungan baik kedua kota ini. Jika dia menerimanya, apakah dia sungguh akan melakukannya seperti yang diinginkan Raja?" Win menatap Zhi yang masih terlihat tidak mengerti.
Namun, akhirnya Zhi mengangguk-angguk, "Maksudmu, Pangeran Archi ini menggunakan perjodohan sebagai alat terbaik baginya untuk tujuan tertentu, dan dia sama sekali tidak menyukai Putri Wali Kota, dia tahu rencananya sedang dalam masa kritis karena Putri Wali Kota tiba-tiba terkena mantra tidur. Dia tahu kedatangan kita adalah untuk mencoba membangunkan Putri Wali Kota dengan ciumannya, sedangkan dia sama sekali tidak mencintai Putri Wali Kota. Jadi takut rencananya akan semakin berantakan?" Zhi menjentikkan jemari, tersenyum lebar.
"Tepat sekali!" Win menepuk meja, tertawa lebar, "Aku pernah membaca catatan tentang Pangeran Archi ini sekitar lima ratus tahun lalu. Dia adalah orang yang berambisi besar untuk menjadi raja. Ilmu sihirnya cukup tinggi. Mungkin setara dengan energi yang terkumpul setelah seribu tahun kultivasi. Menurutmu, apakah dia menikahi Putri Wali Kota untuk memulai ambisinya ini? Secara logika, Kota Luse paling dekat dengan Kota Archi, jika dia menikah dengan Kota Luse, dan bisa memanfaatkan kekuasaan istrinya, dia akan semakin haus kekuasaan. Orang seperti ini, cepat atau lambat pasti akan berambisi untuk menguasai seluruh dunia."
"Jadi, apakah itu hal yang perlu dicemaskan?" Rui menceletuk.
"Tentu saja!" Win menepuk meja sekali lagi, "Dunia ini, lebih damai seperti ini saja. Tidak boleh ada Ratu Hudie kedua. Memangnya kalian mau, begitu dia menguasai Kota Pubu, seluruh dunia ini adalah miliknya. Begitu dia menguasai seluruh dunia. Hal yang sedang kita alami ini, cepat atau lambat juga akan terjadi lagi. Kita harus menghentikannya, lagipula dia hanya bocah ingusan, mudah untuk membuatnya menyerah."
Rui ber-oh pelan, "Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
"Waktu kita hanya sedikit. Putri Wali Kota tidak boleh tidur terlalu lama lagi. Harus segera dibangunkan." Zhi mengingatkan kami lagi
Yang hanya bisa kami jawab adalah, "Pangeran tidak bersedia."
Akhirnya Wali Kota memutuskan untuk mengumumkan sayembaranya. Ada banyak sekali pria muda yang berkumpul di depan kediamannya yang megah ini.
"Seratus hari yang lalu, putriku tidak beruntung. Acara pertunangannya dengan Pangeran Archi terpaksa dibatalkan karena dia terkena mantra tidur oleh seseorang. Aku sebagai ayahnya telah lalai, baru mengetahui alasan ini setelah dia menderita selama seratus hari. Para pemuda sekalian. Jika salah satu kalian mau mencintai putriku dengan tulus, akan kuizinkan kau untuk membangunkan putriku dengan ciuman tulusmu, jika dia benar-benar bangun, sebagai hadiah, akan kunikahkan kau dengannya. Tapi sebelum itu, kalian harus mengikuti ujian yang kuberikan. Taruhannya adalah nyawa, jika kalian rela mati demi sayembara ini, tanpa ragu akan kubawa menemui putriku."
Para pemuda di depan kediaman ini saling berbisik dan berdiskusi. Jika tidak mencintai dengan sungguh-sungguh, maka percuma melewati ujian yang bertaruh nyawa ini. Meski akan mencium putri walikota, juga percuma karena tidak bisa membangunkannya dan menikahinya. Tentu saja para pemuda ini harus penuh perhitungan.
"Siapa yang berani mengadakan sayembara konyol ini pada calon istriku!"
Para pemuda itu terkejut mendengar seruan tegas dari belakang mereka. Terlihat Pangeran Archi yang mengambang turun dari portal yang terbuka.
Aku melirik Win yang tersenyum tipis. Tampaknya berjalan sesuai rencana kami.
"Salam, Pangeran!" Para pemuda itu berlutut di depannya. Wali Kota tersenyum sambil membungkuk. Aku dan Rui mengikutinya.
"Jian, kenapa Win dan Zhi diam saja?" Rui tiba-tiba menyikut lenganku dan berbisik.
Aku menutup mulutnya dengan jari telunjukku, "Win dan Zhi ini usianya sudah belasan ribu tahun, Rui. Mereka juga Para Penjaga Pintu. Untuk apa berlutut pada pangeran kecil ini?"
"Yang Mulia. Ada urusan apa Yang Mulia berkunjung ke kediamanku hari ini?" Wali Kota tersenyum tipis.
"Urusan apa yang kau maksud, Tuan Wali Kota? Tentu saja aku datang untuk mengunjungi calon istriku. Kudengar dia sudah seratus hari tertidur. Mungkinkah butuh bantuanku untuk membangunkannya?" Pangeran Archi membalas senyuman itu dengan sindiran cukup keras.
Wali Kota malah menanggapinya dengan tawa kecil, "Yang Mulia. Dua hari yang lalu, aku mengutus orang untuk menjemputmu ke Kota Luse kami. Demi meminta bantuan agar kau membangunkan putriku. Tapi kau menolak datang, aku jadi berpikir kau tidak serius dengan perjodohan ini. Para pemuda yang hadir ini adalah orang-orang yang bersedia melewati ujian untuk membangunkan putriku. Kau sudah kuberikan kesempatan untuk bertemu dan membangunkannya tanpa melewati ujian bertaruh nyawa. Tapi kau mengabaikan panggilanku. Jika ingin bertemu putriku, kau harus bergabung dengan para pemuda ini dan melewati ujian bertaruh nyawa. Aku tidak mau dianggap pilih kasih. Mereka adalah rakyat Kota Luse-ku."
"Tuan Wali Kota! Kenapa kau mengingkari perjanjian kita?" Pangeran Archi berseru marah, "Aku sudah berjodoh dengan putrimu. Tentu tidak boleh lagi sembarangan memilih jodoh baru untuknya, apalagi dengan cara konyol seperti ini. Putrimu itu, tidak perlu pria untuk membangunkannya. Aku akan mengelilingi seluruh dunia untuk mencari penawarnya. Kau bisa membatalkan sayembara ini dan membebaskan mereka dari ujian bertaruh nyawa yang konyol-"
"Tidak bisa!" Win memotong kalimatnya begitu saja.
Pandangan Pangeran Archi langsung terarah padanya, tampak semakin marah, "Kau siapa, berani sekali memotong titahku!"
"Yang Mulia," Win membungkuk sedikit, "Namaku Win, seekor serigala yang berjaga di gerbang Akademi Dixia selama belasan ribu tahun demi kedamaian dunia. Atas dasar apa aku berani memotong titah Yang Mulia? Tapi kau ini masih seorang Pangeran, ayahmu masih begitu sehat, dia pernah menjadi muridku saat belajar di Akademi Dixia kami. Atas dasar apa kau berani menyebut ucapan konyolmu sebagai titah?"
Pangeran Archi langsung terdiam, dia menjatuhkan lututnya dan meminta maaf pada Win, "Guru Besar. Aku tidak mengetahui keberadaanmu sebelumnya, mohon maafkan aku."
Win melambaikan tangan, "Itu mudah. Tapi jika aku sampai memberitahu ayahmu tentang sikapmu hari ini, kau mungkin tidak bisa menjadi penerus tahtanya lagi. Pikirkan baik-baik, Yang Mulia. Apa kau masih ingin mengacau di sini?"
"Guru Besar, Putri Wali Kota ini sudah dijodohkan denganku. Aku tentu tidak akan membiarkannya diperebutkan begitu banyak pria. Aku rela berkeliling dunia untuk mencari penawarnya." Pangeran Archi terus menyanggahnya.
"Tidak perlu. Mantra tidur tidak punya penawar lain, kecuali ciuman tulus dari orang yang mencintainya dengan tulus. Jika kau ingin dia bangun dan tidak diperebutkan para pemuda berbakat ini, kau seharusnya tidak mengabaikanku saat di depan gerbang istana kemarin. Karena kau sendiri yang memilihnya, kau hanya boleh bergabung dengan mereka dan mendapatkan posisi yang pantas itu. Hadiahnya adalah menikahi Putri Wali Kota. Jika kau gagal, hanya boleh menerima takdir saja."
Aku dan Rui saling tatap, ternyata pangeran yang super angkuh ini bisa terdiam bisu di depan Win hanya dengan beberapa kalimat. Aku tersenyum puas.